
"Papa, Papa ada apa kelihatannya Papa cemas gitu?"
"Ini sayang Papa baru aja mendapat kabar jika perusahaan Papa di Seoul sedikit mengalami penurunan lantaran beberapa bulan ini Papa tidak mengendalikannya.
"Terus apa yang harus kita lakukan sekarang Pa?" tanya Istrinya yang merasa cemas.
"Astaga itu gak bisa dibiarkan terlalu lama Pa, jika semakin lama Papa tidak mengendalikannya Putri takut kalau penurunannya akan tambah semakin merosot.
"Makanya itu dia sayang, jika Papa pergi kesana siapa yang akan menjaga kamu disini. Setelah adanya kejadian kemaren, Papa takut kalau kamu akan menggalami hal buruk yang kedua kalinya Papa tidak mau hal itu sampai terulang lagi. Tak terkecuali kamu ikut bersama kita ke Seoul dan pindah kesana karena hanya itu cara satu-satunya sayang. Bukannya besok hari pengumuman kelulusan kamu kan dan jika kamu setuju Papa akan meminta bantuan pada om Taufik kepala sekolah Cenderawasih karena beliau juga teman Papa. Jadi gimana apa kamu sudah memutuskan semuanya sayang?"
"Mungkin hanya dengan cara ini aku bisa melupakan Gibran. Dan menggapai impian aku sebagai Dokter?" batin Putri yang akhirnya ia pun membalas pertanyaan yang dilontarkan Papanya.
"Baik Pa. Putri sudah putuskan, Putri mau pindak ke Seoul dan Putri yakin disana Putri bisa menggapai impian Putri menjadi seorang Dokter. Jadi Papa gak keberatan kan?"
"Baiklah sayang Papa tidak masalah demi kamu Papa rela melakukan apa aja. Ya sudah besok kita berangkat. Sekarang Papa mau telfon Om Taufik dulu!"
"Baik Pa!"
"Maafkan aku Gibran. Maafkan aku jika aku harus meninggalkan kamu tanpa berpamit terlebih dulu, maafkan aku!"batin Putri yang terlihat bersedih.
Pagi yang cerah dan hari ini adalah hari yang ditunggu bagi semua pelajar kelas IPA Xll yang akan mengetahui hasil kelulusan mereka sekaligus nilai dan peringkat mereka.
Dan dalam hitungan menit perasaan mereka akan sangat merasa lega setelah mereka mengetahui pengumuman kelulusan mereka nanti.
Setelah seorang Guru yang menempelkan beberapa kertas di mading Sekolah, dengan segera mereka pun mengerubungi mading tersebut dan melihat data siapa saja nama orang yang lulus.
Tak mau kalah Gibran yang sedari tadi sedang bingung mencari keberadaan Putri. Ia pun menyempatkan diri untuk melihat data tersebut. Wajah yang tadinya cemberut dan murung seketika berubah jadi bahagia sesaat ia melihat dua nama yang tertera pada barisan paling atas.
1 Gibran betranto.
2 Putri varelia alexander.
"Akhirnya..aku lulus sekarang. Putri dimana dia sekarang kenapa dia gak keliatan dari tadi apa dia sudah tahu kalau dia juga lulus. Kemana dia sekarang apa dia tidak masuk hari ini?"batinnya sambil melihat kanan kiri.
"Gibran lo lulus...lo lulus. Akhirnya kita lulus yeah...." ucap Verrel dengan kegirangan dan memeluk Gibran.
Terdengar teriakan bahagia yang dilontarkan Verrel dan beberapa temannya setelah mereka melihat nama mereka tertera pada kertas pengumuman kelulusan tersebut.
"Oh iya Ver, apa kamu tahu Putri ada dimana?"
"Putri. Sedari tadi aku tidak melihatnya?"
__ADS_1
"Baiklah kalau gitu aku cari dia dulu sekarang!"
"Baiklah."
******
"Apa Pak. Putri mau pindah ke Seoul, dan hari ini dia berangkatnya?" tanya Nina pada Pak Taufik sembari memberikan beberapa lembar surat kepadanya.
"Baik Pak terima kasih ya infonya. Saya akan beri tahu teman yang lainnya."
"Baiklah!"
"Putri tega banget kamu ninggalin aku!"gumam Nina yang rasanya inggin menangis setelah mendapat kabar ini.
