PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
CERITA GITA


__ADS_3

"Bisa ikut aku sebentar?"


Rei berbisik kepada Gita agar ikut keluar bersamanya sementara Ruby masih asyik berbincang dengan Melvin dan ayahnya. Ia masih penasaran kenapa Gita berada di sana. Setahu Rei, wanita itu meminta izin kepada kepala bagian kebersihan untuk pulang lebih awal karena sakit perut.


"Itu yang di dalam adik Bapak, ya?" tanya Gita dengan nada agak canggung. Setidaknya berada di luar bersama Rei masih lebih bagus daripada ia tetap berada di dalam. Melihat keharmonisan keluarga wanita yang ditolongnya, Gita merasa iri. Tidak ada ingatan manis tentang keharmonisan keluarganya. Keluarga yang masih dimilikinya hanya ibu tiri yang bahkan tega memberinya obat anjing.


"Dia kembaranku," jawab Rei singkat.


Gita hanya mangguk-mangguk. Pantas saja saat bertemu Ruby, sepertinya ia sudah tidak asing. Wajahnya memang ada kemiripan dengan Rei.


"Kamu ... kenapa bisa bersama Ruby?" Akhirnya pertanyaan yang sedari tadi Rei ingin utarakan meluncur juga dari mulutnya. "Bukannya tadi kamu izin mau pulang karena sakit perut?" Rei melirikkan matanya curiga.


Gita menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tertawa canggung karena merasa ketahuan telah berbohong. "Saya memang sakit perut, Pak. Saya tidak bohong." Ia berusaha membela diri. Gita masih membutuhkan pekerjaannya agar bisa makan. "Waktu saya mau pulang, saya melewati bangunan kosong. Samar-samar terdengar suara minta tolong. Awalnya saya juga ragu untuk mendekat karen takut ada hantu. Tapi kan masih siang, tidak mungkin ada hantu."


"Ceritamu berbelit-belit!" potong Rei.


"Ya ... pokoknya saya masuk terus melihat adik Bapak mau diperkosa orang!" Gita menjelaskan bagian intinya.


"Apa!" Sontak Rei terkejut.


"Gagal kok Pak ... soalnya saya keburu datang. Saya berkelahi dengan lelaki itu loh, Pak! Tidak disangka yang saya tolong ternyata adik Bapak." Gita merasa bangga telah menjadi pahlawan bagi adik dari bosnya.


"Siapa lelaki itu?" Rei hanya ingin tahu lelaki yang hampir menodai adiknya.


Gita mengerutkan dahi. Tentu saja dia tidak paham siapa orangnya. "Lupa, Pak, namanya siapa. Katanya mantan dosen, dosen gila." Gita mencoba mengingat-ingat apa yang Ruby ucapkan.


"Alben? Ben?" tanya Rei.


"Ah! Iya, Pak! Benar itu! Pak Ben!" Akhirnya Gita bisa mengingat kembali isi kepalanya.


"Tidak mungkin kamu bisa menghadapinya sendiri. Apalagi katanya perutmu sakit." Rei agak meremehkan Gita. Ia tahu kalau orang seperti Ben cukup pandai dalam hal beladiri.

__ADS_1


"Hehehe ...." Gita jadi bertambah malu. Ceritanya memang agak berlebihan. "Saya juga hampir mati dipukul tadi, Pak. Tapi Ruby menolong saya. Dia tendang orang itu sambil melompat. Gerakannya sangat lincah, orang itu sampai kami buat babak belur. Mungkin karena itu dia sampai pendarahan."


Rei menghela napas. Lagi-lagi Ruby harus berurusan dengan Alben. Masalah yang dulu saja masih menggantung belum terselesaikan. Perbuatan Alben selalu tersusun rapi. Saat ia menjadi DKK, sebenarnya banyak laporan mengenai pelecehan yang dilakukan Alben sebagai dosen. Akan tetapi, selalu saja masalah itu menguap begitu saja.


Para korban Alben pada akhirnya tidak berani bersuara karena Alben bersikap santun dan memiliki imej baik di mata semua orang. Tidak akan ada yang percaya bahwa dosen itu memiliki kelainan perilaku. Ia dan Melvin sendiri pernah memergokinya saat hampir melecehkan Ruby saat masih kuliah. Hal itu langsung ditutupi pihak kampus karena dianggap belum terjadi apa-apa.


