
Kota Chennai memiliki wilayah yang luas, meskipun bukan merupakan kota terluas di Kekaisaran Shi, kota ini memiliki letak yang sangat strategis, di mana posisinya tepat berada di pusat Kekaisaran Shi.
Hiruk pikuk suasana kota Chennai seolah menjadi makanan sehari hari bagi setiap penduduknya, dari orang biasa, pedagang juga bangsawan, berlalu lalang melakukan aktivitas.
Di depan kediaman Jendral besar, lima sosok berdiri berhadapan dengan dua melawan tiga, tapi di samping dua sosok tersebut juga terdapat seekor serigala kecil.
"Apa yang kau katakan?" Kasim Kao memicingkan mata sebelah kanannya, dia merasa angin berhembus terlalu kencang, membuat telinganya mendengar sesuatu yang tidak mungkin.
Semua yang ada di sekitar termasuk dua orang penjaga juga merasakan apa yang kasim Kao rasakan, mereka serentak berpikir salah mendengar ucapan Zhou Fan.
Zhou Fan tak langsung menjawab, dia memandang kasim tua yang berdiri dengan ekspresi aneh dan juga penasaran.
"Aku mencari istriku, apakah salah?" Zhou Fan menaikkan sebelah alisnya, dia mengatakan dengan begitu jelas, tapi pria tua di hadapannya seolah tidak mendengarnya.
Kasim Kao termenung mendengar ucapan Zhou Fan, dia sempat mengira telinganya salah mendengar, tapi pengulangan masih menangkap hasil yang sama.
Ini bukan telinganya yang bermasalah, melainkan memang itu yang dikatakannya.
Tak jauh berbeda dengan kasim Kao, tidak ada yang tidak terkejut saat Zhou Fan mengatakan mencari istrinya di kediaman jendral besar.
Mereka semua bertanya tanya, siapa sosok istri yang pemuda itu maksud. Namun, tetap mereka tidak dapat menemukan kandidat yang cocok.
"Istrimu hilang, kenapa kau mencari kemari? Apakah kau pikir kediaman jendral besar sarang penculik?!" Salah satu penjaga berkata dengan suara tak terima.
Kasim Kao tidak menyangkal atau menyela perkataan penjaga itu, dia juga sependapat dengan penjaga.
"Tidak ada yang mengatakan istriku diculik, tapi aku yakin dia ada di dalam." Zhou Fan menunjuk ke dalam kediaman, meski gerbang hanya terbuka satu langkah, dia dapat melihat kehijauan halaman kediaman jendral besar.
Kasim Kao diam berpikir, mencerna arti ucapan Zhou Fan, penjaga yang lain berkacak pinggang dengan senyum di bibirnya.
"Istri yang dia maksud pasti pelayan di dalam kediaman jendral besar."
Mendengar ucapan penjaga itu, semua orang yang menyimak pertikaian mengangguk setuju, tak terkecuali kasim Kao.
__ADS_1
"Jika begitu, kau tidak bisa menemui istrimu. Kediaman jendral besar memiliki aturan, dan juga bukankah setiap bulan istrimu kembali kepadamu?" Kasim Kao membuka mulutnya, dia sudah tidak tahan dengan perdebatan ini.
Zhou Fan menyipitkan mata, dia tak mengira pikiran orang orang ini begitu liar, dapat menghubungkan ceritanya dengan seorang pelayan. Sungguh mengagumkan.
"Kau akan terkena masalah jika jendral besar mengetahuinya." Zhou Fan memperingati mereka semua, tapi bukan tanggapan yang dia dapatkan, melainkan tawa sinis dari setiap orang.
"Sudah cukup kau membuat masalah di sini, sekarang kau pergilah!" Kasim Kao mengibaskan tangannya lalu berbalik.
Namun, baru saja dia berbalik, sosok yang merupakan pribadi paling dihormatinya datang dari gerbang yang sudah terbuka lebar.
"Kasim Kao, sebenarnya apa yang terjadi? Sungguh bising, membuat tidur siang ku tidak nyaman."
Kasim Kao langsung menjura hormat, sebelah tangan dia lipat di punggung, lalu tangan lain berada di depan dada dengan tubuh membungkuk sempurna.
Dua penjaga serta beberapa orang lainnya ikut melakukan hal serupa, tapi tidak dengan Zhou Fan dan Rogue.
Hal itu tentu memancing amarah Kasim Kao. "Tak sopan, kau -- "
"Kasim Kao?" panggil Jendral besar Huang dengan wajah penuh wibawa, walau wajahnya sudah keriput dan juga rambut yang memutih.
