Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 58 : Turnamen Kota... 2


__ADS_3

Tidak seperti di babak kualifikasi, turnamen ini tidak perlu mengambil nomor urut ataupun token, karena semua peserta yang akan mengikuti turnamen sudah terdaftar.


"Ling Shi dari Klan Ling melawan Shui Hen dari Klan Shui, arena pertama!" ucap seorang yang bertugas menjadi pembawa acara.


Tidak lama setelah itu, dua pemuda berumur sekitar 21 tahun memasuki arena pertama.


"Aku mau melihat seberapa hebat kekuatan generasi muda Klan Ling!" Shui Hen berkata sinis sambil tersenyum meremehkan.


Beberapa saat yang lalu ia sempat mendengar tentang pemuda Klan Ling yang telah berada di tingkat petarung mahir bintang 4.


Semua orang terus menyanjung pemuda itu, sampai Shui Hen muak mendengarnya. Ia juga tidak kalah dengan pemuda itu, tapi kenapa semua orang lebih menyanjungnya dari pada dirinya.


Terus terpikirkan hal tersebut membuatnya semakin kesal, melihat lawannya yang kebetulan berasal dari Klan Ling, ia tidak bisa menahan untuk membuat masalah dengannya.


Melampiaskan kemarahan dan kekesalannya kepada lawannya, membuat hati kecilnya puas dengan menghajar pemuda Klan Ling.


"Hufh....lebih dari cukup untuk mengalahkanmu!" balas Ling Shi dengan nada tidak kalah sinis.


Ling Shi berada di tingkat petarung mahir bintang 1, ia bisa mengatakan kalau ia bisa mengalahkan Shui Hen karena ia tidak mengetahui tingkat kultivasi lawannya.


Melihat penampilan Shui Hen yang terbilang sungguh kurus, ia berasumsi bahwa lawannya lebih lemah darinya.


"Mengalahkanku!" ucap Shui Hen tidak percaya, ia sudah di tingkat petarung mahir bintang 4, bisa bisanya seorang petarung mahir bintang 1 meremehkannya.


"Kenapa? kau tidak percaya? majulah akan aku buktikan ucapanku." Ling Shi masih belum menyadari bahaya yang akan ia dapatkan.


"Hehe.... kau itu bodoh atau apa? apa kau belum menyadari perbedaan kekuatan diantara kita, kau bukanlah lawanku! sebaiknya kau menyerah sebelum kau menyesal karena telah datang ke sini." Pandangan Shui Hen terhadap lawannya semakin terlihat merendahkan.


Ucapan Shui Hen tidak terlalu keras, tetapi sudah cukup bagi Ling Shi untuk menyadari kesalahan analisisnya.


Ekspresi Ling Shi mulai memburuk mendengar ucapan Shui hen, membuat pemuda itu sedikit merasa ragu untuk melanjutkan pertarungannya.

__ADS_1


Saat Ling Shi ingin berteriak menyerah, sebuah suara menghentikan niatannya untuk menyerah.


"Ling Shi!! apakah kau pecundang? kau menyerah bahkan sebelum bertarung, menyerah sebelum bertarung bukanlah sifat dari Ling Shi yang aku kenal!" ucap salah seorang pemuda dari klan Ling, teriakan yang keras membuat pemuda itu menjadi pusat perhatian.


Hampir seluruh orang memandangnya, ada yang kagum ada yang tidak suka dengan teriakan pemuda itu, khususnya orang Klan Shui yang terlihat sedikit mengerutkan keningnya mendengar teriakan pemuda itu.


Ling Shi yang tadinya ingin mengangkat tangannya untuk menyerah, beralih menyambar pedangnya yang selalu berada di balik pinggangnya.


"Banar katanya! Ling Shi bukanlah pecundang yang takut kalah!" ucap Ling Shi sambil mengambil posisi kuda kuda.


"Ayo bertarung!" ucapnya lagi.


Melihat Ling Shi kembali mengangkat pedangnya, pemuda yang tadi berteriak tersenyum puas, kemudian berkata. "Itu baru Ling Shi yang aku kenal."


"Heh..." Shui Hen hanya mendengus lalu langsung melompat sambil memberikan pukulan tangan kosongnya,


"Kenapa kau tidak mengeluarkan senjatamu, apakah kau masih meremehkanku?" tanya Ling Shi di sela sela pertarungan mereka.


Bukannya ia meremehkan lawannya, Shui Hen tidak mengeluarkan senjatanya karena dia adalah petarung tangan kosong.


Shui hen bukanlah kultivator pedang ataupun lainnya, ia tidak begitu mahir menggunakan senjata seperti pedang ataupun tombak, tapi ia diberkati dengan kemampuan bertarung tangan kosong yang sangat luar biasa.


