
"Yah... Terimakasih..," ucap Zhou Fan dengan nada sarkastik.
Zhou Fan menuruni arena setelah tidak ada lagi yang berani mengajukan taruhan pada dirinya. Begitu dia turun seorang pria paruh baya menaiki arena, dan langsung disambut gelora semua orang dalam mengeluarkan tawaran masing masing.
Zhou Fan menggeleng, saat dirinya masih di atas semua orang pada bungkam seolah tak ada nyawa di sana, tapi begitu dia turun, mereka semua berubah bersemangat.
Zhou Fan perlahan melangkah pergi, tak ada yang memperhatikannya sejak dia turun dari arena, semua orang lebih tertarik untuk ikut menyuarakan taruhannya.
.
.
.
.
Zhou Fan sekarang berada di desa Ming Jin, setelah melakukan perjalanan agak lama, dia akhirnya menginjakkan kakinya di pusat kota.
Zhou Fan mencari sebuah penginapan, katanya akan ada pelelangan dalam dua hari dari sekarang. Sehingga dia memutuskan untuk menatap di desa Ming Jin lebih lama.
Dia ingin mencari tanaman herbal untuk membuat pill kultivasi tingkat delapan, meskipun dia masih memiliki pill kultivasi tingkat tujuh, tidak akan sebanding dengan pill langkah tingkat delapan.
Namun, untuk membuat pill kultivasi tingkat delapan dia kekurangan bahan, dan dia berharap akan mendapatkannya dalam lelang tersebut.
Hari berganti, waktu yang ditunggu akhirnya tiba. Zhou Fan memasuki sebuah bangunan yang jika dibandingkan pusat paviliun obat masih lebih besar.
Zhou Fan membawa Zhou Jim, dia tak mempedulikan tatapan hina dari sebagian besar orang yang ada di sana.
Bahkan tidak ada yang menyambutnya, berbanding terbalik dengan lainnya, meskipun bukan sambutan langsung setidaknya mendapat senyuman selamat datang.
Zhou Fan terus melangkah, sampai seorang wanita yang merupakan pelayan menghentikannya.
"Anda mau kemana, tuan?" Wanita itu mengatakan dengan nada merendahkan, bahkan dia seolah enggan untuk mempedulikan Zhou Fan.
Zhou Fan tentu tahu ekspresi wajah pelayan di hadapannya, tapi dia memilih untuk tutup mata terhadapnya.
"Bukankah lelang ada di sana?" Zhou Fan menunjuk lorong yang tampak gelap akibat ruangan tersebut sangat tertutup.
__ADS_1
"Ya... Memang lorong tersebut mengarah ke ruang lelang, tapi hanya orang yang memiliki kartu khusus yang dapat menghadirinya ... Orang liar tidak bisa masuk ke dalamnya." Pelayan itu menakan kata liar dengan senyuman penuh arti.
Zhou Fan mengangguk sambil celingukan, dia tidak memiliki kartu atau apapun itu, dia hendak berbalik tapi pandangannya tertuju pada sebuah plakat bertuliskan 'istana bulan'.
"Apakah ini adalah istana bulan?" tanya Zhou Fan masih dengan pandangan terarah ke plakat yang menggantung di dinding bagian atas.
"Emn... Ya, ini adalah istana bulan, jadi sebaiknya tuan jangan macam macam." Pelayan tersebut agak ragu saat Zhou Fan tiba tiba membahas istana bulan.
"..." Zhou Fan mengeluarkan kartu berwarna keperakan yang ia dapatkan dari orang tua yang mengatakan bahwa dirinya adalah tetua istana bulan.
Tangan pelayan itu meraih kartu di tangan Zhou Fan dia dia begitu serius dalam mengamati kartu itu, membuat Zhou Fan terheran.
Mendadak wajah pelayan itu memucat, tapi dia merubah kembali dengan kecepatan dua kali lipat. "Tuan, dari mana anda mendapatkan kartu ini?"
Zhou Fan menaikkan sebelah alisnya, dengan perkataan seperti itu, secara tidak langsung dia di tuduh mencuri.
"Apa maksudmu?" tanya Zhou Fan tak terima.
Pelayan itu menyipitkan mata, ekspresi wajahnya kembali memancarkan ketidaksukaan.
"Kartu ini adalah kartu yang hanya dimiliki orang berlatar belakang, kau memilikinya pasti karena kau menemukan, atau mencurinya." Pelayan wanita itu menuding Zhou Fan dengan tangan melambai memegang kartu yang dia apit dengan dua jarinya.
