
"Revan, Nina kalian kenapa bisa tau kalau aku dan juga Putri terjebak disana, apa kalian mendengar teriakan-ku sebelumnya?"
"Aku tau kalian terjebak disana dari Revi! Dialah orang pertama kenapa kejadian seperti ini bisa sampai terjadi!"timpal Revan kemudian.
"Maksud kamu? Kamu bilang Revi penyebab dari semua kekacauan ini? Tapi bagaimana itu bisa terjadi?"tanya balik Gibran.
Flashback
📞"Nyonya seperti permintaan yang nyonya inginkan sejak awal, kita sudah berhasil menjebak Keduanya didalam lubang itu, jadi sesuai permintaan mana jaminan untuk kita?"ucap salah satu Pria bertubuh kekar dalam sambungan telfonnya.
📞"Tunggu! Kalian serius sudah berhasil menjebak Revan? Kakak ku ikut masuk kedalam sana?"tanya balik Revi yang sedikit tidak percaya.
📞"Iya tadi ada seorang Pria berjas Hitam yang masuk kehutan itu, kita tau orang itu pasti Revan yang Nyonya maksudkan, jadi tanpa berkata kita langsung mendorongnya dan berhasil membuat dia ikut terjebak didalam sana?"
📞"Tunggu! Tapi Revan kakak saya tidak mengenakan jas hitam? Apa kalian sungguh-sungguh tidak salah orang?"
📞"Baiklah jika Nyonya tidak percaya, nyonya bisa kirimkan foto dari Revan yang nyonya maksudkan?"
📞"Baiklah aku akan mengirimkan fotonya tunggulah!"
Satu pesan masuk, mengirimkan satu gambar seseorang yang tak lain adalah Revan, kedua pandangan Pria kekar itu sama-sama bertatapan satu sama lain, menyadari jika adanya kesalahan pada seseorang yang barusan ia dorong lah yang membuat keduanya tidak percaya dengan apa yang barusan mereka lakukan.
📞"Gimana kamu sudah ingat betul siapa laki-laki yang barusan kalian tangkap? Apa seseorang yang ada difoto ini sama percis seperti yang kalian lihat tadi?"
📞"Tunggu! Kok wajah mereka tidak sama dengan Pria yang tadi?"timpal Pria yang satunya.
📞"Maksudnya?"tanya balik Revi.
📞"Iya aku ingat betul seseorang yang barusan kita dorong tadi, Pria itu tidak seperti ini tampangnya? Jadi kita salah mendorong orang tadi?"
📞"Sial! Kenapa kalian bisa sebodoh ini jadi maksud kalian! Kalian sungguh-sungguh salah orang?"
📞"Maafkan kami Nyonya maafkan kami! Kamu akui kami lalai maafkan kami!"
Langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa menunggu penjelasan dari kedua Pria bodoh tadi, Revi yang merasa kesal ia serasa ingin menyantap seseorang pada saat ini juga. Rasa kesal dari raut wajahnya terlihat sangatlah jelas bahkan tidak bisa lagi untuk ia sembunyikan. Tapi belum juga ia bisa mereda dengan masalah baru yang harus ia tangani, seseorang telah menimpali pembicaraannya, dengan memalingkan pandangannya kebelakang seketika wajah terkejutnya tidak bisa ia hindari setelah tau ada Revan yang telah menunjukkan tatapan tajamnya.
__ADS_1
"Apa maksud dari semua ucapan kamu? Apa yang sudah kamu rencanakan pada Putri?"
"Kak Revan? Sejak kapan kak Revan ada disini?"
"Aku tanya apa yang sudah kamu rencanakan padanya cepat katakan!"
"Maafkan aku Kak! Aku ... Aku ...
"Cepat tunjukkan dimana lokasi sumur itu? Kamu pasti masih ingat kan dimana tempatnya?"
"Su ... Sumur apa Kak aku tidak ngerti! Kak Revan kayaknya salah dengar, iya Kak Revan pasti salah dengar tadi?"
"Kamu masih ingin berbohong juga padaku? Apa masih kurang jelas apa yang aku dengar tadi? Kamu menyuruh orang untuk menjebak-ku tapi kenyataannya orang suruhan kamu yang terlalu bodoh untuk melakukannya! Jadi cepat katakan! Ayo katakan!"
"Aku sudah bilang aku tidak tau! Ya tidak tau apa begitu sulit untuk membuat kak Revan percaya padaku?"
"Baiklah jika kamu tidak mau berkata jujur biar aku sendiri yang mencari dimana sumur itu berada, aku sudah dengar adanya sumur terbengkalai itu jadi jika terbukti Putri ada disana kamu akan tau akibatnya apa kamu masih ingin bungkam juga?"
"Baik Kak aku akan memberitahu Kak Revan.
FLASHBACK
"Gibran aku ... Maafkan aku, aku akui aku salah maafkan aku! Maafkan aku!"
Belum juga Revi selesai akan pembicaraannya, Gibran yang serasa tidak bisa mempercayainya satu tamparan akhirnya telat mengenai pipi kanan Revi setelah mendengar langsung akan penjelasan yang barusan dikatakan Revan.
"Gibran kenapa kamu malah menamparku?"
