PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
134 " Sudah memaafkannya "


__ADS_3

Aku memang membenci dan juga kecewa sama kamu Put? Tapi entah kenapa melihat kamu seperti ini rasa cemas-ku tak kunjung hilang. Berbohong jika aku tidak perduli sama kamu bahkan melihat kamu dalam keadaan seperti ini aku tidak bisa! Aku tidak bisa!"


Terbaring dengan keadaan yang masih belum sadarkan diri, kedua matanya yang perlahan-lahan mulai terbuka, jari tengahnya yang akhirnya mulai ada pergerakan pun semakin menandakan jika Putri akan segera tersadar dari pingsannya.


"Putri kamu sudah sadar? Aku akan panggilkan Dokter!"


Tak berselang lama Dokter pun berdatangan keruangan ini, memeriksa keadaannya dan Alhamdulillah sama seperti yang diinginkan Putri akhirnya telah pulih dari kondisi awalnya.


"Gimana Dok kondisinya tidak ada yang serius kan? Dia tidak sampai kehilangan ingatan atau ada luka yang dalam lebih parah kan Dok?"


"Anda tidak perlu cemas kondisi teman anda cukup stabil, dia hanya mengalami luka tusukan saja jika nanti sudah kering juga akan sembuh dengan sendirinya. Saran saya untuk sementara pasien jangan terlalu banyak bergerak takutnya luka jahitan yang belum kering akan pecah,"ucap Dokter dengan menjelaskannya.


"Baik Dok saya akan menjaganya dan saya pastikan semua itu tidak akan terjadi sekali lagi terima kasih Dok! Terima kasih!"


"Sama-sama ini semua sudah jadi tanggung jawab saya juga, ya sudah masih ada tugas yang harus saya selesaikan jadi mari saya tingal dulu."


"Baik Dok sekali lagi terima kasih."


"Sama-sama ya sudah mari!"


"Baik Dok."


Menghampiri seseorang yang masih terbaring lemas diatas, Gibran pun mendekatinya, Wanita yang tak lain adalah Putri ia nampak terkejut melihat siapa seseorang yang ada disampingnya saat ini.


"Gibran kamu? Kenapa jadi kamu yang ada disini?"

__ADS_1


"Itu tidaklah penting! Yang terpenting sekarang jaga kondisi kamu baik-baik karena luka tusukan yang kamu alami masih belumlah kering jadi Dokter menyarankan untuk jangan banyak bergerak!"


"Dan alasan pertama kenapa aku menemanimu karena semua kejadian ini biang keroknya adalah Revi! Dialah orang yang sudah membuat rencana untuk mendorong kamu agar kamu dan juga Revan berduaan disana agar Nina cemburu dan memutuskan hubungan persahabatan kalian."


"Apa! Revi setega itu sampai-sampai membuat rencana gila dan berencana menjebak kakaknya sendiri?"


"Itulah Revi, kamu juga pastinya sudah tau siapa Revi jadi jangan kaget, sebagai penggantinya aku akan menjaga kamu sampai kondisi kamu sembuh total, jadi jika kamu punya pikiran aku perduli atau cemas yang lain sebagainya kamu jangan berpikiran sampai sejauh itu."


"Aku tau, aku juga ingat kamu sudah punya Istri mau pun anak jadi alasan kenapa kamu mau menjagaku semua ini juga karena kamu merasa bersalah akan tindakan yang dilakukan Istri kamu sendiri."


"Baiklah kalau kamu paham!"


"Ya sudah jangan banyak bergerak dan tetap disini aku akan mengambilkan kamu makanan!"


"Aku tidak lapar! Jadi kamu jangan menyuruhku untuk makan?"


"Aku akan menyuapi kamu jadi makanlah!"


"Kamu sudah punya Istri jadi harusnya kamu sadar jika apa yang akan kita lakukan adalah akan menimbulkan masalah baru? Belum lagi Revi masih dendam padaku apa kamu mau dia melakukan hal yang lebih besar dari kemaren!"


"Terus jika aku tidak menyuapi kamu aka kamu bisa makan dengan sendirinya? Perut kamu belum bisa tertekan jika kamu paksaan untuk duduk jadi sudah menurut-lah apa sulit untukmu menurut!"


