
Zhou Fan memasuki ruangannya, kemudian membersihkan tubuhnya yang sudah terasa tidak nyaman dengan pakaian penuh darah.
Ruangan seluas dua kali empat meter menjadi tempat bermalamnya, meski tidak bisa dibandingkan dengan ruangan miliknya di desa giok, setidaknya dia tidak bermalam dengan atap langit.
Tak lama kemudian, Zhou Fan keluar dari kamar mandi, bersamaan dengan itu suara ketukan pintu membuatnya berjalan ke arahnya.
Tanpa berkata Zhou Fan membuka pintu ruangan, menampilkan seorang pelayan wanita dengan nampan di tangannya.
"Tuan, pesanannya?!" Pelayan itu menyerahkan nampan berisi beberapa makanan itu kepada Zhou Fan.
Tatapannya yang semula tertuju pada makanan di atas nampan perlahan naik, matanya berbinar, seolah menjumpai sebuah keajaiban.
Dia seolah menemukan sosok dewa yang nyata, ketampanan wajah penida di hadapannya sungguh membuat dirinya terpana, apalagi dengan rambut yang terurai basah sehabis membersihkan diri.
Zhou Fan mencoba meraih nampan di hadapannya, tapi saat dia hendak mengambil alih nampan tersebut, tangan si pelayan tidak mau melepasnya, membuat Zhou Fan mengerutkan kening.
__ADS_1
Zhou Fan memandang pelayan dihadapannya, matanya menyipit saat melihat tatapan pelayan itu yang terus mengarah kepadanya.
"Hei!" Zhou Fan mengayunkan tangannya di depan mata pelayan itu, membuat sang pelayan seketika tersadar dari lamunannya.
"Bisakah aku menerimanya?" Zhou Fan melirik nampan makanan yang masih dipegang erat sang pelayan.
Sambil berkata Zhou Fan mengusap rambutnya yang basah, membuat pelayan wanita itu kembali terbengong.
Dengan rambut acak acakan yang masih basah, membuat penampilan Zhou Fan semakin memukau, seolah ketampanannya menjadi berlipat ganda.
"Ehem!" Zhou Fan berdehem agak keras, membuat pelayan dihadapannya tersentak kaget.
Tanpa menunggu lama Zhou Fan menerima nampan tersebut, kemudian menutup pintu meninggalkan pelayan itu yang masih terdiam di tempatnya.
"Ah, aku sampai lupa dengan cincin penyimpanan si tua itu, mungkin sekarang sudah di pungut oleh pemilik kedai." Zhou Fan menggeleng, dia sungguh menyayangkan cincin penyimpanan milik Shang Qiu, tapi apa mau dikata, dia hanya bisa menyesalinya.
__ADS_1
***
Malam berlalu dengan cepat, begitu pula dengan hari, tanpa terasa sudah tiga bulan Zhou Fan berada di ibukota Kekaisaran.
Kabar kematian tuan besar Shang dan Tuan kedua Shang, sempat menggegerkan seluruh Kota, bagaimana tidak, dihari yang sama kepala keluarga dan wakilnya terbunuh.
Semua orang bertanya tanya, siapa yang melakukan itu. mereka pasti tidak akan mengira sosok dibalik kematian kedua orang adalah orang yang sama.
Sedangkan untuk Shang Yui, dia masih terbaring di ranjangnya dengan kondisi lemah.
Seolah tak tahu apa yang terjadi, Shang Lu dan juga Shang Yui tidak mau membeberkan penyebab kematian Shang Qiu, bukan karena tak ingin, namun para tetua keluarga tengah sibuk mencari penyebab kematian Tuan besar Shang.
Sedangkan Zhou Fan, pemuda itu masih setia di dalam penginapannya, selama beberapa bulan ini dia mengurung diri di ruangannya dan berkultivasi, dan baru saja menyelesaikannya.
Setelah pertemuannya yang terakhir, Wei Guanlin tak pernah sekalipun menemui Zhou Fan.
__ADS_1
Zhou Fan yang memiliki sifat sedikit acuh tidak begitu mengkhawatirkan Wei Guanlin, merasa wanitanya adalah putri kaisar, dia tidak berpikir ada masalah yang membuatnya khawatir.
Zhou Fan berpikir, Wei Guanlin mungkin sedang melakukan pelatihan tertutup, jadi dia tidak terlalu memikirkannya.