
"Silakan masuk, tuan muda." Pelayan wanita itu mempersilakan Zhou Fan agar masuk ke sebuah ruangan.
Zhou Fan berpikir ruangan adalah ruangan Jendral besar Huang, sudah sangat terlihat dari jenis kayu yang dibuat pintu. Warna hitam pekat juga tekstur keras menandakan kualitas kayu yang jempolan.
Ukiran di luar bergambar sastra menambah kesan futuristik pada pintu ruangan tersebut. Jika seseorang lebih memperhatikan dengan seksama, gagang pintu itu terbuat dari batu berharga.
Ck ck...
Zhou Fan berdecak, dia merasa jendral besar ini begitu boros dalam melakukan pembuatan kediaman. Namun, mengingat kembali identitasnya sebagai jendral besar Kekaisaran Shi dia menarik pemikirannya.
Mungkin semua orang akan memandang rendah jika kediaman seorang jendral besar tak terlihat berbeda dengan kediaman pada umumnya.
Zhou Fan perlahan mengangkat tangannya, meraih gagang pintu berkualitas tinggi yang amat menyilaukan mata.
Belum sempat dia mendorong, suara dari dalam sudah terlebih dahulu terdengar.
"Cepatlah kau masuk."
Dengan tergesa Zhou Fan mendorong dahan pintu yang masih memisahkan dirinya dan juga kedalaman ruangan.
Ngiek...
Saat pintu terbuka, perasaan hangat sangat terasa di kulit. Spontan Zhou Fan mengitarkan pandangannya, lilin berjajar rapi di setiap sisi ruangan.
Zhou Fan berjalan mendekat, di sana sudah tersedia empat kursi yang saling memutar dengan meja sebagai penengah.
Pandangannya tanpa sengaja mengarah ke sebuah plakat berwarna perak di atas meja, seolah plakat itu melambai kepadanya.
"Adakah yang dapat aku bantu, jendral besar?" Zhou Fan masih menahan agar tidak terlalu dekat dengan Huang Yu, karena merasa pria tua itu memiliki sikap yang kaku.
"Kau masih memanggilku jendral besar, apakah kau masih merasa sebagai pasangan cucuku?" Jendral besar Huang yang duduk di salah satu dari empat kursi berkata tanpa menengadahkan kepalanya.
Pandangannya masih saja terpusat ke liontin berbentuk segitiga di tangannya, tersurat sebuah kerinduan yang teramat dalam di wajahnya.
Zhou Fan tak bisa menjawab, dia tidak tahu harus mengatakan apa atas ungkapan jendral besar Huang.
Haih...
Jendral besar Huang menghela nafas rendah, kemudian dia meletakkan liontin segitiga disebelah plakat di atas meja.
__ADS_1
"Panggil aku kakek, seperti Lin'er memanggilku." Huang Yu mulai menatap Zhou Fan, pemuda di hadapannya jika diperhatikan memang terlihat sangat misterius.
Dirinya tidak menemukan kejanggalan dalam diri Zhou Fan, tapi perasaannya mengatakan pemuda itu tidak semudah yang terlihat.
"Kau tahu?" Huang Yu menoleh menatap Zhou Fan, sedang yang ditatap bingung harus menjawab.
Bagaimana dia bisa tahu jika Jendral besar Huang hanya mengatakan sepatah dua patah kata, benar benar tidak habis mengerti.
Melihat Zhou Fan hanya diam, Huang Yu terkekeh. Dia juga sadar pertanyaannya sangat tidak mendasar.
Orang bijak pun pasti akan kebingungan jika diajukan pertanyaan seperti itu.
"Duduklah terlebih dahulu." Huang Yu mengarahkan sebelah tangannya merujuk kursi di hadapannya.
Tanpa banyak bicara Zhou Fan mendudukkan tubuhnya, dia masih menunggu hal apa yang akan dilontarkan jendral besar Huang kepadanya.
"Kau bahkan belum memperkenalkan dirimu, apakah kau berpikir aku peramal yang langsung bisa menebak siapa kau?" Huang Yu mencoba sedikit menghangatkan suasana yang terasa kaku, meski dalam kumparan belasan lilin yang bersinar memancarkan kehangatan.
Zhou Fan seketika berdiri, lalu dia membungkuk dengan telapak tangan mengepal di depan dada.
"Maafkan menantu yang tidak sopan ini, kakek. Nama pemuda ini adalah Zhou Fan." Zhou Fan merasa bersalah, dia sampai lupa bahwa dirinya belum memperkenalkan diri di hadapan Jendral besar Huang.
"Kau lihat ini, apakah kau tahu apa ini?" Huang Yu meraih plakat berwarna perak di atas meja.
