
"Ayah, ayo kita berduel teknik pedang?" tantang Zhou Fan kepada ayahnya.
Melihat anaknya bersemangat tentu Zhou Hu mengiyakan permintaannya.
"Ayo, majulah terlebih dahulu Ayah akan menahannya." Perintahnya pada sang putra.
Zhou Fan yang mendengar ucapan ayahnya, tersenyum kecil sambil berkata. "Kalau begitu, aku tidak akan menahannya."
Zhuo Fan melesat dengan teknik dewa pedang, Zhou Hu yang melihat kecepatan anaknya tentu saja terkejut, kecepatan yang diperlihatkan putranya merupakan kecepatan seseorang yang telah di tingkat petarung master, Zhou Hu sendiri belum mengetahui sejauh mana tingkat kultivasi anaknya.
Zhou Hu yang semula masih menahan, menjadi ingin menguji seberapa lama anaknya menahan serangannya.
Setelah beberapa saat bukannya mendesak, ia malah terdesak dengan teknik padang yang digunakan oleh anaknya.
"Andai tingkat kultivasiku di tingkat master mungkin aku akan dikalahkan olehnya." Zhou Hu berkata heran dalam hatinya, dia heran bagaimana cara anaknya bisa mendesaknya dengan teknik pedangnya.
Namun dia juga merasa senang, senang karena bisa melihat anaknya telah menjadi seorang kultivator yang tangguh diusianya yang akan 19 tahun.
Pasangan ayah dan anak itu terus beradu teknik pedang, teknik dewa pedang dengan teknik sembilan pedang, meskipun teknik sembilan pedang lebih lemah dibandingkan dengan teknik dewa pedang, tapi dikarenakan tingkatan Zhou Hu lebih tinggi membuat tekniknya bisa mengimbangi teknik pedang Zhou Fan, jika mereka beradu teknik tanpa tenaga dalam sudah dipastikan Zhou Hu yang akan keluar sebagai pihak yang kalah.
Zhou Hu diam diam mengagumi teknik yang digunakan anaknya, gerakannya sangat stabil, jangkauannya yang luas dan sangat fleksibel, benar benar teknik pedang tingkat tinggi, pikirnya.
"Fan'er kau harus memberitahu ayah darimana kau mendapatkan teknik ini, Ayah rasa teknik ini sangatlah hebat," ucap Zhou Hu disela sela pertarungannya.
"Nanti saja saat makan malam Ayah, mari bertarung agak serius, aku ingin mengeluarkan kekuatanku yang sesungguhnya, Ayah tidak akan bisa bertahan dengan tulang Ayah yang tua jika tidak mengeluarkan setidaknya separuh kekuatanmu, Ayah." Tantang Zhou Fan sambil terkekeh.
"Bocah kecil! kau mengatai ayahmu ini sudah tua, maka rasakanlah kehebatan dari tulang tua ini, Hahaha...." Zhou Hu tidak benar benar marah mendengar perkataan anaknya, ia menyanggupi tantangan anaknya untuk mengeluarkan kekuatannya yang sekarang telah berada di tingkat grand master bintang 7, tapi ia tidak benar benar mengeluarkan kekuatan penuhnya ia hanya akan menggunakan 50 persen Kekuatannya yang setara dengan tingkat petarung grand Master bintang 2.
"Teknik dewa pedang." Zhou Fan berteriak sambil melesat menyerang Ayahnya.
"Ayo.... sini kau bocah kecil," ucap Zhou Hu pada Zhou Fan.
Zhou Fan mencoba menebas area perut Zhou Hu dengan mengarahkan pedangnya, tapi itu terlalu lambat bagi seorang petarung grand master bintang 7 seperti Zhou Hu, meskipun kekuatan yang dikeluarkan Zhou Hu hanya 50 persen tapi kecepatan tidak berkurang sama sekali.
__ADS_1
mengetahui tebakannya tidak mengenai sasaran, Zhou Fan kembali melakukan tebasan yang kali ini tepat mengarah ke pinggang bagian kiri Zhou Hu.
Sebelum pedang Zhou Fan menempel pada pinggang ayahnya, pedang ayahnya terlebih dahulu menghadang pedangnya dan Zhou Fan termundur berberapa langkah.
"Hahah..... bagaimana rasanya tulang tua ini Fan'er, enak tidak..?" Zhou Hu bertanya sambil tertawa.
Kultivasi Zhou Fan sekarang sudah berada di tingkat petarung master bintang 8, dengan teknik dan juga fisiknya ia bisa mengimbangi petarung grand master bintang 1.
