
"Bagaimana?" Lee manaik turunkan alisnya sambil berharap pujian dari Zhou fan.
"Tidak buruk...." ucap Zhou Fan tanpa melihat Lee sedikitpun.
Lee tak percaya dengan tanggapan Zhou Fan, ia memalingkan wajahnya karena kesal dengan pemuda yang belum genap satu hari menjadi temannya itu.
"Cih.....kau tidak perlu manahan rasa kagummu kepadaku, aku tahu kau sangat menyanjung ku di dalam hatimu, aku tidak akan mengolok dirimu meskipun kau jujur dan mengungkapkannya kepadaku," ucap Lee percaya diri.
"Haha kau bertanding terakhir teman..." Lee tertawa melihat nama Zhou Fan tidak kunjung keluar, padahal sudah pertandingan ke 20 tapi nama Zhou Fan belum keluar juga.
"Terus apa, kenapa kau begitu senang mengetahui aku yang terakhir?" tanya Zhou Fan heran kepada Lee.
Lee menggeleng mendengar pertanyaan Zhou Fan, lalu mengarahkan kembali pandangannya ke atas panggung pertandingan.
Sementara itu Zhou Fan menetap tajam pemuda berkulit gelap itu setelah mendapatkan jawaban tidak memuaskan darinya.
Lee merasakan bulu kuduknya berdiri, ia merasakan ngeri dari arah belakangnya, ia menoleh ke belakang dan menemukan seorang pemuda sedang menatap kesal ke arahnya.
"Te...teman kau kenapa?" Lee bertanya kepada Zhou Fan dengan sedikit terbata.
"Huh...." Zhou Fan membuang nafas kasar untuk menenangkan dirinya, lalu bersikap seperti tidak terjadi apapun.
Lee bingung dengan sikap Zhou Fan yang sangat cepat berubah itu.
"Dia sangat menakutkan saat kesal, aku tidak akan lagi membuatnya kesal." Lee membatin takut.
Tak lama kemudian, nama Zhou Fan di sebutkan.
"Zhou Fan...!"
Mendengar namanya disebut, tanpa berkata Zhou Fan menaiki panggung pertandingan dengan wajah tanpa beban.
Beberapa penonton terlihat seperti terkejut mendengar nama marganya, Zhou? bukankah itu adalah salah satu klan besar?
"Apa aku tidak salah dengar, marganya adalah Zhou, apakah dia berasal dari Klan Zhou?" ucap salah satu penonton.
__ADS_1
"Ya.....kau tidak salah dengar, marganya adalah Zhou," ucap penonton lain menyauti ucapan penonton pertama.
"Tapi kenapa dia ada disini, bukankah klan Zhou sudah mendapatkan 10 tempat di turnamen kota batu hitam?" tanyanya lagi.
"Aku rasa dia tidak termasuk ke dalam generasi muda yang di bawa oleh Klan Zhou," penonton lain ikut berkomentar.
"Bukankah berarti dia adalah ampas? dia tidak bisa bersaing dengan sesama anggota klannya, apakah dia pikir mengikuti kualifikasi lebih mudah dari mendapatkan tiket dari klannya?"
Para penonton mulai mencibir Zhou Fan, tapi pemuda itu hanya santai menunggu lawannya menaiki panggung pertandingan.
Beberapa saat kemudian seorang pemuda gagah dan juga bisa dikatakan memiliki wajah yang tampan berjalan menaiki panggung pertandingan.
"Dan Qu.....dari desa embun," ucapnya saat tepat dua langkah di hadapan Zhou Fan.
"Zhou Fan... da...," ucapannya terpotong saat mendengar pemuda dihadapannya berkata.
"Kau tidak perlu memperkenalkan diri, aku menyebutkan identitasku supaya kau tidak menyesal setelah kalah dariku, karena aku telah memberi tahukan nama pemuda tampan yang akan mengalahkanmu ini," ucapnya sambil mengeluarkan sebuah topi bundar lalu memakainya.
"Aku tidak mengira akan ada seorang peserta yang begitu santai, dia bahkan masih bisa bergaya saat akan bertanding." Zhou Fan membatin sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Zhou Fan memfokuskan penglihatannya pada pemuda dihadapannya, Zhou Fan terkejut saat mengetahui kultivasi pemuda di hadapannya, "petarung mahir bintang 2," gumamnya.
Zhou Fan menoleh melihat peserta lainnya, lalu tersenyum kecut.
"Andai bukan aku yang menjadi lawanmu, pasti kau melewati babak ini dengan mudah, tapi sayang aku akan menjadi batu besar yang akan menghadangmu," gumam Zhou Fan, ia sedikit sayang dengan pemuda dihadapannya, pemuda di hadapannya itu pasti bisa mengikuti turnamen kota batu hitam bahkan masuk sepuluh besar jika tidak bertemu dengannya dalam babak ini, pikir Zhou Fan.
