
Tetua kedua semakin bingung, dia celingukan mencari celah, tapi setiap jalan keluar dari aula Klan sudah tertutup rapat.
"Sialaan kau tetua pertama! Kau sengaja menjebakku!" Tetua kedua meraung marah dengan tatapan tajam.
Heh...
Tetua pertama mendengus asal, pandangan matanya memancarkan kekecewaan.
"Aku tak mengira, kau akan menjadi pengkhianat tanah airmu!" Tetua pertama berkata dengan suara serak, dia menahan kesedihan atas orang yang sudah ia anggap saudara.
"Tanah airku? Kau pasti bercanda, dalam dunia kultivator tidak mengenal tanah kelahiran, tanah air hanya dijadikan alasan orang lemah untuk tetap bertahan ... "
"Dalam dunia kultivator tidak ada kekuasan yang dapat mengekang seorang petarung! Aku hanya mengikuti siapa yang dapat membantuku menjadi lebih kuat, persetan dengan Kekaisaran!"
Tetua kedua berkata lepas, dia seolah sudah menyerah untuk melarikan diri, dia mengungkapkan semua yang ada dalam pikirannya.
Tetua pertama menggeleng mendengar perkataan tetua kedua, dia berjalan mendekati tetua kedua.
Tetua kedua hanya diam, sesekali dia melirik tetua pertama yang terus mengitarinya.
"Apakah ini adalah sifat aslimu, aku sangat bodoh mengira orang sepertimu merupakan orang yang harus di ikuti langkahnya oleh Klan Yu. Kau tak lebih dari seorang pecundang! Yang tidak mau berusaha lebih untuk mencapai keinginan, kau mencari sesuatu yang instan."
Tetua pertama terus berkata, telinga tetua kedua sampai berdengung mendengar ucapan tetua pertama yang tak ada habisnya.
"Apakah kau tidak berpikir akan berubah? Kau adalah bagian dari Klan Yu, kenapa tidak kembali dan membangun Klan Yu bersama, jangan sampai Klan Yu kehilangan orang hebat lagi, setelah patriark."
Uhuk... Huk...
Zhou Fan terbatuk saat mendengar kalimat terakhir tetua pertama. "Apakah dia menyindirku?"
"Kau tidak perlu menasehatiku, aku akan menentukan jalanku sendiri, orang luar sepertimu tidak berhak ikut campur!" Tetua kedua menunjuk tetua pertama dengan wajah marah.
Tetua pertama perlahan kembali ke tempatnya semula, berdiri berhadapan dengan tetua kedua.
"Tetua kedua, kita tidak akan bisa melarikan diri, jika tidak bekerja sama terlebih dahulu dengan mereka." Salah seorang yang mendukung tetua kedua berbisik pelan.
"Aku akan melarikan diri meskipun mengorbankan kalian, orang tidak berguna macam kalian tidak berarti apapun bagiku." Tetua kedua tersenyum miring, dia diam diam mulai merencanakan siasat.
"Maju! Lumpuhkan mereka!" Tetua pertama mengeluarkan senjatanya dan melompat menyerang tetua kedua.
Sekitar puluhan orang ikut menerjang sepuluh orang pihak tetua kedua, wajah sepuluh orang yang mendukung tetua kedua seketika berubah pucat.
__ADS_1
Tetua kedua berhadapan dengan tetua pertama, keduanya beradu dengan senjata berbeda, tetua pertama dengan belatinya, sementara tetua kedua menggunakan tongkat sebagai senjata.
Taang...
Tongkat serta belati berbenturan, Tetua kedua yang memiliki kultivasi di bawah tetua pertama tidak menampakkan wajah takut, dia seolah sangat percaya akan dapat mengimbangi tetua pertama.
Tetua pertama mengerutkan keningnya, dia dapat melihat ketenangan tetua kedua.
"Apa yang akan dia lakukan?" Tetua pertama membatin sambil terus melancarkan serangan.
Tang... Tng...
Pertarungan terus berlangsung, sepuluh pendukung tetua kedua hampir seluruhnya telah dilumpuhkan, hanya tersisa beberapa yang merupakan petarung raja, serta grand master.
"Mungkin ini waktunya aku menggunakannya!" ucap tetua kedua pelan, sangat pelan sampai tidak ada yang mendengar.
Sambil terus menangkis serangan tetua pertama, dia menelan sebuah pill berwarna merah kehitaman.
"Ayo mati bersama, aku tak rela jika tidak membawa kalian mati bersamaku!"
Perlahan tubuh tetua kedua terselimuti cahaya hitam kemerahan, semakin lama semakin besar.
