Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 183 : Keakraban Kedua Mertua


__ADS_3

"Tak seharusnya kau berkata seperti itu kepada Kaisar."


Zhou Fan yang duduk di sebuah batu besar tiba tiba mendengar seseorang dari belakangnya, dia tak menoleh ataupun mencoba menanggapi, dia sudah akrab dengan suara tersebut.


"Aku tahu kau melakukan itu karena merasa bersalah dengan dirimu sendiri, kau seharusnya tidak terlalu keras dengan dirimu, jangan kau tanggung beban itu sendiri."


"Asal kau tahu aku juga bagian dari Keluarga Cao, meskipun aku bukan keluarga utama." Lee mendekat dan duduk di sebelah Zhou Fan.


Zhou Fan termenung, dia melirik Lee dengan ekor matanya, padahal pemuda itu mengalami nasib yang lebih buruk darinya, tapi dia masih terlihat baik baik saja.


Lee bukannya tidak ingin membalas semua perbuatan perkumpulan gerhana yang dipimpin Wei Jia, bahkan dia akan menjadi orang pertama yang mendukung kematian Wei Jia.


"Menuntut balasan perkumpulan gerhana merupakan hal yang harus aku lakukan, tapi hal itu tak akan membuat arwah orang yang meninggal tenang...,"


"Mereka menginginkan nama mereka bersih kembali, oleh sebab itu kita harus membantu membersihkan nama keluarga Cao." Lee mengatakan sambil memandang langit yang mulai gelap, tak terasa dia sudah menemani Zhou Fan terlalu lama bahkan hari sudah mulai berganti malam.


Keduanya memutuskan kembali, setelah memerlukan waktu lebih lama untuk Lee membujuk Zhou Fan.


Di tenda agak mewah yang berada di desa karang hijau, ...


Wei Huan duduk di sebuah kursi yang disediakan khusus untuknya, di samping kanan juga kirinya ada Wei Yun juga Ban Fulong.


Di dalam tenda juga terdapat beberapa orang yang berdiri di setiap sisi, di tengah tenda empat orang berlutut dengan pakaian penuh darah, salah seorang diantaranya merupakan wanita berusia lima puluhan tahun.


Setelah membersihkan desa karang hijau dari kumpulan mayat, para pemberontak yang menyerah di kelompokkan sedangkan yang tidak, dipenggal di tempat.


Beberapa orang yang dengan terpaksa melakukan pemberontak tidak mendapatkan hukuman, tapi mereka harus menyetorkan upeti setiap tiga bulan sekali.


Upeti tersebut diperuntukkan desa desa di sekitar, khususnya desa karang hijau yang menjadi tempat terjadinya perang.


Wei Jia, beserta pembesar perkumpulan gerhana yang tidak lain Tang Min, Tang Yu'er, juga Penatua Du harus mendapatkan ganjaran setimpal, keempatnya dijatuhi hukuman mati, yang akan dilakukan seminggu setelah kembali ke Istana.


...


Dua hari telah berlalu ... Perlahan semua orang mulai kembali beraktivitas.

__ADS_1


Tepat setelah kembali, dekrit Kekaisaran keluar, menyatakan keluarga Cao tidak terlibat dalam pengkhianatan beberapa tahun yang lalu.


Dengan cepat dekrit itu menyebar, bahkan sudah mencapai kota batu hitam dalam satu malam.


Zhou Qian yang mendengar dekrit itu tak ayal menjadi senang, dia yang merupakan keturunan keluarga Cao merasakan sebuah beban terangkat dari punggungnya.


Meskipun tanpa tahu mengapa dan siapa yang melakukannya, wanita paruh baya itu seolah tak peduli, karena yang terpenting baginya adalah menyaksikan kembali keharuman keluarganya.


Seperti Zhou Qian, Zhou Fan yang berada di kota Teratai merasakan hal sama seperti ibunya, meskipun dia tak merasakan hubungan langsung dengan keluarga Cao, dia merasa lega saat mendengar dekrit tersebut.


...


Aula utama istana...


Kemeriahan terjadi di sana, Wei Huan mengadakan sebuah jamuan besar, dia bertujuan untuk mengenalkan pemuda atau lebih tepatnya menantunya.


Wei Yun sudah mengetahui siapa Zhou Fan, dia begitu kagum dengan pemuda yang merupakan calon adik iparnya.


