
"Gita sudah dua minggu ini tidak masuk kerja," ucap Pak Edo, Manajer Konstruksi yang Rei beri amanat untuk membimbing Gita menggantikan tugasnya sebelum beliau resign dari perusahaan.
"Apa dia memberitahukan alasannya?"
"Tidak, Pak. Staff lain juga ikut bingung karena anak itu menghilang begitu saja."
"Apa dia ada tanda-tanda mengalami kesulitan kerja?
"Saya rasa tidak. Setiap hari dia terlihat ceria. Pekerjaan yang saya berikan juga langsung dikerjakan secara tuntas."
Rei sungguh bingung. Gita sangat menginginkan pekerjaan itu sampai merayu dirinya dengan segala macam cara. Biasanya wanita itu selalu menyrmpatkan diri mengunjunginya di rumah sakit, bercerita hal-hal random yang dialaminya setiap hari. Bahkan, saat dia mulai mengenakan jas dan kemeja saat bekerja, ia pamer dengan bangga kepadanya.
Rei cukup lama harus terbaring di rumah sakit. Hari ini pertama kali ia menginjakkan kaki di kantor. Kondisi kakinya sudah hampir pulih. Ia sangat ingin menemui Gita bekerja di ruangannya. Akan tetapi, niatnya tidak bisa terwujud. Ternyata Gita sudah dua minggu tidak berangkat kerja. Pantas saja dia tidak muncul lagi di rumah sakit.
Rei merasa telah terjadi sesuatu dengan wanita itu. Tidak mungkin Gita sendiri yang lati dari pekerjaannya. Ia tipe yang bertanggung jawab. Rei curiga ada kaitannya dengan mantan pacar Gita yang bernama Jimmy itu.
"Baiklah, terima kasih Pak Edo. Anda bisa kembali bekerja."
Rei memilih keluar dari ruangan Pak Edo. Otaknya penuh dengan nama Gita. Wanita itu selalu saja membuatnya khawatir. Meskipun ia tahu Gita punya seribu akal, namun ia masih tetap mencemaskannya.
Rei menanyakan keberadaan Gita kepada orang-orang yang sebelumnya bekerja bersama Gita di bagian kebersihan. Tidak ada satupun dari mereka yang tahu kabar tentangnya. Bahkan, mereka kira Gita sudah jadi orang sombong, setelah ditempatkan di bagian yang bagus, ia tak pernah mau mengunjungi mereka.
Rei memutuskan untuk mencari Gita di sekeliling jalanan kota. Ia menyuruh sopir mengantarkannya karena belum kuat untuk mengendarai mobil sendiri. Matanya mrlihat secara cermat setiap sudut jalan yang biasa dilalui Gita. Hasilnya nihil.
Rei meneruskan pencarian ke area rumah susun Gita. Bodohnya Rei, ia tak pernah bertanya Rei tinggal di unit nomor berapa. Di sana ada ratusan yang terbagi dalam dua unit bangunan. Tidak mungkin ia harus membuka satu per satu pintu hanya untuk menemukan Gita.
__ADS_1
Ia bingung terhadap dirinya sendiri. Kenapa dia harus sebegitu pedulinya pada wanita itu. Apakah ia benar-benar sudah menyukai wanita konyol yang dulu mau mengajaknya tidur?
"Pak Reino, ya?"
Saat Rei hampir putus asa mencari Gita, seorang wanita terlihat menegurnya. "Ririn?" tebak Rei. Dia pernah mendengar cerita tentang Ririn dari Gita. Katanya selama ini ia tinggal di rumah susun bersama wanita yang bernama Ririn.
Ririn mengangguk. "Benar, Pak. Saya Ririn, teman Gita."
"Gita kenapa? Sudah dua minggu dia tidak masuk kantor."
"Saya juga tidak tahu, Pak. Terakhir dia telepon, katanya dia dibawa paksa pulang ke rumah. Sepertinya dia disekap oleh ibu tirinya."
Rei terdiam sesaat.
Rei mengeryitkan dahi. "Katanya dia tidak punya keluarga lagi?"
"Aduh, Pak ... memangnya orang yang yang pernah memberikan obat anjing kepada Gita masih bisa disebut keluarga? Teman saya itu hampir gila gara-gara diberi obat anjing terus-menerus oleh ibu tirinya. Alasan dia pergi dari rumah karena memang dia disiksa terus di sana."
