
Bangunan yang nampak kosong tiba tiba memancarkan sinar keperakan, seketika pasukan Wei Huan menjadi siaga, memasang posisi menyerang, rencana awal yang semula menghambat musuh dengan adanya benteng, tak ia kira akan mendapatkan kejutan.
"Serang!"
Puluhan bangunan hancur, dan menyisakan kepulan asap yang melambung ke atas, menghilangnya asap, terlihat pasukan besar yang bergerak dengan sangat cepat.
"Bagaimana mungkin bisa begini?" Wei Huan berekspresi buruk, melihat sebuah pasukan besar menyerang dari arah belakang.
Pasukan yang merupakan setengah dari pasukan lawan keluar dari bawah tanah.
"Sial... Benteng ini pernah diperbaiki, dan penatua Du yang mengatur semuanya, aku tak mengira dia telah lama mempersiapkannya." Wei Huan tersenyum kecut saat mengingat hal itu, bodohnya dia baru mengingat saat dalam posisi terhimpit.
Wei Huan turun untuk membantu karena tanpanya pasukannya akan terbantai habis, meskipun jumlah mereka tak lebih banyak, kekuatan musuh rata rata grand master bintang tiga ke atas, dan beberapa orang berada di tingkat raja.
Clebs...
Cras...
Wei Huan bergerak sambil tangan terus menebas lawan, petarung grand master bukan lawan sepadan baginya.
Plak plak!
Sebuah tepukan tangan terdengar di tengah pertarungan, bersamaan dengan itu dua orang pria tua berjalan beriringan dengan memegang pedang sedangkan yang lain sebuah tombak.
"Wei Huan, aku lah lawanmu! Mari lawan aku!" Tuan besar Tang berjalan mendekati Wei Huan.
Wei Han tak terkejut, pasalnya ia sudah mengetahui perdana menteri Kekaisaran Wei juga turut terlibat dalam pemberontakan.
"Tang Min, aku tak akan melepaskanmu!" Wei Huan melesat dengan kecepatan tinggi, menerjang Tuan Besar Tang dengan sebilah pedang di tangan.
Tuan Besar Tang seketika ikut maju dengan golok gelap bercaya di tangannya, terlihat jelas goloknya merupakan senjata epic tertinggi bahkan setara dengan senjata rank lagend.
Sementara Que Ye mencari lawannya, Patriark Ban. Matanya terus bergerak mencari sang lawan, dia seakan enggan untuk mencari lawan yang lain.
Matanya berubah bersinar, melihat dari kejauhan seorang pria tua berjubah Putih tengah bertarung dengan kumpulan petarung grand master.
Cres...
Pedang Ban Fulong menebas leher seorang petarung grand master, tangan juga kakinya seolah menjadi perpaduan yang sangat mematikan, dia belum mengeluarkan teknik pedang suci, teknik yang merupakan andalannya juga sekte nya.
Hyatt!
Ban Fulong menoleh ke arah belakang, seorang pria tua tak asing melesat dengan badan menelungkup layaknya tombak yang diluncurkan.
Blar!
__ADS_1
Ledakan dahsyat seketika membuatmu tanah menjadi berhamburan, Ban Fulong berhasil menghindar dengan manarik dirinya beberapa langkah ke samping.
"Ban tua, akhirnya aku menemukanmu! Ayo selesaikan pertarungan kita!" Que Ye melompat menjaga jarak dari tempatnya membuat lubang dan memutar tombaknya.
"Pak tua gila, apakah kau tak puas juga selalu kalah dalam pertarungan! Aku bahkan lupa terakhir kali aku kalah darimu." Ban Fulong terkekeh membalas ungkapan Que Ye.
"Persetan kau memanggilku apa, terimalah salam dari tombakku!" Que Ye maju menyerang.
Trang!
Ban Fulong menangkis dengan pedangnya, tangannya menekuk di depan wajah dengan pedang menghalang.
Sementara di luar benteng, dua pria berdiri dengan wajah senang sekaligus puas.
"Hahaha... Tak aku sangka kau membuat terowongan rahasia, Penatua Du?" Wei Jia melirik pria tua di sampingnya dan kembali memandang ke depan.
"Anda terlalu memuji Yang Mulia?" Penatua Du tersenyum bangga, meskipun di luar dia berusaha bersikap tenang, dalam kenyataan dia bersorak bangga.
" Tak salah kakek mengasuhmu dengan baik," tukas Wei Jia sambil tertawa.
