
Pertarungan panas masih terjadi, meskipun sudah tak terhitung berapa banyak korban yang meninggal, tak menyurutkan semangat orang orang klan Zhou untuk tetap bertarung.
Zhou Hu masih berusaha mengalahkan Patriark Yu, keduanya tampak berimbang, luka luka tak sedikit yang tertanam pada tubuh keduanya.
Zhou Qian bersama dengan lainnya masih bertarung dengan pasukan lawan.
Sementara Zhou Fei dan juga Zhou Kay sudah kewalahan menghadapi Patriark Bai yang memang kultivasinya di atas keduanya.
"Dasar sampah!" desis patriark Bai memandang dua lawannya dengan tatapan remeh.
"Heh... Meskipun harus mati aku akan tetap bertarung!" Zhou Fei mengatakan dengan nafas terengah.
"Jika itu yang kau inginkan aku akan membantumu." Patriark Bai melesat ke arah Zhou Fei, pedangnya menodong lurus mengincar kepala lawannya.
Zhou Fei yang masih sanggup bertarung, mendengus pelan, kemudian melompat ke samping.
Bersamaan dengan itu, Zhou Kay maju dan menyambar kepala Patriark Bai dengan pedangnya.
Shut..
Patriark Bai menarik kepalanya ke belakang, pedang Zhou Kay hanya melewati depan kepalanya.
Tak mengenai sasaran, Zhou Kay mengayunkan kembali pedangnya, mengincar dada Patriark Bai.
Patriark Bai menggeser tubuhnya, tangan kirinya mencengkram tangan Zhou Kay yang menggenggam pedang.
Cek... Krak!
Patriark Bai menekuk pergelangan tangannya, menimbulkan suara remahan tulang retak.
Zhou Kay meringis, sambil menarik tangan kanannya, dia mengibaskan tangan kirinya, mencoba menampar kepala Patriark Bai.
Plak!
Tangan kanan Patriark Bai menangkis telapak tangan Zhou Kay.
Berhasil melepaskan tangan kirinya, dia melompat mundur beberapa kali.
Zhou Kay menatap pergelangan tangannya, kemudian memusatkan tenaga dalam di sana, perlahan rasa sakit yang ia rasakan pun mereda.
Merasakan tangannya sudah baik baik saja, dia mengepalkan tangannya sambil menggoyangkannya beberapa kali.
Mata tua Zhou Kay melirik Zhou Fei, Patriark klan Zhou itu membalas dengan kedipan mata, kemudian keduanya melesat mengepung Patriark Bai.
"Tak tahu diri!" Patriark Bai mengatakan dengan nada angkuh, senyum di wajahnya sangat jelas memandang remeh lawan.
Zhou Kay menempatkan kakinya di depan, dia berniat menjadikan kakinya sebagai senjata.
Sedangkan Zhou Fei melesat seolah dia melayang terbang dengan pedang terangkat tinggi.
Hyat!
Keduanya berteriak bersamaan, menambah kecepatan meluncurnya.
Shut..
Kecepatan keduanya menjadi dua kali lipat, masih dengan posisi yang sama keduanya bergerak sangat cepat.
Merasa sudah berada dalam jangkauan, Zhou Fei mengayunkan pedangnya, menebaskan tegak lurus.
Patriark Bai menarik sudut bibirnya kemudian mengangkat pedangnya.
__ADS_1
Trang...
Dari arah berlawanan Zhou Kay melesat dengan kaki terangkat menungkik ke bawah.
Merasakan serangan dari arah belakang, Patriark Bai dengan cepat mendorong pedangnya, dan melompat ke samping.
Blar!
Permukaan tanah berhamburan akibat hentakan kaki Zhou Kay.
Zhou Fei mundur setelah Patriark Bai mendorong pedangnya.
Zhou Kay melompat, mengeluarkan kakinya dari lubang yang ia buat.
Zhou Fei memutar pedangnya bersiap kembali menerjang Patriark Bai, sebelum melesat menyerang Patriark Bai dia berbisik pelan kepada Zhou Kay yang berada tepat di sampingnya.
"Tetap siaga, aku akan buat celah." Sepersekian detik setelah mengatakan Zhou Fei sudah tak berdiri di tempatnya.
Zhou Kay tersenyum, meskipun ini adalah pertarungan hidup mati, dia merasa sangat seru. Sudah sangat lama dia tidak bertarung lepas seperti sekarang. Mungkin jika ada yang mendengar suara hatinya, orang akan menganggapnya gila, disaat kritis dia malah merasa kegirangan.
Pria paruh baya itu kemudian bersiap dengan pedangnya, menantikan celah yang akan berusaha di buat oleh Zhou Fei.
Melihat kedua lawannya terlihat berbisik, Patriark Bai tanpa ragu melesat menyerang.
Bust...
Zhou Fei yang kebetulan melesat mengangkat pedangnya, menodong lurus ke depan
dengan siku menekuk.
