
"Meka, tolong antarkan berkas ini ke ruangan Bu GM, ya!" perintah Dewi.
"Baik, Bu."
Kepala manajer marketing yang sekarang telah dilimpahkan kepada Dewi setelah Pak Harun mengundurkan diri dari perusahaan. Suasana kerja di bagian marketing terasa lebih menyenangkan saat ini. Sebagai satu tim yang solid dan se-frekuensi, baik atasan maupun bawahan saling mendukung. Semua pasti akan iri dengan kekompakan anak-anak marketing.
Meka membawa berkas yang diberikan oleh Dewi ke ruangan Ruby. Ketika berjalan di lorong kantor, langkahnya terhenti oleh Jonathan yang muncul secara-tiba-tiba.
"Kelihatannya ada yang semakin betah bekerja di sini. Pasti menyenangkan banyak yang membelamu agar tetap bisa bertahan di sini." Jonathan mengeluarkan perkataan yang seolah-olah bertujuan untuk menyindir Meka.
"Gara-gara kamu seseorang harus kehilangan pekerjaannya. Padahal, kamu yang seharusnya dikeluarkan."
"Aneh sekali semua orang berusaha menutupi kesalahan yang kamu sembunyikan." Jonathan memandang rendah ke arah Meka.
"Maaf, Pak Jonathan. Pak Harun dikeluarkan karena kesalahannya yang hampir memperkosa saya."
Jonathan tekekeh, "Memperkosa? Bukankah kamu sendiri yang merayunya? Aneh, kenapa semua orang percaya dengan bualanmu? Wanita yang bisa memiliki anak tanpa menikah sudah pasti bukan wanita baik-baik."
Meka tersenyum getir. "Saya kira Anda orang yang baik dan tulus. Sepertinya Anda tidak ada bedanya dengan Pak Harun."
Raut wajah Jonathan berubah masam. Kemarahannya muncul mendengar perkataan Meka yang seenaknya sendiri, "Dimana-mana maling selalu lebih berani dari korbannya. Kamu masih bertahan di sini juga karena aku belum membuka mulut tentang keberadaanmu. Jika semua orang tahu ada karyawan seorang pembohong dan penipu, tidak akan ada yang mau mengakui sebagai temanmu." Jonathan tersenyum puas.
"Dengarkan baik-baik, saya bekerja di sini karena kompete. Kalau Pak Joanthan mau menggunakan alasan itu untuk memecat saya, silakan. Saya siap mundur kalau perusahaan menginginkannya." tantang Meka.
"Oh, sepertinya back up yang kamu miliki kali ini lebih besar sampai bisa bicara seperti itu dengan yakin. Tapi, aku pastikan kali ini sekalipun itu Pak Presdir, tidak akan ada yang bisa menolongmu." Jonathan kembali menyeringai sebelum pergi meninggalkannya.
Meka menghela nafas panjang, ia memutuskan untuk mengabaikan perkataan Jonathan. Benar kata Imel waktu itu, ia harus hati-hati dengannya. Diam-diam orang itu juga ingin menjatuhkannya. Ia melanjutkan langkah menuju ruangan Ruby.
"Permisi, Bu .... " Meka melongok dari balik pintu.
"Masuk!" terdengar suara sahutan dari dalam.
Meka berjalan menghampiri Ruby yang sedang duduk di meja kerjanya.
"Saya diminta Bu Dewi untuk menyerahkan berkas-berkas ini." Meka meletakkan setumpuk berkas yang dibawanya dari ruang staf marketing.
__ADS_1
"Terima kasih, kamu duduk dulu." Ruby mulai membuka berkas-berkas yang dibawa oleh Meka. Ia perlu menanda tangani banyak dokumen yang terkait dengan laporan pemasaran bulanan serta rencana pemasaran berikutnya.
"Ruby .... " Tiba-tiba Meka berbicara tidak formal kepada Ruby.
"Hm, iya?" Ruby menghentikan pekerjaannya, memberikan perhatian sepenuhnya kepada Meka.
"Sepertinya aku akan memilih mengundurkan diri."
Ruby tertegun mendengar ucapan Meka. "Kenapa? Apa ada yang mengganggu atau mengancammu?"
"Tidak ... aku menemukan pekerjaan lain yang menurutku lebih baik. Jadi, aku tidak bisa meneruskan bekerja di sini."
"Kamu yakin?" Ruby masih belum bisa percaya jika Meka ada opsi selain bekerja di tempat itu.
