
Srettt....
Sebuah goresan cukup dalam muncul di tubuh beast itu. Zhou Fan sekali lagi menaikkan sudut bibirnya.
Zhou Fan puas menyaksikan karyanya di tubuh raja ular cincin kuning. tebakannya tidak meleset, teknik dewa pedangnya dapat menembus sisik ular itu dengan bantuan apinya.
Huk huk
Zhou Fan kembali memuntahkan gumpalan darah berwarna hitam yang berbau tak sedap. Zhou fan dapat merasakan tubuhnya tidak dapat bertahan lebih lama lagi.
"Aku harus segera menyelesaikannya." Zhou Fan kembali bersiap mengeluarkan tekniknya lagi.
Zhou Fan lagi lagi mengeluarkan sebotol pill pemulihan dan dengan segera ia menelan seluruh pill di dalamnya.
"Seharusnya ini cukup!" Gumam Zhou Fan.
Zhou Fan melesat dan menggunakan udara sebagai tumpuannya, bagaikan terbang di awan, pemuda itu bergerak sangat cepat.
Dengan pedang di genggamannya Zhou Fan terlihat menari. Sang lawan juga tidak hanya menyaksikan, bahkan ikut meladeni gerakan Zhou Fan, pertarungan sengit terjadi lama.
Shut... Bukk
Ekor beast ular itu terpotong teknik dewa pedang Zhou Fan. Sang raja ular cincin kuning yang tidak mengharapkan ekornya akan putus meraung marah.
Bukannya takut, Zhou Fan malah tersenyum sinis. "Kau sudah ditakdirkan untuk mati di tanganku."
Dengan secepat kilat Zhou Fan sudah berada di samping kepala ular sepanjang sepuluh meter itu.
Brakkk...
Tubuh ular itu terpelanting karena terkena jurus tebasan ganda Zhou Fan.
Zhou Fan tidak hanya berdiam diri menyaksikan lawannya ambruk, pemuda itu kembali mendekati kepala raja ular cincin kuning dan menusukkan pedangnya di kedua mata beast tersebut.
******....
Raja ular cincin kuning mengeliat kesakitan dan akhirnya tewas setelah Zhou Fan memutuskan kepala dari tubuhnya dengan tebasan yang sudah dilapisi apinya.
Uhuk huk...
"Dasar beast sialan!" Zhou Fan membelah perut raja ular cincin kuning, ia mencari empedu ular itu untuk menawar racunnya.
Meskipun tidak pernah mendengar cara seperti ini, entah kenapa ia tiba tiba terpikir untuk mencobanya.
"Aku pernah mendengar empedu kalajengking dapat menawar racunnya, tidak tahu empedu ini berhasil atau tidak." Zhou Fan memandang tangannya yang sudah menggenggam empedu raja ular cincin kuning.
"Lebih baik berusaha dari pada hanya menunggu ajal menjemput." Zhou Fan berpikir, cepat atau lambat ia akan mati jika tidak mencari sebuah cara.
Zhou Fan mulai menyesali perbuatannya, andai ia tidak menolak untuk menyimpan air roh, mungkin ia tidak harus bertaruh nyawa seperti ini.
__ADS_1
"Tidak, kalau aku tak bisa melewati rintangan kecil ini, aku tak pantas menjadi petarung hebat." Zhou Fan berusaha berpikir positif, dan menguatkan tekadnya.
Zhou Fan menelan empedu seukuran genggaman tangan orang dewasa itu secara bertahap, saat sudah sepenuhnya menelan empedu itu Zhou Fan merasakan kesakitan yang bahkan ia tidak pernah rasakan sebelumnya.
"Akkhh!"
Zhou Fan berteriak sangat kencang. Teriakannya memenuhi gua yang menjadi tempat pilihannya untuk memulihkan diri.
Tepat setelah mengambil empedu raja ular cincin kuning, Zhou Fan pergi mencari tempat untuk menetralkan racun yang menggerogoti tubuhnya.
Zhou Fan tidak membawa mayat beast itu, karena dagingnya tidak dapat di konsumsi. Beberapa beast tipe racun memang tidak dapat dikonsumsi, andai seseorang memaksa untuk memakan dagingnya, bukan mendapat manfaat tapi malah sebaliknya.
Sudah satu jam Zhou Fan terus berteriak kesakitan, teriakannya terdengar begitu menyayat hati.
Beberapa menit kemudian teriakannya mulai mereda.
Zhou Fan tersenyum puas melihat gumpalan darah hitam yang baru saja ia muntahkan. Tebakannya benar, empedu itu dapat menetralkan racun.
"Haha.. aku sudah tahu kalau aku tidak akan mati semudah itu." Suara Zhou Fan terdengar lemah, pemuda itu masih terlihat lemah, bahkan untuk berdiri saja sudah sempoyongan.