Hubungan keduanya terjalin baik, sifat Zhou Fan menjadi faktor utama hubungan keduanya, tapi pemuda itu sangat jarang keluar dari ruangannya, dia hanya mengurung diri sambil terus berkultivasi.


Di ruangan tidak hanya orang dari kota Teratai, tapi juga Kota Kapur Putih, pasukan gabungan Klan Kapur Putih tidak sengaja berpapasan dengan rombongan Kekaisaran yang melakukan perjalanan kembali.


Zhou Fan yang diperkenalkan sebagai menantu Kaisar sontak membuat beberapa orang terkejut, terutama Patriark Qing dan juga Qing Si yang juga berada di sana.


Perjamuan berakhir dengan lancar, beberapa orang mengucapkan kepada Zhou Fan serta Wei Huan.


Saat Zhou Fan bersalaman dengan Qing Si, pria paruh baya itu menatap Zhou Fan dengan tatapan penuh arti, dia seakan menginginkan penjelasan dari pemuda yang juga menantunya.


...


Sesuai apa yang telah ditentukan, keempat orang yang menjadi otak perkumpulan gerhana akan di hukum mati, keempatnya diarak memutari Kota Teratai guna memberikan pesan agar tak melakukan apa yang telah mereka lakukan.


Setelah melakukan berbagai ritual, keempat orang itu akhirnya dieksekusi, tanpa memberikan kesempatan untuk mengatakan keinginan terakhirnya.


Keluarga bangsawan Tang, yang terkenal sebagai keluarga terpandang, berubah menjadi keluarga biasa, sebagian asetnya disita oleh Kekaisaran.

__ADS_1


Sementara yang terlibat secara langsung, akan dikurung dalam penjara bawah tanah seumur hidup.


Bukan hanya Keluarga bangsawan Tang, sekte sekte yang ikut terlibat langsung di ubah menjadi sekte kecil bahkan dihapuskan, layaknya sekte tombak angin yang sekarang sudah tak lagi mempunyai nama di Kekaisaran Wei.


Namun, patriark sekte tombak angin masih belum juga didapatkan kabar pasti keberadaannya, menurut sebuah kabar yang tersiar, Que Ye melarikan diri ke Kekaisaran Xiao, karena di sana terdapat kakak seperguruannya.


Untuk orang Klan Yu yang ikut terlibat perang mendapatkan hukuman sama seperti lainnya, di kurung dalam penjara bawah tanah.


Dan mereka yang tidak ikut dalam perang harus siap menghadapi ancaman pengusiran dari Klan Kota Kapur Putih, karena telah membelot dan menjelekkan nama Kota Kapur Putih.


Di samping itu, seluruh Kota Teratai tengah ramai menyanjung sosok pemuda yang merupakan menantu Kaisar, tanpa tahu nama juga rupa pemuda tersebut.


Kabar dia yang menjadi pembalik disaat perang membuat sosoknya dikenal, banyak orang tua menjadikan sosoknya sebagai panutan untuk mendorong anak anaknya.


...


Di ruangan yang terlihat mewah, Zhou Fan duduk bersama dua pria paruh baya yang menatapnya dengan penuh arti.


"Emn... Ayah mertua?"


Kedua pria paruh baya itu menoleh bersamaan, keduanya kemudian saling pandang dan menampilkan persaingan sengit.


"Dia tidak memanggilmu, kenapa kau menoleh?" Wei Huan bertanya dengan suara terheran.


Qing Si mengerutkan keningnya, kemudian membalas perkataan Wei Huan. "Yang mulia yang terhormat, bukan hanya anda yang menjadi mertuanya, dia juga tunangan putriku, jadi aku termasuk ayah mertuanya."


Wei Huan terkejut dengan apa yang dikatakan Qing Si, tapi dia lebih memilih meminta penjelasan kepada Zhou Fan.


Zhou Fan menggaruk tengkuk kepalanya, dia menampilkan senyuman canggung di hadapan kedua ayah mertuanya.


Zhou Fan perlahan menjelaskan kepada kedua pria paruh baya itu, dan keduanya mendadak tersenyum sambil saling memeluk.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" pikir Zhou Fan dalam benaknya.


Pemuda itu dibuat bingung dengan kelakuan dua pria paruh baya di hadapannya.

__ADS_1


Kedua pria paruh baya itu malah terlihat akrab bahkan mulai mengacuhkan Zhou Fan.


"Ini adalah nasib menantu yang tidak dianggap!" batin Zhou Fan dengan nada mengeluh.


__ADS_2