Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 185 : Perjalanan Pulang


__ADS_3

"Aku sungguh tak mengira akan ada sebuah pintu di balik dinding, tak pernah sedikit pun aku berpikir altar peninggalan memang benar benar nyata." Wei Huan masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


Wei Huan maju dan berniat mendorong pintu di hadapannya. Namun, apa yang ia lakukan sia-sia, bahkan tak dapat membuat pintu berukiran kepala singa itu bergeming.


"Ayah mertua, mungkin pintu ini ada hubungan dengan kalimat terakhir." Zhou Fan mengingatkan Wei Huan akan kalimat ke-tiga.


Dengan kekayaan kau mencapai tujuan.


Keduanya terus mengulang kalimat tersebut. Bahkan tak jarang mereka mengetuk kepala dengan telunjuk berharap otaknya bisa bekerja.


"Kekayaan mencapai tujuan, tujuan yang dimaksud mungkin adalah membuka pintu ini," gumam Zhou Fan.


"Tapi apa maksud dari kekayaan, apakah dengan banyak koin emas?" timpal Wei Huan asal.


Zhou Fan tak menjawab langsung, dia hanya menggeleng. Pemuda itu semakin mengurut dagunya kuat, bola matanya berputar mencari pencerahan.


"Jika bukan emas lalu apa, kekayaan selalu diukur berdasarkan koin emas. Bahkan jika ada yang menemukan giok mereka akan menukarkan dengan emas yang amat melimpah." Wei Huan menyuarakan apa yang ada dalam kepalanya.


Ha!


"Itu dia!" seru Zhou Fan dengan semangat, membuat Wei Huan tersentak terkejut.


"Apa yang itu dia?" tanya Wei Huan penasaran.


"Giok," jawab Zhou Fan singkat.


"Tidak mungkin, meskipun nilai giok lebih tinggi dari koin emas, giok sangat sulit di temukan." Wei Huan menggeleng dengan yakin.


"Yang aku maksud bukan giok sembarangan." Zhou Fan mengeluarkan giok prisma dari cincin penyimpanan, kemudian melanjutkan perkataannya. "Aku sungguh bodoh melupakan giok yang ada padaku."


Zhou Fan mencari tempat dimana ia akan meletakkan giok prisma, tapi tak kunjung dia temukan.


"Letakkan saja di mulutnya, kenapa kau susah susah?" ujar Wei Huan tanpa pikir panjang.


Zhou Fan memicingkan mata, kemudian mencoba memasukkan giok prisma ke dalam mulut singa yang terbuka lebar.


Brt....


"Woah... Kau genius, ayah mertua!" seru Zhou Fan dengan semangat.

__ADS_1


Heheh...


Wei Huan tersenyum bangga, padahal dia hanya berucap sesuai kondisi.


Dimana lagi kalau bukan di mulutnya yang terbuka lebar? pikir Wei Huan. Karena tidak ada lagi tempat yang cocok selain di sana.


Keduanya masuk tanpa menunggu waktu lama, begitu memasuki ruangan, keduanya dibuat terpukau, ruangan yang seharusnya gelap karena letaknya di bawah tanah, malah terang benderang, seolah di bawah kungkungan sinar mentari.


"Bukankah altar peninggalan hanya bisa digunakan sekali, dan untuk satu orang?" tanya Wei Huan.


"Aku juga tidak tahu ayah mertua, karena tidak sepenuhnya informasi dalam kitab yang benar, mungkin juga terdapat kesalahan ... Jadi, sebaiknya kita mencoba bersama sama, dan buktikan sendiri." Zhou Fan mulai duduk di tengah ruangan seluas sepuluh kali sepuluh meter.


Wei Huan mengangguk mendengar perkataan Zhou Fan, dia lalu mengambil sikap kultivasi.


Setelah lama berada di sana, Zhou Fan membuka matanya, dahinya mengernyit heran.


"Kenapa aku tak merasakan perubahan?" gumam Zhou Fan dengan wajah kecewa.


Tak lama Wei Huan pun membuka matanya, dia juga mengalami hal sama, tidak merasakan perubahan dalam dirinya.


"Apakah semua ini hanyalah omong kosong?" ujar Wei Huan dengan wajah bersungut marah.


"Apakah harus satu orang yang berkultivasi?" tebak Wei Huan.


Zhou Fan mengedikkan bahunya sebagai jawaban.


"Jika begitu, kau saja yang ber kultivasi, aku akan menunggu." Wei Huan menyuruh Zhou Fan agar segera melakukannya.