"Tuan sepuh Tang merupakan penyelamat hamba, tak mungkin hamba membelot darinya. Yang mulai merupakan putra satu satunya putri kedua Tuan sepuh Tang, oleh sebab itu hamba mengabdikan diri kepada Yang Mulia." Penatua Du mengatakan dengan sungguh sungguh.
"Ya... Aku tahu, ibuku adalah adik dari ayah Tang Min, Tang Min adalah sepupuku, dia tak mungkin membantuku jika bukan karena hubungan darah di antara kami." Wei Jia kembali melirik penatua Du.
"Meskipun pasukan luar hanya pengalihan, pasukan ini tidak boleh hanya diam ... Serang!!" Wei Jia berteriak dengan suara lantang.
"Pasukan musuh datang!!"
Pasukan Wei Huan seolah mendapat kabar buruk, wajah mereka berubah pias. Namun, tidak ada yang dapat mereka lakukan selain terus bertahan.
Gerbang masih tertutup rapat, tapi beberapa orang Wei Jia yang sudah di dalam mencoba membuka dari dalam, sementara yang di luar mendobrak.
Yang berjaga di atas benteng melesatkan jurus jurus yang dapat mereka kerahkan.
Dengan serangan itu pasukan yang berada di luar tunggang-langgang keteteran menghindari serangan dari atas benteng.
Melihat hal itu, beberapa petarung grand master yang dimiliki Wei Jia melompat atas instruksi pria paruh baya itu.
Kepungan dari dua sisi membuat rencana yang telah dibuat tidak berjalan semestinya, yang seharusnya dengan adanya benteng dapat mengalihkan perhatian pasukan Wei Jia beberapa waktu, malah menjadi boomerang untuk pasukan Kekaisaran.
Wei Huan masih bertarung dengan Tang Min, keduanya berimbang dengan kultivasi yang berada di tingkat petarung raja bintang enam. Begitupun dengan Ban Fulong dengan Que Ye yang masih terus bertarung.
Perhatian Wei Huan sesekali teralihkan oleh teriakan pasukannya, wajah pesimistis mewarnai ekspresi mereka, seolah tidak lagi memiliki harapan untuk menang.
Trang... Tring...
__ADS_1
Pasukan yang semula ratusan ribu tersisa puluhan ribu, meskipun pasukan Wei Jia tidak mendapatkan korban sebanyak pasukan Wei Huan, petarung yang terbunuh juga tak sedikit.
Wei Huan yang bertarung dengan Tang Min terus menggempur lawannya dengan sepenuh tenaga, dia berharap dapat mengalahkan Tang Min dengan cepat dan membantu yang lain, tapi mantan perdana menterinya itu ternyata dapat mengimbanginya.
Shut...
Wei Huan mengayunkan pedang memutar, mengait leher Tang Min dari samping. Namun, dengan kecepatan petarung raja bintang enam sangat mudah untuk menghindarinya.
Tang Min merunduk, kakinya menyeret mencoba menjegal Wei Huan.
Trang!...
Wei Huan melompat dengan melakukan tebasan dengan kedua tangan, tapi Tang Min terlebih dahulu berdiri dan membentangkan goloknya.
Tang Min mendorong golongnya yang ia pegang ujung ke ujung dengan kedua tangan. Hentakan yang tiba tiba membuat pedang Wei Huan terpental menjauh, tapi masih dalam genggaman pria paruh baya itu.
Wei Huan melompat mundur, tangannya mengayun mengeluarkan sebutir pill pemulihan, dan dengan secepat kilat dia menelan pill tersebut.
Melihat lawannya menelan pill pemulihan Tang Min juga berniat sama, tapi dengan cepat Wei Huan menerjang.
Blar!
Pedang Wei Huan mengeluarkan siluet benang yang melesat dan meledak tepat di tempat Tang Min berdiri.
Shut..
Tang Min keluar dari kepulan asap dengan tangan menyuap pill ke dalam mulutnya.
"Sialan kau Wei Huan, kau menyerangku saat aku..."
"Bacot!"
Wei Huan kembali melompat menyerang Tang Min, pedangnya yang terdongak ke atas, tiba tiba menungkik dan mengincar kepala Tang Min.
Cih!
Tang Min mendecih kesal, kemudian mengangkat golok rank epicnya.
Trang!
Srut...
Akh!
Meskipun sudah menghalangi serangan pedang Wei Huan, tangan kiri Wei Huan yang membentuk layaknya cakar merobek pakaian Tang Min sampai ke kulit.
__ADS_1
Tang Min mundur sambil menatap tajam lawannya.
"Ini belum selesai!"