
"Pak, saya izin ke toilet sebentar, ya ... perut saya mules." Gita memegangi perutnya yang tiba-tiba sakit.
"Hm, pasti gara-gara kualat sama atasan itu. Sukurin!" ledek Rei.
"Aduh, jahat banget malah nyumpahin. Sudahlah, Pak! Saya sudah tidak kuat! Mau ke toilet sekarang!"
"Ya sudah, pakai saja toilet dalam."
"Tidak mau! Takut nanti kalau bunyi malah tambah ditertawakan. Saya ke toilet luar saja!"
"Hahaha ...." Rei tidak bisa menahan tawa melihat tingkah konyol Gita yang terburu-buru keluar dari ruangannya.
Gita cepat berlari ke arah toilet luar lalu masuk ke dalam salah satu bilik yang kosong. Ia bersyukur saat masuk kondisi toilet sedang sepi. Kalau tidak, ia pasti sudah malu karena bunyi-bunyian yang keluar akibat perut mulas memang sangat memalukan.
Cukup lama Gita menghabiskan waktu di dalam bilik toilet. Isi perutnya serasa terkuras habis akibat salah makan. Rasa melilit yang awalnya sudah sangat menyiksa berangsur-angsur menghilang.
"Halo ...."
Dari arah luar bilik ia dengar ada orang yang juga masuk toilet. Kedengarannya seorang wanita yang sedang bertelepon. Gita terdiam sembari mendengarkan secara seksama.
"Pak Alben?"
Ia serasa familiar dengan duara wanita di luar sana. 'Sepertinya itu Prita.' gumamnya dalam hati. Dia juga sepertinya familiar dengan orang yang bernama Alben. 'Apa dia lelaki gila yang waktu itu?' tanyanya dalam hati.
"Apa yang Bapak lakukan kepada suami saya?"
Gita membelalakkan mata. Meskipun tidak tahu pasti, Ruby terdengar seperti orang yang khawatir. Apalagi dia menyebut tentang suaminya, berarti adalah Pak Melvin.
"Jangan bilang kalau itu juga perbuatan Bapak ...."
"Apa Anda sudah gila!"
__ADS_1
Gita sedikit terkejut dengan teriakkan Ruby. Ia sampai lupa untuk cebok saking fokus mendengarkan pembicaraan di luar sana. Dia sangat yakin, saat ini Ruby sedang ada masalah dengan lelaki bernama Alben.
"Kalau Bapak sudah mendapatkan saya, apa yang mau Bapak lakukan?"
Perbincangan yang dilakukan terdengar semakin serius. Kalau Gita bisa menyimpulkan, Alben ingin memancing Ruby dengan keberadaan suaminya. Ia jadi bingung sendiri harus ikut terlibat atau tidak.
Setelah suasana toilet kembali hening, Gita baru berani menyelesaikan urannya di bilik toilet. Tanpa berlama-lama, ia ikut keluar membuntuti perginya Ruby. Di pintu depan toilet, tampak Ruby sedang berbicara dengan bodyguard yang memang khusus berjaga di lantai itu.
Gita bingung hendak pamit atau tidak kepada Rei. Jika dia pamit, kemungkinan ia akan kehilangan jejak Ruby. Akhirnya ia nekad pergi tanpa pamit demi mengikuti Ruby. Entah nanti Rei akan menyindirnya kembali, ia akan mencari alasan lain.
Ruby tampak turun ke area basement, masuk ke dalam sebuah mobil berwarna hitam. Buru-buru Gita berlari keluar mencari taksi. Kebetulan ada satu taksi yang baru saja selesai mengantar orang ke rumah sakit.
"Pak, tolong ikuti mobil itu!" perintah Gita.
Sang sopir sampai kaget kalau sudah ada pelanggan baru yang sudah duduk di kursi penumpang. Namun, sopir itu tetap mengikuti perintah yang diberikan pelanggannya. Ia melajukan mobilnya mengikuti mobil di depannya.
"Memangnya kenapa dengan mobil yang ada di depan, Non?" tanya sopir taksi itu.
"Oh begitu ... anak muda zaman sekarang apa memang kebanyakan mentalnya lemah, ya? Masalah sedikit pelariannya bunuh diri. Dikira setelah mati masalahnya beres." Pak dopir taksi yang sudah berusia sekitar 50 tahunan itu sepertinya terbawa cerita Gita.
