PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
PUTRI MENINGGAL


__ADS_3

Mengetahui jika Putri baru aja menggalami kecelakaan, Gibran yang dari tadi sudah dipenuhi dengan perasaan cemas sekaligus khawatir yang menggangu konsentrasinya sedari tadi.


Tanpa menunggu lebih lama lagi. Akhirnya Gibran yang sudah tidak ada kesabaran lagi, ia pun pergi seorang diri, dan menggambil kunci mobilnya dengan segera ia pun menjalankan laju kendaraannya.


Tidak membutuhkan waktu lebih lama, akhirnya Gibran sampai juga di Rumah sakit Citra medika dimana tempat Putri dirawat saat ini.


Setelah memarkirkan mobilnya, ia pun langsung berlari memasuki Rumah sakit , sesampainya ia di bagian administrasi nya ia pun lantas langsung bertanya.


"Maaf Sus, saya mau tanya pasien yang baru aja menggalami kecelakaan ada di ruangan mana ya?" tanya Gibran pada salah satu bagian administrasi


"Pasien atas nama siapa?" tanya balik seseorang itu.


"Putri..?"


"Baik, biar saya carikan dulu datanya."


"Baiklah!"


"Baik, pasien atas nama Putri ada di ruangan lantai dua, no 9!"


"Baiklah, terima kasih Sus?"


"Sama-sama!"


Bergegas Gibran pun berlari menaiki life, dan tak lama ia pun akhirnya sampai juga di ruangan no 9, ruangan yang dikatakan oleh suster tadi.


Tanpa menunggu lagi, ia pun lantas langsung membuka pintu ruangan tersebut.


CEEKLEK


Baru juga ia melangkahkan kakinya didepan pintu, wajah Gibran yang tadinya terlihat sangat cemas, kini ekpresi wajah Gibran pun seketika berubah memerah. Setelah ia melihat dengan kedua matanya sendiri, siapa orang yang terbaring lemas diatas brankar rumah sakit ini.


Seseorang yang dalam kondisi sudah tidak berdaya, dengan adanya kain putih yang menutup seluruh bagian tubuhnya, mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut hingga tidak terlihat siapa orang itu.


"Tidak, itu tidak mungkin. Putri...dia...dia tidak mungkin meninggal, ini tidak mungkin!.


Ucap Gibran dengan perkataannya yang tersengal-sengal, kakinya pun seketika melemas dan merosot kebawah lantai. Dengan perasaan tidak percaya, air matanya pun akhirnya jatuh dan membahasi dari kedua sudut matanya.


Hingga kemudian seseorang pun memegang pundak kanan Gibran, seketika Gibran yang menyadarinya ia pun langsung membalikkan wajahnya kebelakang melihat siapa orang itu.

__ADS_1


"Apa kamu cucu dari orang yang terbaring diatas brankar ini?" tanya seorang suster yang seketika membuat pandangan laki-laki dihadapannya pun menjadi melongo.


"Cucu?"tanya balik Gibran dengan wajah agak kebingungan.


"Iya cucu, ini kan seorang nenek-nenek yang usianya sekitar 60 an, yang dimana dia baru aja menggalami kecelakaan lalu lintas tadi. Jadi kamu cucunya kan, Kenapa memangnya? Kenapa anda begitu terkejut. Balas Suster itu yang agak kebingungan melihat ekpresi pria yang ada dihadapannya ini.


"Astaga, Alhamdulillah,"ucap Gibran yang seketika keluar dari mulutnya.


"Apa maksud anda, kenapa anda mengucapkan kata Alhamdulillah. Apa anda senang melihat nenek anda meninggal hari ini?" geram Suster tersebut.


"Maaf-maaf Suster, bukan maksud saya berkata lancang seperti itu. Aku mengatakan itu karena ternyata aku sadar kalau aku telah salah alamat, dan mengira kalau yang terbaring disini adalah temanku, sekali lagi maaf ya, maaf!"


"Ooo baiklah kalau gitu ceritanya.


"Ya sudah Sus, saya tinggal dulu permisi?"


"Baiklah, silahkan!"


Dipenuhi dengan rasa malu atas perkataan yang barusan ia ucapkan tadi, kemudian Gibran pun pergi meninggalkan ruangan ini.


"Astaga Gibran kamu itu kenapa bisa se'ceroboh ini sih, hampir saja kamu kena gebukan karena udah membuat salah faham Suster tadi, dasar bodoh!.Gumam Gibran yang terus-menerus mengacak-acak rambutnya jadi berantakan.


"Oh iya kalau Putri tidak ada di ruangan no 9, terus dia ada di ruangan no berapa?" Gumam Gibran.


