Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 182 : Akhir Perang


__ADS_3

Dengan kedatangan Zhou Fan pasukan perkumpulan gerhana menjadi kehilangan arah, mereka tak pakai tak bersemangat, melihat Tuan Besar Tang bahkan tak sanggup melawan pemuda itu.


Dengan kekuatan setara petarung raja bintang tujuh Zhou Fan memaksa Tang Min dalam keadaan buruk.


Pria tua itu tak akan pernah mengira, yang membuat kacau rencananya adalah seorang pemuda yang bahkan tak masuk hitungan lawan yang harus dihadapi.


Dengan pedang darah malam dia mengguncang pasukan perkumpulan gerhana, orang yang menyandang jabatan tinggi di perkumpulan itu seolah tak berani mendekat dan membantu Tang Min.


Pertempuran yang harusnya dimenangkan tersisa angan-angan, Tang Min sudah tak kuat menahan tubuhnya agar tetap berdiri, dia terduduk dengan tubuh penuh luka.


Keempat tiang utama perkumpulan gerhana telah ditumbangkan, membuat pasukan berzirah hitam semakin kelimpungan.


Que Ye yang menyaksikan pihaknya menjadi terpojok dengan secepat kilat dia pergi meninggalkan desa karang hijau, tapi belum jauh kakinya melangkah, Ban Fulong menghadang dengan wajah tersenyum mencibir.


"Jangan kira kau dapat mencegahku!" Que Ye memandang pria tua di hadapannya dengan wajah marah.


"Langkahi dulu mayatku jika kau ingin pergi!" Ban Fulong mengatakan dengan ekspresi masih sama, meskipun dia tak mengetahui identitas pasti pemuda itu, dia tahu bahwa mereka dalam perahu yang sama.


Cih!


Que Ye dengan wajah mengeram marah menyerang Ban Fulong, dia menyerang dengan penuh ambisi, dia seakan ingin secepatnya menyelesaikan pertarungan dan pergi sejauh mungkin, dia yang memiliki kekuatan sama dengan Tang Min tentu khawatir akan mengalami nasib yang sama jika berhadapan dengan pemuda itu.


Setelah melakukan usaha yang tak main main, Que Ye toba tiba menghilang setelah sebuah ledakan terjadi di tempatnya berdiri.


Ban Fulong yang tak memperkirakan hal itu akan terjadi menjadi sangat kesal, menyaksikan lawan dengan begitu mudah melarikan diri darinya.


Sementara Zhou Fan yang telah mengalahkan keempat tokoh utama perkumpulan gerhana berjalan mendekati keempat orang itu yang berada di tempat berdekatan.


Bersamaan dengan itu pasukan perkumpulan gerhana dilumpuhkan oleh Wei Huan, tapi beberapa yang meletakkan senjata serta mengangkat tangannya dibiarkan untuk tetap bernafas.


"Apakah kau puas sudah menghancurkan keluarga Cao di kota mawar? Apakah kau puas dengan penyerangan klan Zhou di kota batu hitam?"


Zhou Fan mengatakan dengan tatapan mengerikan, meskipun perkataannya terdengar pelan, tapi cukup membuat yang mendengar merasakan ketakutan.


"Apa hubunganmu, semua tak ada hubungannya denganmu!" Wei Jia menyentak dengan mulutnya yang berdarah.

__ADS_1


"Tak ada hubungan? ... Aku adalah cucu Tuan Besar Cao, dan aku adalah putra tetua kelima Klan Zhou! Apakah aku tak ada hubungan!" Zhou Fan berteriak dengan tangan mencengkram kerah leher Wei Jia.


"Oh... Ternyata ada tikus yang lolos dari eksekusi, khe khe..." Meskipun dalam keadaan sekarat Wei Jia tertawa mencibir.


"Bangsaat!!"


Bugh!


Zhou Fan meninju perut Wei Jia telak membuat pria paruh baya itu terhempas terbang melayang.


Seolah belum puas, Zhou Fan melesat memburu tubuh Wei Jia. Dia menyarangkan pukulan kemarahan dari hati yang terdalam, membuat pria paruh baya itu tak lagi bisa bernafas normal.


"Pukul! Terus pukul!" Wei Jia berteriak dengan nafasnya yang tersengal.


Zhou Fan semakin kalut, dia terus menghujani tubuh Wei Jia dengan pukulannya.


Tapi tiba tiba Wei Huan menahan tangannya dan kemudian berkata. "Sudah hentikan, apakah kau akan terus menghajarnya?"


