
Kulitnya putih bersih dan terawat. Terasa halus saat diraba. Tatapannya sayu ketika ia menciumnya sembari menelusuri setiap lekukan tubuh indah itu. Sesekali terdengar suara yang sek*si dari bibirnya ketika mulutnya mengulum salah satu puncak dadanya.
Baru pertama kali baginya menjamah kemolekan tubuh wanita. Rasanya tak ada puasnya, seakan dirinya mabuk oleh pesona kecantikan wanita di bawahnya. Kemesraan yang tercipta mengalir begitu saja di antara mereka. Bahkan wanita itu tidak mengelak saat jemarinya mulai menelusuri area bawah yang cukup lembap.
Ia suka melihat respon si wanita saat jemarinya mulai bermain di sana. Wajahnya bersemu merah diliputi gairah. Bahkan tangan wanita itu mulai terjulur dengan berani memegang miliknya yang telah menegang sempurna yang seakan ingin meledak.
Klek!
Suara pintu yang terbuka mengagetkan Rei. Ia hampir jatuh dari duduknya saking sibuk melamunkan Gita. Sudah sekitar seminggu ia tidak bisa konsentrasi kerja gara-gara otaknya dipenuhi oleh Gita.
"Kenapa Rei? Sepertinya kaget sekali melihat kedatanganku," ucap Melvin yang baru masuk ke ruang kerja Rei.
Wajah Rei tampak panik. Segera ia menata diri agar kembali bersikap sewajarnya. "Tumben datang ke kantor. Biasanya nempel terus dengan Ruby."
"Cuma sebentar. Aku sedang mencari Pak Edgar tapi dia tidak ada di kantornya."
"Dia sedang pergi ke luar kota, besok baru pulanh. Pekerjaanku juga menumpuk sebanyak ini. Jangan meminta Pak Edgar membantu pekerjaanmu, ya!"
Melvin berdecih. Tujuannya menemui Pak Edgar memang untuk meminta tolong menghandle pekerjaannya. Hanya mengandalkan Tomi rasanya masih belum cukup.
"Papa bilang kalau aku kesulitan harus menghubungi Pak Edgar. Memangnya kamu saja yang berhak meminta bantuannya?"
"Sebelum kamu ada, Pak Edgar sudah mengurusi perusahaan Papa dan perusahaan ini. Jadi, tidak usah manja! Minta bantuan ke papamu sendiri."
__ADS_1
"Papaku kan ada dua sekarang. Bebas lah minta bantuan yang mana saja. Hahaha ...." Melvin tertawa jahat.
Rei melirik kesal ke arah Melvin. "Kalau sudah tidak ada urusan, cepat pergi! Aku harus menyelesaikan banyak pekerjaan."
"Galak banget presdir yang satu ini. Aku memang tidak berniat menemuimu."
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu yang membuat perdebatan mereka berakhir.
"Masuk!" seru Rei.
Dari balik pintu, Gita melongok ke dalam perlahan. Ia malu-malu masuk ke ruangan itu. Rei sendiri ikut canggung karena sudah satu minggu tidak menghubungi ataupun bertemu dengannya.
"Apa kedatangan saya mengganggu?" tanya Gita dengan sungkan karena ada Melvin di sana.
"Oh, Gita ... masuk saja, aku juga sudah mau keluar." Bergegas Melvin bangkit dari kursinya. "Aku pulang dulu, Rei. Kasihan istriku pasti sudah kangen. Beda denganmu ya, nggak ada yang kangen," ledek Melvin. Ia berjalan pergi meninggalkan ruangan itu sambil tertawa-tawa.
"Silakan duduk," Rei mempersilahkan Gita duduk.
"Terima kasih, Pak." Gita duduk sambil mengarahkan pandangan ke arah lain saking malunya mengingat kejadian malam itu. "Saya ingin menyerahkan rencana proyek terbaru perusahaan kita beserta anggarannya." Gita menyodorkan map berisi berkas-berkas yang diminta oleh Rei. Ia tak berani memandang Rei secara langsung karena Rei di matanya kini sedang bertelanjang dada sambil memamerkan otot-ototnya yang keren.
Rei juga sama. Ia tak berani memandang Gita. Meskipun saat ini Gita memakai seragam kantor yang tertutup, seolah ia memiliki kemampuan penglihatan transparan. Ia hanya ingat tubuh Gita yang polos tanpa ditutupi sehelai benangpun. Ia pura-pura membaca berkas yang Gita berikan. Otaknya sudah tak bisa dikondisikan agar berpikir secara normal.
__ADS_1
"Pak ...." Gita memain-mainkan jemarinya untuk mengatasi rasa gugup.
"Kenapa, Gita?" Rei berusaha untuk terlihat normal.
"Boleh saya membahas tentang kejadian waktu itu?" Gita sudah tidak tahan memendamnya sendiri. Setiap malam ia tidak bisa tidur karena terngiang-ngiang tubuh atasannya.
"Ini masih jam kantor, Gita ... kamu hanya boleh membahasnya saat istirahat tiba."
"Sepertinya saya tidak sesabar itu, Pak. Soalnya ini juga mengganggu pekerjaan saya. Saya tidak bisa konsentrasi gara-gara membayangkan tubuh indah Bapak terus."
Rei tertegun mendengar ceplas-ceplos Gita. "Sudah saya bilang, Gita ... jangan bahas hal seperti itu di kantor."
"Pak, saya tidak bisa tenang kalau tidak mengatakan terus terang." Gita ngeyel tetap mau bicara. Ia mengangkat wajahnya, menatap mata Rei dengan serius. "Pak ... sepertinya saya menyukai Bapak sampai mau gila rasanya. Sejak malam itu saya tidak bisa tidur karena setiap hari memikirkan Bapak. Waktu kerja juga tidak bisa konsentrasi karena hanya ada Bapak di otak saya. Pokoknya Pak Rei harus tanggung jawab. Kehidupan saya jadi sangat kacau sejak malam itu."
Rei memijit keningnya. Ia kalah oleh seorang wanita. Padahal dia juga memiliki perasaan yang sama dengan Gita, tapi tak berani mengungkapkannya. Ia juga tak bisa konsentrasi kerja gara-gara mengingat Gita.
*****
Sambil menunggu update bab selanjutnya, jangan lupa mampir ke sini 😘
Judul: Istri Yang Tak Dihargai
Author: Sya Syi
__ADS_1