
Malam hari, Zhou Fan diundang makan bersama di ruang makan istana oleh Wei Huan, dia yang tidak ingin menolak ajakan ayah mertua pun menyanggupinya.
Zhou Fan tidak tinggal di kemah layaknya calon prajurit, ayah mertuanya memberikan ruangan yang terbilang mewah, meskipun awalnya Zhou Fan ingin menolak karena dia lebih nyaman di ruangan bersama Lee, Wei Huan memaksanya untuk tetap tinggal.
Keluar ruangan dia disambut penjaga yang sedang melintas, Zhou Fan hanya tersenyum, dia sangat tidak terbiasa dengan perlakuan layaknya bangsawan.
Zhou Fan berjalan menuju ruang makan dengan pakaian seadanya, tidak terlalu mewah, dia mengenakan pakaian berwarna putih kebiruan dengan rambut terikat rapi ke belakang.
Dia tak lagi menggendong pedangnya, pedang darah malam ia simpan dalam cincin penyimpanan.
Saat akan memasuki ruang makan, seorang prajurit menghentikannya.
"Berhenti! Kau mau kemana, apakah kau tak tahu ruangan ini adalah ruang makan istana? Hanya orang yang berderajat tinggi yang berhak memasukinya." Prajurit itu membentangkan tombak menghalangi Zhou Fan yang akan masuk ke ruang makan.
"Aku memp.. "
Baru saja dia akan berkata, seorang prajurit paruh baya dengan kumis tebal datang ke arahnya.
"Kau lagi, apakah kau memang sangat suka berkeliaran?"
Zhou Fan menghadap ke arah prajurit yang baru datang. "Tch... Kenapa pak tua ini selalu datang,"
"Apakah anda mengenalnya, komandan?" Prajurit membawa tombak bertanya sambil memandang Zhou Fan.
"Dia adalah calon prajurit yang baru datang, di hari pertamanya dia membuat masalah, tak aku kira dia akan sangat lancang, berniat masuk ke dalam ruang makan istana." Komandan berkumis tebal menggeleng sambil melirik sinis Zhou Fan.
Zhou Fan merogoh saku pakaiannya, dia sudah menyiapkan token istana sejak keluar ruangan, dia berjaga untuk masalah seperti ini.
"Sebelum membongkar Penatua Du, aku harus tetap merendah, atau dia akan semakin waspada." Zhou Fan membatin sambil tangan masih merogoh saku.
Saat dia hendak mengeluarkannya, suara lantang menyambar telinga ketiga orang.
"Siapa yang menghentikan menantuku!"
Kaisar Wei datang bersama penatua Du yang mengekor di belakangnya.
"Yang Mulia..."
Kedua orang berbeda pangkat itu membungkuk serentak di hadapan Wei Huan.
"Kenapa kalian menghentikan menantuku!" ucap Wei Huan mengulangi.
Kedua pria itu seketika berwajah pucat, keduanya memandang Zhou Fan sambil menelisik dari atas sampai ke bawah.
__ADS_1
"Apakah pemuda ini yang dimaksud Kaisar?" Keduanya membatinkan pertanyaan yang sama, wajah keduanya benar benar buruk.
"Aku dalam masalah besar," gumam komandan berkumis tebal.
"Maafkan kami Yang Mulia," kedua orang sekali lagi membungkuk meminta maaf, kemudian membuka pintu besar bersamaan.
Wei Huan serta Penatua Du berjalan masuk terlebih dahulu. Zhou Fan masih berdiri di tempatnya.
"Menghukum menantu Kaisar, menghina juga mengusirnya, entah hukuman apa yang akan di dapatkannya." Sambil berkata Zhou Fan melangkah masuk.
Gleg!
Komandan berkumis tebal meneguk ludahnya kasar, kemudian dengan wajah pucat dia beranjak pergi.
.
.
.
Di dalam ruang makan, terdapat tiga orang pria, ketiganya memakan makanan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Sret..
Zhou Fan memandang Wei Huan. "Aku baru ingin mengeluarkannya, tapi ayah mertua keburu datang."
"Salahkan saja penampilanmu yang terlalu lusuh, aku jadi ragu bahwa kau memang kekasih Lin'er." Kaisar Wei mengatakan sambil terkekeh.
Melihat keakraban dia orang lainnya, Penatua Du menyipitkan matanya. "Yang Mulia?"
"Owh... Aku belum mengenalkan menantuku kepadamu, penatua Du?" ucap Wei Huan.