Bruk..
Zhou Fan terjatuh pingsan, pemuda itu sudah sangat berusaha. Menghadapi tantangan hidup mati bukanlah masalah gampang untuk pemuda berusia 20 tahun, tapi Zhou Fan dapat mengatasinya dengan sempurna.
.....
Zhou Fan menampar pipinya dengan sangat keras.
Plak!
Bukan berteriak kesakitan mendapat tamparan, pemuda itu malah tersenyum sambil memegang pipinya yang sudah panas dan terdapat gambar lima jari di sana.
Tak lama pemuda itu tertawa sangat keras.
"Hahahaha...."
"Aku belum mati!" Teriaknya senang.
"Aku masih perjaka, aku sungguh tidak rela jika aku mati." Terlintas sesaat wajah Wei guanlin dalam pikirannya.
***
Haciim...
"Kau kenapa Lin'er? apakah kau kedinginan?"
Gadis yang di panggil Lin'er itu menengok ke balakang, melihat seorang gadis seumurannya datang dengan nampan di tangannya.
Gadis itu adalah Wei Guanlin, dia sekarang sedang duduk dan memandang langit malam yang indah.
__ADS_1
Gadis pembawa nampan itu mendekat dan duduk di sisi Wei Guanlin, "Kenapa kau berada di luar malam malam seperti ini?!"
Dia adalah kakak senior Wei Guanlin, meskipun usianya bisa dibilang sama dengan Wei Guanlin, gadis yang bernama Rourou itu lebih dahulu berguru dengan gurunya, oleh sebab itu Wei Guanlin selalu memanggil dengan sebutan senior.
Sebetulnya Rourou tidak lebih kuat dibandingkan Wei Guanlin, bahkan bisa dikatakan kekuatannya di bawah gadis itu. Rourou sekarang berada di tingkat petarung master bintang 9, sedangkan Wei Guanlin berada di tingkat petarung grand master bintang 2.
Wei Guanlin meraih gelas di atas nampan yang di bawa Rourou.
"Bukankah menenangkan melihat hamparan bintang dilangit malam?" Wei Guanlin menenggak air dalam gelas itu sampai habis tak tersisa.
"Saat kau merindukan seseorang kau hanya perlu manatap langit, kau akan merasa lebih baik setelahnya." Tambahnya lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari gelapnya langit.
"Khekhe... " Rourou tertawa pelan.
"Siapa yang mengira, gadis yang terkenal galak ini dapat mengeluarkan kata kata menyentuh seperti itu," Ucapnya lagi yang membuat Wei Guanlin cemberut.
"Kau tahu bukan aku yang mengarang kata kata tersebut, tapi kau masih mengolokku." Wei Guanlin mendengus kesal.
"Ya ya ya, aku tahu itu. Seorang gadis sepertimu dapat membuat kata kata seperti itu? mungkin dunia akan segera berakhir." Rourou menggelengkan kepalanya, menepis semua pikirannya.
"Kau berbicara seolah aku tak dapat diandalkan sama sekali!" Wei Guanlin menatap kesal Rourou.
"Siapa pangeran berkuda yang kau pikirkan?" Pertanyaan frontal dari Rourou, membuat Wei Guanlin tersentak.
"A...apa ya..yang kau bicarakan?" Wei Guanlin memalingkan wajahnya yang memerah.
"Cih, lihat! Wajahmu sudah memerah, kau mau mengelak lagi?" ucapan Rourou membuat Wei Guanlin semakin salah tingkah.
"Itu karena.... Dingin! iya dingin." Wei Guanlin menggosok telapak tangannya seolah sedang kedinginan.
Tukk...
"Aduh!" Wei Guanlin mengaduh merasakan dahinya di sentil kakak seniornya.
"Aku tahu dirimu, aku juga mengenalmu tidak sebentar. Kau tak bisa berbohong dariku." Rourou menoel hidung Wei Guanlin.
"Siapa siapa?" desaknya memaksa Wei Guanlin membuka suara.
"Emm... Kau dengar?" Wei Guanlin berusaha mengalihkan perhatian Rourou.
"Apa?!" Sedangkan Rourou menatap kesal Wei Guanlin.
"Kau dengar?" tanya Wei Guanlin lagi yang membuat Rourou semakin kesal.
"Kau ini kenapa?!" Rourou menaikkan nada bicaranya.
"Guru memanggilku, sampai jumpa kaka senior," Ucap Wei Guanlin seraya pergi meninggalkan Rourou yang mematung.
"Dasar laknat! Beraninya dia menipuku. Awas saja kau..." Meskipun berkata marah, Rourou tetap tersenyum dan hanya menggeleng melihat kepergian adik juniornya.
__ADS_1