Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 64 : Turnamen Kota... 8


__ADS_3

Patriark Zhou, aku tidak mengira pemuda yang dirumorkan sampah dapat mengeluarkan aura sekuat itu..." Patriark Ling menoleh menatap Patriark Zhou.


"Heemm...." Patriark Klan Shui juga menoleh ke arah Zhou Fei mengharapkan mendapat jawaban dari pria tua itu.


"Aku juga tidak tahu dari mana dia mengeluarkan aura yang begitu kuat dengan kultivasinya yang berada di tingkat petarung pemula bintang 9, dari sekian banyak generasi muda Klan Zhou dia adalah yang paling tidak aku pertimbangkan."


Zhou Fei menggeleng, ia benar benar tidak tahu bagaimana Zhou Fan melakukannya.


"Bagaimana kau bisa menelantarkan bakat mengerikan seperti ini, bukan hanya dapat menekan seorang petarung mahir bintang 3 hanya dengan menggunakan auranya saja, tapi dia juga jenius pedang! aku rasa tidak akan dapat mengalahkannya dengan mudah jika aku hanya berduel teknik pedang, tanpa tenaga dalam."


Patriark Klan Shui begitu terpukau dengan dua pertandingan awal Zhou Fan, meskipun dia bukanlah anggota klannya, dia ikut menyayangkan bakat Zhou Fan yang begitu sempurna itu harus ditelantarkan.


Patriark Klan Shui begitu heran dengan Zhou Fei, menurutnya Zhou Fan merupakan mutiara di antara begitu banyaknya batu berharga, menelantarkannya sama saja dengan menyia-nyiakan mutiara yang jelas jelas di depannya.


Sementara itu, Ye Shou yang masih tertekan oleh aura Zhou Fan, sekarang bahkan ia sudah tidak kuat lagi untuk mempertahankan kesadarannya.


Juri ataupun yang lainnya belum menghentikan pertandingan karena Ye Shou belum berkata menyerah dan ia masih dalam keadaan sadar, Ye Shou bukannya tidak ingin menyerah tetapi keadaan memaksanya harus tetap berada di sana.


Mereka juga tidak akan menghentikan pertandingan selama peserta tidak berniat atau berusaha membunuh lawan mereka.


Semua orang mulai menyadari kesulitan yang dialami Ye Shou ketika melihat bagaimana derasnya keringat pemuda itu mengalir, dengan raut wajah yang begitu terlihat jelek dia berusaha bertahan.


Bersamaan dengan itu, pandangan mereka terhadap Zhou Fan kembali seperti mereka setelah melihat kemampuan teknik pedang Zhou Fan kemarin, tidak ada tatapan menghina atau mencibir, sekarang hanya terdapat tatapan kagum dari penonton itu.


Zhou Fan yang melihat bagaimana cepatnya pandangan orang terhadapnya berubah pun hanya bersikap acuh, ia memang sudah memperkirakan nya, jika ia menunjukkan kekuatannya maka tatapan seperti ini yang akan ia dapatkan.


"Sudahlah, aku kasihan melihatmu seperti menahan kencing heheh." Zhou Fan benar benar melepaskan tekanan auranya pada Ye Shou.


Perlahan Ye Shou berusaha bangkit, tapi kakinya seperti tidak mau bekerja sama dengannya, kakinya kesemutan karena terlalu lamanya ia menunduk di hadapan Zhou Fan.

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa saat, kakinya mulai kembali normal. Ye Shou bangkit dan menatap tajam pemuda di hadapannya, ingin sekali rasanya ia mencakar wajah pemuda itu.


Tapi memikirkan betapa mudahnya pemuda itu menekannya dengan hanya menggunakan auranya saja membuat dirinya sedikit merinding.


"Cih... Aku menyerah," Meskipun dengan perasaan sedikit dongkol pemuda itu akhirnya mau mengakui kekalahannya.


Dia keluar arena masih dengan wajah penuh keringat, bagaimana tekanan yang Zhou Fan berikan benar benar membekas dalam ingatannya.


"Heheh..." Zhou Fan terkekeh melihat kepergian Ye Shou yang terlihat masih kesal terhadapnya.


Sedangkan Zhou Yin menetap Zhou Fan dengan pandangan tak bisa di artikan,


"Seberapa besar kau menyembunyikan kekuatanmu, bagaimana bisa kau diam saja sewaktu semua orang menghina dirimu," Batin gadis itu.


