
Setelah memenangkan pertarungan, Loin Gu tak kunjung turun, dia memandang Zhou Fan dari atas arena. Di matanya tersimpan hasrat ingin mengalahkan, ambisinya begitu besar.
"Tunggu, aku akan mengalahkan mu!" Loin Gu hanya memandang, dia tak bersuara, tapi semua orang dapat menangkap maksudnya.
Zhou Fan tak begitu peduli, dia hanya berdiri sambil melipat tangan di dada. Membalas tatapan Loin Gu dengan senyuman datar.
"Kau tunggu saja." Loin Gu turun sambil mengeram kesal, tangannya yang tak lagi memegang pedang besar.
Satu persatu nama murid disebutkan, tapi nama Zhou Fan belum terdengar. Namun Zhou Fan tak khawatir, karena namanya pasti akan keluar, walau tak tahu itu kapan.
Babak kedua benar benar menggugah selera, pertarungan begitu ketat, murid murid yang bertanding tak ada yang ingin mengalah, seluruhnya menampilkan kemampuan terbaiknya.
Zhou Fan sungguh bertanding terakhir, sudah 48 nama yang keluar, sekarang tersisa dia dan juga lawannya seorang.
Tanpa membuang waktu, pemuda itu melompat naik ke atas arena. Begitu dia menapakkan kakinya, suara teriakan dari bawah terdengar bersahutan.
Nama Zhou Fan benar benar menjadi sindikat yang patut di perhatikan, terkhusus di ujian murid luar.
Bersamaan dengan itu, seorang pemuda dengan rambut panjang sepinggang berjalan begitu percaya diri. Pemuda itu bernama Xin Fai, dengan tubuh tegak di tambah postur tinggi, terlihat cocok dengan rambut yang dikuncir ekor kuda.
Terlihat kedua peserta tidak saling bicara, membuat suasana menjadi sedikit tegang.
Wasit berdiri di tengah arena, dia melirik dua murid yang sebentar lagi akan bertarung. Begitu mendapati kesiapan dari keduanya, wasit itu melompat sambil memulai pertarungan.
Zhou Fan yang mendengar teriakan wasit, langsung maju dengan belati yang sudah berada dalam genggamannya. Sedang Xin Fai melesat bersama sabit ganda miliknya.
Trang...
Belati Zhou Fan di tahan dengan satu sabit bagian kanan. Mendapatkan kesempatan, sabit di tangan kiri mengibas mengincar kepala.
Namun kecepatan Zhou Fan juga tak kalah dari lawannya. Dengan cepat dia menunduk, kemudian kembali tegak sambil melayangkan tendangan.
Ketika kaki kanan Zhou Fan terangkat, kaki Xin Fai juga terangkat. Dua betis saling menghantam, menimbulkan bunyi yang tak ringan.
Sakit? Mereka tak lagi peduli dengan kata itu, mereka menyerang kembali dengan senjata di tangan masing masing.
__ADS_1
Zhou Fan bergerak dengan cepat, ketika dia berada titik buta Xin Fai, langsung mengeluarkan jurus 'pisau angin'.
Beberapa pisau bergerak menyambar, tapi sabit ganda di kedua tangan Xin Fai tak mau diam, saat pisau angin akan mengenainya, sabit sedikit bersinar dan mengeluarkan tebasan.
Tebasan itu cukup besar, bahkan sanggup menelan lima pisau angin yang dikeluarkan Zhou Fan.
Melihat serangannya di patahkan, Zhou Fan langsung maju. Siluet tebasan yang bersiap menghadang langsung dia terjang.
Blar...
Ketika belati raja api maju, tebasan itu hancur, dan meledak. Kabut asap menyebar samar, membuat pandangan sedikit terganggu.
Memanfaatkan keadaan, Zhou Fan merangsek menekan, belati bergerak liar sambil melukis serangan.
Namun dua sabit di tangan Xin Fai juga lumayan, dapat mengantisipasi serangan yang diarahkan.
Zhou Fan menambah tingkat serangan, dia bergerak tambah cepat, dan tak jarang dia bergumam sambil mengeluarkan 'teknik belati sunyi'.
Trang....
Tiba tiba Xin Fai melompat dua kali ke belakang, sejurus kemudian dia menggerakkan dia sabit dengan serempak.
