Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 76 : Kepercayaan Diri Yang Terlalu Tinggi


__ADS_3

Zhou Fan yang baru saja keluar dari hutan mati, langsung disuguhkan dengan pemandangan Kota Kapur Putih yang ramai.


"Memang kota yang ramai." Zhou Fan mengatakan dengan pandangannya menyelusur ke setiap sisi.


Pemuda itu berjalan menghampiri penjaga kota yang bertugas menjaga portal atau perbatasan.


"Sepuluh koin emas!" Ucap seorang penjaga kepada Zhou Fan.


Zhou Fan melambaikan tangannya, bersamaan dengan itu, kantong berwarna coklat muncul di tangannya.


Zhou Fan menyerahkan kantong berisi koin emas itu kepada penjaga, ia sengaja melebihkan jumlah yang ada di dalamnya, Zhou Fan ingin melihat bagaimana respon penjaga itu saat mengetahui emas itu berlebih.


"Cukup! kau boleh masuk." ucap penjaga itu.


Zhou Fan tersenyum sinis, lalu memasuki Kota Kapur Putih.


"Memang sifat dasar manusia. Mendapatkan keuntungan dengan segala cara." Zhou Fan membatin.


Zhou Fan memasuki sebuah kedai yang terlihat begitu menonjol dari pada lainnya, sebuah kedai menjadi tempat yang paling tepat untuk mendapatkan sebuah informasi.


Dengan pakaian sedikit lusuh Zhou Fan berjalan memasuki kedai. Tidak diragukan lagi, Zhou Fan menjadi pusat perhatian semua orang. Bukan hanya para pekerja yang memandangi Zhou fan, tetapi seluruh pengunjung yang ada.


Zhou Fan tersenyum canggung sambil terus mengarahkan ke sebuah meja kosong.


"Tampan adalah anugrah, apakah salah jika seseorang mempunyai wajah yang tampan!" Zhou Fan menggelengkan kepala,


Pemuda itu belum sadar pakaiannya begitu lusuh sampai membuat dirinya menjadi obyek pandangan semua orang.


Seorang pelayan wanita paruh baya menghampiri meja Zhou Fan, dan bertanya.


"Apakah saya dapat mencatat pesanan tuan?" Wanita paruh baya itu bertanya sopan, tapi terlihat jelas oleh sang pemuda jika pelayanan itu seperti tidak mau terlalu dekat dengannya.


Zhou Fan mengerutkan keningnya, sekali lagi dia memandang semua sudut ruangan. Pandangan semua orang tertuju ke arah mejanya.


"Meskipun aku sangat tampan, seharusnya tidak perlu selalu melihatku." Zhou Fan menggaruk tungkuk kepalanya yang tidak gatal.


Ada yang aneh! pikir pemuda itu.


Zhou fan melirik pelayan di sampingnya.

__ADS_1


"Bibi, apakah kau tahu mengapa semua orang memandang kita?" Zhou Fan bertanya dengan setengah berbisik.


"Bukan 'kita' tuan, tapi anda sendiri!" Tekan wanita paruh baya itu.


"Sudah kuduga!" Gumam Zhou Fan membuat pelayan disampingnya menyipitkan mata.


"Aku tahu kalau aku sangatlah tampan. Jadi, hiraukan mereka yang ingin melihat pemandangan ini." Zhou Fan menyombongkan dirinya. Pemuda itu bahkan dengan percaya dirinya membusungkan dadanya sedikit ke atas.


"Bukan seperti yang anda pikirkan tuan, mereka melihatmu karena kau seperti pengemis, bahkan para pelayan lainnya enggan melayani tuan." ucapan pelayan itu terasa seperti tamparan keras buat Zhou Fan.


Plak! Zhou Fan seperti terjun ke jurang tak berdasar.


"Pengemis?!" Gumamnya tak percaya.


Zhou Fan melihat ke bawah, sambil meraba rambutnya. Dan benar saja, penampilan nya sudah seperti pengemis tak makan sebulan. pakaiannya lusuh, dan rambut berantakan menambah kesan sempurna menjadi seorang pengemis.


Sial!! Zhou Fan mengumpat kesal. Citra yang telah lama ia jaga hancur begitu saja, tapi dirinya masih beruntung, karena tidak ada yang mengenalinya, andai saja seseorang dari Kota Batu Hitam melihatnya dan mengenalinya sudah pasti ia tidak punya lagi tempat untuk sembunyi.


Bukan rahasia lagi, kalau Zhou Fan adalah pemuda paling dikenal di seluruh kota batu hitam. Bukan hanya karena mendapatkan tempat pertama di ajang turnamen kota, tapi juga karena pesona wajah tampannya.


"Bibi, bisakah anda menunjukkan tempat untuk berganti pakaian? kalau bisa, juga kamar mandinya." Zhou Fan kembali berbisik kepada pelayan wanita disampingnya, tapi kali ini ada rona merah di wajah pemuda itu.


