
Ketika Yung Lao maju menyerang, Te Sha menyilang kedua tangan. Di saat tongkat menghantam sarung tangan baja, terdengar suara 'Prang'.
Tapi tak sampai di sana, Yung Lao menarik tongkat dan mendorong tangan kiri yang sudah terbentuk laksana cakar.
Cakar itu hendak meraup wajah Te Sha jika tidak dihentikan dengan kedua tangan nya. Namun serangan belum berakhir. Yung Lao mundur dan menerjang sambil menjulurkan tongkat nya.
Te Sha merengkuh tongkat yang mengarah ke arahnya, tapi siapa sangka jika tongkat itu bergerak ke atas dan langsung menghantam tubuh nya.
Bang...
Tubuh Te Sha terpental, tapi tidak meninggalkan bekas sama sekali.
Te Sha tersenyum, dia melirik dengan bangga. Tubuh budha yang menjadi pertahanan nya, terlalu kokoh untuk dihancurkan oleh serangan biasa.
Namun cahaya seperti perisai di tubuhnya memunculkan garis halus, dan itu semakin lama semakin menjalar.
Wajah Te Sha terlihat buruk, dia tidak tahu apa yang terjadi terhadap pertahanan tubuh budha miliknya.
__ADS_1
Zhou Fan yang mengamati dari bawah, mengukir senyum sambil melihat tongkat Yung Lao.
Saat melakukan serangan, tongkat itu tidak terlibat berbahaya, tapi pada bagian ujung tongkat tersimpan tenaga dalam. Seolah itu terpusat di sana.
Mungkin tidak banyak yang tahu, karena tenaga dalam itu berbentuk seperti jarum kecil yang menutup setiap inci permukaan tongkat, terkhususnya ujung tongkat tersebut.
Ketika jarum tenaga dalam menghantam pertahanan tubuh budha milik Te Sha, itu membuat permukaan perisai hancur.
Beberapa saat setelah pertahanan tubuh budha hancur, Te Sha hanya diam di atas arena.
Kekalahan ini adalah yang kedua baginya, menderita satu kekalahan saja sudah sangat menguji mentalnya, dan sekarang malah kembali kalah. Sungguh nasib yang malang.
Menghadapi seorang yang luar biasa, Yung Lao tidak bisa meremehkan lawannya, banyak hal mengejutkan terjadi dalam seleksi murid dalam ini.
Sebelumnya dia merasa tidak banyak yang dapat berbicara dalam seleksi, siapa sangka jika seorang murid baru akan masuk ke tiga besar, bahkan akan bertarung merebutkan tempat pertama.
Pertarungan final sudah ditentukan, siapa yang akan bertarung juga sudah dipastikan. Namun untuk pertarungannya harus menunggu sebentar lagi, karena memberikan waktu bagi kedua peserta untuk bersiap.
__ADS_1
Zhou Fan masih di tempat Yin Cun dan lainnya, ketika melihat Wei Guanlin datang menghampiri nya, dia hanya diam di tempatnya.
Sebelumnya Wei Guanlin terlihat marah terhadapnya, dia tidak tahu apa masalahnya, jadi dia memilih untuk diam.
"Jangan terlalu memaksakan diri. Selain itu apa yang dibutuhkan sudah ada dalam genggaman."
Baru saja sampai, wanita itu pergi lagi setelah berkata. Zhou Fan mengerutkan kening, dia sangat tidak mengerti apa yang ada di dalam kepala istrinya.
Wei Guanlin berhenti, tapi dia tidak membalik ataupun sekedar menoleh. Dia hanya diam belasan langkah dari tempat Zhou Fan.
"Seharusnya aku lebih mengerti, mungkin dia tengah bersiap menghadapi seleksi." Meski begitu Wei Guanlin tidak ingin kembali, dia melangkah pergi ke tempat nya menyaksikan sebelumnya.
Waktu berlalu, dan semua orang kini berseru dengan semangat. Mereka meneriakkan nama kedua kandidat juara, entah itu Zhou Fan atau Yung Lao, keduanya memiliki dukungan yang setara.
Zhou Fan menaiki arena dengan pedang darah malam sudah di tangan. Tak mau ketinggalan, Yung Lao memanggul tongkat di puncak sebelah kanan.
"Ini adalah pertarungan yang paling ditunggu. Dua peserta paling dominan ini akhirnya bertemu."
__ADS_1
"Aku tak sabar menyaksikan formasi luar biasa milik Zhou Fan. Dia bisa menciptakan sebuah area yang penuh dengan api, entah apakah Yung Lao bisa menghadapi nya."
Suara suara terus bersahutan, mereka terdengar sangat antusias, menantikan sebuah pertarungan final.