"Lepas!" ucap Zhou Fan datar, ia belum puas menghantam Wei Jia, dia masih ingin membuatnya merasakan setidaknya sedikit dari apa yang dirasakan keluarganya.


"Apakah anda merasa sayang terhadap adik anda?" Pertanyaan Zhou Fan terdengar sinis.


Zhou Fan menghempaskan tangan Wei Huan, dia seolah tak sadar dengan apa yang ia lakukan, emosi telah merasuki kepalanya terlalu dalam.


"Anda tidak tahu bagaimana nasib mereka yang dihukum mati tanpa berbuat salah, apakah anda pernah berpikir itu kejam?"


"Dia telah memfitnah keluarga Cao dengan tuduhannya, dan membuat seluruh keturunannya dieksekusi. Anda sebagai Kaisar apakah tidak mengetahui hal ini?"


"Andai ibuku tidak meninggalkan kediaman saat itu, aku tak mungkin ada di sini! Apakah salah jika aku membalaskan dendam orang tuaku! Jawab aku, Yang Mulia!"


Zhou Fan meracau tanpa tahu arah, dia berdiri membelakangi Wei Huan yang tak tahu harus bagaimana menanggapi ucapan pemuda itu.


Semua orang tak ada yang berani bersuara, bahkan untuk bernafas pun mereka harus melakukannya perlahan.


"Tak hanya itu, dia juga melakukan penyerangan Klan Zhou, andai aku tak tiba tepat waktu, mungkin Klan Zhou juga orang tuaku tak akan selamat!" Zhou Fan masih mengatakan dengan suara keras, membuat semua orang mendengarnya.

__ADS_1


"Masih belum selesai, dia menahan orang orang untuk dijadikan alat pengancam keluarga serta Klan yang ada ... Dan yang paling utama, dia melakukan pemberontakan!" Zhou Fan membalikkan badannya dan menatap Wei Huan.


"Apakah pantas buat dia mendapatkan keringanan?!" tanya Zhou Fan.


Wei Huan semakin terdiam, dia juga merasa marah terhadap Wei Jia dan perkumpulan gerhana, tapi bagaimanapun Wei Jia adalah adik se ayahnya.


Bersamaan dengan itu, ratusan orang datang memasuki gerbang, mereka adalah orang yang sudah Zhou Fan bebaskan.


Melihat keluarga mereka telah terbebaskan, mereka tak bisa menahan kegembiraan, tanpa aba aba mereka menghambur dengan semangat.


Wei Huan yang melihat tak bisa lagi berkata kata, menelisik dari pakaian yang dikenakan oleh orang yang baru datang, membuatnya miris.


Lusuh, kumal, tapi mereka seolah melupakan hal itu ketika melihat keluarga masing masing.


Zhou Fan perlahan membalikkan tubuhnya dan berniat pergi, tapi Wei Huan menghentikannya.


"Kau akan kemana?" Wei Huan bertanya dengan suara lemah, dia merasa menjadi Kaisar yang tak berguna.


Zhou Fan melirik sekilas, tapi dia tak menjawab pertanyaan Wei Huan. Dia pergi tanpa tahu arah yang dia tuju, dia hanya ingin mencari ketenangan untuk menyelaraskan pikirannya.


Saat Wei Huan hendak mengejar, Wei Yun menarik tangan ayahnya. "Biarkan saja dulu, ayah... Dia mungkin membutuhkan waktu untuk sendiri."


Wei Huan menghembus nafas pelan, kemudian beralih ke situasi desa karang hijau.


Meskipun pertempuran sepenuhnya mereda, dan pihaknya memenangkan pertempuran, dia dapat melihat wajah tak bahagia pasukannya.


Mereka terduduk di samping mayat keluarga juga temannya yang mulai terbujur kaku, tangisan serta raungan tak dapat lagi terhindarkan.


"Akan muncul pelangi setelah hujan, kau tak harus terlalu menyalahkan dirimu sendiri atas semua yang terjadi."


Wei Huan menengok ke sampingnya, mendapati Ban Fulong yang berdiri dengan tangan terlipat di punggung.


"Meskipun begitu aku tetap merasakan penyesalan," ucap Wei Huan lemah.


Ban Fulong menepuk pundak Wei Huan. "Itu berarti kau memiliki rasa tanggung jawab dalam dirimu. Jadikanlah hal ini sebagai pelajaran, karena guru yang paling berharga adalah pengalaman."

__ADS_1


Wei Huan termenung mendengar perkataan Ban Fulong, dia ragu apakah dirinya pantas menjadi seorang Kaisar, bahkan dia harus bergantung kepada seorang pemuda untuk menyelesaikan masalahnya.


__ADS_2