
Malam berlalu, dan seleksi murid dalam akan segera dilaksanakan. Di tempat pertandingan, banyak sekali orang, tak hanya murid luar, tapi juga beberapa murid dalam.
Tak ketinggalan tetua murid luar serta dalam yang duduk di kursi kehormatan.
Zhou Fan masih berada di kediamannya, dia baru saja bangun dari tidurnya. Kemarin dia harus berlatih dengan gurunya sampai malam, bahkan dia kembali ke kediaman ketika pagi akan datang.
Dia hanya sesaat memejamkan mata, tapi itu sudah cukup baginya.
Ketika akan keluar, Yin Cun bersama dengan Wu Zetian sudah menunggu di depan. Bersama mereka, nampak dua wanita muda yang memiliki paras yang rupawan.
Tentu saja mereka berdua adalah Wei Guanlin serta Miao Ling, gerbang antar pelataran untuk beberapa waktu ini senantiasa terbuka, jadi mereka tak perlu repot ketika ingin datang ke pelataran luar.
"Ayo kita ke tempat seleksi." Zhou Fan setelah sampai langsung mengajak mereka ke tempat tujuan.
Mereka berempat mengangguk, dan pergi bersama Zhou Fan ke tempat seleksi murid dalam.
"Fan, kau harus menang, masuk tiga besar dan mendapatkan token murid dalam." Wei Guanlin mengatakan dengan suara lirih, tidak ada yang mendengar selain dirinya dan juga Zhou Fan yang berjalan di sampingnya.
Zhou Fan menoleh, kemudian tersenyum penuh arti.
"Apa yang akan aku dapatkan ketika aku bisa melakukannya?" Zhou Fan mengedipkan sebelah mata, melirik dengan tatapan menggoda.
Wei Guanlin diam tak menjawab, dia berpikir apakah dia harus menyiapkan hadiah? Jika iya, hadiah apa yang harus dia berikan?
Wanita itu melirik Zhou Fan, setelah hanya diam sambil melirik, dia pun membuka suara.
"Bagaimana jika ucapan selamat?" Wei Guanlin tersenyum lembut, dia belum mendapatkan bayangan hadiah yang akan dia berikan, dia mengatakannya secara spontan.
Mendengar tawaran Wei Guanlin, Zhou Fan pura pura berpikir, memegang dagu dengan dua jarinya.
"Bagaimana jika biarkan aku menginap di kediaman mu?" Zhou Fan tersenyum tipis, dari ekspresi wajahnya dia menyembunyikan sebuah makna yang tak dapat dikatakan secara lisan.
Wei Guanlin menyambut ucapan Zhou Fan, hanya termenung tak menjawab, wajahnya sedikit panas membayangkan suatu hal yang seharusnya tidak ia pikirkan.
__ADS_1
Membiarkannya menginap?
Wei Guanlin curiga dengan dua kata itu, dia merasa ada maksud tersembunyi di dalamnya.
Zhou Fan menaikkan sebelah alisnya, pemuda itu seolah ingin Wei Guanlin segara memberikan jawaban walau hanya sebuah anggukan.
"Hanya menginap?" Wei Guanlin seolah ingin memastikan.
Zhou Fan mengangguk cepat, dalam benaknya dia berkata. "Hanya menginap dan tentu saja beserta bonusnya."
Selama di perjalanan Zhou Fan terus mengulum senyum di mulutnya, membuat Yin Cun serta lainnya mengerutkan kening.
Namun tidak dengan Wei Guanlin, dia hanya diam dan terus berjalan.
Tak sampai berjam jam, mereka sampai di sebuah tanah lapang yang luas. Seperti dugaan, sama sekali tak ada tempat sepi di sana, bahkan para murid harus berdesakan ketika ingin melihat pertarungan.
Ini adalah babak 12 besar, dengan kata lain ini adalah pertarungan antara dua belas murid luar terbaik.
Zhou Fan yang sudah berada di tempat peserta berkumpul harus mendengarkan setiap peraturan yang telah ditetapkan.
Dia adalah tetua Que, pria tua berambut putih itu, hari ini memakai pakaian serba putih dengan ikat pinggang yang juga putih. Tubuhnya yang sedikit kerempeng dan terlihat rapuh, membuat orang ragu bahwa dia adalah salah satu petarung hebat.
Namun mereka harus percaya bahwa pria tua Itu merupakan petarung yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Itu dapat dilihat dari posisi yang dia emban di atas pundaknya, dia harus menjaga serta mengurus seluruh hal yang berkenaan dengan murid luar, baik itu tetua, ataupun murid luar itu sendiri.