"Yang Mulia, apakah anda pernah bertemu dengan kekasih tuan putri, apakah anda yakin dialah orangnya?" Penatua Du mengatakan tanpa memikirkan Zhou Fan yang berada dalam ruangan.
"Apa maksudmu, penatua?" Wei Huan melirik dia orang itu bergantian.
"Apakah anda tidak berpikir, pemuda ini terlalu tidak pantas untuk tuan putri? Dia hanya petarung master bintang lima, apakah pantas disandingkan dengan tuan putri?" Penatua Du berkata sinis.
Wei Huan menyipitkan matanya, dia langsung memeriksa tingkatan menantunya.
Matanya membulat saat melihat apa yang dikatakan penatua Du benar. "Apa yang terjadi, aku sangat ingat dia merupakan petarung raja bintang empat."
Zhou Fan yang mengetahui Wei Huan menatapnya, tersenyum sambil mengangguk kecil.
__ADS_1
Mendapati isyarat tersebut, Wei Huan semakin bingung. "Apakah dia bisa manipulasi kekuatannya?"
"Jangan bahas masalah aku pantas atau tidak. Bukankah lebih baik membahas tentang perkumpulan gerhana?" Zhou Fan mengalihkan pembicaraan.
Huk... Huk..
Penatua Du terkejut saat tiba tiba Zhou Fan mengatakan perkumpulan gerhana.
"Apakah kau baik baik saja penatua Du?" Wei Huan berkata sambil memandang penatua Du.
"Mungkin Penatua Du khawatir tentang perkumpulan gerhana, atau... dia mengkhawatirkan hal lain?" Zhou Fan mengatakan sambil tersenyum penuh arti.
"Aku tidak apa, Yang Mulia.. Benar apa yang dikatakannya, saya hanya berpikir bagaimana cara mengatasi perkumpulan gerhana, semakin hari mereka semakin menunjukkan aksinya." Penatua Du berusaha memperbaiki ekspresinya, dia terlihat beberapa kali menghembus nafas.
"Jika ingin mengalahkan perkumpulan gerhana, maka harus memenggal kepalanya, yang harus kita pikirkan adalah pemimpin mereka," ucap Zhou Fan.
"Sial, apakah dia mengetahui sesuatu? Sangat jelas dia sengaja mengarahkan kepadaku!" batin Penatua Du.
"Apakah kau pikir gampang untuk membongkar pemimpin mereka?" Penatua Du memandang remeh Zhou Fan.
Dia sangat yakin pemuda itu tidak mengetahui apa apa, dia hanya sekedar mencari muka terhadap kaisar.
"Heh... Memang sulit untuk mendapatkan informasi tersebut, tapi bukanlah hal yang mustahil, aku berkata seperti ini karena aku sudah mengetahuinya, aku mendapatkannya dari salah seorang anggota perkumpulan gerhana." Zhou Fan kembali menampilkan senyuman penuh arti, memandang Penatua Du dengan seksama.
"Kau jangan menipu!" Penatua Du berdiri dari duduknya.
"Cukup Penatua Du! Menantuku sudah mengatakan kepadaku sebelumnya, aku juga sudah mendapatkan tiga nama pemimpin mereka." Wei Huan masuk ke dalam rencana Zhou Fan dia ingin memastikan keberpihakan Penatua Du.
"Jangan percaya ucapannya, Yang Mulia! Dia pasti berniat menghancurkan kita dari dalam, aku tidak mungkin mengkhianati anda ... Jangan dengarkan omong kosongnya." Penatua Du menunjuk Zhou Fan dengan marah.
Zhou Fan tersenyum lebar, membuat Penatua Du semakin geram. "Kenapa kau tersenyum, apakah kau sudah mengakui apa kesalahanmu?!"
"Diam Penatua Du!!"
Seketika penatua Du diam dengan wajah pucat.
Wei Huan tersenyum sinis, sambil melirik penatua Du dia berkata. "Apa yang kau cemaskan, aku tak pernah mengatakan atau menyebutkan namamu, tapi kau sudah begitu menggebu untuk membantah, apakah kau..."
"Tidak Yang Mulia, aku tidak mungkin mengkhianati anda, jangan percaya apa yang dikatakannya, dialah musuh sebenarnya!" Penatua berlutut di hadapan Wei Huan yang sudah berdiri, dia terus membantah sambil mengarahkan tuduhan kepada Zhou Fan.
Zhou Fan berdiri dari tempatnya, mendekati Wei Huan serta penatua Du yang masih berlutut.
Hng...
__ADS_1
"Apakah kau tidak lelah berpura-pura!"