
Mendengar perkataan Jendral besar Huang, Zhou Fan tersenyum puas dan mulai melangkahkan kaki ke dalam kediaman jendral besar.
Semua orang melongo tak percaya, tidak biasanya Jendral besar Huang menyambut kedatangan tamu tak dikenalnya, bahkan masih terdengar jelas ajakannya kepada Zhou Fan.
Kasim Kao yang sangat mengenal jendral besar Huang juga sedikit tak percaya, timbul pemikiran bahwa yang dimaksud pemuda itu memang benar benar Lin'er yang dia pikirkan, cucu jendral besar Huang.
Melihat kepergian Jendral besar Huang, kaisar Kao tersadar, dia lantas berjalan mengarah ke tempat dua penjaga.
"Bubarkan semua orang itu." Kasim Kao melirik ke kumpulan orang yang sejak tadi menyaksikan pertikaian.
Kedua penjaga tersebut lalu mengangguk, dan dengan cepat malaksanakan perintah.
Semua yang di sana bubar dan dipaksa kembali ke rutinitas yang membosankan, padahal mereka lagi seru melihat konflik yang jarang terjadi, tapi malah disuruh kembali.
Namun mereka tidak berani untuk tetap di sana, mereka masih memiliki otak untuk berpikir, tidak baik mencari masalah dengan kediaman jendral besar.
Mereka bubar dengan membawa satu pertanyaan besar, dan banyak pertanyaan kecil.
Mulai dari siapa pemuda itu, Lin'er yang dimaksud, dan juga apa hubungannya dengan Jendral besar Huang, sampai pria tua itu merubah air mukanya.
...
Di dalam kediaman jendral besar, Zhou Fan duduk berdampingan dengan Rogue, di depannya sudah ada Jendral besar Huang yang di belakangnya selalu setia kasim Kao.
Kasim Kao berdiri bagai penjaga untuk jendral besar Huang, dia tak bergerak seperti patung batu.
"Sebenarnya siapa kau?"
Jendral besar Huang, Huang Yu bertanya dengan wajah serius.
"Saya adalah menantu kaisar Wei." Zhou Fan mengungkapkan identitasnya, meski tidak secara langsung.
Jendral besar Huang mengernyit dahi, dia mencerna ucapan Zhou Fan. Pria tua itu terlalu malas untuk berpikir, tapi dia mengulang kembali kalimat yang baru saja terlontar dari mulut Zhou Fan.
Sorot mata Huang Yu berubah, sementara Zhou Fan tersenyum melihat ekspresi pria tua yang merupakan kakek Wei Guanlin. Pemuda itu seperti tahu bahwa Huang Yu telah mendapatkan pemikiran tentangnya.
"Bagaimana aku dapat percaya bahwa kau tak menipu?" Huang Yu masih enggan untuk mempercayai pemikirannya, tapi itu sangat mengganjal dalam kepala.
Zhou Fan mengeluarkan token miliknya, di sana tergambar jelas lambang Kekaisaran Wei.
"Itu tidak membuktikan kau adalah suami cucuku, banyak penduduk Kekaisaran Wei yang berada di Kekaisaran Shi, jika kau mengandalkan token itu dan berharap aku percaya, maka jawabannya adalah Tidak Mungkin." Huang Yu berkata dengan nada tegas, tangannya menyilang menambah kesan penolakannya.
"Bagaimana cara agar Jendral percaya?" Zhou Fan merasa jika terus berdebat tidak akan sampai pada akhirnya, lebih baik mengikuti keinginannya dan membuktikan sendiri dengan kemampuan.
__ADS_1
"Itu mudah." Jendral besar Huang berdiri dari duduknya, dia lalu menepuk tangan dua kali, sesaat kemudian seorang pria paruh baya berpakaian serba hitam datang menghadap dirinya.
Huang Yu laku memandang Zhou Fan. "Wei Huan, tidak mungkin memilih menantu sembarangan, tidak mungkin menantu yang dipilihnya tidak berkemampuan..."
Huang Yu menjeda kalimatnya, membuat Zhou Fan menaikkan alis dengan ekspresi penasaran.
"Jika kau dapat mengalahkan dia, aku akan percaya kepadamu sepenuhnya. Namun jika kau bahkan tidak bisa mengalahkannya, maka lupakan ucapanmu yang menyebut Lin'er sebagai istri."
Mendengar syarat Huang Yu, Zhou Fan menoleh ke pria paruh baya berpakaian hitam, dia lalu menelisik kekuatan yang pria paruh baya itu.
Sudut bibirnya terangkat, ternyata kultivasi pria paruh baya berpakaian hitam tidak lebih kuat dibandingkan dengan kelima saudara yang pernah dia hadapi.
Bahkan jika dibandingkan dengan pria paling tua, yang mengenakan pakaian hitam, pria paruh baya di hadapannya ini masih di bawahnya.
Melihat Zhou Fan hanya diam, membuat Jendral besar Huang meragukan ucapan pemuda itu, dia merasa bahwa pemuda di hadapannya ketakutan dengan lawan yang dia suguhkan.
Sungguh keliru yang dia pikirkan, Zhou Fan bukan takut. Bahkan dia sangat menantikan kemenangan yang sebentar lagi akan dia dapatkan.