"Ayo buka mulut kamu!"


"Maaf Gibran aku tidak bisa jadi jangan paksa aku untuk makan dari suapan tangan kamu yang jelas muhrimnya? Kamu suami orang jadi jangan bikin aku akan kena masalah baru aku mohon!"

__ADS_1


"Baiklah jika kamu masih tidak enak aku akan meminta bantuan pada Nina."


Menghubungi salah satu nomor yang tertera pada layar ponselnya dan menghubunginya secara langsung tepat dihadapan Putri. Dengan menyuruhnya untuk datang kemari dengan alasan yang tadi, Nina akhirnya menyetujui permintaannya tersebut.


"Aku sudah menghubungi Nina tidak akan lama dia juga akan sampai jadi menunggu lah!"


"Apa aku boleh Bertanya sesuatu sama kamu?"tanya Putri yang akhirnya mengalihkan pada pembicaraan lain.


"Tanya soal apa?"tanya Gibran.


"Apa tindakan kamu seperti itu sudah membuktikan kalau kamu sudah memaafkan aku seutuhnya? Atau kamu tidak lagi menaruh dendam padaku setelah kejadian beberapa tahun yang lalu?"


"Setelah aku pikir-pikir untuk apa menaruh dendam pada seseorang terlalu lama? Hubungan kita sudah kandas sejak sedari lama. Dan setelah memutuskan untuk putus aku berusaha keras untuk melupakan kamu dan sekarang setelah aku menikah dengan Revi aku sudah cukup mencintai Revi, perasaan kita yang dulu aku sadar jika perasaan itu sudah tidak ada lagi jadi alangkah baiknya kita memutuskan untuk berteman dan fokus pada kehidupan kita masing-masing. Kamu juga sudah menjadi kekasih Bimo, dia juga Pria yang cukup baik jadi pastinya kamu akan bahagia bersamanya jadi lupakanlah perasaan kita yang dulunya pernah ada karena aku yakin sama seperti diriku kamu sendiri juga pastinya sudah bisa melupakan aku kan?"


"Iya. Sama yang seperti kamu bilang tadi, aku juga sudah bisa melupakan kamu, melihat kamu sudah bisa memaafkan aku, aku sudah cukup lega dan bisa bahagia sekarang. Karena jujur hidup dalam bayang-bayang penyesalan itu tidaklah nyaman jadi terima kasih karena kamu sudah mau memaafkan ku terima kasih."


"Iya sama-sama apa yang sudah terjadi anggap saja itu hanyalah angin, kedua perasaan sudah sama-sama hancur. Dan berganti berlabuh pada cinta lain jadi untuk apa kita harus meributkan masalah apalagi masalah itu hanyalah masa lalu, ya sudah karena Nina sudah sampai di Rumah sakit ini aku pamit cabut dulu, kabari aku kalau kamu butuh bantuan aku akan kirimkan bodyguard untuk menjagamu nanti,"ucap Gibran yang serasa menahan sesuatu.


"Ya sudah kamu juga pastinya hari ini masih ada keperluan jadi pergilah aku tidak apa-apa sendiri disini?"


"Baiklah aku cabut dulu."


Langkahnya yang akhirnya mulai pergi dari ruangan ini, kedua mata indah yang terlihat jelas masih melihat sesosok laki-laki tampan dihadapannya, tak terlihat akan laki-laki itu untuk bersedia memandang balik kearah belakang dimana Putri masih terlihat melihatnya.


"Sekarang aku sadar di-dunia ini hal yang paling mudah dikatakan setiap seseorang adalah berkata bohong? Dengan berkata bohong kita merasa kita mampu memperhentikkan akan adanya masalah atau pun pikiran yang mengganjal dalam diri kita sendiri? Aku sadar dengan berkata bohong mampu menyelematkan keadaan, biarpun pada akhirnya akibat kebohongan itu hati dan ketenangan diri kita yang menjadi sasaran selanjutnya?"

__ADS_1


Tanpa menoleh sekali pun pada Wanita yang ada dibelakang, ia langsung menutup pintu yang seakan-akan langkahnya lah yang membantunya untuk bangkit dari tempat yang menurutnya sangatlah sudah untuk ia tinggalkan.


BERSAMBUNG.


__ADS_2