
Bertepatan dengan persetujuan Zhou Fan, langit langit mulai berubah terang.
Dan seketika Zhou Fan tengah berdiri di sebuah gurun.
Gurun? Zhou Fan melihat sekelilingnya yang hanya terdapat pasir. Kemudian melihat tangan kanannya yang terasa berat.
Pedang darah malam? Sejak kapan?
Tiba tiba pedang darah malam sudah berada di tangan kanannya.
"Apakah sudah mulai tesnya?" Zhou Fan bergumam bingung.
Tak lama setelahnya, muncul seekor ular gurun yang panjangnya lebih dari sepuluh meter.
"Beast tingkat empat? Heh bukan lawan tangguh untukku." Zhou Fan maju menerjang dengan pedang darah malam di tangannya.
Trang!
Pedang darah malam seolah membentur senjata rank legend. Sampai membuat Zhou Fan terpental dengan kencangnya.
Bruk...
Zhou Fan dengan cepat bangkit. Lalu menatap rumit beast ular gurun.
Ssstt...
Ular gurun mematuk Zhou Fan dengan kepala lebarnya.
Bruakk...
Zhou Fan dengan cepat berguling ke samping menghindari serangan ular gurun, membuat hamparan pasir kekuningan berpencar kacau.
"Tak kusangka ular gurun ini memiliki kulit sekeras senjata rank legend!" Zhou Fan bergumam.
Zhou Fan mengeratkan pegangan pedangnya dan melesat ke arah belakang kepala sang ular gurun.
Shut...
Trang!
Lagi lagi suara keras berbunyi nyaring. Ternyata Zhou Fan salah memperkirakan kelamahan beast ular itu, ia mengira kelemahannya berada tepat di belakang tempurung kepalanya, tapi dia salah.
"Aku tak akan bisa mengalahkannya jika masih tetap seperti ini." Zhou Fan mulai lebih agresif.
Dia mengeluarkan teknik dewa pedangnya, kobaran api mulai menyebar, Zhou Fan bergerak layaknya seorang penari.
Shutt.... Shutt...
Zhou Fan menyerang semua titik yang menurutnya adalah area vital ular gurun.
Tapi sudah berapa kali dia mengulanginya masih tetap tak bisa menemukannya.
Karena terlalu fokus dengan pencarian titik kelemahan ular gurun, Zhou Fan tak menyadari gerakannya mulai melambat, dan itu dimanfaatkan oleh uler gurun untuk melilit Zhou Fan dengan ekornya.
Swush.. Srwtt..
Zhou Fan mulai tak bisa bergerak, lilitannya semakin lama semakin erat.
Ular gurun mengangkat ekornya ke dapan, sehingga Zhou Fan berada tepat di hadapan mulutnya.
Grahhh...
Ular gurun membuka mulutnya lebar lebar, seolah memberitahu Zhou Fan bahwa pemuda itu akan segera menjadi lalapannya.
Zhou Fan berhenti bernafas sejenak, karena semburan gas dari mulut ular gurun sungguh beraroma tak sedap.
__ADS_1
"Sialan, ular gurun ini pasti tak pernah mencuci mulutnya?" gumam kesal Zhou Fan dengan mulut menggelembung menahan nafas.
Tapi tiba tiba dia melihat betapa lembutnya gumpalan daging bagian dalam mulut ular gurun.
Mata Zhou Fan berbinar cerah seolah sudah menemukan sebuah harta karun, lebih tepatnya menemukan kelemahan ular gurun.
"Dari luar tak bisa dari dalam pun jadi."
Zhou Fan mulai merencanakan siasat nya. Pemuda itu bersikap seolah telah lemas dan tak berdaya.
"Semakin cepat kau mmelahaku semakin cepat ajal menjemputmu!" batin Zhou Fan.
Zhou Fan berani mengambil keputusan itu karena menilai ular gurun bukanlah jenis ular berbisa.
Terlihat jelas dari taringnya. Dan juga Zhou Fan menebak ular ini adalah jenis ular yang melilit mangsanya hingga lemas bahkan tewas dan menelannya secara utuh.
Sungguh beruntung, ternyata tebakan Zhou Fan benar-benar tepat.
Tak lama setelahnya, ular gurun menaikkan Zhou Fan di atas mulutnya yang terbuka lebar ke atas.
Happ!
Zhou Fan terjatuh ke dalam mulut ular gurun yang berdiameter kurang dari dua meter, pemuda itu tergelincir masuk kedalam.
Di dalam tenggorokan ular gurun...
Zhou Fan yang turun layaknya seorang anak sedang bermain pelosotan mulai mengangkat pedang darah malamnya.
Crebs...
Seperti tebakan Zhou Fan, pedang itu dapat mengoyak ular gurun dari dalam.
Zhou Fan menjadikan pedang darah malam sebagai alat untuk tetap bertahan di bagian tenggorokan. Kemudian menuruninya perlahan dengan menyeret pedangnya.