Trankk....


Suara pedang Ling Shi saat berbenturan dangan tangan Shui Hen,


Ling Shi melompat mundur beberapa langkah setelah merasakan betapa keras tangan lawannya itu, dahinya mengkerut memikirkan apa yang baru saja terjadi.


"Bagaimana bisa! senjataku adalah pedang rank master, bagaimana bisa tangannya menahan pedang rank masterku?!" batin Ling Shi sambil menatap Shui Hen yang terlihat tenang.


Tanpa mempedulikan Ling Shi yang masih terheran, ia menaikan lengan bajunya sehingga terlihatlah sarung tangan mengkilap yang terpasang di kedua tangannya.

__ADS_1


"Apakah sebegitu hebat pedang rank mastermu itu?" Shui hen mencibir lawan dihadapannya itu.


"Cih.... ku kira kau adalah manusia besi sehingga terdengar suara seperti tadi saat pedangku beradu dengan tanganmu, aku tidak mengira akan berhadapan dengan petarung tangan kosong."


Ling Shi baru mengerti kenapa pemuda yang menjadi lawannya itu tidak mengeluarkan senjatanya, karena senjatanya memang sudah dari awal ia kenakan jadi tidak perlu mengeluarkan lagi.


Entah sudah sepakat atau tidak, keduanya secara bersamaan melompat menyerang sambil mengeluarkan serangannya masing masing.


Trank... Trink...


"Aku terlalu menilai tinggi dirimu, ternyata kemampuanmu tidak sehebat ucapanmu!" Ling Shi masih sempat sempatnya meremehkan lawannya.


Shui hen hanya menyeringai mendengar ucapan Ling Shi, tanpa lawannya sadari Shui hen belum mengeluarkan kemampuannya, ia masih ingin bermain dengan pemuda klan Ling itu. Kalau tidak seorang tingkat petarung mahir bintang 1 mana mungkin bertahan selama ini saat berhadapan dengan petarung mahir bintang 4 sepertinya.


Di arena lainnya, Zhou Yu terlihat tidak terlalu kerepotan untuk menghadapi lawannya. Menghadapi seorang petarung pemula bintang 9 bukanlah hal sulit untuk Zhou Yu yang sudah di tingkat petarung mahir bintang 2, terlihat dari tempo serangannya, pemuda itu masih belum ingin mengakhiri pertarungannya, sangat jelas terlihat ia sedang ingin bersenang senang.


Setelah merasa puas 'bermain' keduanya mengakhiri pertarungan itu dengan mengalahkan lawannya masing masing, Ling Shi masih beruntung dibandingkan lawan Zhou Yu yang tidak sadarkan diri setelah mendapatkan serangan fatal dari pemuda itu.


Bersamaan dengan Zhou Yu dan Shui Hen mengakhiri pertarungannya, kedua arena lainnya juga sudah mendapatkan pemenangnya.


Empat pertandingan sudah selesai dan juga ada empat orang yang sudah dipastikan tidak bisa mengikuti babak selanjutnya, empat pertandingan lagi akan segera dimulai, hanya menunggu siapa yang akan bertanding di pertandingan itu.


Semua peserta yang belum bertanding berharap harap cemas, mereka berdoa agar mendapatkan lawan yang berada di bawah tingkatan kultivasinya.


Tapi berbeda dengan pemuda yang satu ini, bukan hanya tidak terlihat cemas! dia bahkan terlihat tidur di sebelah tempat duduk ayahnya. Semua orang dari Klan Zhou tidak mempedulikannya karena menganggap pemuda itu tidak penting dan yang mereka ketahui Zhou Fan bukanlah salah satu pemuda yang akan ikut turnamen, jadi tidak ada di antara mereka yang mencemaskan pemuda itu.


Zhou Fan berpikir turnamen ini tidaklah layak baginya, ia sudah di tingkat petarung master bintang 9! bukankah namanya menindas yang lemah jika ia ikut serta? tapi melihat keantusiasan orang tuanya ia tidak bisa menolak untuk ikut saat orang tuanya menginginkannya ikut serta.


Zhou Hu hanya bisa pasrah, sambil sesekali menggelengkan kepala melihat kelakuan putranya yang terlihat acuh terhadap turnamen Kota Batu Hitam.


Andai Zhou Hu tahu apa yang putranya pikirkan mungkin ia akan menendang wajah putranya karena terlalu kesal dengannya.

__ADS_1


Bagaimana tidak, turnamen yang menjadi kebanggaan Kota Batu Hitam dan selalu menjadi turnamen akbar yang selalu dinantikan bahkan oleh Zhou Hu sekalipun, kualitasnya dipandang rendah oleh putranya sendiri.


__ADS_2