"Iya, Pak. Saya juga heran. Padahal bertahan hidup itu lebih enak kan, Pak?"
"Benar, Non. Kalau kita masih hidup, setidaknya masih ada harapan untuk memperbaiki nasib dan keadaan."
Sepanjang perjalanan, kedua orang asing itu saling membahas hal-hal random seperti orang yang sudah lama akrab. Sampai tak terasa mobil yang mereka ikuti tampak memasuki area apartemen mewah di pusat kota.
"Saya mengantar sampai di sini ya, Non."
"Iya, Pak. Terima kasih." Gita menyerahkan uang 50 ribuan sebagai ongkos taksi.
"Tolong nasihati adiknya supaya tidak bunuh diri. Hidup saja sesuatu yang harus disyukuri."
__ADS_1
Gita tersenyum. "Iya, Pak. Itu pasti." Buru-buru ia berlari mengejar Ruby yang telah lebih dulu naik kr dalam lift.
*****
Ruby berdiri di depan pintu apartemen yang Pak Ben tunjukkan. Di tengah keraguannya, ia memutuskan untuk menekan bel pintu apartemen itu. Tak berselang lama, wajah yang paling ingin dihindari muncul tepat di hadapannya. Dengan wajah penuh senyuman, Ben menyambut kehadirannya.
Tangan Ruby ditarik, lalu lelaki itu dengan seenaknya memeluk mesra dirinya. Pintu apartemen kembali ditutup.
"Sudah lama aku memimpikan momen seperti ini. Kamu yang datang sendiri menemuiku, bukan aku yang harus lelah mengejarmu. Ruby ... kamu memang wanita kesayanganku."
Ruby tak bergerak sama sekali. Tubuhnya seakan pasrah menerima perlakuan dari Ben. Kalau ia salah bertindak, nyawa Melvin dalam bahaya.
"Dimana suamiku?" tanya Ruby.
Mood Ben serasa hilang dalam waktu sekejap. Baru saja ia merasa senang bisa bermesraan dengan wanita yang sangat ia rindukan. Wanita itu justru menanyakan keberadaan lelaki lain.
"Kamu jangan khawatir, Sayang. Dia akan baik-baik saja selama kamu menurut denganku. Aku ini orang yang paling memegang ucapan." Ben mengelus pipi Ruby. Memandangi wajahnya dari dekat membuat hatinya kian berdebar. Sudah tak sabar ia menumpahkan segala kerinduan yang selama ini dipendamnya.
"Aku ingin melihat suamiku." Ruby kukuh pada pendiriannya. Ben tak bisa menolak kemauan wanita itu.
"Oke, ayo aku tunjukkan dimana Melvin berada. Supaya kamu puas dan bisa fokus padaku." Ben memicingkan sudut bibirnya. Ia membawa Ruby masuk ke dalam apartemennya.
Betapa Ruby sangat syok melihat foto-foto dirinya ada di setiap sudut ruangan apartemen itu. Bahkan foto besar juga terpasang di dinding ruangan utama. Koleksi foto-foto yang ada di sana melebihi isi dari galeri ponselnya. Ben seperti seorang paparazi yang senantiasa mengamati jejak langkahnya.
"Kenapa? Kamu suka dengan penataan apartemen ini? Foto-fotomu adalah gambaran isi hatiku yang setiap waktu hanya dipenuhi olehmu." Ben mengatakannya dengan nada yang sangat enteng.
Ben membukakan salah satu pintu kamar di apartemennya. Tampak Melvin sedang terbaring di atas ranjang dalam kondisi terikat. Melihat keberadaan istrinya di sana, Melvin yang sudah kembali tersadar kembali berusaha untuk berontak melepaskan ikatannya.
"Ah, ternyata dia sadar lebih cepat dari yang aku kira," gumam Ben.
Ruby mengepalkan tangannya. Dalam sekali ayunan, ia langsung melabuhkan tinju mautnya ke wajah Ben. Belum cukup membuat lelaki itu tumbang, Ruby menambahkan tendangan dan sikutan untuk melemahkan Ben dengan serangan cepat yang tidak bisa dihindari oleh Ben.
__ADS_1