
Zhou Fan mulai menata satu persatu bahan pill, tidak hanya tanaman obat, bahan paling penting untuk membuat pill tubuh kedua ternyata adalah air spiritual.
Saat Zhou Fan mengetahuinya seolah mendapat sesuatu yang 'wah', karena dia tak perlu menggunakan bunga anggrek hitam yang sebelumnya akan digunakan untuk mengganti air spiritual.
Perlahan tubuh Zhou Fan terselimuti hawa panas, yang dengan sekejap mata mulai memunculkan percikan api.
Wosh...
Zhou Fan harus fokus seratus persen, jika tak ingin mendapat serangan balik karena memaksa membuat pill tingkat sembilan.
Udara panas di ruangan membuat patriark Shu yang tengah terbaring di atas ranjang berkeringat. Namun dia masih dalam kondisi sama, dia dalam kondisi sadar tapi tidak bisa membuka mata ataupun menggerakkan tubuhnya, hanya bisa mendengar serta merasakan.
Dahi Zhou Fan mengerut, dia nampak memaksakan dirinya sendiri untuk terus melakukannya.
Uhuk...
Zhou Fan menumpahkan seteguk darah segar dari mulutnya, tapi itu tak membuatnya berhenti. Tangan kirinya melambai dan menyuapkan pill pemulihan ke mulutnya.
Zhou Fan merasa agak mendingan, tapi tubuhnya merasakan penyiksaan yang luar biasa.
Di luar ruangan beberapa orang berkumpul, tetua sekte menara lima setelah mendengar tetua Qiu membawa seorang alkemis langsung datang ke ruangan, tapi saat ingin masuk tetua Qiu menghadang di luar.
Mau tak mau mereka patuh menunggu, karena tetua Qiu merupakan tetua terkuat diantara mereka.
Di dalam ruangan Zhou Fan masih bergelut dengan api yang terus berputar mengelilinginya, tepat di atasnya terdapat gumpalan cairan yang merupakan pill setengah jadi.
Proses pembuatan pill sudah masuk ke tahapan akhir, dan ini yang membutuhkan ketenangan tingkat tinggi.
Zhou Fan sekali lagi memasukkan pill pemulihan ke dalam mulutnya, kerutan di keningnya perlahan memudar.
"Padatkan!" seru Zhou Fan dalam hati sambil menggabungkan kedua telapak tangan.
Blam!
Ledakan teredam terdengar hingga ke luar ruangan, para tetua seketika panik dan mendobrak masuk.
Brak!
Pintu terbuka, tetua Qiu yang juga penasaran akhirnya memilih untuk ikut masuk.
"Anak muda?" Salah seorang tetua menghampiri tubuh Zhou Fan yang tergeletak lemah.
Tetua Qiu maju memapah Zhou Fan, dan mendudukkannya di kursi di samping ranjang patriark.
"Berikan pill ini pada patriark Shu," ucap Zhou Fan sambil membuka telapak tangannya yang semula tertutup.
"Ah... I -- ini?!"
Semua orang menahan nafas spontan, bisa dirasakan jika pill di tangan Zhou Fan merupakan pill tingkat tinggi.
__ADS_1
"Apakah ini adalah pill tubuh kedua?" tanya Qiu Ren, meski dia berniat memberikan pill tingkat kesembilan itu kepada patriark, dia sendiri tidak pernah melihatnya secara langsung.
Semua tetua di sana sekali lagi terkejut atas pertanyaan tetua Qiu.
Bukankah berarti pemuda yang duduk di hadapan mereka ini adalah alkemis bintang lima? pikir mereka.
"Ya..." ucap Zhou Fan singkat lalu kembali menelan pill pemulihan.
Meski terkejut, tetua Qiu masih bisa mengendalikan dirinya, tidak seperti tetua lainnya yang berdiri kaku memandang kagum pemuda yang tengah mengembalikan tenaga dalamnya.
Tetua Qiu berjalan mendekati patriark Shu, tangannya yang memegang pill tubuh kedua terangkat dan menyuap patriark Shu.
Glek...
Satu tegakan pill tubuh kedua meluncur melalui tenggorokan patriark Shu. Tubuh patriark Shu tiba tiba berubah kemerahan, memancarkan aura panas yang menyebar.
"Patriark? Patriark!" Tetua Qiu memanggil patriark Shu, dia baru berhenti saat Zhou Fan membuka suaranya.
"Jangan ganggu patriark Shu, karena memang begitulah cara kerja pill tubuh kedua." Zhou Fan yang sudah merasakan tubuhnya baik baik saja, berdiri dan menghampiri tetua Qiu.
Tetua Qiu yang semula kelabakan menjadi agak tenang, dia kemudian membalikkan tubuhnya menghadap Zhou Fan.
"Terimakasih banyak, em..." Qiu Ren bahkan tak tahu nama dari penolong yang ia bawa, membuatnya merasa canggung.