"Bukannya dia diusir karena berusaha membunuh ibu tirinya sendiri?" Cerita yang pernah Rei dengar sangat berbeda dengan apa yang Ririn ceritakan.
"Dia memang hampir membunuh ibu tirinya. Penyebabnya, otak Gita jadi tidak waras karena mengkonsumsi obat anjing. Ibu tirinya itu wanita yang sangat pintar, suka memutar balikkan fakta. Padahal Gita sudah mengalah pergi tanpa membawa apapun dari rumahnya demi bisa hidup tenang di luar. Ia bekerja keras menghidupi dirinya sendiri, sempat ditipu habis-habisan oleh mantan pacarnya, sampai harus menumpang di rumahku. Pokoknya dia kasihan sekali, Pak."
"Kalau bisa, Bapak tolong bawa keluar Gita dari rumah itu sebelum hal yang buruk terjadi."
Rei mengangguk. "Terima kasih atas infonya. Aku pergi dulu." Setelah mendapatkan jawaban yang diinginkan, Rei pergi. Ia kembali ke dalam mobilnya dan menyuruh sopir menjalankan kembali mobilnya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan ia masih memikirkan tentang Gita. Rasanya masih sulit dipercaya kalau Gita diperlakukan sebegitu kejamnya oleh wanita yang hanya berstatus sebagai ibu tirinya. Ia di antara dilema ingin membantu atau melupakannya. Gita bukan siapa-siapa, dia hanya karyawan biasa yang kebetulan dekat dengannya. Akan tetapi, tidak mengetahui keberadaannya selama beberapa hari membuatnya resah.
"Markus, bawa 20 orang anak buahmu ke alamat XXX sekarang juga. Kita akan bertemu di sana. Aku perlu bantuan kalian untuk membebaskan seseorang dari sana."
Akhirnya, setelah melalui pertimbangan yang matang, Rei menghubungi kepala keamanan keluarganya. Ia memutuskan untuk ikut campur dengan urusan Gita meskipun hubungan mereka tidak sedekat kelihatannya. Dia tidak bisa membiarkan wanita lincah dan menjengkelkan itu menghadapi kesulitan sendiri.
*****
"Vin ...."
Melvin cukup terkejut saat bertemu dengan Renata. Ia kira seumur hidup wanita itu tidak akan bangun dari koma. Ruby memegangi lengan Melvin erat seraya menempelkan badan padanya. Kedatangan Renata cukup membuatnya takut tanpa alasan.
Melvin sedang mengajak Ruby memilih gaun pengantin. Kedua keluarga menginginkan mereka mengadakan resepsi pernikahan meskipun kandungan Ruby sudah semakin besar. Mereka ingin sebelum kedua bayi itu terlahir ke dunia, setidaknya orang tua mereka memiliki foto pernikahan yang meriah.
"Kamu sudah sembuh?" tanya Melvin.
Renata mengangguk. "Bisa kita bicara berdua?" Renata sengaja mencari tahu keberadaan Melvin. Rencananya ia ingin bercerai dengan Ferdian dan meminta Melvin kembali padanya. Tidak disangka mereka harus bertemu di toko pakaian pengantin, bahkan ada Ruby di sana.
Melvin menggenggam tangan Ruby. "Tidak bisa. Jika kamu ingin bicara, bicara saja di sini, di depan istriku juga."
Renata merasa heran dengan apa yang baru saja didengarnya. "Istri?" tanyanya memastikan.
"Kamu tidak lihat perutnya yang sudah membuncit ini? Siapa lagi pelakunya kalau bukan aku ... kami sudah menikah cukup lama, Ren." Melvin sengaja mengelus-elus perut Ruby di hadapan Renata.
Renata mematung. Ia tidak menyangka Melvin juga sudah menikah tanpa ia tahu. Lelaki tiba-tiba menjadi sama di dalam otaknya. Mereka hanya memikirkan kesenangan pribadi. Baik Ferdian maupun Melvin, keduanya menikahi wanita lain saat ia koma. Bahkan, Ruby, wanita yang sangat ia benci sedang mengandung anak dari lelaki yang ia cintai. Seharusnya ia yang hamil anak Melvin, bukan Ruby.
__ADS_1