Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 134


__ADS_3

Kaisar Wei memandang punggung putrinya sedu, tapi sedetik kemudian pria paruh baya itu memasang wajah seolah tak terjadi suatu masalah.


"Kau harus menyetujui perjodohan ini, atau kau tidak akan pernah melihat pria tua ini lagi," ucap Kaisar Wei dengan tegas.


"Heh... Aku sungguh bodoh mengira anda begitu peduli kepadaku, aku hanya pion di mata anda, hanya boneka yang anda gunakan untuk mempertahankan kekuasaan...,"


"Aku tahu anda melakukannya karena kau ingin memperkokoh posisi, dengan menggunakanku sebagai alat tukar...,"


" ... Bukankah kau terlalu kejam ayah~, aku adalah darah dagingmu, aku tak mengira sosok ayah yang aku banggakan hanyalah seorang pria yang mementingkan kekuasaan, bahkan jika dibandingkan dengan anaknya sendiri."


Wei Guanlin menumpahkan segala bentuk ganjalan dalam hatinya, air mata yang telah tertahan tumpah, membasuh pipi mulusnya.


"Terserah kau menganggapku apa, kau memang tak lebih dari pion yang aku manfaatkan." Kaisar Wei berkata dengan suara gemetar, pria paruh baya itu kemudian berbalik membelakangi putrinya.


"Meskipun kau berkata tidak, kau harus melakukannya!" ucapnya yang kemudian melenggang pergi.


Sambil berjalan Kaisar Wei melirik putrinya yang sudah terduduk lesu, matanya berkaca kaca, tapi dia tetap pergi meninggalkannya sendiri.


Brak...


Pintu ruangan tertutup, para penjaga yang melihat Kaisar Wei berkaca kaca dengan segera menghampirinya.


"Apakah anda baik baik saja, yang mulia?" tanya seorang prajurit yang menjaga di sana.


Kaisar Wei mengangkat tangannya, kemudian berpesan kepada kedua prajurit tersebut.


"Kalian pergilah, tidak perlu berjaga di sini."


Kaisar Wei pergi meninggalkan kedua prajurit yang masih terbengong dengan perkataan Kaisar.


Keduanya kemudian saling pandang, mengedikkan bahunya, lalu berjalan meninggalkan tempat mereka berjaga.


Di dalam ruangan, Wei Guanlin terduduk dengan kepala yang ia tenggelamkan diantara kedua kakinya.


"Kenapa ayah, kenapa kau tega mengatakan hal seperti itu ... "


Wei Guanlin terus meracau sambil terisak, perkataan ayahnya masih terus terngiang dalam kepalanya.


Kau memang tak lebih dari pion yang aku manfaatkan.

__ADS_1


Sungguh tak dia sangka, ayahnya akan dengan tega berkata seperti itu kepadanya.


"Jika kau menganggapku hanya sebagai pion, lalu kenapa kau memperlakukanku begitu baik sebelumnya, apakah itu semua agar aku percaya kepadamu...,"


"Ibu~ Aku merindukanmu..hiks...hiks," Wei Guanlin berkata lemah, matanya sudah berat akibat terlalu banyak menangis.


Masih dalam kepala tertunduk dia mengingat kenangan bersama ibunya, sungguh indah.


Mengingat masa kecilnya sungguh membuat hatinya sedikit tenang, tapi saat bayangan ayahnya muncul dalam pikirannya, dia seketika menggelengkan kuat kepalanya, seolah tak ingin melihat 'ayah' dalam pikirannya.


Sedangkan untuk sang kakak, Wei Guanlin tak memiliki hubungan yang terlalu akrab dengannya, semenjak kecil dia jarang bertemu dengan kakak laki-lakinya.


Dalam sekejap, seorang tuan putri yang merasa memiliki hidup yang begitu sempurna, pupus sudah. Bagaikan terkena tamparan keras dia sungguh merasakan sakit.


Tiba tiba sebuah bayangan melompat masuk ke ruangan Wei Guanlin, tanpa disadari sosok tersebut telah berdiri di samping Wei Guanlin.


"Lin'er apakah kau baik baik saja?" tanya sosok tersebut sembari mengeluarkan tangannya meraih pundak Wei Guanlin.


Merasakan seseorang menyentuh pundaknya, dia mendongak, alangkah terkejutnya dia mendapati seorang wanita sedang berdiri di sampingnya.


"Senior, kenapa kau disini? Bagaimana kau bisa masuk?" tanya Wei Guanlin dengan sekali tarikan nafas.