Setelah sekian lama berlalu, Rei pikir Alben sudah berubah. Ternyata ia masih mengincar Ruby. Entah apa yang menyebabkan lelaki itu begitu terobsesi dengan Ruby. "Lain kali kalau ada hal seperti itu, panggil saja polisi."


"Mana sempat, Pak! Keburu telat."


"Benar juga." Rei memegangi dahinya. "Kamu tadi tidak bawa pisau?"


"Hah, untuk apa?" Gita tercengang.


"Seharusnya kamu sekalian mutilasi dia. Potong tubuhnya kecil-kecil sampai jadi sate."


"Ya ampun, Pak! Kok malah bercanda." Gita terkekeh sendiri mendengar peekataan bosnya. "Apa Bapak mau melaporkannya ke polisi?"


"Tentu saja," jawab Rei tegas.


"Kenapa kamu yang takut? Penjahatnya kan orang itu!" Rei benar-benar merasa aneh dengan Gita.


"Walaupun dia pelaku, tapi dia juga korban, Pak. Saya dan adik Bapak menghajarnya habis-habisan. Bagaimana kalau orang itu menuntut balik?"


Ucapan Gita memang ada benarnya. Masalah hukum terkadang ada saja celah untuk membolak-balikkan kebenaran. Tekadang korban di negara ini bisa berubah status menjadi tersangka.


Hukum seolah memberitahukan bahwa korban harus pasrah ketika berhadapan dengan orang jahat. Jika mereka membela diri bahkan sampai menyakiti tersangka kejahatan atau bahkan membunuh pelaku, maka status korban beralih menjadi tersangka.


"Kamu tenang saja, korban juga dilindungi oleh undang-undang."


"Itu kalau orang kaya, Pak. Saya orang miskin. Pokoknya Bapak harus melindungi saya, ya ... setidaknya saya sudah menolong adik Bapak." Gita sudah cukup pusing dengan kemalangan bertubi-tubi yang menimpanya. Kalau masalah itu kembali membesar, ia lebih memilih untuk pingsan daripada menghadapinya.

__ADS_1


"Jangan khawatir, kamu juga menjadi tanggung jawab saya."


"Ye ... Pak Rei memang yang terbaik!" Saking senangnya Gita tanpa sadar berjingkrak-jingkrak sambil memeluk bosnya. Rei hanya tertegun melihat tingkah Gita yang mengagetkan.


"Hehehe ... maaf ya, Pak. Saya terlalu senang soalnya Bapak perhatian." Gita melepaskan pelukannya saat tersadar. Ia jadi malu sendiri. Ia takut bosnya akan menganggap dia sebagai wanita gampangan yang menyebalkan.


"Siapa yang perhatian padamu? Percaya diri sekali!" Rei menyentil dahi Gita dengan keras. "Masuk lagi ke dalam!" ajaknya.


Gita memegangi dahinya yang sakit. Ia masuk kembali ke dalam ruangan Ruby mengikuti Rei.


"Kalian dari mana?" tanya Ruby penasaran. Dua orang itu tiba-tiba menghilang dari pandangannya saat ia sedang berbicara dengan ayahnya.


"Dia dari toilet. Kalau aku dari kantin, lapar!" ucap Rei memberi alasan.


"Rei, tolong antar Gita pulang, ya!" pinta Ruby.


"Kenapa harus aku?"


"Ya masa aku, Rei ...." Ruby sangat kesal kalau Rei mulai membuatnya emosi.


"Oke, nanti aku antar dia pulang. Aku mau bicara dengan Melvin sebentar. Ayo, Vin! Keluar." Rei menarik paksa tangan Melvin agar ikut dengannya keluar.


"Kamu yang namanya Gita, ya?" tanya Pak Wijaya.


Gita tersenyum sopan kepada orang tua. "Benar, Pak."


"Terima kasih, ya, sudah menolong putri saya."


Gita salah tingkah mendapat pujian dari ayah Ruby. "Sama-sama, Pak."


"Gita, apa kamu lapar? Papa tadi membawakan makanan ke sini. Kamu bisa ambil di meja itu." Ruby menunjuk pada arah meja dekat pantry.

__ADS_1


"Tidak usah, aku masih kenyang."


Walaupun sebenarnya perut Gita sudah mulai lapar, ia menolak karena sungkan. Untung saja sakit perutnya sudah sembuh. Kalau tidak, dia akan merasakan dobel sakit perut sampai melilit.


__ADS_2