
"Meski mempunyai saudara sepertimu merupakan sebuah kerugian, aku akan menghargai kesepakatannya." Zhou Fan terkekeh sambil memutar tubuhnya.
"Cih... Umurku lebih tua darinya, tapi aku harus memanggilnya dengan sebutan kakak. Ini jelas pelecehan!" batin Yin Cun dengan nada geram.
Keduanya berjalan berdampingan mendekat kembali ke menara. Karena tetua Que juga tetua lainnya masih menunggu di sana.
"Untuk semua yang mendapatkan peringkat di bawah dua puluh lima silakan meninggalkan kota Lan Yuliang." Tetua Que tak mau basa basi, dia langsung merujuk pada peserta yang tidak lolos babak ketiga.
Setelah melihat puluhan orang berangsur pergi, tetua Que kembali bersuara. "Kalian semua kecuali tiga teratas, ikutlah dengan para tetua untuk menuju ke tempat pendaftaran. Sedangkan untuk kalian bertiga, ikuti aku."
Tepat setelah memberikan akhiran pada kalimatnya, tetua Que melesat pergi. Zhou Fan juga dua lainnya spontan mengejar karena tak mau ketinggalan.
Tak lama keempatnya tiba di sebuah bangunan megah, dengan fondasi berupa batu hitam bangunan itu berdiri tanpa ada halangan.
"Bangunan ini adalah tempat para tetua murid luar melakukan tugas, tapi tak jarang tetua murid dalam datang sekedar bercengkrama. Dengan hasil yang kalian dapatkan, besar kemungkinan kalian akan diambil murid olehnya." Tetua Que tak langsung masuk, dia terlebih dahulu mengingatkan.
Begitu masuk, kedalaman bangunan itu sangat ramai. Banyak sekali tetua sekte bulan sejati yang ada di dalamnya, satu dua orang murid juga terlihat di sana.
Meja meja kayu berjajar memajang dengan dilengkapi kursi sekitar puluhan, itu adalah markas para tetua sekte.
Tetua Que merupakan kepala tetua murid dalam, saat dia baru membuka pintu dan melangkahkan kakinya, banyak orang menyapa dengan begitu hormat.
Melihat tetua Que membawa tiga orang wajah baru, mereka tak henti hentinya bertanya pada diri sendiri. Pasalnya, tidak sekalipun tetua Que pernah melakukan hal itu sebelumnya.
Tetua Que hanya merespon dengan anggukan juga senyuman, dia melangkah menuju ruangannya. Sebagai kepala tetua murid dalam, tentu dia mendapatkan tempat khusus di sana.
"Tatua Zou, kebetulan sekali anda di sini." Tetua Que mendekati pria tua yang sudah berada di dalam ruangannya.
Pria tua dengan rambut putih serta pakaian juga putih itu menoleh, melihat tiga wajah asing di belakang tetua Que, dia mengernyit pemasaran.
__ADS_1
"Tetua Que, siapa ketiga orang di belakang anda?" Tetua Zou bertanya sembari mengeluarkan telunjuk tanpa sungkan.
"Owh... Mereka adalah tiga teratas dalam seleksi kali ini, bukan tanpa alasan aku membawa mereka, mereka paling sedikit mencapai tahap ke lima belas." Tetua Que menjelaskan dengan bangga.
"Kalian bertiga, ini adalah tetua Zou. Beliau merupakan tetua murid dalam." Dengan perkataan tetua Que, ketiga nya memberikan hormat.
"Kaisar bintang dua, raja bintang delapan, lumayan bagus yang anda dapatkan. Tapi yang satunya, petarung raja bintang satu?" Tetua Zou yang mempunyai kultivasi petarung senior bintang dua tak dapat melihat kultivasi Zhou Fan yang sesungguhnya.
"Tetua Zou, anda jangan menilai dari luarnya. Dia adalah yang teratas diantara ketiganya, jika aku tak melihat sendiri aku pun akan terkecoh sama sepertimu." Tetua Que mengatakan dengan nada menasehati.
Kening tetua Zou nampak berkerut, dia seperti kurang percaya dengan perkataan tetua Que. Memang sulit meyakini apa yang ia lihat begitu kontras dengan kenyataan.