"Ayah memang kuat, padahal masih terlihat bahwa ia tidak serius melawanku, tapi tidak ada celah yang dapat aku manfaatkan." Zhou Fan memuji ayahnya di dalam hati.
"Lanjut?" tanya Zhou Hu.
"Heem..." Zhou fan hanya bergumam lalu kembali menyerang ayahnya, kali ini ia tidak hanya mengunakan tekniknya saja ia akan mengkombinasikannya dengan jurus tebasan ganda.
"Tebasan ganda..." Zhou Fan bergumam pelan sambil melakukan dua kali tebasan beruntun.
Zhou Hu yang melihat anaknya mengeluarkan sebuah jurus pun mengikuti dengan mengeluarkan salah satu jurusnya.
"Duar!"
Suara ledakan yang diakibatkan oleh dua jurus yang saling bertubrukan.
"Ah...." Zhou Hu yang tidak mengira Zhou Fan akan menyerangnya pun akhirnya terkena sabetan pedang dibagian lengan atasnya.
"Haha.....ayah kau terlalu ceroboh, untung aku yang menyerangmu, andaikan itu musuh, kau tidak hanya akan terluka," ucap Zhou Fan senang karena telah berhasil melukai ayahnya.
"Hahaha.... kau memang putraku, cerdas sangat cerdas." Bukannya marah karena dilukai, Zhou Hu malah senang kerena yang melukainya adalah anaknya sendiri.
"Sudah sudah langit mulai gelap, mari masuk kedalam, ibumu pasti sangat senang kau telah pulang," ucap Zhou Hu mengajak anaknya untuk menemui Zhou Qian.
Mereka berdua masuk dengan bekas darah yang masih merembes di baju keduanya, Zhou Fan di bagian pinggangnya dan Zhou Hu dibagian lengan atasnya.
Zhou Qian yang melihat suaminya masuk dengan seorang pemuda, menatap pemuda itu dengan mata berbinar, tapi dahinya mengerut saat melihat terdapat noda darah di pakaiannya
__ADS_1
"Kau kenapa Fan'er, apa ada yang menyerangmu?" Zhou Qian membolak balikan badan anaknya, Zhou Fan terus diputar kekanan dan kekiri oleh ibunya.
"Iya ibu, aku di luar tadi diserang oleh seorang kultivator," ucap Zhou Fan berpura pura sedih.
Zhou Qian yang mendengar ucapan Zhou Fan menjadi sedikit emosi dan berkata, " Siapa yang berani melukai anakku, bilang sama Ibu."
Zhou Hu yang dari tadi diam, mendekati putranya dan memukulnya pelan
"Siapa yang melukaimu Fan'er?" ucap Zhou Hu pura pura tidak tahu sambil ikut memeriksa kondisi anaknya.
Zhou Fan yang melihat Ayahnya seperti ingin berpura pura ikut bermain.
"Seorang kultivator 'tua' yang memberikan luka pada diriku ayah..." Zhou Fan sengaja menekan kata tua sambil melirik ayahnya.
"Siapa namanya biar ibu kebiri orang itu!" Zhou Qian berkata dengan sungguh sungguh.
Glek!
Zhou Hu meneguk ludahnya kasar mendengar ucapan istrinya.
Meskipun Zhou Qian berkata dengan nada biasa tapi ucapannya itu terdengar menakutkan ditelinga Zhou Hu.
"Hahaha..." Zhou Fan sudah tidak dapat menahan tawanya saat melihat wajah pucat sang ayah.
Zhou Qian yang melihat suami dan putranya sedikit aneh mulai bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. "Sebenarnya siapa yang melukaimu Fan'er?"
"Tidak ada yang melukaiku ibu, aku baru saja berlatih tanding dengan ayah di halaman depan," ucap Zhou Fan sambil melihat ayahnya yang masih dengan wajah pucatnya.
Zhou Qian menoleh ke arah suaminya, daritadi ia tidak begitu memperhatikan suaminya kerana terlalu terfokus oleh kedatangan Zhou Fan.
Zhou Qian dapat melihat pakaian suaminya dalam kondisi yang tidak jauh berbeda dengan anaknya, Zhou Qian menghembuskan nafas kasar.
"Huh.....kalian sangat kotor, segeralah membersihkan diri, aku akan segera menyiapkan makan malam, kalian segeralah kemari setelah membersihkan diri," ucap Zhou Qian pada suami dan anaknya.
__ADS_1