Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 212 : Aneh


__ADS_3

"Apa yang kau lihat? Lawanmu berada di sini?!" ujar sang lawan dengan wajah kesal, karena merasa direndahkan oleh pemuda yang menjadi lawannya.


Zhou Fan menoleh ke arah lawannya, kemudian mengangguk. "Aku tahu."


Mendapat jawaban dari pemuda di hadapannya membuatnya semakin marah.


"Biar aku beri kau pelajaran!" ucap pemuda berkulit putih, kulitnya lebih putih dari pada kulit gadis, entah bagaimana cara dia merawat kulitnya.


Trang...


Pedang ganda milik pemuda berkulit putih menebas dari kedua arah, tapi Zhou Fan dengan cepat menundukkan kepalanya membuat kedua pedang pemuda berkulit putih saling berbenturan.


"Apakah salah yang aku katakan?" gumam Zhou Fan bingung, dia sama sekali belum mengeluarkan senjata, dengan tangan kosong dia terus menghindar dari serangan pemuda berkulit putih.


Pedang ganda pemuda berkulit putih menghantam lantai setelah Zhou Fan lagi dan lagi menghindari serangannya.


Blar!


Lantai arena membekas membentuk bulatan gosong, tapi tidak membuatnya berlubang.


Zhou Fan melompat dua kali ke belakang, wajahnya selalu tetap setia dengan ekspresinya, tenang.


Pemuda berkulit putih tidak tinggal diam, dia melompat menerjang Zhou Fan.


Saat tangan kanan pemuda berkulit putih menjulur ke depan, Zhou Fan dengan cepat menangkap dan melemparkan pemuda itu dengan kecepatan tinggi.


Bamm!


Tubuh pemuda berkulit putih menghantam dinding arena yang tinggi hanya setengah meter.


Pertarungan belum selesai, pemuda berkulit putih kembali bangkit setelah mengusap tangannya yang terasa nyeri.


Huh...


Setelah mendengus pemuda berkulit putih kembali menyerang, dia tak lagi basa basi, dia dengan segenap kekuatannya ingin mengalahkan lawannya.


Namun, lawan yang dihadapinya bukanlah sembarangan, dia melawan Zhou Fan yang bahkan jika bertarung dengan tuan kota masihlah samar siapa yang menang.


Walau tekat yang dimilikinya sangat kuat, kekuatannya tak dapat mengimbanginya, dia akhirnya harus takluk dengan pemuda yang bahkan hanya menggunakan tangan kosong.


Jika dia tidak melihat lawannya membopong pedang di punggungnya, dia akan merasa dikalahkan oleh petarung tangan kosong, tapi matanya dapat melihat jelas pedang di punggung Zhou Fan, dan dia merasa sangat direndahkan dengan itu.


Zhou Fan tak berniat merendahkan, tapi tindakannya tanpa sadar membuat pemuda berkulit putih merasa direndahkan olehnya.

__ADS_1


Zhou Fan menuruni arena dengan diselingi tatapan kagum, tapi juga ada yang berpandangan bahwa Zhou Fan hanya sekedar beruntung.


Xiao LingYun yang selalu memusatkan perhatian kepada Zhou Fan merasa dapat mengalahkan pemuda itu. "Lihat saja saat kau bertemu denganku di arena."


Tidak ada pemuda yang dapat menarik perhatiannya selama ini, tapi ia justru sangat memberikan perhatiannya kepada Zhou Fan.


Xiao LingYun merasa hal itu hanya sekedar rasa ingin membalas perbuatan Zhou Fan kepadanya, dia tidak dapat menemukan alasan lain yang masuk akal terhadapnya.


Zhou Fan pergi meninggalkan tempat sesak itu, menurut yang ia dengar setidaknya ada ruang dua jam untuk istirahat setelah sesi pertama, dia memilih untuk bersantai dan menikmati makanan khas kedai, dia belum mengisi perut selama satu bulan sejak dia ber kultivasi.


Begitu melihat kedai, Zhou Fan juga Zhou Jim masuk tanpa permisi, dia berjalan mencari tempat duduknya.


Sesaat kemudian dua orang pelayan datang membawakan makanan porsi besar yang dia pesan.


Dia juga memesan daging bakar untuk Zhou Jim dia tahu serigalanya tidak meninggalkan tempatnya sedikitpun saat dia berkultivasi.


Saat sedang memakan makanannya, seorang gadis tiba tiba duduk di kursi satu meja tempat Zhou Fan.


Zhou Fan yang mendapati seorang gadis langsung duduk tanpa permisi mengerutkan keningnya.


"Apakah kau salah tempat, nona?" ucap Zhou Fan yang terpaksa menghentikan aksi makannya.