Sebagai seorang yang memiliki nama di sekte bulan sejati, tetua Zou memiliki pengalaman yang tak sedikit, umurnya telah masuk satu setengah abad. Namun karena kuktivasinya yang berada di tingkat petarung senior, dia terlihat lebih muda dari umurnya.
Seolah mengetahui keraguan tetua Zou, tetua Que pun tak mau memaksa untuk percaya, dia menuju ke tempat duduknya dan dengan santai berkata.
"Meski pembagian murid hanya ada dua, murid dalam dan murid luar. Masing masing memiliki tingkatan, dari yang terendah. Merah, jingga, kuning, dan biru."
Sambil berkata, tetua Que memberikan token kepada ketiganya. Yin Cun dan juga Loin Gu mendapatkan token berwarna jingga, sedang Zhou Fan mendapatkan token berwarna kuning.
Tetua Zou yang melihat dibuat terkejut, bahkan pria tua itu langsung berdiri. "Tetua Que, bukankah anda terlalu meninggikan pemuda itu? Meski dia mendapatkan tempat pertama, tak pernah murid baru masuk serta merta mendapat token kuning."
Tetua Que menarik sedikit sudut bibirnya. "Tetua Zou, anda pasti tahu peraturan sekte. Jikalau ada peserta seleksi yang mampu mencapai tahap ke dua puluh dalam menara, apa yang dua dapatkan?"
Tetua Zou tak langsung menjawab, dia merasa pertanyaan yang diajukan tidak sama sekali ada hubungan. "Dia akan mendapatkan token kuning, -- "
"Tepat sekali." Belum sempat tetua Zou mengeluhkan keluhannya, tetua Que memotong dengan dua kata.
Kening tetua Zou semakin jelas kerutan nya, dia sulit untuk percaya, tapi tak ada gunanya tetua Que menipunya. Karena ingin memastikan sendiri, pria tua itu keluar tanpa permisi.
__ADS_1
"Kalian pergilah ke tempat pendaftaran untuk mengambil pakaian sekte." Ketiganya mengangguk serentak, dan pergi setelahnya.
"Aku tak percaya kau lebih unggul dariku!" Loin Gu yang sedari tadi menahan kegeraman meluapkannya begitu keluar dari paviliun teratai, markas para tetua.
Zhou Fan yang berjalan di depan menghentikan langkah kakinya, tanpa membalikkan badan dia berkata. "Aku tak butuh kau percaya padaku, karena itu sama sekali tak ada hubungan denganku."
Zhou Fan kembali melangkahkan kakinya, Yin Cun yang berada di samping pemuda itu langsung mengeluarkan jempolnya begitu mendengar ucapan dengan nada sarkastik.
....
Satu hari berlalu begitu saja. Angin berhembus begitu kencang, informasi tentang seorang murid baru yang mencatatkan nama di peringkat murid luar dalam sekejap sudah menjadi perbincangan seluruh kota Lan Yuliang.
Mereka tahu, nama murid tersebut adalah 'Zhou Fan'. Namun tak ada yang tahu seperti apa wajahnya, karena pemuda itu tak keluar sejak mendapatkan ruangan.
Di pelataran murid dalam, seorang wanita muda dengan pakaian merah muda juga rambut tergerai panjang, tengah duduk termenung.
"Adik seperguruan, apa yang tengah kau pikirkan?" Seorang wanita yang sekiranya lebih tua dua tahun datang menghampiri.
Wanita muda itu hanya menggeleng menanggapi pertanyaan saudari seperguruannya.
Melihat hanya mendapati gelengan, kakak seperguruan itu mengangkat kedua bahu lalu beranjak pergi sambil berkata. "Guru menunggumu di ruangannya, beliau berpesan agar kau segera datang menemuinya."
"Fan? Aku berharap itu kau." Wanita muda yang tak lain adalah Wei Guanlin itu bergumam sambil memandang langit.
Begitu sebuah kabar seorang peserta seleksi bernama 'Zhou Fan' menciptakan kehebohan, dia berharap bahwa itu adalah orang yang sama dengan yang ada dalam pikirannya.
Namun senjatanya yang berupa belati langsung menghapus pemikirannya, Zhou Fan yang ia ketahui adalah pengguna pedang, bukan belati.
Sekarang Wei Guanlin berada pada tingkat petarung raja bintang sembilan, dengan sumber daya yang diberikan gurunya, dia dapat mempercepat peningkatannya.
__ADS_1