"Apakah kau ragu? Kau dapat menyerah dan segeralah pergi setelahnya." Huang Yu berkata dengan nada sinis.
Zhou Fan menggeleng, tidak ada niatan dalam dirinya untuk menyerah walau sekecil butiran pasir. "Itu tidak akan terjadi."
"Baiklah, aku harap kau tidak menipu. Karena aku sangat membenci seorang penipu." Huang Yu beranjak pergi keluar, Kasim Kao yang di belakang juga mengikuti, tapi sebelum itu dia menginformasikan kepada Zhou Fan agar mengikuti mereka.
Banyak sekali mata memandang, kediaman yang begitu luas tentu memiliki penghuni yang melimpah. Semua yang melihat Huang Yu berjalan ke tempat latihan mengikuti tanpa disuruh.
Begitu sampai di halaman yang luas dengan altar pertarungan di tengah, Huang Yu berhenti. Dia lalu melirik pria paruh baya berpakaian hitam, sedangkan yang dituju langsung naik ke atas altar pertarungan.
Dua tiga tarikan nafas, Zhou Fan masih belum naik untuk bertarung, membuat Huang Yu mengerutkan kening.
"Apakah kau berubah pikiran?" tanyanya dengan nada mengejek, entah mengapa dia selalu kesal mengingat cucunya diakui sebagai istri seseorang.
"Tentu saja tidak." Setelah berkata, Zhou Fan langsung melompat den berdiri bersebrangan dengan pria berpakaian hitam.
Orang di sana yang tidak mengetahui siapa pemuda yang baru saja naik sontak saling melempar pertanyaan, tapi bagaimanapun mereka belum pernah melihatnya, bagaimana mereka dapat mengenalnya?
Pria berpakaian hitam mengeluarkan belati yang tampak berkilau, gagangnya berwarna merah menyala.
"Bersiaplah!" kata pria berpakaian hitam dengan sangat percaya diri, seakan-akan dia sangat yakin dapat mengalahkan Zhou Fan.
"Aku selalu siap." Zhou Fan meraih pedang darah malam, meskipun kekuatan lawan bertarungnya berada di bawahnya, dia tidak bisa memandang rendah lawan.
Pria berpakaian hitam melirik Huang Yu, meminta persetujuan untuk memulai pertarungan. Huang Yu yang mengerti kontan menyuruh Kasim Kao maju dan menjadi penengah.
__ADS_1
Tanpa menunggu kalimat kedua, Kasim Kao terjun ke atas altar pertarungan.
Dengan suara datar dia memulai pertarungan, kedua orang itu langsung saling menerjang, pedang juga belati bersiap mengincar.
Trang...
Begitu kedua senjata berbenturan, belati di tangan pria paruh baya bergetar, tapi dia tidak menghiraukan, menganggap hanya masalah sepele.
Zhou Fan mundur, tapi langsung melesat kembali dengan pedang tersulut api. 'Teknik dewa pedang' dia keluarkan, pedang menyabet ke sana kemari.
Trang... Tring...
Pria paruh baya pontang panting menahan gempuran serangan Zhou Fan, belatinya terus menahan serangan yang sungguh tak pernah ia bayangkan akan ia dapat saat melawan seorang pemuda.
Dari bawah altar pertarungan, Jendral besar Huang mengamati begitu serius, dia dapat menilai kekuatan Zhou Fan bukan kaleng kaleng. Terlihat jelas utusannya kewalahan menahan gempuran serangan pemuda itu.
Zhou Fan tak menghiraukan lawan yang sudah berkeringat dingin, tangan pria paruh baya itu bergetar setelah menahan serangan Zhou Fan yang begitu 'gila'.
Keduanya dalam jarak empat langkah, terlihat jelas muka pucat pria paruh baya. Dia seolah tidak mempunyai semangat untuk melanjutkan, tapi dia tidak bisa berhenti begitu saja saat Jendral besar Huang mengawasinya.
Hyat!
Pria paruh baya menerjang Zhou Fan, sementara pemuda itu dengan cepat menarik tubuhnya ke samping.
Tak berhenti di sana, pria paruh baya memutar haluan dan menggerakkan belati mengincar perut samping.
Prang...
Pedang darah malam menahan dengan sempurna, masih dalam posisi bertahan, Zhou Fan mengibaskan pedangnya, membuat belati di tangan pria paruh baya terlepas.
Klang...
Bunyi belati menghantam lantai altar pertarungan, semua mata memandang tak percaya, termasuk Jendral besar Huang.
Pria tua itu seketika menarik semua perkataan yang sebelumnya dia keluarkan, dia mengakui kemampuan Zhou Fan.
Kekuatan bawahannya sudah mencapai petarung raja bintang delapan, yang bisa mengalahkan dengan mudah pasti setara dengan petarung kaisar.
Meski dia ragu bahwa pemuda yang mengaku sebagai suami cucunya memiliki kekuatan petarung kaisar diusianya yang masih amat muda, dia tidak bisa menutup mata atas kemenangan yang baru saja terjadi.
Zhou Fan turun dan menghampiri Huang Yu, pemuda itu selalu memamerkan senyumnya.
"Sekarang bagaimana, kakek mertua?"
__ADS_1