"Meskipun aku sering mengambil barang orang, itu juga merupakan milik musuhku. Kau jangan mengada ngada," ucap Zhou Fan meninggikan suaranya.
"Seorang maling tidak akan mengaku, ... Jika kau mau mengakuinya aku dapat membantu, siapa tahu kau mendapatkan hukuman yang ringan." Pelayan wanita itu tetap bersikukuh.
"Terserah kau mau mengatakan apa, aku kira istana bulan begitu hebat sampai membuat semua orang membicarakannya, tapi setelah menyaksikan sendiri ... pelayanan di sini begitu buruk!" Zhou Fan melangkah pergi sambil terus menggerutu.
Pelayan wanita itu hanya tersenyum sinis memandang kepergian Zhou Fan, tak ada raut muka menyesal dalam wajahnya.
"Tunggu anak muda!" Suara lantang menyambar membuat Zhou Fan menghentikan langkahnya.
"Penolong muda, kenapa kau begitu terburu buru, apakah kau tak puas dengan pelayanan istana bulan?"
Seorang pria tua mendatangi Zhou Fan, pemuda itu menilik lekat wajah pria itu, dia lalu mendengus setelah mengetahui siapa dia sebenarnya.
Huh..
__ADS_1
"Kakek tua, kau yang mengundangku, tapi aku diperlakukan tidak hormat oleh pelayanmu, apakah kau pikir wajahku nampak seperti seorang pencuri?!" ujar Zhou Fan kesal.
"Tentu saja tidak penolong muda, mana mungkin orang yang menolong pria tua ini merupakan penjahat, siapa yang menyinggungmu penolong muda?" tanya pria tua itu dengan wajah bersungguh sungguh.
Zhou Fan tak menjawab, membuat sang pria tua mengedarkan penglihatannya. Matanya terbuka lebar saat mendapati kartu keperakan dalam genggaman pelayan wanita tak jauh darinya.
Pelayan wanita itu sudah lemas saat mendengar tetua keenam istana bulan memanggil Zhou Fan sebagai penolong muda. Ekspresinya semakin memburuk saat tetua keenam melihat ke arahnya dengan tatapan marah.
Tetua ke-enam berjalan dengan langkah gontai, pandangannya terus mencerca pelayan wanita di hadapannya.
Tetua ke-enam merampas kartu keperakan yang sebelumnya merupakan hadiahnya kepada penolongnya. Namun, dengan tidak tahu malunya pelayan istana bulan menuduh penolong mudanya sebagai pencuri.
Jelas jelas pelayan itu sengaja mencoret wajahnya, dan dia tidak bisa menerima hal itu.
"Keluar kau! Keluar dari istana bulan!" bentak tetua ke-enam dengan marah, dia kemudian berjalan dengan menundukkan kepala ke arah Zhou Fan.
Beruntung tidak ada orang selain ketiga orang itu, lelang yang akan dimulai membuat semua orang berada di ruangan lelang.
"Maafkan pria tua ini, penolong muda... Ini adalah kelalaian istana bulan dalam memilih pekerja." Pria tua itu mengatakan dengan nada menyesal.
"Tak masalah.. " Zhou Fan menerima kembali kartu dari tangan pria tua yang telah ditolongnya.
"Jika kau berkehendak, kau dapat memilih ruangan istimewa yang ada di barisan paling atas," ucap tetua ke-enam menawari Zhou Fan.
Zhou Fan sejenak berpikir, tapi dia kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu tetua, aku rasa ruangan biasa sudah cukup bagiku."
Zhou Fan mulai memasuki lorong, meninggalkan tetua ke-enam yang masih berdiri menyaksikan kepergiannya.
Zhou Fan melintasi lorong dengan di temani Zhou Jim yang selalu berada satu kaki di belakangnya.
Di ujung lorong Zhou Fan dapat melihat sebuah tirai menutupi jalan, dia memperkirakan tempat lelang berada di balik tirai tersebut.
Dengan sebelah tangan Zhou Fan mulai menyikap tirai berwarna merah darah itu, begitu telah terbuka sempurna, mata Zhou Fan tak dapat lagi berkedip.
Wajahnya menyisir ke sekitar, layaknya sebuah colosseum di tengah tengah terdapat panggung, Zhou Fan berada di garis paling bawah, dia dapat melihat ke atasnya dan mendapati banyak sekali orang yang tengah riuh membicarakan barang lelang.
Zhou Fan tak bisa berkata kata, dia hanya bisa mengatakan dua kata untuk ruangan lelang istana bulan.
__ADS_1
"Luar biasa!"