"Apa kamu masih bisa bertanya seperti itu juga? Kamu gak sadar akibat kesalahan kamu! Kamu hampir saja membunuh seseorang apa kamu tidak sadar?"
"Aku tau aku salah dan tidak seharusnya aku melakukan semua ini tapi aku terpaksa? Semua ini juga berbeda dari rencana-ku aku hanya berencana ingin mengerjai Putri bukan ingin membunuhnya?"
"Jadi maksud kamu? Kamu mengatur rencana sampai punya ide dan langsung mendorongnya didalam sana kamu tidak berfikir akan bahaya apa yang akan terjadi nanti? Bahkan ikut membawa ku dalam rencana gila kamu ini masih berfikir jika apa yang kamu lakukan sangatlah benar?"timpal Revan.
"Kak Revan kenapa malah ikut-ikutan marah seperti ini padaku? Aku akui salah tapi bukan seperti ini cara kalian menghakimi-ku bukan seperti ini?"
__ADS_1
Plak..
"Kak? Kenapa kak Revan malah menamparku juga?"
"Bagiku dengan cara menampar tidak akan bisa mengembalikan keadaan yang terjadi pada Putri? Jika kamu tidak mengatur rencana gila sampai-sampai membahayakan seseorang seperti ini semua ini tidak akan terjadi padanya? Bahkan membawaku dan ikut memanfaatkan aku dalam rencana bodoh kamu ini kamu juga hampir membunuh Kakak kandung kamu sendiri kamu sadarlah apa yang kamu lakukan ini sudahlah sangat fatal!
Bahkan jika saja Putri meninggal dalam rencana kamu apa yang akan terjadi selanjutnya? Jujur aku sudah tidak tahan dengan semua ini, jika mendapatkan adik kandung yang hanya akan menyusahkan kakaknya saja alangkah baiknya aku tidak pernah memiliki adik kandung sekali pun!"
"Jadi maksud kak Revan? Kak Revan menyesal punya adik seperti diriku?"
"Iya kakak menyesal punya adik seperti dirimu kakak sangatlah menyesal."
"Baiklah jika itu mau kalian terserah. Dan jika Kak Revan sangatlah menyesal punya Adik seperti diriku maka anggap saja Putri jadi adik kandung pengganti diriku anggap saja aku sudah muak!" ucap Revi yang akhirnya dirinya pun pergi dari hadapan mereka semua.
"Revan kenapa kamu malah mengatakan semua itu padanya jika Revi akan bertindak nekat pada Putri gimana? Kamu sendiri tau kan kalau Revi sangatlah membenci Putri jadi aku rasa dengan menambah masalah dia akan malah semakin nekat dan lebih dari ini?"
"Aku sudah tidak tau dengan cara apa aku bisa menghadapi Revi? Cara lembut sudah aku lalui bahkan selama 5 tahun lamanya mereka berpisah aku sudah cukup lega karena Keduanya saling tidak bertemu tapi sekarang aku merasa putus asa dan terserah Revi ingin melakukan apa. Dan kamu Gibran! Kamu Suaminya Revi aku ingin mulai sekarang kamu jaga Putri sebagai sabahat kamu, aku tidak ingin salam masalah ini dia akan semakin nekat pada Putri jadi kamu bersedia kan?"
"Aku sebenarnya tidak masalah jika harus menjaganya tapi Bimo?"
"Aku tidak masalah jika kamu ikut menjaga kekasihku? Kamu temannya sejak sedari SMA jadi aku rasa dia juga membutuhkan akan darimu, apalagi kamu suaminya Revi aku rasa kamu memang harus membantuku untuk menjaganya agar dia tidak lebih nekat lagi,"timpal Bimo.
"Baiklah jika itu sudah jadi keputusan kamu,"balas Gibran sesaat dokter yang menangani Putri pun keluar dari dalam ruangan.
"Dok gimana keadaan Pasien apa dia baik-baik saja?"tanya Bimo beserta yang lainnya.
"Pasien cukup kehilangan banyak darah, tapi tenanglah masalah itu sudah bisa kita tanggani, yang penting awasi selalu kondisi pasien jangan sampai banyak gerak takutnya lukanya akan pudar lagi, baiklah hanya itu saran saya saya permisi dulu!"ucap Dokter.
"Baiklah Dok, oh iya apa pasien sudah bisa dijenguk?"tanya Nina.
"Untuk kali ini jangan ajak bicara dulu, pasien butuh banyak istirahat jadi besoklah anda boleh menjenguknya saat ini Pasien blm sadar soalnya,"timpal Dokter lagi
"Baik Dok kalau gitu sekali lagi terima kasih!"
"Iya sama-sama!"
__ADS_1
"Kenapa aku perhatikan Gibran yang malah lebih perhatian ke Putri? Sedangkan Revan yang mantannya dia terlihat tidak begitu perhatian dan cemas seperti Gibran? Tapi mungkin ini hanya perasaanku saja Putri seperti ini karena ulah Istrinya jadi pastinya dia akan merasa tidak enak dan diselimuti rasa bersalah dalam dirinya,"batin Bimo yang sesekali ia melirik kearah Gibran dengan tatapan penasarannya.
BERSAMBUNG.