
"Kau mau bertarung, tapi tidak mengajakku? Kau benar benar keterlaluan." Yin Cun berjalan dengan wajah kesal, dia juga ingin terlibat hal hal seru seperti ini.
Zhou Fan tak menjawab, dia terus melangkah menunju tempat pertarungan. Meski matahari baru saja menampakkan diri, tak membuat suasana pelataran luar terlihat sepi, malah arena pertarungan begitu ramai karena menantikan sebuah hal besar.
Biasanya murid baru tidak akan ada yang berani meladeni murid murid lama, karena sebagian besar murid lama telah membangun latar belakang juga kekuatan mereka lebih unggul.
Namun yang maju kali ini adalah Zhou Fan, dia memilih kultivasi petarung Kaisar bintang pertama. Sedang lawan juga berada dalam tingkatan serupa, jika lawan tak mempunyai kelebihan tertentu, bukan tak mungkin untuk mengalahkannya.
Begitu sampai di arena, tatapan semua orang tertuju kepadanya. Awalnya tidak banyak yang tahu siapa sosok pemuda bernama Zhou Fan, yang mereka ketahui hanya sekedar nama dan juga pencapaiannya.
Namun karena beberapa murid luar mengenali Zhou Fan, dan menyerukan namanya, semua orang berpikir pemuda membawa belati di pinggang adalah orang yang mereka tunggu.
Tak tak...
Seorang pria melompat ke atas arena, tindakannya tentu langsung menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian.
Zhou Fan mengerutkan kening, tapi melihat siapa yang naik, ekspresi kembali normal. Itu dia, lawan yang menantangnya untuk bertarung.
Sebenarnya kedua pihak tidak memiliki dendam, bahkan Zhou Fan merasa tidak pernah bertemu sebelumnya. Namun orang orang itu datang langsung mengajaknya bertarung.
"Mana lawannya, kenapa tidak kunjung naik, takut?" Tue Yeun mengatakan seolah tak tahu keberadaan Zhou Fan, padahal lirikan matanya selalu terarah ke pemuda itu.
"Sialan! Apakah dia tak tahu siapa yang akan menjadi lawannya?" Yin Cun mengepalkan tangan, dia ikut emosi ketika mendengar ucapan Tue Yeun.
Jika saja tangannya tidak di tarik Zhou Fan, bukan tak mungkin dia sudah maju ke sana.
Setelah melihat Yin Cun sudah tak membuat masalah. Zhou Fan naik ke atas arena.
"Berhentilah menggonggong dan ayo mulai." Zhou Fan mengeluarkan belati raja api.
Tue Yeun merenung mendengar perkataan Zhou Fan, secara tidak langsung dia dihina di hadapan banyak orang, itu melukai harga dirinya.
Sambil menahan gejolak perasaan murka, Tue Yuen mengambil pedang di punggungnya. Kini dia sudah siap untuk bertarung.
Dalam pertarungan ini, tak perlu ada wasit, karena lebih dari ratusan pasang mata sudah cukup untuk menjadi saksi.
Tue Yeun melompat dan langsung menebas dengan menggunakan dua tangan.
Sementara Zhou Fan memiringkan tubuhnya sambil menahan dengan belati raja api.
Serangan dapat dimuntahkan, Tue Yeun tak puas. Dia menarik dan langsung menyabit dari samping.
Namun gerakan itu sekali lagi dapat dipatahkan dengan mudah, keduanya masih bertarung ringan, hanya menggunakan sedikit kekuatan.
Terlihat jelas ada unsur kehati hatian saat pertarungan, mencoba mencari aman.
__ADS_1
Beberapa lama, pertarungan hanya berupa tebasan juga ayunan senjata, membuat yang menonton sedikit jenuh dan merasa bosan.
Zhou Fan hanya mengikuti alur pertarungan, dia akan meladeni setiap gerakan yang dikeluarkan.
Sedang Tue Yeun masih berusaha menilai kekuatan Zhou Fan, karena lada dasarnya dia sendiri ragu dapat mengalahkan Zhou Fan.
"Tue Yuen, kau tak pantas berdiri di peringkat sepuluh besar. Menghadapi murid baru saja kau kewalahan." Suara itu begitu pekat akan nada cibiran, membuat semua orang melirik ke sumber suara.
"Itu Feng Xiao, peringkat lima besar dalam daftar murid luar." Seorang murid berkata sambil menatap sosok Feng Xiao yang tengah berdiri di sebuah atap kediaman.
Untuk Tue Yeun, tak perlu untuk memastikan, sekali dengar dia tahu siapa yang berkata.
Mendapat ucapan seperti itu, Tue Yeun merubah sikap bertarungnya, sambil mengambil jarak dia menatap Zhou Fan dengan sorotan tajam. "Akan ku buat kau berlutut!"
