Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 184 : Altar Peninggalan


__ADS_3

Keesokan harinya...


Zhou Fan mendatangi ruangan Wei Huan, dia berniat menguak masalah altar peninggalan yang katanya merupakan tempat potensial untuk meningkatkan kekuatan.


Namun, saat sudah berada di ruangan Wei Huan, dia tak menemukan pria paruh baya itu berada di sana.


Zhou Fan lantas pergi ke aula istana, tempat kedua yang biasanya dijadikan tempat ayah mertuanya menghabiskan waktu.


Tapi lagi lagi dia tak menemukan keberadaannya.


"Sebenarnya dimana ayah mertua berada?" gumam Zhou Fan sambil terus mencari di istana yang luasnya memang keterlaluan.


"Eh eh.. Berhenti!" ucap Zhou Fan kepada salah seorang prajurit.


Prajurit tersebut sontak membungkuk hormat, seluruh istana sudah mengetahui siapa sosok Zhou Fan.


Sebenarnya Zhou Fan sangat risih diperlakukan layaknya orang besar, tapi saat dia mencoba untuk menyuruh diperlakukan layaknya orang biasa malah membuat orang orang itu kebingungan.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda Zhou?" tanyanya dengan sangat sopan, bahkan dia tak berani mengangkat wajahnya sekedar melirik Zhou Fan.


Haih..


"Yang Mulia tidak ada di ruangannya, di aula pun sama, apakah kau tahu dimana beliau?" tanya Zhou Fan.


"Owh... Yang Mulia bersama dengan Tuan Qing Si berada taman sayap kanan istana, beliau sedang bermain catur...," jawab prajurit itu.


"Terimakasih...," ucap Zhou Fan sebelum melesat menuju tempat yang disebutkan.


"Tuan muda Zhou memang rendah hati, bahkan kepada seorang prajurit dia mengucapkan terimakasih." Kekaguman prajurit itu kepada sosok Zhou Fan semakin besar.


Menurutnya tak banyak yang akan memiliki sifat seperti Zhou Fan saat mempunyai kekuatan yang besar, di umurnya yang masih muda dia dapat mengalahkan petarung raja bintang enam, yang bahkan patriark sekte pedang suci juga Kaisar Wei tak bisa melakukannya.


...


Ck ck ck...


"Di cari kemana-mana rupanya di sini bermain catur..," gerutu Zhou Fan sambil mendekati dua pria paruh baya yang tengah beradu kepandaian mengolah bidak.


"Sebaiknya kita sudahi saja, Yang Mulia... Pria pintar ini terlalu kuat untuk dibandingkan dengan anda," ucap Qing Si sambil terkekeh.


"Sekali lagi!" ujar Wei Huan sambil membalik papan catur, sekarang dia dihadapkan dengan bidak berwarna hitam.


.


.


.


.


"Sebaiknya Yang Mulia belajar kembali, atau aku akan mencarikan bocah sepuluh tahun untuk bermain bersama dengan anda." Qing Si mengedipkan sebelah matanya.


"Pak tua Qing! Kau pasti berbuat curang!" tuduh Wei Huan dengan menunjuk bidak putih milik Qing Si.


"Kau jangan sembarangan, Pak Tua Wei!" balas Qing Si tak terima.

__ADS_1


Hubungan keduanya sangat di luar dugaan, bahkan mereka tak sungkan untuk saling melontarkan kalimat sindiran.


"Cih... Aku tahu kau curang." Wei Huan mengatakan dengan wajah berpaling ke samping.


Phuih!


"Kau main saja sendiri, ... Jika sudah jago baru panggil Qing Si!" seru Qing Si dengan lagaknya yang seperti orang benar.


Zhou Fan yang masih dalam jarak agak jauh sungguh tak menyangka hubungan kedua mertuanya sangat baik, bahkan membuatnya merasa lucu saat mendengar adu mulut diantaranya.


"Ayah mertua," Zhou Fan tak lagi menyaksikan dari kejauhan, melihat Qing Si yang mulai menjauh Zhou Fan menghampiri Wei Huan.


Eh...


"Hem..." Wei Huan merapikan pakaiannya, dia tak ingin kehilangan wibawa di depan calon menantunya.


"Ada apa?" tanya Wei Huan dengan suara tenang, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan apa yang sebelumnya.


Zhou Fan menceritakan maksudnya, dia juga menyampaikan kunci giok prisma yang ada padanya.


"Aku pernah membaca di perpustakaan istana, tapi aku tak terlalu percaya akan keberadaannya." Wei Huan mengatakan sambil mengingat kitab yang pernah ia baca.


...


"Ha... Ini dia kitab itu, aku ingat betul di dalamnya lah aku mengetahui altar peninggalan." Wei Huan menjelaskan.