Patriark Bai tersenyum sinis, sambil melesat dia mengayunkan pedangnya.
Tring...
Kekuatan yang berbeda membuat Zhou Fei terdorong beberapa langkah.
Melihat kesempatan di depan matanya, Zhou Kay tak menyia-nyiakan kesempatan, dia menghujam ke arah Patriark Bai.
Patriark Bai menangkis pedang Zhou Fei, kemudian melesatkan tendangan telak ke bagian perut Zhou Fei.
Trang... Bugg...
Selepas membuat Zhou Fei terpelanting kebelakang, Patriark Bai mengarahkan pedangnya ke samping kirinya, menyambut serangan Zhou Kay.
Trang... Trang....
Sreg... Akh!
Satu sayatan tercipta di bagian lengan atas Zhou Kay, membuatnya lengah sesaat.
Meskipun hanya sesaat, Patriark Bai dengan sigap meninju perut Zhou Kay, membuat pria paruh baya itu ikut terpental seperti Zhou Fei.
Bruak!
Zhou Kay terbang menghantam sebuah bangunan, tepat di sampingnya sudah ada Zhou Fei yang telah terlebih dahulu terbaring dengan darah merembes di sudut bibirnya.
Sementara, Zhou Qian menghadapi seorang pria kerempeng dengan kultivasi tak jauh beda dengannya.
Meskipun terlihat imbang, Zhou Qian memiliki fisik yang lebih unggul dari pada pria kerempeng. Membuat serangannya dominan.
Setiap adu pedang, terlihat tangan pria kerempeng gemetar, meskipun tidak terlalu nampak jika tak memerhatikan dengan seksama.
__ADS_1
Pertarungan terus berlangsung, sampai sebuah tebasan, yang membuat kepala pria kerempeng jatuh terpisah dari tubuhnya.
Srek.. Bugk!
Zhou Qian tak sempat memungut cincin penyimpanan, dari arah depan seorang pria dengan sebelah mata tertutup kain maju menyerangnya.
Hyat...
Zhou Qian melompat mundur beberapa kali, kemudian melesat dengan pedang terangkat.
Trang...
Zhou Qian mengerutkan keningnya, mata indahnya menyipit. Dalam hati dia bergumam, "Dia berada di atas tingkat kultivasiku."
Zhou Qian lari berputar ke arah kanan, mengira penglihatan sebelah kiri lawannya adalah sebuah kesempatan, memanfaatkan kondisi lawannya dia mulai bergerak.
Meskipun dengan hanya sebelah mata yang terbuka, tak membuat pria berpenutup mata memiliki kekurangan dalam penglihatannya.
Pria berpenutup mata mengetahui kemana Zhou Qian bergerak, dia mengikuti gerakannya bahkan, mata kanannya melirik tajam Zhou Qian.
Saat berada tepat berada di samping, Zhou Qian tiba tiba melompat menerjang pria berpenutup mata.
Pedangnya menusuk lurus ke depan, saat ia sudah merasa kemenangan berada di tangannya, dan nyawa pria berpenutup mata sudah tak tersisa lama lagi, sebuah pedang menangkis pedangnya.
Trang....
Pria berpenutup mata memutar tubuhnya, kemudian menebas beberapa kali.
Zhou Qian yang mendapati serangan beruntun, mundur sambil menangkis pedang pria berpenutup mata.
Trang... Tring...
Kultivasinya yang berada di bawahnya dan sudah melalui pertarungan sebelumnya membuat Zhou Qian semakin melemah.
Beberapa saat kemudian dia sudah mendapati luka di tubuhnya, pria berpenutup mata seketika mengeluarkan jurusnya.
"Pedang angin!" Sejurus kemudian siluet mata pedang mengarah ke tempat Zhou Qian berada.
Duar!
"Qian'er!"
Zhou Hu yang tak sengaja melirik istrinya, dengan spontan hendak melompat ke arahnya. Namun sebuah cemgkraman tangan kokoh menarik kerah pakaiannya dan melemparnya menjauh.
Bruak!
Zhou Hu terpelanting dan menghantam sebuah pohon.
Huk! Huk!
Segumpal darah segar lolos begitu saja dari mulutnya.
Beberapa jam kemudian, seluruh anggota klan Zhou telah di kalahkan, yang masih hidup di kelompokkan menjadi satu, di seret seolah mereka bukanlah manusia.
Saat seorang pria menyeret Zhou Qian, dia atas sebuah bangunan, sepasang mata berkilat tajam, menatap pria tersebut.
Bersamaan dengan itu, sebuah guntur berkilat menyambar, memperlihatkan wajah seorang pemuda dengan mata memerah karena darah.
Matanya memandang kekacauan yang terjadi dengan kelam, kemudian dia melompat dengan pedang yang sudah berada di tangannya.
Blar!
__ADS_1
Permukaan tanah seketika meledak saat kakinya menapak, matanya menatap tajam pria yang menyeret Zhou Qian.