
Pria paruh baya yang sebelumnya berpikir Zhou Fan akan mampus, dibuat tak percaya dengan mulut menganga, dengan semudah membalik tangan pemuda itu mengalahkan sembilan orang sekaligus.
Mungkin jika dia bisa mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya sekarang, dia akan berlari dan bersujud di hadapannya, karena merasa kehadiran seorang genius diantara genius tiada tandingannya.
Namun, dia tak sebegitu konyolnya bersujud kepada pemuda seumuran anaknya, dia mendekati dengan wajah tersenyum mengembang.
"Terimakasih, Tuan... Dengan menghabisi mereka secara tidak langsung kau menyelamatkan seluruh tawanan yang ada di dalam." Pria paruh baya hendak membungkuk, tapi tangan Zhou Fan terlebih dahulu menahan.
"Tak perlu begitu paman, aku hanya sedikit meregangkan badan." Zhou Fan merendah.
Namun, ucapannya malah membuat dirinya terlihat arogan.
Khekhe...
Pria paruh baya menggaruk tengkuk kepala yang tak gatal, tak bisa membalas ungkapan pemuda penolongnya.
"Ayo ke dalam, paman ... Mungkin keluarga paman sedang menunggu kedatangan paman." Zhou Fan masuk melalui dinding yang sudah berlubang akibat di hantam tubuh pria botak.
"Huft..." Pria paruh baya menghela nafas panjang.
Andai Zhou Fan tahu apa yang telah pria paruh baya itu lontarkan, mungkin dia tidak akan sesopan sekarang.
Bagaimana tidak saat dia tangah bertarung malah didoakan selalu bahagia di alam lain. Secara tidak langsung pria paruh baya itu berfikir Zhou Fan akan mati di tangan kesembilan pria tersebut.
Masuk ke ruangan bawah tanah dalam bangunan, ternyata sangat gelap, bahkan tidak nampak seberkas cahaya yang terpancar.
Beruntung Zhou Fan mengambil sebuah obor yang ia temukan di lantai pertama, meskipun belum ada api yang menyala, dia hanya perlu memantikkan apinya dan membuat ruangan sedikit terang.
Zhou Fan terus berjalan menuruni tangga, pria paruh baya mengekor dari belakang, wajahnya yang keriput semakin buruk saat tak kunjung menemukan tempat dimana keluarganya.
"Tenanglah paman, ruangan bawah tanah ini sepertinya sangat luas, mereka pasti berada di sini." Zhou Fan berusaha menenangkan.
"Aku tahu mereka ada di sini, aku hanya berpikir bagaimana mereka melalui hari hari di ruangan seperti ini? Sungguh aku tak dapat membayangkan." Pria paruh baya menggeleng dengan wajah sedih, seolah dia ikut merasakan apa yang dialami para tawanan.
Zhou Fan diam tak menanggapi perkataan pria paruh baya, dia juga sependapat dengan apa yang dikatakannya.
Beberapa orang yang hidup bebas diluar saja ada yang sulit, apalagi mereka yang harus hidup di ruangan seperti ini, gelap, tanpa ada sinar matahari menyinari.
Keduanya terus berjalan sampai lorong yang mereka lewati berujung pada sebuah pintu. Zhou Fan meminta pria paruh baya untuk sedikit menjauh, sementara dirinya memasang kuda kuda dan bersiap mendobrak.
__ADS_1
Blar!
Pintu kayu yang terlihat tebal itu hancur berkeping-keping.
Pria paruh baya itu seketika menghamburkan dirinya ke dalam, dia terlihat menghampiri seorang wanita paruh baya sedang duduk bersama beberapa wanita sepantarannya.
Zhou Fan ikut masuk, ternyata di ruangan bawah tanah tersembunyi ruangan luas, meskipun tidak seterang di luar, ruangan ini masih terbilang lumayan. Dengan satu obor di setiap sisi membuat ruangan terlihat remang remang.
Zhou Fan dapat melihat sekitar ratusan orang berada di dalam ruangan, tidak hanya orang dewasa yang di tawan di ruangan tersebut, ada juga anak anak yang bahkan ada yang masih berusia tiga tahun.
Brak!
Zhou Fan yang berdiri di sebelah dinding, meninju kuat hingga membuat seluruh orang di sana ketakutan.
"Ah.."
Zhou Fan yang menyadari raut wajah ketakutan semua orang menjadi salah tingkah.
Ia tak sadar, kemarahan terhadap kekejian perkumpulan gerhana membuat emosinya memuncak.
"Tenang semuanya, pemuda inilah yang akan membantu kalian agar bebas, dia telah mengalahkan penjaga yang berada di luar ... Dia adalah pemuda yang memiliki hati bersih, jadi jangan takut."
Pria paruh baya yang masuk bersama Zhou Fan berdiri di tengah ruangan dengan tangan terbuka lebar, dia menjelaskan agar semua orang tak takut kepada Zhou Fan.
Seorang bocah berusia tiga tahun berjalan dengan langkah tertatih, perlahan dia merentangkan tangannya ke arah Zhou Fan.