Mendapat peringatan dari jendral besar Huang membuat pria tua itu sedikit gentar, tubuhnya bahkan tanpa sadar sudah basah dengan keringat.
"Maafkan hamba, Tuan Besar. Sungguh pria tua ini mengakui kesalahan." Kasim Kao langsung mengambil sikap bersujud, bahkan dia tidak mempunyai keberanian untuk mengangkat wajahnya.
"Sudahlah, kau bangun terlebih dahulu." Jendral besar Huang menghela nafas rendah, dia kemudian berjalan melewati Kasim Kao dan berhadapan langsung dengan Zhou Fan.
"Anak muda, sebenarnya apa yang kau inginkan dariku. Sepertinya kau datang untuk mencari ku." Jendral besar Huang berkata dengan nada santai, tidak seperti biasa yang selalu acuh terhadap orang yang tidak dikenalnya.
Perlakuan itu sontak menimbulkan guratan pertanyaan di wajah setiap orang.
Untuk kasim Kao, dia masih bersujud di tempatnya, dia yang sangat menjunjung tinggi loyalitas akan merasa sangat berdosa jika melakukan kesalahan terhadap tuannya.
Ekor mata Tuan besar Huang mengarah ke tempat Kasim Kao, melihat orangnya masih begitu gigih dalam bersujud, sekali lagi dia menghela nafas.
__ADS_1
"Kasim Kao, apakah kau sudah tidak mendengar perkataan ku?"
Mendengar hal itu, kasim Kao secepat kilat berdiri, dia tidak mau mengulang kesalahan yang akan membuatnya merasa sangat bersalah.
Kasim Kao perlahan berjalan mendekati Jendral Besar Huang, dan berhenti tepat satu langkah di belakang pria tua itu.
Jendral Besar Huang lalu kembali fokus dengan pemuda yang menurutnya sangat misterius, kesan pertama yang dia rasakan adalah aneh.
Entah kenapa, dia merasa pemuda di hadapannya memiliki kekuatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata, meski saat dia menelisik kekuatannya masih berada di tingkat petarung grand master bintang tujuh, sama dengan kultivasi gadis kecil di sampingnya.
"Pertama saya mengucapkan terimakasih karena Jendral besar sudah menyempatkan waktu untuk menemui tamu tak diundang ini." Zhou Fan berkata sembari menampilkan senyumnya, membuat orang di sana semakin kesal.
Bagaimana bisa pemuda itu menyebut menyempatkan waktu, jelas jelas dia berbuat ribut dan mengganggu ketenangan tuan besar. Ini jelas merupakan penyimpangan.
Tuan besar Huang tak mempermasalahkan, dia lebih tertarik dengan alasan kedatangan pemuda itu mencari dirinya.
"Kedatangan saya kemari, hendak menjemput Lin'er." Zhou Fan mengungkapkan dengan langsung, seolah bukan masalah berarti baginya.
Namun, itu cukup untuk mengguncang pikiran jendral besar Huang.
Lin'er?
Jendral besar Huang mengerutkan kening. Tidak ada yang mengetahui bahwa cucunya, Wei Guanlin berada bersamanya, bahkan hanya beberapa dari Kekaisaran Shi yang mengetahui tentang cucunya.
Kasim Kao juga turut berpikir, dalam pikirannya dia menolak keras bahwa yang dimaksud adalah cucu Jendral besar Huang, Wei Guanlin.
"Anak muda, siapa yang kau maksud. Bagaimana bisa aku mengetahui siapa Lin'er yang kau maksud jika kau mengatakan setengah setengah."
Jendral besar Huang mencoba mencari kejelasan, bisa saja yang dimaksud itu adalah orang lain yang tak sengaja memiliki panggilan serupa.
"Anda sangat mengenalnya, tidak mungkin seorang kakek tidak mengenal cucunya." Zhou Fan tak mengatakan dengan jelas, tapi sudah cukup bagi Jendral Besar Huang untuk menangkap maksud perkataannya.
Raut wajah Jendral Besar Huang yang semula tenang berubah, dia seolah dalam situasi terancam, yang sewaktu waktu bisa mengeluarkan serangan.
__ADS_1
Jendral Besar Huang lalu membalikkan tubuh dan berjalan memasuki halaman kediaman, sebelum menjauh dia berhenti sejenak dan berkata.
"Sebaiknya kau ikut aku masuk."