Zhou Fan meraih kitab yang diserahkan kepadanya, dia kemudian membuka dan membacanya.


Awalnya Zhou Fan membaca dengan teliti, tapi perlahan dia hanya melihat sekilas dan mencari tentang altar peninggalan.


Semua yang ada di sana jelas, tapi terdapat satu bait yang membuat Zhou Fan bingung.


"Mutiara ditemukan di laut paling dalam, lentera membawa pencerahan, dengan kekayaan kau mencapai tujuan."


Zhou Fan terus mengulang kalimat tersebut, hingga membuat bingung Wei Huan.


"Apa yang sebenarnya kau gumamkan?" tanya Wei Huan penasaran.


Tapi Zhou Fan masih terlalu fokus memecahkan kata kunci tersebut.


"Mutiara ditemukan di laut paling dalam, ... Dalam, dalam." Mata Zhou Fan berbinar cerah dan menatap Wei Huan yang masih kebingungan.


"Ayah mertua, seperti altar peninggalan mang benar adanya. Dan kalimat ini adalah kata kunci untuk menemukannya." Zhou Fan menjelaskan singkat.


"Lalu?" ucap Wei Huan masih tak paham.


Ahk!


Zhou Fan berteriak tak bersuara.


"Tempat paling rendah, atau ruangan terdalam di istana?" ucap Zhou Fan memberikan petunjuk.


"Penjara bawah tanah?" jawab Wei Huan sedikit ragu.


"Emn... Yang lain?" Zhou Fan menggeleng, tidak mungkin pintu memasuki sebuah tempat seperti itu berada di penjara bawah tanah.

__ADS_1


"Perpustakaan!" jawab Wei Huan saat mengingat tempat lain.


"Baik, sekarang ke tempat perpustakaan berada!" ajak Zhou Fan dengan semangat.


Plak!


"Apa?" tanya Zhou Fan saat Wei Huan menepuk bahunya.


"Kau berada di perpustakaan, bodoh!" ucap Wei Huan datar.


Zhou Fan melihat sekitar, dan tersenyum canggung.


Perpustakaan istana terletak sejajar dengan penjara bawah tanah, tapi berada di bagian selatan, sementara penjara bawah tanah berada di bagian utara.


"Khem... Lentera membawa pencerahan," ucap Zhou Fan menyebutkan kata selanjutnya.


Wei Huan ikut berpikir, setidaknya dia sudah sedikit paham dengan permainan teka teki ini.


"Lentera? Tidak ada lentera di perpustakaan, ruangan ini istimewa, pencahayaan berasal dari sebuah bola kristal di langit langit." Wei Huan menunjukkan langit langit perpustakaan.


Spontan Zhou Fan menengadahkan kepalanya, menjumpai bola kristal berwarna kekuningan berukuran sebesar kepala orang dewasa.


"Lentera membawa pencahayaan, apakah bola kristal adalah lentera? Tapi aku rasa tidak semudah itu." Zhou Fan memangut dagunya, berjalan ke bawah bola kristal.


Tepat di bawah bola kristal, sekali lagi dia mendongak ke atas.


Auh...


Seketika matanya berkunang kunang, seolah ada sepintas cahaya yang lebih terfokus.


Zhou Fan mengalihkan pijakannya, dapat dilihatnya titik kuning yang merupakan sinar terfokus bola kristal.


"Apakah kau menemukan petunjuk?"


Zhou Fan mengedikkan bahunya, dia juga belum sepenuhnya yakin.


Zhou Fan kemudian berjongkok, melihat lebih dalam permukaan lantai ruangan yang menjadi fokus sinar.


Saat tangannya tak sengaja menekan permukaan lantai, tiba tiba lantai selebar telapak tangan terbuka dan mengeluarkan sebuah giok berbentuk limas.


Shing....


Sinar dari bola kristal semakin terpusat, kini ruangan perpustakaan terlihat gelap, cahaya yang semula menyebar seolah terserap giok berbentuk limas.


Dalam hitungan detik, cahaya dari kristal kembali di muntahkan, merujuk pada satu titik.


Spontan Zhou Fan serta Wei Huan mengikuti arah kemana sinar itu, pandangan mereka tertuju ke arah dinding perpustakaan.


Keduanya lantas mendekat, tangan Zhou Fan meraba dinding perpustakaan, dia juga menekan telapak tangannya, berharap menemukan sebuah tombol.


Jglak!


Dinding perpustakaan bergeser beberapa inci dan memunculkan sebuah pintu seukuran tubuh pria dewasa.


Zhou Fan juga Wei Huan saling pandang, keduanya lantas tersenyum, membuat sepasang ayah mertua dan menantu itu terlihat mirip.

__ADS_1


__ADS_2