Dalam perjalanan Gibran yang mengitari seluruh ruangan di Rumah sakit ini, ia pun tidak menemukan tanda-tanda akan keberadaan Putri dirawat disini. Bahkan setiap ruangan dia sempatkan membuka pintunya tapi hasilnya pun sama , ia tidak juga menemukannya, hingga rasa lelah pun mulai ia rasakan sekarang ini.


Saat terduduk disalah satu kursi penunggu yang berada dipinggir ruangan, pandangannya pun seketika teralihkan setelah ia melihat ada seseorang wanita yang cukup tua yang berjalan menuju kearahnya. Mengingat siapa orang yang ia lihat saat ini, spontan Gibran pun langsung menghentikan langkah kaki seseorang itu.


"Tunggu!"ucap Gibran yang seketika membuat pandangan wanita yang tadinya hanya fokus ke depan, dengan membawa ranting makanan.


"Maaf apa anda memanggil saya?" tanya balik seseorang itu.


"Maaf bik, bukannya saya inggin menggangu perjalanan bibik, tapi bibik bukannya asisten rumah tangga Putri kan? Saya..apa bibik lupa sama siapa saya?" tanya Gibran mencoba meyakinkan bibik


"Astaga kamu kan pemuda yang pada waktu itu mengantar non Putri pulang kan. Maafkan saya..maafkan saya, saya tidak melihat kamu nak!.


"Iya bik gak papa, aku juga ngerti. Oh iya saya hanya inggin bertanya sama bibik, apa bibik tahu non Putri sekarang lagi dirawat di ruangan mana?" tanya Gibran


"Non Putri. Rupanya kamu sudah mengetahui kabar kecelakaan yang dialami oleh Non Putri tadi malam?"

__ADS_1


"Iya bik saya sudah mengetahuinya."


"Ya sudah kalau gitu saya antar kamu sekarang. Kebetulan aku saya juga inggin menjenguknya!.


"Baik bik, terima kasih!"


****


Dan ternyata Putri dipindahkan keruangan pribadi khusus, dimana ruangan itu telah dijaga dua pria tampan dan kekar sekaligus, bahkan pada saat inggin memasuki ruangan pribadi itu tidak sembarangan orang bisa memasukinya.


Hanya dengan menunjukkan sebuah kode rahasia maka seseorang itu akan bisa memasuki ruangan itu, tapi sebaliknya jika seseorang yang hendak akan masuk tapi tidak mengetahui apa kode rahasia itu, maka sia-sia saja.


"Bik, kenapa kita ada disini?" tanya Gibran yang pandangannya tiba-tiba terfokus pada dua pria bertubuh kekar, dengan menggunakan setelah jas hitam yang melekat pada tubuhnya.


"Iya ini adalah ruangan pribadi non Putri. Tuan Putra sengaja menyewa ruangan pribadi ini, karena dia sangat khawatir jika ada orang yang akan mencelakainya. Ucap bibik.


"Oooo ternyata kalau orang kaya bebas ya mau melakukan apa aja. Ya sudah bik ayo kita masuk?"


"Maaf dia adalah teman dari Non Putri sendiri jadi kalian mengijinkan kan?" tanya bibik pada dua pria kekar.


"Boleh ya om, aku ini teman baiknya jadi jangan galak-galak ya?"ledek Gibran dengan nyengir.


Belum juga dua bodyguard itu mengatakan sesuatu pada mereka. Ada seseorang yang tiba-tiba datang dan menghalangi langkah mereka untuk masuk.


"Siapa kamu?"tanya seseorang dari belakang mereka.


Mendengar ada seseorang yang mengatakan sesuatu pada mereka, Gibran dan juga bibik Minah pun lantas menengok kebelakang dan mencari arah suara itu berasal


"Maaf tuan, bukan maksud saya lancang tapi saya hanya inggin,"ucap bibik yang tiba-tiba terpotong oleh perkataan Papanya Putri


"Dia siapa, apa dia pacar Putri?"tanya Papanya Putri dengan menunjukkan wajah geramnya


"Tidak om, saya ini bukanlah pacar Putri om, tapi aku ini hanyalah temannya dan tidak lebih maupun kurang!"sahut Gibran langsung.


"Apa benar bik, kalau dia ini bukanlah pacar Putri?"


"Iya tuan, yang dikatakan pemuda ini memang benar, dia ini bukanlah pacar non Putri. Jadi tuan gak perlu khawatir!"


"Baiklah, silahkan masuk!" perintah Papanya.

__ADS_1


"Baiklah om terima kasih!"ucap Gibran yang kemudian ia pun menundukkan kepalanya.


BERSAMBUNG....


__ADS_2