"Apa kau sudah siap?" tanya pemuda yang mengaku bernama Dan Qu.
Zhou Fan kagum dengan sikap Dan qu yang menanyakan kesiapannya, Zhou Fan tersenyum lalu mengangguk tanda ia sudah siap.
"Maka kita bisa memulainya...." Dan Qu menerjang Zhou Fan setelah mengeluarkan dua buah pedang dari dalam cincin penyimpanannya.
Zhou Fan tetap tenang dalam menghadapi serangan Dan qu, dia menggunakan teknik dewa pedang, tapi dia tidak menggunakan tenaga dalamnya, dengan kekuatan fisik dan teknik dewa pedangnya ia sudah yakin dapat mengalahkan pemuda dihadapannya.
"Aku juga tidak akan sungkan....," ucap Zhou Fan, lalu ikut maju menerjang Dan Qu dengan teknik pedangnya.
__ADS_1
Zhou Fan melompat dan menebaskan pedangnya vertikal tepat ke arah Dan qu.
Dan qu yang mengetahui Zhou Fan melakukan tebasan, secara reflek dia menyilangkan pedang gandanya berniat menahan tebasan Zhou Fan. Tapi yang tidak ia ketahui adalah pedang Zhou Fan merupakan senjata rank master, senjatanya tidak mungkin dapat bertahan setelah beradu benturan dengan pedang itu.
Krak....
"Hah? re..retak... apakah pedang di tangannya itu adalah senjata rank master?" Dan Qu terkejut mengetahui senjatanya yang merupakan senjata rank warior bisa hancur dengan hanya sekali beradu dengan pedang lawannya.
Pada permukaan pedang ganda itu mulai terlihat serat serat halus, menandakan pedang ganda itu sudah tidak akan bisa bertahan lebih lama. Dan Qu yang tidak memiliki dan menguasai senjata lainnya ia terpaksa menggunakan pedang ganda itu.
Dan Qu kembali menerjang Zhou Fan yang masih terlihat termenung, tapi sebenarnya diamnya Zhou Fan karena ia memang sedang menunggu serangan dari Dan Qu.
Saat pedang ganda itu akan menyentuh tubuhnya, Zhou Fan menghindari serangan itu dengan sangat mudah, kecepatan Zhou Fan sangatlah cepat bahkan Dan Qu tidak menyadari kapan pemuda dihadapannya itu sudah berpindah beberapa langkah lebih jauh.
"Apakah dia lebih kuat dariku?" sempat terlintas dalam pikiran Dan Qu bahwa lawan dihadapannya itu lebih kuat darinya.
"Tidak, dia pasti menggunakan sebuah trik...," Namun setelah dipikir kembali ia tidak begitu yakin dengan perasaannya itu.
Dan Qu yang tidak percaya kekuatan lawannya lebih kuat darinya berniat menyerang Zhou Fan lagi, tapi kali ini ia akan mengerahkan kekuatan penuhnya.
Dan qu mengeluarkan teknik pedang gandanya, dia menyerang Zhou Fan dengan sengit, dia tidak membiarkan Zhou Fan bernafas sejenak, sabetan demi sabetan ia daratkan pada pemuda yang menjadi lawannya itu, tapi semua serangannya seperti tidak berdampak pada Zhou Fan.
Dan Qu mundur beberapa langkah, dia menatap Zhou Fan dengan pandangan yang sedikit rumit, nampak ia seperti mencaritahu pemuda dihadapannya itu.
"Kenapa kau mulai mengendurkan seranganmu? bahkan kau tidak membalas seranganmu," ucap Dan Qu heran.
Zhou fan mengerti apa yang lawannya inginkan, ia mengeratkan genggaman pedangnya lalu berkata,
"Ayo!" Zhou Fan berkata sambil mengangkat pedangnya di depan dadanya.
Dan qu tersenyum, ini adalah yang ia harapkan. Meskipun tidak bisa mengikuti turnamen kota batu hitam, setidaknya ia mendapatkan pengalaman yang berharga dengan bertarung dengan pemuda yang menurutnya sangat jenius itu.
Trang..... tring.... slash...
Dan Qu terkena sabetan pedang Zhou Fan, tetapi ia belum ingin mengakhiri pertarungannya dengan Zhou Fan, pedang yang Zhou Fan kenakan adalah pedang yang sama saat ia melawan ayahnya.
__ADS_1
Dan Qu yang melihat serangan Zhou Fan tidak seagresif sebelum melukainya pun angkat bicara.
"Tolong jangan mengendurkan seranganmu, aku akan pulang dengan kecewa jika kau tidak menghadapiku dengan serius."