Matanya menyipit ketika merasa tak asing dengan gadis di hadapannya.


"Bukankah dia gadis aneh yang selalu menatapku dengan pandangan mengerikan?" batin Zhou Fan sambil menegakkan tubuhnya yang semula sedikit membungkuk.


Zhou Fan merengut berpikir, dia mencoba mengingat apakah mempunyai masalah dengan gadis di hadapannya. Namun, setelah menggali begitu lama dia pun menggeleng karena tidak menemukan masalah berhubungan dengannya.


"Apakah kau salah mengenali orang, nona?" tanya Zhou Fan dengan wajah buruk, bagaimana bisa wajahnya salah dikenali, apakah wajahnya begitu pasaran.


"Apakah kau mau mungkir, aku belum memberimu balasan atas perbuatanmu." Xiao LingYun mengatakan dengan suara tertahan, dia tidak mungkin mengeluarkan seluruh kekesalannya dan membuat semua orang memperhatikan.


"Sudah tidak dapat ditolong," gumam Zhou Fan sambil menggelengkan kepala, dia pun memutuskan pergi, dia tidak lagi berminat untuk melanjutkan makannya.


"Jim, ayo pergi!" kata Zhou Fan sambil berjalan tanpa menoleh ke belakang.


Au~


Zhou Jim yang belum menghabiskan makanannya dengan spontan menggigit daging tersebut dan memakannya sambil mengikuti Zhou Fan.


Melihat dirinya diacuhkan begitu saja membuat Xiao LingYun semakin geram, dia berdiri dan menghentakkan kakinya kuat.


"Hei tunggu, masalah kita belum selesai!" teriak Xiao LingYun sambil berlari mengejar Zhou Fan.

__ADS_1


Jika ada orang yang mengenali putri tuan kota sekarang tengah mengejar seorang pemuda, mungkin akan terjadi kehebohan di kota.


Cih..


Zhou Fan mencoba tak menghiraukan gadis yang mengejarnya, dia mencoba menganggapnya sebagai angin, yang ada tapi tak terlihat.


"Apa kau tak tahu siapa aku?" ucap Xiao LingYun dengan lantang membuat Zhou Fan seketika berhenti.


Zhou Fan membalikkan tubuhnya menghadap Xiao LingYun, kemudian dia perlahan mulai membuka mulutnya.


"Tidak," jawab singkat Zhou Fan lalu kembali berjalan menjauh.


Xiao LingYun sekarang benar benar kesal, dia sangat ingin menyerang pemuda di hadapannya, tapi di sekitarnya ada beberapa orang yang memperhatikan.


Zhou Fan kembali ke tempat pertarungan, di belakangnya masih berdiri Xiao LingYun yang juga menuju ke tempat yang sama.


Zhou Fan berhenti dengan tiba tiba, membuat Xiao LingYun menabrak tubuh kekar Zhou Fan.


Karena merasa akan jatuh, tangan gadis itu spontan mencari pegangan, dan dia merangkul tubuh Zhou Fan dari belakang.


Zhou Fan hanya diam memasang wajah datar. "Apakah kau sengaja nona?"


Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Xiao LingYun dengan secepat kilat melompat menjauh.


"Sialan, kau yang berhenti tiba tiba tidak berkata terlebih dahulu!" ucap Xiao LingYun tak terima.


"Nona, hati hati dengan jarimu, atau kau tidak akan tahu jarimu sudah terputus saat kau gunakan menunjuk wajah seseorang." Zhou Fan marah telunjuk Xiao LingYun dan menurunkannya.


Ck


Xiao LingYun berdecak kesal, lalu menarik telunjuknya yang masih berada di tangan Zhou Fan.


"Aku belum memberimu pelajaran, ingat saja... Aku akan membalas semuanya." Xiao LingYun mengatakan sambil berjalan mendahului Zhou Fan.


"Pelajaran, balasan? Apa yang dia katakan," gumam Zhou Fan bingung, dia pun hanya bisa menghela nafas.


Auk...


Zhou Jim menarik pakaian Zhou Fan, membuat Zhou Fan tersadar dari lamunannya.


"Baiklah, ayo kita ke tempat pertarungan?" ajak Zhou Fan kepada Zhou Jim.


Begitu sampai di tempat yang dia tuju, dia pun kembali mendapati gadis bercadar yang selalu memancarkan aura permusuhan terhadapnya.

__ADS_1


Dia bahkan belum mengetahui nama gadis itu, tapi seolah dia telah mencuri sesuatu yang paling berharga baginya.


"Apakah aku mencuri kakaknya?"


__ADS_2