
Semua yang mendengar ucapan Zhou Fan mematung tidak percaya, khususnya adalah Zai Xuan. Dia masih tidak terima atas apa yang terjadi.
"Tidak! Kau pasti mengarang, mana mungkin nona Wei adalah istrimu. Cepat lepaskan tangan kotor mu itu."
Zhou Fan tak mempedulikan ucapan Zai Xuan, dia memandang wajah Wei Guanlin, dan memberikan kecupan singkat tepat di bibirnya.
"Air air mana air, aku tak tahan lagi."
"Mereka memamerkan kemesraan di hadapan semua orang, benar benar keterlaluan."
Murid lain hanya bisa mengeluhkan nasib sendiri, mereka tidak ada harapan. Karena Zhou Fan dan Wei Guanlin terlihat sangat serasi.
Sementara Wei Guanlin menunduk setelah Zhou Fan menarik wajahnya, dia tak tahu harus bagaimana menjelaskan ini semua. Terlebih terhadap guru yang kini berada tepat di dekatnya.
Ehem...
Zhou Fan seketika melepas pelukan ketika seseorang berdehem di belakangnya, dia menoleh dan mendapati seorang wanita tua.
"Anda pasti guru Lin'er, murid menghadap tetua." Zhou Fan sedikit membungkuk, dia menebak dengan pasti, di karena wanita tua itu adalah guru istrinya.
"Kalian berdua, ikut aku." Setelah berkata wanita tua itu pergi, mengakhiri sebuah tontonan yang sangat menarik perhatian.
Tetua lain seolah baru tersadar, mereka menepuk dahi sambil menggeleng. "Dasar anak muda."
__ADS_1
Di kediaman tetua Yue- guru Wei Guanlin, Zhou Fan serta Wei Guanlin duduk di kursi terpisah, keduanya menghadap tetua Yue yang bersikap laksana algojo.
"Tak perlu khawatir begitu, aku tidak masalah. Hanya saja, aku tidak akan membiarkan kekacauan semakin membesar." Tetua Yeu melirik muridnya, Wei Guanlin terlihat merasa bersalah.
"Dari awal aku sudah curiga. Sejak kau menolak semua pria yang datang, sampai saat bocah ini bertarung, kau tak pernah melepaskan pandanganmu darinya."
Wei Guanlin memalingkan wajahnya yang nampak memerah, dia malu bahwa gurunya telah mengetahui hal yang dia lakukan.
"Tetua, sepertinya kami harus undur diri." Zhou Fan berdiri, diikuti Wei Guanlin.
"Ya ya ya, kalian pergi lah." Tetua Yie menggoyangkan tangannya, dia mengerti mereka membutuhkan waktu karena telah lama tak berjumpa.
Zhou Fan bersama dengan Wei Guanlin kemudian kembali ke kediaman. Namun baru juga masuk Zhou Fan teringat akan keberadaan gurunya- tetua Louxi.
Wei Guanlin termenung, ternyata dia yang terlalu banyak pikiran. Zhou Fan bukannya lupa, hanya saja setelah mencari keberadaan tetua Louxi, hari sudah terlalu malam. Tidak ingin mengganggu, dia pun mengurungkan niatnya.
"Hei... Kau kenapa?" Zhou Fan melambaikan tangan, membuat Wei Guanlin tersadar.
"Baiklah, aku mengerti." Wei Guanlin kemudian masuk ke dalam ruangan, sementara Zhou Fan telah keluar dan menuju taman.
Sampainya di taman, sama seperti kemarin, suasana tampak kosong. Meski bulan bersinar terang, tidak sanggup mengisi gelapnya gazebo di tengah taman.
Sama sekali tidak ada lilin atau lentera yang menyala, Zhou Fan merasakan suatu prasangka yang tidak baik. Pasti terjadi sesuatu terhadap gurunya.
__ADS_1
Zhou Fan berjalan mendekati lentera di dekatnya. Minyak tanah yang digunakan benar benar terkuras habis, tidak bisa menyala.
Itu menandakan tidak ada orang yang datang sejak kemarin malam, lantas kemana tetua Louxi, apakah mungkin dia tidak lagi menempat di taman ini.
Pemuda itu pun memutuskan untuk kembali, dia menyelinap masuk ke kediaman Wei Guanlin. Kediaman Wei Guanlin berada di pelataran dalam, karena Zhou Fan juga merupakan murid dalam, dia sama sekali tidak kesulitan untuk pergi ke sana.
Memasuki ruang tamu, dia melihat Wei Guanlin yang tengah berdiri di balkon menghadap halaman samping. Entah apa yang dia pikirkan, yang jelas dia terlihat sedih.
Zhou Fan mendekati, dia memeluk tubuh Wei Guanlin dari belakang. "Apa yang kau pikirkan, hem?"
Wei Guanlin sudah merasakan keberadaan seseorang, saat dia akan menyerang, dia sangat mengenal siapa pemilik suara itu dan membuatnya menarik niatnya.
"Aku Merindukan ayah, apakah dia baik baik saja di sana?"
Zhou Fan mengangguk, dia tidak berbohong karena Wei Huan memang baik baik saja, setidaknya saat pemuda itu meninggalkan Kekaisaran Wei.
"Setelah menjadi murid dalam secara resmi, kita akan kembali ke Kekaisaran Wei."
Wei Guanlin menengadahkan kepala, menyandarkan kepala di pundak Zhou Fan. "Sekarang, kenapa kau datang ke kediaman ku?"
Zhou Fan tersenyum, senyuman itu menyiratkan sebuah niat tersembunyi.
"Apakah kau yakin tidak tahu?" Zhou Fan berkata sambil mengedipkan sebelah mata, membuat Wei Guanlin mengerutkan kening.
__ADS_1
"Menunaikan sebuah kewajiban."