"Panggil saja Zhou Fan," sambung Zhou Fan.
"Terimakasih, Tuan muda Zhou!" Qiu Ren membungkuk setengah badan, pemuda di hadapannya bukan hanya memiliki bakat alkemis yang mengerikan, kekuatannya juga dahsyat di usianya yang masih muda.
Semua orang yang di sana menoleh ke arah pintu, terlihat gadis muda berdiri dengan wajah penuh air mata.
"Apa yang terjadi dengan kakek, guru?" Shu Yue memandang Qiu Ren meminta penjelasan.
Sebelum Qiu Ren menjawab, mata Shu Yue mengarah ke pemuda di balik gurunya.
"Apakah kau yang membuat kakekku seperti itu?!" Shu Yue mencengkram kerah Zhou Fan sambil telunjuknya mengarah ke patriark Shu yang terbaring dengan tubuh kejang kejang.
Bugh...
"Dari awal aku memang tak percaya denganmu! Sekarang semuanya terbukti, kau membunuh kakekku!" Shu Yue meraung marah sambil menyerang Zhou Fan dengan tangan kosong.
"Yue'er apa yang kau lakukan?"
"Diam! Aku mau membunuh pembunuhmu, kake.. k.. " Shu Yue seketika menghentikan ayunan tangannya, wajahnya menoleh ke arah kakeknya.
"Kakek... !"
Shu Yue menghamburkan dirinya senang, melompat memeluk sangat kakek.
"Akhirnya kau sadar juga, kakek... Kau tahu aku selalu mengkhawatirkanmu," keluh Shu Yue dengan wajah berurai air mata bahagia.
__ADS_1
"Kau ini... Apakah kau mau membunuh penolong kakekmu? Apakah kau mau kakek hidup dengan rasa bersalah, ha?" Patriark Shu menarik hidung gadis berusia dua puluhan tahu itu, membuatnya memalingkan wajah malu.
"Terima kasih anak muda, dan maafkan cucuku ini." Patriark Shu mengatahui siapa yang menolongnya karena hanya satu orang saja yang mempunyai wajah asing dalam kepalanya.
Zhou Fan menggoyangkan tangannya sambil tersenyum. "Saya memahami hal itu patriark, tidak semua orang memiliki mata yang bagus."
Shu Yue memelototkan mata saat mendengar perkataan Zhou Fan. Apakah dia mengatakan aku mempunyai mata yang buruk? Pikir Shu Yue.
"Tetua Ji, tolong siapkan ruangan untuk tempat istirahat tuan muda Zhou," ucap patriark Shu, dia juga mendengar Zhou Fan saat dirinya masih setengah sadar.
"Sebelumnya terimakasih, tapi aku harus pergi...," ucap Zhou Fan.
"Pergi saja, tidak ada yang menahanmu di sini." Shu Yue mengatakan dengan suara pelan, tapi terdengar oleh semua orang.
Patriark Shu langsung menatap tajam cucunya, tapi hanya sesaat sebelum beralih ke Zhou Fan. "Tuan muda Zhou, mohon tinggal di sekte ini untuk beberapa waktu, sehingga aku tidak terlihat seperti orang yang tahu balas budi."
Huft..
Zhou Fan mengangguk. "Aku tak mau jika patriark merasa seperti itu, aku akan tinggal satu hari di sini."
Patriark Shu mengembangkan senyum merekah, dia kemudian melirik ke arah cucunya. "Yue'er, bisakah kau membantu tuan muda Zhou untuk menemukan ruangannya?"
"Kakek serta para tetua ada hal yang harus dibahas." Belum sempat Shu Yue membantah, patriark Shu terlebih dahulu menegaskan.
.
.
.
.
Di sebuah jalanan taman sekte menara lima....
"Jika ingin pergi pergi saja, tidak ada yang melarang," gerutu Shu Yue sambil berjalan berdampingan dengan Zhou Fan.
Zhou Fan menaikkan sebelah alisnya. "Aku baru ingat, ada seseorang yang mengatakan akan melakukan apapun jika dapat menyembuhkan kakeknya."
"Tapi aku lupa siapakah dia, apakah kau tahu?" tanya Zhou Fan kepada Shu Yue.
Gadis itu mengeratkan kepalan tangannya, ingin rasanya dia menghantam kepala pemuda di sampingnya.
"Apakah kau tahu apa yang dilakukan pada penyelamat kakeknya? ... Dia memukulinya, jika sang kakek tidak menghentikannya entah bagaimana nasib sang penyelamat."
Ck ck..
Zhou Fan berdecak sambil menggeleng ringan.
"Diam!"
__ADS_1
Shu Yue berteriak sampai membuat Zhou Fan terdiam sesaat. Shu Yue yang tengah kesal tak peduli reaksi Zhou Fan, dia menghadang langkah pemuda itu.
"Apakah kau wanita yang menggunakan mulut sebagai senjata?!"