Zhou Fan mengangguk ragu, tentu dia tahu itu adalah plakat, tapi apa maksud pertanyaan itu yang menjadi pemikirannya.
Huang Yu menatap Zhou Fan dengan alis naik, seolah meminta pemuda itu menjawab pertanyaan yang baru saja dia keluarkan.
"Sebuah plakat." Zhou Fan menegaskan pikirannya, dia menjawab dengan otak terus berpikir, masih memikirkan hal sama.
"Tangkap," tukas Huang Yu seraya melemparkan plakat itu kepada Zhou Fan.
Setangkas elang, pemuda itu menangkapnya. Tak mengerti kenapa plakat itu diberikan kepadanya, Zhou Fan memandang Huang Yu dengan penuh pertanyaan.
Huang Yu hanya diam di tempatnya, tidak ada niatan sama sekali untuk menjelaskan.
Zhou Fan membalik plakat di tangannya, terlihat tulisan yang menyusun sebuah kata.
"Sekte Bulan Sejati?"
__ADS_1
Zhou Fan melirik Huang Yu, tapi pria tua itu masih tetap sama, hanya duduk diam di tempatnya.
"Apa maksudnya ini, kakek?" Zhou Fan benar benar tak mengerti, memangnya mengapa dan apa hubungannya dengan sekte bulan sejati.
Huang Yu tak langsung menjawab, dia menegakkan posisinya yang semula duduk bersandar.
"Kau tahu, saat pertama kali Lin'er sampai di kediaman ini?" Huang Yu menatap Zhou Fan, lalu kembali melanjutkan. "Dia seolah tertekan. Bahkan satu minggu setelahnya pun dia senantiasa mengurung diri di dalam ruangan."
Zhou Fan menunduk, dia dapat membayangkan dampak perbuatan Wei Huan yang membuat seolah Wei Guanlin dimanfaatkan. Namun, itu dilakukan karena Wei Huan takut akan bahaya yang mengancam jika putri semata wayangnya berada dekat dengannya.
"Kakek, sebelumnya aku harus meluruskan. Bahwa ayah mertua juga memiliki kesulitan, beliau tidak benar benar melakukan hal seperti itu." Zhou Fan mencoba menjelaskan.
"Heheh... Aku tahu itu, tapi cucuku tidak sepemikiran denganku ... Aku tahu bagaimana sifat Wei Huan, dia merupakan orang yang bertanggung jawab, tidak mungkin dia mengorbankan keluarga demi yang namanya kekuasaan."
"Bahkan dirinya pernah berniat untuk merelakan takhta demi bisa hidup tenang bersama You're, tapi aku menentang keras keputusan tersebut, karena kewajiban seorang putra mahkota adalah meneruskan pemerintahan Kekaisaran."
Huang Yu menggeleng sambil mengingat bagaimana Wei Huan bersikukuh dengan tekadnya, tapi seketika kandas karena Huang Rouyou juga bertentang pendapat dengannya.
Kenangan itu membuat kerutan di wajahnya semakin jelas, senyum tipis mengiring ekspresinya.
"Dan plakat ini?" Zhou Fan mengangkat plakat di tangan, dia masih belum mengerti kegunaan plakat bertuliskan sekte bulan sejati itu.
"Karena aku sangat tak tahan dengan sikapnya yang demikian, aku memutuskan untuk mendaftarkan nya ke sebuah sekte. Karena sekte bulan sejati merupakan sekte nomor satu di Kekaisaran Shi, aku membawa Lin'er ke sana untuk mendaftar." Huang Yu menjawab santai.
"Jadi Lin'er tidak berada di kediaman jendral?" tanya Zhou Fan spontan, wajahnya yang semula semangat menjadi redup seketika.
Huang Yu mengangguk mendengar pertanyaan Zhou Fan. Dia mengerti perasaan Zhou Fan, jujur dia tidak mengira ada seseorang yang datang mencari cucunya.
"Kau tak apa?" Huang Yu bertanya kepada Zhou Fan, pemuda itu terlihat sedikit kacau dengan nafas yang sedikit tak teratur.
Hup... Fiuh...
Zhou Fan menenangkan dirinya, dia mengangkat wajahnya dan menjawab.
"Tidak. Meskipun harus mengelilingi Kekaisaran Shi, akan aku lakukan demi Lin'er." Zhou Fan bertekad, buka sekedar omong kosong, karena itu keluar dari hati terdalam.
Mendengar tekad Zhou Fan, Huang Yu tersenyum samar.
"Tak lama lagi aku akan mendapatkan cicit."
__ADS_1