Meka mengangguk. Ia sudah menerima tawaran Ferdian sebagai istri keduanya. Dia juga sudah mendapatkan banyak aset yang menjadi syarat agar ia mau hidup bersana Ferdian lagi. Meka masih bertahan di perusahaan untuk menuntaskan tanggung jawabnya.
Ia tak ingin pergi meninggalkan beban kepada rekan kerjanya. Padahal, ia baru merasakan suasana bekerja yang menyengkan beberapa waktu. Terpaksa ia harus keluar demi mengikuti kemauan Ferdian. Jika ia keluar dari perusahaan, ia juga tidak perlu lagi khawatir dengan orang bernama Jonathan atau orang lain yang membenci keberadaannya di sana.
Menikah dengan Ferdian bisa menjamin kehidupannya. Jika Ferdian kembali mencampakannya, ia masih bisa bertahan hidup dengan aset-aset yang diberikan kepadanya. Ia pikir hidup harus realistis, kalau tidak bisa hidup bahagia dengan orang yang ia cintai, setidaknya ia tidak boleh sengsara karena tidak memiliki uang.
"Kalau boleh tahu, dimana perusahaan baru yang akan menerimamu?"
"Bu GM ... katanya Anda dan Presdir mau menikah!?" seru Tomi.
Asisten Melvin itu masuk begitu saja menyelonong ke dalam ruangan Ruby. Otomatis seruannya membuat Ruby dan Meka terkejut.
"Ah, maaf." Tomi menggaruk kepalanya. Ia tidak menyangka jika di dalam ada orang selain Ruby.
Meka yang sudah terlanjur mendengarnya, otomatis jadi tumbuh rasa penasaran di hatinya. "Ruby .... "
Ruby mengusap wajahnya. Ia tidak tahu harus menjelaskan apa. Semalam ia sudah tidak nyenyak tidur karena memikirkan pernikahan yang akan dilaksanakan secara mendadak.
"Tomi, tolong kunci pintunya!" perintahnya.
Tomi segera melaksanakan apa yang Ruby perintahkan. Ia berjalan mendekat ke arah mereka.
__ADS_1
"Pak Melvin hari ini tidak masuk ke kantor. Beliau bilang nanti malam akan menikah dengan Anda. Ucapannya menurut saya aneh, makanya saya datang untuk bertanya."
"Kalau memang benar Anda akan menikah, seharusnya Anda juga tidak masuk kantor. Apa Pak Presdir sedang sakit atau memiliki gangguan jiwa?"
Ruby ingin tertawa dengan pertanyaan Tomi. "Kita memang akan menikah nanti malam. Tolong kalian rahasiakan hal ini dari siapapun juga." jawab Ruby.
Meka dan Tomi sama-sama tercengang.
"Kamu hamil?" tanya Meka. Setiap yang mendengar rencana pernikahan dadakan itu, pasti akan mengira jika dirinya sedang hamil.
"Aku tidak hamil. Itu permintaan ayahku agar kami tidak berlama-lama pacaran dan langsung menikah saja."
"Mana mungkin pernikahan keluarga Wijaya dan Adinata dilaksanakan diam-diam. Seharusnya pernikahan kalian akan viral di media mana-mana."
"Berita yang masih viral sekarang tentang batalnya pernikahanku dengan Kak Ardi. Kalau sampai orang luar tahu aku akan menikah dengan Kak Melvin, perusahaan akan ikut terkena imbasnya. Jadi, aku harap kalian bisa merahasiakan hal ini."
Meka dan Tomi bisa mulai mengerti dengan penjelasan yang Ruby berikan.
"Lalu, kenapa Anda tidak ikut libur seperti Pak Melvin?" sahut Tomi yang masih berdiri tak jauh dari mereka.
"Sudah banyak orang yang bersiap-siap di rumah. Aku sengaja berangkat kerja karena di rumah malah jadi was-was terus."
"Aku masih tidak percaya kalau kalian akan menikah. Secara sederhana dan mendadak?" wajah Meka masih menunjukkan keterkejutannya.
"Aku sendiri juga tidak percaya. Lihat saja nanti."
"Berarti besok saya harus siap-siap menggantikan pekerjaan dua orang yang akan mengambil cuti."
Ruby tertawa dengan keluhan Tomi. "Sabar, Tom. Nanti bonusanmu lebih banyak."
*****
Silakan mampir ke sini 😘
Judul : KK
__ADS_1
Author : Tyanink