"Apakah aku harus meminta maaf kepadanya, ya aku harus!" Gumamnya yang pada akhirnya mengkukuhkan tekadnya untuk menemui Zhou Fan, meskipun tidak dapat kembali seperti dahulu dia berharap masih bisa dekat dengan pemuda itu.


Pembawa acara yang sempat terbengong melihat kejadian di hadapannya pun tidak bisa berkomentar apapun lagi, ia hanya bisa menyatakan Zhou Fan sebagai peserta yang lolos ke babak selanjutnya.


Zhou Fan yang terlihat tidak nyaman dengan keadaan sekitarnya pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke penginapan yang khusus disediakan untuk para peserta.


Lagi pula setelah bertanding mereka tidak akan bertanding lagi, jadi Zhou Fan lebih memilih bersantai di kamarnya daripada tetap berada di sana melihat pertandingan.


Untuk menjaga kenyamanan para peserta, pihak tuan rumah menyediakan para peserta sebuah penginapan yang khusus untuk mereka, ke 32 peserta berada di penginapan yang sama, tidak ada yang memperlakukan mereka secara berbeda, baik yang dari klan besar ataupun lainnya mendapatkan kamar yang termasuk biasa.


Kebetulan letak penginapan tidak terlalu jauh dari lapangan turnamen, Zhou Fan hanya membutuhkan beberapa menit untuk sampai di penginapan dengan berjalan santai.


"Mengapa tuan kembali begitu cepat?" saat Zhou Fan memasuki pintu penginapan ia di sambut oleh seorang pelayan yang kebetulan mengenali Zhou Fan sebagai salah satu peserta turnamen kota batu hitam.


"Begitu membosankan berada di sana, aku membutuhkan ketenangan. Lagi pula aku sudah bertanding jadi tidak ada keperluan lagi di sana," Ucap Zhou fan sambil melemparkan dua koin emas kepada pelayan itu.

__ADS_1


"I..ini..." Pelayan itu memandang koin emas yang sudah berada di tangannya bergantian dengan wajah pemuda itu.


"Berikan aku makanan terbaik yang bisa kalian berikan," Ucapnya lagi yang seakan mengerti tatapan pelayan itu.


"Ah... i iya, makanan anda akan siap dalam waktu singkat." Pelayan itu tersadar dari lamunannya dan segera meninggalkan Zhou Fan yang terlihat mencari tempat duduknya.


Zhou Fan duduk di dekat jendela, ia bisa melihat bagaimana ramainya jalanan desa ini. Dari tua sampai muda semua terlihat mengisi jalanan itu,


"Lin'er...," Gumam Zhou Fan saat melihat siluet gadis yang sangat ia kenal.


Zhou Fan menggosok matanya dengan kedua tangannya, lalu mengeluarkan kepalanya ke jendela untuk memperbesar sudut pandangnya, ia mencari cari ke semua arah yang dapat terjangkau penglihatannya, tetapi ia tidak menemukan sosok yang ia cari.


"Dasar Lin'er, sudah pergi saja masih mengganggu pikiranku." Zhou Fan mengusap kasar wajahnya.


Tidak berselang lama pelayan yang tadi menghampiri Zhou Fan dengan membawa beberapa piring makanan bersamanya,


"Silahkan tuan, semoga sesuai dengan selera anda," Ucapnya lalu kembali ke belakang meninggalkan Zhou Fan.


Tidak butuh waktu lama untuk Zhou Fan menghabiskan seluruh makannya, setelah menghabiskan makannya ia kembali ke kamarnya yang kebetulan berada di lantai dua penginapan ini.


"Apa yang harus aku lakukan?" Zhou Fan terlihat berpikir, ia menggosok dagunya yang terlihat masih mulus tanpa rambut.


"Ah, sebaiknya aku mengembalikan persediaan pill ku, dan juga aku merasa pill kultivasi tingkat 4 tidak begitu banyak membantuku, aku harus mencoba membuat pill kultivasi tingkat Lima," Putus Zhou Fan.


Ia segera mengeluarkan bahan bahan yang menurutnya itu adalah tanaman herbal untuk membuat pill tersebut.


Tanaman herbal Zhou Fan masih sangatlah banyak di cincin penyimpanannya, selain terdapat tanaman herbal, di dalam cincin penyimpanan Zhou Fan lainnya juga terdapat barang barang berharga lainnya, mulai dari senjata, kitab, koin sampai air spiritual menjadi penghuni tetap cincin penyimpanannya.


Saat Zhou Fan memeriksa isi di dalam cincinnya, ia selalu merasa puas dan bangga memikirkan betapa beruntungnya ia dapat memasuki gua gurunya.

__ADS_1


__ADS_2