Dan tanpa disangka dari kejauhan Gibran yang tak sengaja mendengar perkataan Nina, ia pun langsung menghampirinya.
"Kenapa Nin? Kenapa kamu terlihat bersedih seperti itu setelah keluar dari ruang Pak Kepala Sekolah?" tanya Gibran padanya.
"Putri. Dia...."
"Putri kenapa? Apa yang terjadi dengannya?" tanya nya lagi.
"Apa... itu tidak mungkin. Putri gak boleh ninggalin aku, itu tidak boleh sampai terjadi." tanpa berfikir lagi Gibran langsung berlari.
"Gibran kamu mau kemana?" tanya Nina tapi Gibran sudah jauh dari pandangannya.
Tanpa menunggu lagi. Bergegas Gibran pun berlari dengan sekuat tenaganya dan tanpa memperdulikan kerumuman yang menghadangnya. Layaknya tidak mengenal kata lelah ia terus berlari sampai keringatnya yang muncul tidak beraturan yang membasahi wajahnya. Dan hanya membutuhkan waktu 30 menit akhirnya ia sampai juga di bandara.
"Dimana dia sekarang kenapa aku gak melihatnya. Apa mungkin pesawat yang ditumpanginya sudah terbang, kemana lagi aku harus mencarinya.
Dengan perasaan campur aduk yang ia rasakan sekarang ini, ia terus memperhatikan setiap orang yang lewat dihadapannya. Melihat banyaknya orang yang berada di bandara ini membuatnya sangat kesulitan untuk mencari keberadaan Putri.
Hingga pada akhirnya pandangannya pun teralihkan setelah ia melihat sesosok wanita yang berjalan sembari menyeret koper yang ia bawanya. Melihat jaket yang dikenakan wanita itu, bergegas Gibran pun berlari kearahnya dan memeluknya dari belakang.
Dan ternyata firasat yang rasakan Gibran akhirnya membuahkan hasil. Lantaran orang yang ia peluk ternyata memang sungguh Putri, wanita yang sangat ia cintainya.
Merasakan ada seseorang yang tiba-tiba memeluknya, bergegas Putri pun membalikkan tubuhnya dan melepaskan pelukan seseorang itu.
"Gibran. Kamu tahu dari mana kalau aku ada disini dan akan berangkat ke Seoul?" tanya Putri dengan wajah terkejutnya setelah melihat jika sesosok laki-laki berseragam sekolah yang sudah memeluknya adalah Gibran.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu anggap apa aku ini, kita masih berstatus masih pacaran tapi kenapa kamu asal mau pergi dan ninggalin aku seperti ini tanpa mengucapkan pamit atau pun sepatah kata padaku?"
__ADS_1
"Maaf aku harus pergi sekarang, pesawat yang aku naiki akan segera berangkat!"ucap Putri yang mencoba mengelaknya. Tapi Gibran dengan langsung, langsung memegangi atas koper Putri.
"Gak aku gak akan biarkan kamu untuk pergi! Aku akan melepaskan kamu asal kamu berkata jujur kepadaku apa yang sedang kamu sembunyikan dariku? Apa alasannya kamu mencampakkan aku seperti ini aku butuh penjelasan yang jelas. Jadi aku minta kamu cepat katakan padaku?"
"Aku gak butuh alasan lagi untuk menjelaskan semuanya ke kamu. Bagiku hubungan kita dan perasaan kita yang kita rasakan selama ini semua ini hanyalah cinta monyet cinta. Iya cinta monyet yang hanya akan dirasakan oleh remaja seperti kita. Aku masih punya rencana dan mimpi yang harus aku kejar, aku gak mau hanya gara-gara hubungan kita ini aku melupakan mimpi dan cita-cita yang sudah aku impikan sejak dulu. Di Dunia ini masih banyak orang yang lebih sempurna dariku kamu berhak mendapatkan yang terbaik dariku jadi maaf aku harus pergi."
"Aku gak butuh yang sempurna. Yang aku butuhkan aku hanya inggin kejujuran. Tapi baiklah jika bagimu hubungan kita hanya akan jadi beban bagimu, baiklah pergilah karena aku gak akan melarang kamu sekarang, pergilah!" perintah Gibran yang kemudian ia pun melepaskan genggamannya pada ujung ujung koper yang hendak akan dibawa Putri.