Zhou Fan hanya menarik sedikit sudut bibirnya, dia tahu bahwa Tue Yeun akan menyerah lebih ganas setelah ini.
Hyat...
Tue Yeun melangkah maju sambil menodongkan pedang, begitu dekat dia langsung memutar tubuh sambil mengincar leher.
Zhou Fan langsung berkelit, manarik tubuhnya agar terhindar dari serangan. Tak sampai di sana, Tue Yeun kembali menyerang, kali ini lebih dari satu.
Namun Zhou Fan juga bukan lawan mudah, sambil bergerak mundur dia menepis setiap alunan pedang yang begitu bernafsu melukainya.
Suasana pertarungan semakin menggairahkan, yang menonton tak kalah semangat, bahkan ada yang bertaruh dengan menjagokan diantaranya.
"Gunung menghancurkan daratan!"
Tue Yeun berteriak lantang, ketika dia selesai melakukan serangkaian gerakan, bayangan seperti gunung langsung jatuh menimpa Zhou Fan.
Blam...
Gunung yang termasuk besar itu menimpa lantai arena tepat di tempat Zhou Fan berdiri, getaran yang mengiring kedatangannya bagai lantunan suara merdu di telinga Tue Yeun.
Dengan itu, dia yakin dapat mengalahkan Zhou Fan, bahkan sekarang lawannya tak lagi terlihat batang hidungnya.
Hahahaha....
Tawa kemenangan terdengar dari mulutnya, kini perasaannya begitu berbunga. Ini adalah kabar baik, tentu saja bagi dirinya sendiri.
Namun arena pertarungan menjadi sunyi, membuat Tue Yeun menengadahkan kepala menatap wajah setiap orang yang hadir di sana.
Blar!
Gunung yang diciptakan hancur berkeping-keping, siapa lagi pelakunya jika bukan Zhou Fan. Pemuda itu berduri tenang di antara hamparan puing batu berserakan.
__ADS_1
"Ka - Kau, bagaimana mungkin?" Tue Yeun sangat mengetahui jelas kekuatannya. Melihat serangan andalan di hancurkan, membuat hatinya tak tenang.
"Aku akan beri kau pelajaran!" Tue Yeun melesat bak serigala lapar, memburu Zhou Fan bagai mangsa.
Namun Zhou Fan tak tinggal diam, sudah cukup baginya untuk bertahan, sekarang waktunya untuk menyerang.
"Belati sunyi!"
Ketika Zhou Fan berkata, gerakannya semakin cepat, langkahnya seperti seorang pembunuh yang telah menentukan targetnya.
"Mata pisau!" Sambil melesat Zhou Fan mengarahkan belati, begitu dia berkata siluet siluet kecil seperti pisau terbang ke tempat Tue Yeun.
Tue Yeun yang melihat pisau pisau itu, menampilkan wajah percaya diri, dia memandang rendah jurus yang dikeluarkan lawannya.
"Kau kira jurus murahan ini dapat berbicara banyak denganku?" Mungkin itulah arti tatapan yang diberikan.
Dengan santai dia melambaikan pedang, perisai dengan bentuk segi lima tercipta di depannya.
Pang...
Ketika satu pisau menancap, hanya terasa sedikit beban pada perisai, membuat kepercayaan diri Tue Yeun semakin tinggi.
Namun begitu sisa pisau lainnya menerjang, perlahan wajahnya berubah pucat.
Pang... Pang... Pang...
Pyar!
Perisai hancur, tangan Tue Yeun berdarah akibat ledakan perisai miliknya.
Semua yang di sana menatap terkejut peristiwa tersebut, mereka sebelumnya juga merasa serangan begitu lemah, tapi saat serangan itu menyerang satu titik yang sama berulang kali, serangan itu dapat menghancurkan perisai milik Tue Yeun.
Zhou Fan tak melewatkan kesempatan, dia langsung memburu sambil membawa belati raja api.
Wajah Tue Yeun semakin buruk melihat hal itu, dia tak lagi dapat menghindar, tapi dia juga tak bisa melawan. Senjata miliknya sudah terpental sejak perisainya hancur.
Sret...
Belati berhasil melukai leher Tue Yeun, tapi hanya segaris tipis. Darah keluar dari sana, sedang belati masih menunggu di dekatnya.
Tue Yeun tak mampu untuk bernafas, bahkan untuk menelan ludahnya dia merasa itu sangat sulit.
Zhou Fan masih berdiri dengan belati mengancam leher Tue Yeun, setelah lawan tak lagi dapat melawan, dia menarik belati nya kembali.
"Pecundang!"
__ADS_1