Tetua pertama menyipitkan matanya, kemudian berteriak sangat keras. "Cepat, Menjauh!"
sepersekian detik setelahnya terjadi ledakan di tempat tetua kedua berdiri, semua orang yang tidak sempat menjaga jarak terpelanting akibat ledakan.
"Tidak aku sangka, dia lebih memilih mati dari pada merenungkan perbuatannya." Tetua pertama bergumam dengan pandangan sulit diartikan.
Sisa pendukung tetua kedua terperangah dengan apa yang dilakukan tetua kedua, mereka seketika melepaskan senjata dan terduduk menyerah.
"Cepat lumpuhkan mereka, dan kurung di ruangan perenungan!" Tetua kedua memerintahkan beberapa orang di dekatnya.
Kabur akibat ledakan perlahan menyebar, dan sepenuhnya hilang. Tetua pertama berjalan ke tempat tetua kedua terakhir berdiri.
"Bahkan tak ada yang tersisa darimu? Apakah pantas sampai mengorbankan nyawa?" Tetua pertama menghela nafas rendah.
....
"Huh... Akhirnya aku bisa melarikan diri.. Pasti orang orang bodoh itu mengira aku sudah mati karena meledakkan diri ... "
Pria tua berdiri bersandar pohon dengan sekujur tubuh penuh luka.
__ADS_1
"Aku tak rela jika mati semudah itu, masih beruntung aku menyimpan pill meteor dari tuan Wei, aku tak mengira akan berguna secepat ini."
Pria tua yang tak lain tetua kedua, mendudukkan tubuhnya dengan punggung menyender batang pohon. Perlahan dia memejamkan matanya setelah menelan pill pemulihan.
Setelah beberapa saat, tenaga dalamnya perlahan terisi kembali, meskipun hanya beberapa persen.
Tetua kedua kemudian berdiri. "Sebaiknya aku segara meninggalkan kota kapur putih, dan bergabung dengan pasukan tuan Wei di Kota Mawar."
"Ternyata disini kau bersembunyi!"
Tetua kedua seketika mencari asal suara, dia berbalik seratus delapan puluh derajat.
Phak... Seorang pemuda muncul tiba tiba di hadapan tetua kedua.
"Siapa kau?!" Tetua kedua menyentak dengan suara lantang.
"Khekhe ... Orang yang sama yang membunuh patriark Yu, Zhou Fan!" ujarnya dengan wajah santai, dia tak lagi memakai jubahnya, dia mengenakan pakaian maron dengan rambut dibiarkan terurai.
Mendengar perkataan pemuda di hadapannya, tetua kedua seketika memusatkan pandangannya, mencoba menelisik kekuatan Zhou Fan.
"..." Tidak ada yang bisa dilihatnya, hanya kumparan awan gelap yang menutupi bagaikan kabut tebal.
"Aku bukanlah anggota Klan Yu, kau tidak perlu mencariku, aku sudah tidak lagi menjadi bagian dari mereka!" sangkal tetua kedua dengan wajah cemas serta khawatir, dia mengira pemuda di hadapannya adalah musuh Klan Yu.
"Aku tidak peduli dengan Klan Yu," ujar Zhou Fan tegas.
"Kau sebaiknya jangan macam macam, aku bukanlah orang yang dapat kau singgung. Cepatlah pergi dan aku tidak akan memperpanjang masalah ini." Tetua kedua mengayunkan tangannya beberapa kali, mencoba mengusir Zhou Fan.
"Masa bodoh dengan yang kau katakan, aku tak peduli!" Zhou Fan mencengkram leher tetua kedua, tubuh tuanya terbentur batang pohon hingga tercetak, sorotan mata tajam senantiasa terarah kepada tetua kedua.
"Egh ... "
Tetua kedua memekik tak bersuara, suaranya seolah tertahan di pangkal leher, bahkan untuk bernafas pun dia tidak bisa semaunya.
"Aku tak bisa bernafas, dia sangat kuat, bahkan aku tak bisa menggerakkan tubuhku!" Tetua kedua membatin dengan wajah ketakutan.
Zhou Fan masih menatap tajam pria tua yang memang sudah dalam kondisi terluka, meskipun tidak terluka dia bisa mengalahkannya dengan mudah, mengingat kultivasinya berada di tingkatan petarung raja bintang tiga.
"Katakan semua yang kau ketahui tentang perkumpulan gerhana!" Zhou Fan mengeratkan cekikannya.
Wajah tetua kedua semakin membiru, dengan sekuat tenaga dia berusaha membuka mulutnya.
__ADS_1
"Aku ... "