Zhou Fan kembali menutup matanya, sedangkan Wei Huan sudah berdiri tak jauh darinya.


setelah lama mencoba dan tak berhasil, Zhou Fan akhirnya menyerah, dia pun menghampiri Wei Huan yang nampak berdiri dengan wajah bosan.


Keduanya pergi setelah mengembalikan semuanya seperti semula.


Keesokan harinya keduanya kembali melanjutkan ekspedisi, tapi tak hanya mereka, Wei Yun juga ikut sebagai 'kelinci percobaan'.


Menurut pengamatan Zhou Fan, dia serta ayah mertuanya tak bisa menyerap energi di dalam ruangan mungkin dikarenakan kultivasi mereka yang berada di tingkat petarung raja, oleh sebab itu mereka membawa Wei Yun yang sekarang berada di tingkat petarung grand master bintang sembilan.


"Yun'er, sekarang kau duduklah di pusat ruangan!" pinta Wei Huan kepada sang putra.

__ADS_1


Wei Yun dengan semangat melakukannya, meskipun dia berstatus kelinci percobaan, dia sama sekali tidak dirugikan, bahkan dia berkesempatan mendapatkan sesuatu yang 'wah', menerobos tingkatan.


Wei Yun mulai berkultivasi, perlahan fluktuasi kelembaban di sana berubah, juga kecepatan angin semakin kuat.


"Sepertinya memang hanya digunakan untuk petarung di bawah tingkat raja." Zhou Fan mengatakan dengan nada mengeluh.


"Kenapa kau terlihat sedih, apakah kau tak puas juga menjadi orang terkuat di Kekaisaran Wei?" dengus Wei Huan kesal, dia merasa direndahkan dengan gumaman menantunya.


"Tidak, kepuasan akan membuat kultivasi terhambat, kita harus menggantung harapan setinggi bintang, meskipun akan sangat sulit tuk mengejar." Zhou Fan mengatakan layaknya orang bijak.


Wei Yun bangun dari duduknya, dia nampak kurang puas dengan pencapaiannya.


"Begitu aku menerobos tingkatan petarung raja, energi di ruangan ini seolah terpental, dan tak mau masuk ke dalam tubuhku," ucap Wei Yun mengeluh.


Tepat seperti perkiraan, altar peninggalan hanya akan berpengaruh kepada petarung tingkat di bawah raja.


Meskipun tidak mendapatkan keuntungan berarti bagi dirinya sendiri, Zhou Fan merasa altar peninggalan akan sangat berguna bagi Kekaisaran Wei.


Altar peninggalan dapat digunakan untuk jangka waktu yang lama, melihat kepekatan energi di dalamnya.


Zhou Fan menyerahkan giok prisma pada Wei Huan, karena dia tidak akan berada di istana terus menerus.


Mengenai keuntungan, Zhou Fan sudah mendapatkan lebih dari pada yang ia harapkan. Dari seluruh harta jarahan yang dikumpulkan, Zhou Fan hanya mendapatkan tanaman herbal.


Selain tanaman herbal, baik itu koin emas, pill, senjata ataupun kitab di serahkan kepada Kekaisaran. Meskipun terdengar sepele, tanaman herbal yang di dapatkan tidak main main, bahkan nilainya jika ditukar dengan koin emas, lebih dari sepuluh kali lipat jumlah koin emas yang di dapatkan dari hasil jarahan.


...


Tak terasa sudah sepuluh hari Zhou Fan di istana setelah kembali dari desa karang hijau.


Zhou Fan yang tak lagi mempunyai kepentingan di kota Teratai berniat kembali ke kota Batu Hitam, tapi dia harus mampir ke Kota Kapur Putih menghadiri undangan pernikahan Qing Manlu atas undangan patriark Qing.


Tanpa pertimbangan panjang Zhou Fan mengiyakan keinginan Patriark Qing, dia berangkat bersama dengan rombongan pasukan klan Kota Kapur Putih yang kebetulan akan kembali di hari yang sama.


Tak membutuhkan waktu lama, dengan kecepatan tinggi mereka sudah memasuki Kota Kapur Putih hanya dalam beberapa jam.


Sampai di kediaman Klan Qing, Zhou Fan dengan cepat pergi mendahului para orang tua yang masih berada di belakangnya.


Qing Si yang melihat gelagat Zhou Fan mulai mengedutkan bibirnya.

__ADS_1


"Hei, mau kemana kau?!"


__ADS_2