"Huh... Kau tak menjawab pertanyaanku apakah aku harus menjawab pertanyaanmu?" ujar Rourou dibuat kesal.


"Tidak, apa yang bisa terjadi kepadaku," Wei Guanlin memasang wajah tegar, dia tak mau menyeret seniornya kedalam masalah pribadinya.


Rourou jelas tak percaya, dia menatap Wei Guanlin dengan tatapan selidik.


"Kau jangan berbohong, wajahmu masih basah, aku tahu kau tengah berada dalam suatu masalah." Rourou menyentuh pipi Wei Guanlin yang masih tersisa bekas air mata.


"Bukan masalah besar, senior tak usah khawatir," ucap Wei Guanlin berusaha tegar, terlihat dari ekspresi gadis itu sungguh dalam perasaan sedu.


"Kau memang tak menganggapku sebagai saudarimu ya? Kau bahkan tak mau berkeluh kesah kepadaku." Rourou berkata dengan nada dibuat sedih.


Sambil berkata dia hendak pergi, tapi sebelum melangkah Wei Guanlin menghentikannya.


"Tunggu!" Wei Guanlin berseru dengan cepat, kemudian menangis tak bersuara sambil memeluk seniornya.


"Aku tahu kau dalam masalah, kau tak perlu menyembunyikannya dariku." Rourou membalas pelukan Wei Guanlin, kemudian mengusap punggungnya perlahan.

__ADS_1


"Bisakah kau ceritakan kepadaku?" tanya Rourou hati hati.


"..." Tak ada jawaban membuat Rourou menarik kembali pertanyaannya. "Kau tak perlu mengatakannya jika kau tak ingin, ... "


"Aku akan menceritakannya, tapi tunggu sebentar, biarkan seperti ini lebih lama lagi." Wei Guanlin merasakan kenyamanan saat Rourou memeluknya.


Setelah beberapa saat saling memeluk, Wei Guanlin mengambil nafas panjang.


"Kau tak perlu mengatakannya jika kau merasa itu terlalu berat." Rourou mengatakan dengan wajah khawatir.


"Tidak, mungkin aku akan sedikit tenang setelah berbagi kepadamu senior," bantah Wei Guanlin.


"Baiklah, jika itu bisa membuatmu lebih tenang," ujar Rourou.


Wei Guanlin pun menceritakan semuanya tanpa dia tutupi, telah tumbuh bersama di sekte pedang suci membuat Wei Guanlin percaya dengan seniornya.


Setelah bercerita, Wei Guanlin kembali menangis, membuat Rourou gelagapan mencoba memenangkannya.


"Apa sungguh seperti itu, bukannya aku tak percaya dengan ceritamu, tapi.... Hatiku tak begitu yakin, sejauh apa yang aku tahu, Kaisar Wei sangat peduli kepadamu." Rourou menampakkan wajah terkejut.


Wei Guanlin menghapus air matanya, kemudian dia menatap Rourou dengan mata sayu.


"Andai aku tahu bukan dari mulutnya sendiri aku tak akan pernah percaya, bahkan jika seluruh Kekaisaran mengatakannya aku tak akan pernah percaya, tapi dia mengatakannya dengan mulutnya sendiri...,"


"Entah apa yang membuatnya berkata seperti itu, mengatakan anaknya sebagai pion untuknya, sungguh aku tak menyangka." Wei Guanlin berkata dengan wajah tersenyum kecut.


"Bisakah kau membawaku keluar dari penjara ini?" Wei Guanlin bertanya dengan wajah penuh harap.


"Emng.." Rourou terlihat ragu, tapi kemudian dia kembali berkata. "Kemana kau akan pergi?"


"Meskipun kau pergi dari istana, kaisar Wei akan mengetahui jika kau kembali ke sakte pedang suci," tambahnya dengan wajah berpikir.


"Aku tahu, aku tak pernah berpikir akan kembali ke sakte pedang suci, aku akan menemui kakek, di Kekaisaran Shi," ucapnya tanpa raut wajah ragu.


"Kau akan meninggalkan Kekaisaran Wei, kau juga akan meninggalkanku, guru, dan kekasihmu... Yang entah siapa itu namanya," ucap Rourou.


"Sungguh tak ada niatan dalam diriku untuk meninggalkanmu dan juga guru, tapi keadaan memaksaku. Dan untuk Fan gege, aku tak bisa menariknya dalam masalah ini, aku khawatir akan membuatnya dalam masalah yang tidak kecil....,"


Wei Guanlin berusaha tetap untuk tenang, meskipun air mata sudah membasahi pipinya.

__ADS_1


__ADS_2