
"Woah... Dia mendapatkan jutaan
koin emas hanya dengan satu kali pertandingan, sungguh membuat iri."
"Perbanyak usaha... jangan hanya berharap tanpa melakukan apapun, karena itu adalah nol besar."
"Jika kau merasa kau mampu mengalahkannya, maju saja dan tantang dia."
"Iri tanda tak mampu!"
Percakapan beberapa orang terdengar seru, mereka membicarakan Zhou Fan yang berhasil mendapatkan koin emas milik pria berpakaian hitam setelah mengalahkannya.
Pria berpakaian hitam melangkah turun dengan langkah tertatih, dia kekeh untuk terus berjalan sendiri, saat ada yang berniat memapahnya malah dia tolak begitu saja.
Zhou Fan berdiri di tengah arena, dia menunggu lawan yang akan menantangnya.
Tak ada yang berani mengangkat tangan, semua orang hanya diam dan saling memandang, seolah menyuruh salah seorang diantaranya mereka untuk naik dan bertarung.
"Siapa yang dengan bodoh akan melawannya, saat petarung yang memenangkan banyak pertarungan tak dapat mengalahkannya."
"Jika ada yang sanggup melawannya, mungkin di desa ini hanya Sutta Sing yang memiliki kultivasi petarung raja bintang tujuh, tapi dia tidak terlalu tertarik dengan acara taruhan ini."
"Kau benar... Sutta Sing pasti dapat mengalahkannya, jika dia berada di sini aku yakin dia menjadi juara bertahan."
Mereka terus membicarakan Sutta Sing, sampai suara kecil layaknya pekikan gadis terdengar membuat semua orang seketika terdengar.
"Sutta Sing paling tidak suka jika ada orang yang membicarakannya!" pria berbadan besar setinggi dua meter berjalan membuka jalan.
"Itu dia... Entah apa yang membuatnya datang, pada tahun tahun sebelumnya, dia tak pernah sekalipun datang," bisik salah seorang yang ada di sana.
"Sutta Sing mendengar ada petarung hebat di acara taruhan, maka dari itu Sutta Sing datang ingin mengajaknya bertaruh." Pria tegap berbadan besar itu terlihat menyeramkan, tapi kesan tersebut akan luntur jika dia mulai membuka suara.
Suaranya yang melengking tinggi layaknya suara gadis yang menjerit membuatnya terasa lucu, tapi tidak akan ada yang berani menertawakan dirinya, karena dia adalah kultivator terkuat yang ada di desa biyu.
"Kau tak sopan anak muda, jangan menilai dari suaraku, seorang kultivator tidak dinilai dari suara saat dia bicara." Sutta Sing menuding Zhou Fan yang tampak menahan tawa.
Siapa yang tak tertawa, saat ada pria tinggi besar berotot, mempunyai suara yang melengking. Pikir Zhou Fan.
"Di mana orang yang katanya kuat itu?" Sutta Sing berkata sambil mencari orang yang sekiranya merupakan orang yang terkuat yang ada.
"Kau!" Sutta Sing menunjuk pria brewok dengan pedang tersarung di pinggang.
Pria itu lantas mendekat, tapi setelah mendengar pertanyaan Sutta Sing selanjutnya dia berhenti bergerak.
"Apakah kau orang itu?"
"Bukan Tuan Sutta, bukan saya... Dia lah orangnya." Pria brewok itu menunjukkan Zhou Fan yang masih berdiri di atas arena.
Sutta Sing mengikuti arah telunjuk pria brewok, seketika matanya menyipit saat pandangannya berhenti di pemuda yang telah menertawakannya.
__ADS_1
"Kau!"
Sutta Sing kembali menunjuk pria yang tampak kuat di matanya, meskipun masih berada di bawah kultivasinya.
"Bukan aku Tuan Sutta, dia orangnya." pria yang ditunjuk dengan cepat mundur sambil menggoyangkan sebelah tangannya, sementara tangan lainnya menunjuk Zhou Fan.
Wajah Sutta Sing semakin mengernyit, tapi dia berusaha tetap tenang.
"Tuan Suti..."
"Sutta Sing!" Baru sepatah dua kata keluar dari mulut Zhou Fan, langsung di bentak oleh sang pemilik nama.
"Yayaya... Terserah," Zhou Fan melambaikan tangannya seolah bukan permasalah penting. Kemudian melanjutkan perkataannya. "Aku setuju denganmu 'seorang kultivator tidak dinilai dari suara saat dia bicara', tapi aku mau menambahkan 'umur bukan patokan'."
Jlem...
Sutta Sing naik arena dengan begitu ciamik, tubuhnya yang tidak kecil menghantam lantai arena dengan keras, menimbulkan getaran yang dapat membuat orang bergoyang.
"Aku akui yang kau katakan memang benar. Bagaimana kalau sepuluh juta koin emas?" Sutta Sing mengeluarkan taruhan.
Taruhan yang begitu besar membuat semua orang membuka mulut lebar lebar. "Sepuluh juta? Itu bahkan setara dengan pendapatan klan kecil selama satu tahun di desa ini."
Zhou Fan menimang dagunya, dia tak mempunyai koin emas sebanyak itu dalam cincin penyimpanannya.