"Emm..... yah disebelah sana, di ujung sebelah kanan." Pelayan wanita paruh baya itu sungguh tak habis pikir dengan pemuda disampingnya.


"Sudah ku bilang! Orang itu adalah pengemis, paling juga hanya sebuah alasannya ingin mengganti pakaian, tapi ujung ujungnya mencari jalan untuk keluar." Salah satu teman pelayan wanita paruh baya itu berkata dengan sinis.


Mendengar perkataan rekan kerjanya, pelayan paruh baya itu diam tak merespon, tapi dalam hatinya dia juga setuju dengan apa yang dikatakan rekan kerjanya.


"Huft...." Pelayan wanita paruh baya itu menghela nafas panjang, lalu kembali melayani pengunjung lainnya.


Sementara itu, di dalam kamar mandi...


"Beruntung masih sedikit orang yang melihatku." Zhou Fan kembali berpikir, andai dia tidak menuju kedai ini terlebih dahulu, mungkin ia sudah di angkut ke balai penampungan.


Balai penampungan adalah sebuah tempat untuk pengemis, dari yang ia ketahui semua pengemis yang berkeliaran di kota ini akan ditangkap dan ditempatkan di balai penampungan.


Balai penampungan sebenarnya juga bukan tempat yang buruk untuk pengemis, para pengemis yang tertangkap akan diberikan bimbingan dan keterampilan, sebelum mereka kembali dibebaskan.


Tak lama, Zhou Fan keluar dari kamar mandi. Dengan pakaian serba kuning dan rambut yang sudah diikat rapi, membuat pemuda itu nampak tampan dan berwibawa.

__ADS_1


Zhou Fan kembali ke tempatnya semula. Seperti sebelumnya, Zhou Fan kembali menjadi pusat perhatian, tapi bukan pandangan remeh ataupun merendahkan, ini adalah pandangan seorang pengagum terhadap idolanya.


Para pelayan itu masih belum mengetahui siapa pemuda berpakaian serba kuning itu, mungkin semua pelayan itu akan muntah darah jika tahu pemuda sangat tampan itu adalah orang yang sama dengan orang yang mereka pandang sebagai pengemis.


Bahkan para wanita, dari yang muda sampai yang berusia senja, tak dapat mengalihkan perhatiannya.


"Tuan muda dari manakah dia? sungguh pemandangan yang tidak boleh disia-siakan." Seorang pengunjung wanita berbicara dengan nada menggoda.


"Kurasa dia bukanlah tuan muda dari kota ini, tak pernah sekalipun aku melihat wajah pemuda itu." Pria yang satu meja dengan wanita itu berkata dengan nada sedikit tidak suka yang jelas di arahkan kepada Zhou Gan.


"Siapa yang peduli, dia lebih terlihat tampan dan juga kuat, bahkan jika membandingkannya dengan dirimu itu hanya akan membuat pemuda itu malu." Wanita itu berkata dengan sinis.


"Cih!" Pria itu menggebrak meja lalu pergi tanpa menghiraukan pandangan heran semua orang.


Sementara itu, Zhou Fan sedang mulai menyantap makanannya yang baru saja sampai.


Bukannya mengejar ataupun menahan kepergiaan pria yang duduk disampingnya. Wanita itu malah merapikan bajunya dan menyisir rambutnya, lalu menghampiri meja Zhou Fan.


"Bolehkah saya duduk di sini, bersama tuan muda?" Wanita itu berbicara layaknya gadis polos.


Tak mendapat respon dari Zhou Fan wanita itu semakin berani.


"Namaku Quinzi, apakah tuan muda membutuhkan teman malam ini?" Wanita itu berbisik nakal.


Zhou Fan menghentikan makannya dan menatap tajam Quinzi, merasakan tekanan mengerikan dari tatapan pemuda yang belum ia ketahui namanya itu membuat Quinzi tanpa sadar mundur.


Sedangkan Zhou Fan memberikan tatapan tajamnya beberapa saat, lalu kembali menyantap makannya.


"Sial! sabar sabar." Wanita yang terlihat beberapa tahun lebih tua dari Zhou Fan itu berusaha menahan kekesalannya.


"Apakah tuan muda tahu, saya adalah nona muda Klan Bai." Quinzi berkata dengan bangga, tapi tanggapan pemuda itu membuatnya mengerutkan dahinya.


Quinzi bisa menahan jika hanya sekali dua kali, tapi pemuda dihadapannya itu masih berani mengabaikannya bahkan setelah mengetahui latar belakangnya.


"Hei! Aku berbicara denganmu. apakah kau tidak menganggap Klan Bai di matamu?!" Quinzi meraung marah. bahkan semua orang dapat mendengar teriakan wanita itu.


Zhou fan tetap tenang, duduk tanpa peduli keberadaan Quinzi.


"Aku tidak menerima wanita yang tidak segelan!"

__ADS_1


__ADS_2