"Paman?!" Perkataan pertama yang dia lontarkan kepada Zhou Fan, 'paman'.
Wajah Zhou Fan seketika membeku, di panggil paman oleh seorang bocah jelas merupakan pukulan telak baginya.
"Apakah aku setua itu?" Zhou Fan bermonolog dengan dirinya sendiri, umurnya baru dua puluh satu tahun, tapi bocah ini menyebutnya paman. Sungguh keterlaluan.
Zhou Fan tak menanggapi rentangan anak kecil yang meminta gendongannya, dia berbalik dan berjongkok, dia tak biasa untuk menggendong dari depan, tapi dia bisa jika dari belakang.
Anak kecil itu melompat kegirangan, menghamburkan diri ke punggung Zhou Fan.
Semua orang dapat melihat kehangatan pemuda itu, mereka sekarang yakin Zhou Fan merupakan pemuda yang baik.
"Apakah kalian akan diam di sini?" Zhou Fan keluar sambil menggendong anak laki-laki berusia tiga tahun tersebut.
__ADS_1
Mendengar perkataan Zhou Fan lantas mereka semua berdiri dengan segera, beberapa orang mengambil obor sebagai penerang jalan.
Layaknya sebuah parade mereka berjalan pelan, kalimat pujian juga terimakasih seolah tiada habis mereka lontarkan.
"Tidak hanya tampan, dia memiliki hati selembut sutra,"
"Kita harus berterimakasih kepadanya, jika bukan karenanya mungkin tidak ada dari kita yang bisa bertemu kembali dengan keluarga."
"Perangainya yang tenang membawa sebuah kesejukan,"
Zhou Fan berjalan di depan, anak laki-laki itu seolah kerasan di punggung Zhou Fan tak jarang dia mengangkat tangannya sambil bersorak.
"Paman, kau sangat tampan, apakah kau sudah menikah? Jika belum aku akan mengenalkanmu kepada wanita di desaku, desaku terkenal dengan kecantikan wanitanya, kau pasti suka!" bocah tiga tahun itu mengatakan dengan suara tak pelan.
Perkataannya yang begitu terus terang membuat rombongan tertawa, meskipun mereka terlalu sungkan untuk mengeluarkan secara terbuka.
Zhou Fan sekali lagi dibuat termenung, lebih tepatnya lidahnya kelu untuk menjawab pertanyaan si bocah.
"Benar yang dikatakan Vin'er, mungkin kau dapat menemukan wanita pujaanmu di sana?" Wanita berusia dua puluh delapan tahun berkata sambil menahan tawa.
"Ibuku salah satunya, lihat! Bukankah ibumu sangat cantik? Tapi paman tidak boleh mengambilnya, karena ibu hanyalah milik ayah!" tekan bocah yang dipanggil Vin'er sambil menunjuk wanita yang baru berkata.
"Ya.. Ibumu cantik, tapi aku sudah memiliki dua wanita, dan kecantikannya tidak kalah dari ibumu, bahkan lebih..." Zhou Fan melirik sekilas wanita yang dimaksud bocah tiga tahun di belakang punggungnya, kemudian kembali menghadap ke depan sambil terkekeh.
"Dua? Wah... Kau sangat hebat paman, aku ingin sepertimu, memiliki banyak wanita di sampingku!" bocah tiga tahun itu membuat tekad dengan wajah serius.
Zhou Fan lagi lagi di buat kehabisan kata, dia merasa salah mengatakan nasihat kepada bocah di gendongannya.
Seketika semua orang menggeleng berjamaah, mendengarkan perkataan polos sang bocah.
Ibu si bocah juga dibuat geleng kepala, anaknya memang sangat gampang akrab, bahkan dia dapat dengan mudah berinteraksi dengan pemuda yang jelas baru pertama kali bertemu.
"Tapi kau harus bisa melindungi mereka terlebih dahulu, dan untuk itu kau harus menjadi kuat ... " Zhou Fan mengatakan dengan suara lemah.
" ... Agar tidak sepertiku, bahkan Lin'er pergi karena tak mau membuatku dalam kesulitan." Zhou Fan mengatakannya dalam hati, tanpa sadar matanya mulai basah memikirkan betapa lemahnya dirinya saat itu.
"Paman? Kenapa kau menangis?" Vin'er mengangkat tangannya yang tertimpa lelehan air mata Zhou Fan.
"Tidak... Dan jangan panggil aku paman, aku tak setua itu untuk kau panggil paman," ucap Zhou Fan yang baru sadar dan ia berkata dengan wajah dibuat kesal.
__ADS_1
Akhirnya mereka semua keluar dari ruangan gelap yang telah lama menahan mereka. Sampainya di luar, Zhou Fan hendak pergi ke kota karang hijau, tapi beberapa diantara mereka memaksa ikut.
Dengan terpaksa Zhou Fan membiarkan. Akan repot jika mereka pergi sendiri, lebih baik ikut bersamanya, dan juga meraka bisa menjadi pembalik keadaan, mengingat karena mereka beberapa pihak memilih berpihak kepada perkumpulan gerhana.