Melihat Zhou Fan tidak kunjung memberikan jawaban membuat Sutta Sing tak sabar. "Kenapa, apakah kau tak berani?"
"Hah... Ternyata hanya tong kosong, kukira dia akan berani bertaruh melawan Tuan Sutta Sing, tapi dia bahkan tak dapat bicara saking takutnya.
"Bukan seperti itu, aku tidak mempunyai koin sebanyak kau... Tapi aku mempunyai barang yang dapat sebanding dengan itu." Zhou Fan mengeluarkan sebutir pill kultivasi tingkat tujuh.
Begitu pill di keluarkan mata semua orang tak dapat teralihkan dari tangan pemuda itu. Siapa yang tidak tahu pill kultivasi tingkat tujuh, aura yang terpancar saja dapat membuat orang memandangnya.
"Apakah itu pill kultivasi tingkat tujuh?" ucap Sutta Sing dengan suara tergagap.
Pill kultivasi tingkat tujuh merupakan pill langkah di desa ini, walau di pusat kota masih bisa di dapatkan, itu tidak akan mudah, karena harus mengikuti pelelangan dan saingannya tidak hanya puluhan orang.
"Bagaimana?" Zhou Fan memiringkan kepalanya, menunggu jawaban Sutta Sing.
"Baiklah!" Tanpa pikir dia kali pria berperawakan besar tinggi itu langsung menyetujuinya.
Dia berpikir kesempatan tidak akan datang dua kali, jika dia menyia-nyiakan hari ini, dia tidak tahu kapan lagi akan mendapat kesempatan semudah ini lagi.
Kedua orang di atas arena dengan sigap meraih senjatanya, keduanya sama sama menjadikan pedang sebagai senjata, tapi itu akan berbeda karena pedang darah malam bukanlah pedang biasa.
"Pill kultivasi, aku datang!"
Sutta Sing menghantam Zhou Fan dengan pedangnya, sambil menyerang dia berteriak keras dan hal itu membuat beberapa orang tertawa.
Seolah tak peduli dia menjadi bahan tertawaan, Sutta Sing terus mengincar tubuh Zhou Fan, tapi pemuda itu dapat dengan luwes menghindari tebasannya.
__ADS_1
Zhou Fan menghamburkan pedangnya lurus, membuat siluet angin yang bergerak ke arah Sutta Sing. Namun pria besar itu dengan cepat mengeluarkan jurus, bayangan pedang meluncur cepat menghantam jurus Zhou Fan.
Blar!
Ledakan dua jurus menggema di arena. Setelah adu jurus, Sutta Sing dapat merasakan kekuatan Zhou Fan tidak berada di bawahnya.
Tepat setelah dua jurus melebur menjadi satu, keduanya melompat bertarung jarak dekat.
Zhou Fan mengayunkan pedangnya, tapi Sutta Sing juga tak hanya diam, dia menebas berlawanan, membuat pedang keduanya berbalik arah.
Trang...
Zhou Fan menarik cepat pedangnya, lalu mendorong mengincar dada Sutta Sing.
Srek....
Pedang Zhou Fan hanya menggores badan pedang milik Sutta Sing, pria besar itu membentangkan pedangnya di depan dada.
Sling...
Sutta Sing mendorong pedangnya, membuat Zhou Fan terpaksa mengangkat pedang darah malam.
Merasa kesempatan telah datang, Sutta Sing tak ingin membuang peluang, dengan sekejap mata dia mendorong kakinya mendaratkan tendangan yang mengincar perut Zhou Fan.
Plak...
Bruak!
Sutta Sing malah terlempar dengan tubuh kehilangan keseimbangan. Sedangkan Zhou Fan masih berdiri tegak di tempatnya.
Sutta Sing berdiri dengan cepat, dia menunduk memutar pergelangan kakinya yang terasa sakit.
Saat kakinya hendak menyentuh perut Zhou Fan, pemuda itu dengan cepat menangkap kaki Sutta Sing, dia memutar lalu menghempaskan sejauh yang dia bisa.
Kedua pihak saling tatap, tak ada yang dapat mereka keluarkan selain tatapan intimidasi. Keduanya kembali saling beradu, Zhou Fan tak hanya mengeluarkan alunan pedang biasa, dia kali ini bergerak mengeluarkan teknik dewa pedang.
Semakin lama pria besar itu semakin terdesak, luka sayatan mulai tersarang rapi di tubuhnya.
Darah berceceran di lantai arena. Semua orang yang menyaksikan spontan menahan nafas, karena terlalu tak menyangka hal ini akan terjadi.
Orang terkuat di desa biyu dikalahkan oleh seorang pemuda, sungguh serangan fatal bagi mental mereka.
Bugt..
Tubuh Sutta Sing terjatuh lemah, dia kehilangan banyak darah membuat tubuhnya lemas.
Dia menyerah, lalu dengan cepat menelan pill pemilihan tingkat tinggi miliknya.
Setelah hanya menyaksikan Sutta Sing yang diam memulihkan diri, akhirnya pria besar itu bangkit dan langsung mengeluarkan koin emas yang dia janjikan.
__ADS_1
"Aku kalah.. Kau memang!"