Phuk... Suara empuk Zhou Fan mendarat.
Jlebb..
Gempa serasa terjadi di dalam tubuh ular gurun.
Grgr...
"Kau pasti sangat merasakan sakit, memang sakit saat di tusuk dari dalam." Zhou Fan berkata dengan nada sok sedih.
Tapi itu tak bertahan lama, karena sedetik berikutnya tebasan kedua mulai dilancarkan Zhou Fan.
Srettt! Jlebb!
Tebasan dan tusukan semakin sering Zhou Fan lakukan.
"Matilah matilah, hahah"
Zhou Fan menebas dengan sangat gembira, dia sangat puas melakukannya.
Melihat tempatnya menyayat sudah mulai dalam, Zhou Fan menabasnya memutar mengelilingi bagian ular gurun.
Setalah berhasil melakukannya, Zhou Fan diam sejenak, lalu memasang kuda kuda.
Hiyat.... Zhou Fan mengeluarkan jurus tebasan pedang ganda.
Blar!
Crashh...
Puah....
__ADS_1
Bagian tubuh ular gurun berlubang, Zhou Fan mengambil nafas dalam dalam setelah keluar.
Huh hah huh hah...
Nafasnya yang memburu mulai stabil, kemudian berdiri gagah membelakangi ular gurun yang telah tewas.
Suasana gurun perlahan memudar digantikan dengan keadaan semula, yang gelap gulita.
Zhou Fan bukannya tak mau menggunakan kekuatan apinya, tapi dia tak bisa, entah kenapa dia tak bisa, dia juga bingung.
"Hoho, selamat bocah kau berhasil melakukannya."
Suara misterius kembali lagi terdengar di udara.
Zhou Fan tak lagi mencari keberadaan asal suara, karena dia sudah lelah melakukannya.
"Kenapa aku masih disini, aku sudah berhasil, kan? Kenapa tak juga keluar?" tanya Zhou Fan sewot.
"Kau baru saja melewati ujian yang pertama tapi kau begitu terburu buru, apakah kau pikir semudah itu untuk mendapatkan semua ini?"
"Lalu, berapa banyak ujian yang harus aku lakukan, cepat katakan! Dan segera mulai ujiannya, aku tak bisa berlama lama disini," Desak Zhou Fan.
"Kau hanya perlu lolos ujian yang kedua, karena hanya ada dua ujian, tapi ini tak akan semudah pada ujian pertama."
Ucapan suara misterius membuat Zhou Fan tersedak seketika.
Mudah? Dia bahkan hampir mati untuk bisa lolos, dan dia mengatakan itu mudah!
Zhou Fan mulai panik dengan ujian apa yang akan dilewatinya.
"Ini adalah penentu kau berhasil atau tidak, dan juga kemurnian tekadmu akan membantumu dalam ujian ini."
Zhou Fan mengingat betul pesan suara misterius.
Kemurnian tekad! Kemurnian tekad!
Zhou Fan mengulang dua kata inti yang disebut suara misterius.
Lagi lagi Zhou Fan berpindah tempat, namun sekarang berbeda dari sebelumnya.
Jika sebelumnya adalah sebuah gurun pasir, kali ini adalah tempat indah di tepi sebuah danau.
Zhou Fan memeriksa sekitar dengan sekali putaran tubuhnya.
Tak ada siapapun disana, hanya sebuah pemandangan alam yang begitu memukau.
"Dimana ujiannya?" Zhou Fan bermonolog.
"Akhirnya kau datang juga!" Sebuah suara terdengar dari belakang Zhou Fan.
Zhou Fan seketika membalikkan badannya, dahinya mengernyit saat menemukan pria paruh baya berpakaian merah kehitaman.
"Siapa dia? Aku tak merasakan kehadirannya walau jelas jelas melihatnya di hadapanku." Ekspresi Zhou Fan terlihat serius.
"Tak perlu terkejut anak muda, sosokku hanya sekedar roh yang tak mempunyai raga, kau tak akan bisa mendeteksi keberadaanku," jelas pria berpakaian merah kehitaman.
Zhou Fan menghembuskan nafasnya lega. "Maaf senior, junior ini...."
Pria paruh baya itu dengan segera memotong ucapan Zhou Fan.
"Aku sudah tahu tujuanmu datang kemari, kau ingin menaklukkan pedang darah malam, kan?" Tanya sangat pria paruh baya.
"Seperti yang kau katakan senior. Tapi kalau boleh junior ini tahu, siapakah senior ini?" tanya Zhou Fan sopan.
"Tak perlu sesopan itu anak muda, aku ini hanya roh yang mendiami pedangmu..." Pria paruh baya itu menunjuk pedang darah malam yang berada di tangan Zhou Fan.
__ADS_1
"Pedang yang memiliki jiwa?!"