Setelah berkata sekitar beberapa menit, tetua Que mengakhiri penjelasan dengan memberikan kesempatan bagi ke dua belas peserta untuk bertanya.
Loin Gu, pria bertubuh besar itu mengangkat tangan kanannya. "Tetua Que, seleksi ini tentu tidak hanya ajang kosong 'bukan? Jika seseorang tidak dapat masuk tiga besar, apakah ada suatu bentuk penghargaan untuknya?"
Mendengar pertanyaan Loin Gu, kesebelas murid yang tersisa memandang dengan tatapan heran.
Tak hanya mereka, tapi juga semua yang di sana, mereka yang berada di tempat seleksi. Bahkan mereka sampai tertawa mendengar pertanyaan yang sangat tidak ada hubungannya dengan peraturan yang dipaparkan
Percakapan antara mereka tidak begitu rahasia, memang dibuat seperti itu agar yang menyaksikan juga dapat menjadi saksi saat pertandingan, itu membuat seleksi berjalan berdasarkan asas keterbukaan.
__ADS_1
Loin Gu mencebik kesal, dia kemudian memutar tubuh memandang ratusan lebih orang dalam pandangannya. "Apa? Aku hanya ingin mengetahuinya, juga tidak ada salahnya untuk menyemangati diri sendiri, agar tidak terlalu frustasi ketika kalah nanti."
Tetua Que henya menggeleng di tempatnya, kemudian pria tua menjawab pertanyaan Loin Gu. "Hadiah, tentu saja ada. Namun hanya delapan besar yang akan mendapatkannya, untuk apa itu, kalian harus menunggu."
Loin Gu yang sempat tersenyum langsung merubah ekspresi wajahnya begitu mendengar kata 'menunggu'.
Sementara semua orang penasaran siapa yang akan menjadi delapan besar, tentu saja mereka juga penasaran tentang hadiah apa yang alam kedelapan orang dapatkan.
Karena tak lagi ada yang bertanya, tetua Que memberikan token berisikan nama mereka. Satu persatu dari mereka mulai memasukkan token pada sebuah kotak kayu yang tersedia.
Satu persatu nama keluar, dua nama yang keluar berdekatan akan saling berhadapan.
"Tue Yeun, melawan Zhou Fan ...." Mendengar ini, semua orang berseru dengan semangat.
Zhou Fan langsung naik, lawannya adalah Tue Yeun, orang yang sama yang telah dia kalahkan beberapa waktu lalu.
"Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." Tue Yeun memandang dengan tatapan tajam, dia seolah ingin memperlihatkan bahwa dia bukanlah orang yang sama seperti waktu itu.
Kekalahan yang dideritanya saat itu benar benar merupakan pukulan hebat baginya, setiap malam setelahnya, dia tidak bisa beristirahat dengan tenang, dia senantiasa memikirkan kekalahan itu.
Dia memperkuat diri, dia bertekad akan membalas kekalahan waktu itu, dan saat yang telah dia nantikan akhirnya datang.
Zhou Fan mengedikkan bahu, dia tak peduli dengan apa yang dikatakannya, yang terpenting baginya adalah memenangkan pertarungan dan memasuki peringkat tiga besar.
"Apa yang terjadi terhadap mereka, murid bernama Tue Yeun ini sepertinya mempunyai dendam terhadap lawannya." Perkataan itu keluar begitu saja dari mulut salah seorang murid dalam.
Murid luar yang mengetahui memang ada sesuatu diantara dua murid di atas pun menyahut. "Mereka pernah bertarung, saat itu Zhou Fan mengalahkan Tue Yeun dengan telak, bahkan menghajar wajahnya."
Memikirkan tentang bagaimana Zhou Fan menghajar wajah Tue Yeun, murid itu tersenyum sambil kembali berkata. "Saat itu bahkan Feng Xiao mencoba menghentikan, tapi tak dianggap oleh Zhou Fan."
Murid dalam itu mengangguk, tapi dalam hati terdapat perasaan tidak suka terhadap Zhou Fan. "Murid baru itu memang agak sedikit arogan, jika dia masuk menjadi murid dalam, aku akan memberinya pelajaran."
Murid luar itu menggeleng mendengar gumaman orang di sampingnya, jika itu dia, tentu tak akan mencari masalah dengan Zhou Fan. "Mencari lawan juga harus dipikir."
__ADS_1