"Maafkan aku Gib. Maafkan aku karena aku sudah mencampakkan kamu seperti ini maafkan aku. Aku yakin jika kita ditakdirkan berjodoh pasti tuhan akan mempertemukan kita kembali dalam keadaan apapun. Karena aku yakin jodoh tidak akan pernah tertukar jika sekarang aku tidak bisa bersamamu, aku yakin suatu saat nanti kita pasti bisa kembali bersatu, maafkan aku!"batin Putri yang kemudian ia pun melangkahkan kakinya dan melanjutkan lagi perjalanannya.
Berusaha tidak inggin terlihat cengeng dihadapan Putri. Dengan berusaha Gibran pun menahan air matanya agar tidak terjatuh dan membasahi kedua pipinya. Dan dengan memalingkan wajahnya agar tidak melihat kearah Putri yang mulai menjauhi dirinya.
Putri yang dengan perjalan menuju kearah masuk sesekali ia menatap kearah Gibran, tapi Gibran tidak membalas tatapan yang diberikannya. Hingga Putri yang sudah sampai diujung pintu ia pun mengucapkan kata selama tinggal untuk yang terakhir kalinya yang akhirnya tubuhnya seketika menghilang dari pandangan Gibran.
Gibran yang akhirnya menatap kearah Putri tapi ia sudah terlambat yang bisa ia pandang hanyalah punggung Putri yang perlahan-lahan mulai hilang dari pandangannya.
Dan akhirnya air mata yang sedari tadi ia tahan, detik ini pun tetesan demi tetesan air mata itu akhirnya terjatuh dan membahasi kedua pipi Gibran dari kedua sudut matanya
"Selamat tinggal Putri mungkin hari ini adalah hari terakhir bagiku yang bisa melihatmu. Terima kasih karena selama ini kamu telah memberi kesempatan kepadaku untuk menjadi orang yang berhasil masuk ke hatimu terima kasih. Terima kasih karena kamu sudah menitipkan hati yang mungkin tidak akan lama akan kembali runtuh.
Tak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan Gibran saat ini. Putri yang sudah berada didalam awak pesawat. Dengan kondisi dia yang terduduk dengan mencoba bertahan tabah dan kuat. Nyatanya semua itu yang berhasil untuk dia lakukan. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya dengan cepat tetesan air mata itu pun perlahan-lahan menjatuhi dan membahasi dari kedua sudut matanya.
Luka yang sudah tidak bisa ia pendam lagi akhirnya seketika rapuh, hati bagaikan tercabik-cabik dan tidak mampu untuk ia obati. Bahkan dengan cara apa ia mampu mengobati luka yang sudah terlanjur rapuh dan retak ini, jika ada Dokter yang mampu mengobatinya maka dengan rela Putri akan rela membayarkan walaupun dalam jumlah yang sangat banyak.
Tapi nyatanya semua itu hanyalah mimpi dan bayangan yang hanya mampu Putri rasakan.
Langkahnya yang semakin lemah. Bahkan untuk melangkahkan satu langkahan ke depan tenaga Gibran rasanya sudah tidak sanggup lagi hingga ada seseorang yang datang dan menghampiri Gibran. Dan seseorang itu yang tak lain ia adalah Verrel dan juga Nina.
"Gibran apa yang terjadi, kenapa kamu terduduk dan lemas seperti ini? Dimana Putri...dimana dia sekarang?" tanya Verrel dengan melihat kanan mau pun kiri.
"Percuma kamu cari dia disini. Karena sampai kapan pun kamu gak akan mungkin akan menemukannya,"timpal Gibran.
"Ver. Apa aku memang tidak pantas untuk mendapatkan kebahagiaan? Apa aku memang lebih pantas untuk menderita kenapa aku harus menjalani kehidupan yang sangat menyedihkan seperti ini, kenapa?" tanya Gibran yang kemudian ia pun merangkul Verrel.
"Lo gak bisa berkata seperti itu. Semua nasib sudah diatur oleh Tuhan, jika sekarang kalian tidak bersama aku yakin suatu saat nanti kalian akan bersatu aku yakin."
"Aku tidak percaya itu, sekarang aku minta kamu antarkan aku pulang aku inggin pulang sekarang!"perintah Gibran.
"Baiklah aku akan mengantarmu sekarang. Ayo bangkitlah!"ucap Verrel dengan membantu Gibran untuk bangkit berdiri.
BERSAMBUNG.
__ADS_1