Bola api keluar dari celah dua sabit, ukurannya semakin lama semakin besar. Zhou Fan yang melihat tentu tak tinggal diam. Pemuda itu mengambil langkah dan mengeluarkan jurusnya.
"Tebasan ganda!"
Meski biasanya dia menggunakan pedang, dia merasa jurus itu lebih dapat diandalkan dari pada pisau angin. Setidaknya itu pada saat beradu jurus seperti ini.
Dua siluet tercipta di depan Zhou Fan, begitu Xin Fai mendorong bola api miliknya, Zhou Fan juga menebaskan belati nya.
Kedua jurus bergerak berlawanan, ketika dua juris bertemu, suara ledakan memekakkan telinga terdengar, dari arena satu orang terlempar keluar sedang lainnya masih tak terlihat akibat asap yang begitu tebal.
"Xin Fai keluar, Xin Fai keluar!" seru beberapa orang di sana yang mendekati Xin Fai sambil memeriksa keadaan tubuhnya.
Untuk sesaat semua orang hanya diam, tapi begitu asap mulai menyebar, nama Zhou Fan diteriakkan. Zhou Fan bagai pahlawan bagi murid angkatan baru, tentu saja tidak menyingkirkan nama Loin Gu di dalamnya.
__ADS_1
Zhou Fan turun dengan belati sudah menggantung di pinggangnya, dia tak berjalan ke tempat temannya, melainkan menghampiri Xin Fai yang masih tak sadarkan diri.
Tanpa basa basi, Zhou Fan mengeluarkan pill pemulihan tingkat kedelapan. Teman Xin Fai yang memangku kepala pemuda itu langsung memasukkan pill ke dalam mulut Xin Fai.
Berangsur kondisi Xin Fai membaik, matanya perlahan terbuka meski tidak langsung bisa bangun.
Zhou Fan kemudian pergi ke tempat Yin Cun dan juga Wu Zetian. Kedua temannya itu sudah menunggu di sana.
Melihat sikap Zhou Fan, beberapa murid di sana di buat kagum. Tak banyak orang yang dapat bersikap demikian, membantu dengan memberikan pill pemulihan kepada lawan.
Namun dalam pandangan Zhou Fan, apa salahnya membantu seseorang? Mungkin mereka berdua adalah lawan dalam ujian babak ke dua, tapi setelah pertarungan, dia sama sekali tidak menganggap Xin Fai adalah musuh.
Babak kedua selesai, 25 nama telah ada di daftar murid yang maju ke babak ke tiga. Babak ketiga tak jauh berbeda dengan babak pertama dan kedua, murid akan bertarung satu sama lain untuk lolos ke babak selanjutnya.
Yang berbeda, karena jumlah murid adalah 25, dua murid yang memiliki peringkat terendah akan bertarung, mereka merebutkan satu tempat ke babak ketiga.
Jadi yang bertarung di babak ketiga hanya 24 murid. Memang terdengar tidak adil bagi murid yang memiliki peringkat rendah, tapi peringkat juga di dapatkan dari kerja keras murid luar. Pertarungan seperti itu guna memberikan apresiasi terhadap kerja keras mereka.
Loin Gu menjadi salah satu yang menempati posisi dua terendah, dia akan melawan peringkat 60 yang saat ini masih bertahan.
Berdiri di atas arena, dua pria itu terlihat serius. Meski Loin Gu merupakan angkatan baru, kekuatannya benar benar tidak bisa diremehkan, bahkan secara umur dia setara dengan murid luar peringkat lima besar.
Tak heran jika dia sanggup melangkah ke babak ke-tiga.
Yuan Yue, itu adalah nama pria berumur tiga puluh enam tahun yang kan menjadi lawan Loin Gu. Meski secara fisik Yuan Yue tak sebanding dengan Loin Gu, secara kekuatan dia tak kalah terlalu jauh, dia berada di petarung kaisar bintang satu.
"Loin Gu ini, sudah tua tapi tak mau mengalah dengan yang lebih muda." Yin Cun mendengus sambil memandang Loin Gu.
"Jika kau punya kemampuan, maju saja, tak perlu banyak bicara." Wu Zetian berkata tanpa menatap lawan bicara.
"Cih... Kau seperti punya kemampuan saja." Yin Cun membalas dengan nada mencemooh.
Zhou Fan yang berada di antara keduanya hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Tak punya kemampuan, harap diam."
__ADS_1