
"Mas, berikan aku minuman yang sama satu!" pinta wanita itu kepada bartender di depannya. Tak berapa lama, minuman yang dia minta diberikan oleh sang bartender. "Terima kasih," ucapnya.
Dari raut wajah serta tata cara bicaranya, meskipun pakaian yang dikenakan cukup sek*si, tapi dia terlihat bukan orang yang terbiasa menghabiskan waktu di tempat semacam itu. Dia seperti wanita baik-baik. Mungkin dia seperti Rei, meskipun tidak suka datang ke klab malam, ada kalanya ia ingin mencoba hal baru.
"Cheers ...." Dia menyodorkan gelasnya mengajak tos dengan Rei. Rei menyentuhkan gelasnya sehingga terdengar bunyi benturan dua benda kaca itu.
"Hm, minuman ini rasanya enak. Apakah minuman ini bisa membuatku mabuk?" gumam wanita itu sembari memandangi gelasnya yang berisi minuman berwarna-warni itu.
Rei mengulum senyum. Seperti dugaannya, wanita itu memang sangat polos. "Ini hanya moctail, tidak akan membuatmu mabuk."
"Oh, hahaha ... aku kira di klab malam semua minumannya pasti akan membuat orang mabuk seperti orang-orang di sana." Wanita itu menunjuk ke arah sekelompok orang yang sedang tertawa-tawa dan bertingkah konyol karena mabuk.
"Memangnya kamu berniat datang untuk mabuk?"
Wanita itu memperhatikan wajah Rei lekat-lekat selama beberapa saat. "Ya, aku ingin mabuk di sebelah lelaki tampan sepertimu." Ia kembali meneguk minumannya. "Aku rasa semua orang yang datang ke sini pasti ingin mabuk. Bukankah klab malam tempat yang cocok untuk melupakan masalah?"
Ucapan wanita itu seperti sebuah sindiran untuk Rei. Dia juga datang ke sana untuk melupakan masalahnya sendiri. Ia ingin menghindari kegalauan di apartemen sehingga memilih tempat ramai seperti klab malam untuk menghibur diri. Curhat dengan saudara kembarnya juga tidak mungkin lagi. Melvin selalu menempel pada Ruby setelah mereka menikah. Sekalipun dia saudara kandungnya, lelaki yang telah menjadi iparnya itu sangat pelit untuk mengizinkan istrinya dekat dengan Rei.
"Ah, hidup ini sungguh tidak adil. Kenapa orang yang sudah berusaha keras menjadi orang baik malah selalu mendapatkan kekecewaan." wanita itu berbicara sambil memandangi minumannya. Tatapannya kosong, ada guratan kesedihan sekaligus kekecewaan yang tergambar di wajahnya.
"Apa kamu pernah diselingkuhi pacar atau pasanganmu?" tanyanya.
"Tidak." Rei memandang heran dengan wanita yang begitu blak-blakan berbicara kepada orang asing seperti dirinya yang baru ia kenal.
"Aku baru mengalaminya kemarin." Ia kembali meneguk minumannya sampai isinya habis. "Tambah lagi, Mas." Ia menyodorkan gelas kosong miliknya agar diganti lagi dengan minuman yang baru.
__ADS_1
"Apa kamu bisa bayangkan rasanya melihat pasanganmu sedang main di ranjang dengan wanita lain di apartemen milik sendiri? Sudah ketahuan begitu bukannya dia minta maaf malah balik menyalahkan. Katanya dia butuh seperti itu karena aku tidak mau memenuhi keinginannya. Bukankah dia hanya mencari alasan untuk membenarkan kelakuannya?" Wanita itu tertawa, namun tawanya bukan tawa bahagia melainkan tawa yang mengandung kesedihan.
"Kenapa tidak menikah sekalian saja padahal sudah tinggal satu rumah?"
"Dia baru saja di-PHK. Uangnya juga habis karena investasi yang dijalaninya mengalami kerugian. Jadi, aku menampungnya sementara di apartemenku."
"Hahaha ... kamu memelihara lelaki pengangguran?" Obrolan yang berlangsung di antara mereka mengalir begitu saja seperti air. Meskipun baru mengenal, rasa canggung di antara mereka sama sekali tidak terlihat.
"Ya. Itulah kebodohan terbesarku."
"Beruntung sekali dia mendapatkan pacar sebaik dirimu."
"Dia yang untung, aku yang rugi. Baru saja tadi pagi aku diusir oleh pihak apartemen. Katanya, aku telah mengganggu kenyamanan pemilik sah apartemen itu. Rasanya mau gila kalau mengingat kejadian tadi pagi. Ternyata, pacarku ... ah, mantan pacarku, diam-diam sudah mengubah surat kepemilikan apartemen atas nama dirinya. Jadi, selain diselingkuhi, ternyata aku juga sudah dirampok olehnya. Hahaha ...." wanita itu kembali meminum minumannya. Setiap kali mengingat hal itu, rasanya ia kembali gila. Bisa bercerita dengan orang asing secara bebas membuat beban di hatinya sedikit menghilang.
Rei semakin menaruh perhatian atas cerita yang didengarnya. Wanita itu bisa menyampaikan cerita dengan cara yang baik, membuat orang bisa bersimpati kepadanya. Padahal suasana hatinya tidak terlalu baik, tapi dia masih bisa tertawa-tawa.
Biasanya Rei tidak terlalu tertarik dengan lawan jenis. Entah mengapa malam itu rasanya jadi berbeda. Sikapnya yang berani serta penampilan yang menarik bagi kaum lelaki, membuat Rei terlena. Ia bahkan lupa bahwa hari ini dirinya baru saja patah hati. Dia menjadi sangat penasaran dengan cerita wanita yang ada di sebelahnya, terutama dengan rencana yang dia katakan.
"Jadi, apa rencana yang diawal kamu sebutkan?"
Wanita itu kembali menatap ke arah Rei. Ia hampir saja lupa dengan tujuannya mendatangi Rei, lelaki yang paling bersinar di klab itu. Ia ingin berbicara, namun sepertinya ia agak ragu untuk mengatakannya. Ia menunduk, merasa malu dengan apa yang ada di pikirannya sekarang.
Mengingat kembali kejadian yang telah menimpanya, rasa kecewanya terhadap hubungan yang telah lama terjalin dengan kekasihnya, membuat ia bertekad kuat untuk melewati batasan dalam dirinya. "Sebenarnya, rencanaku adalah ... tidur dengan lelaki tampan malam ini," ucapnya blak-blakan."
Rei tertegun, menatap penuh tanya ke arah wanita yang ada di hadapannya. "Maksudnya?"
__ADS_1
"Kamu tampan. Apa kamu mau tidur denganku malam ini?"
Rei semakin tercengang dengan sikap terus terang wanita itu. Bisa-bisanya ada wanita yang secara terbuka mengajaknya tidur. "Apa kamu mabuk hanya karena moctail?"
"Tidak. Seperti yang kamu bilang, minuman ini tidak bisa membuatku mabuk. Aku masih sangat warah untuk mengatakannya. Aku mau tidur denganmu malam ini."
"Agamamu apa?"
Wanita itu membelalakkan mata mendengar pertanyaan tentang agama. Ia tertawa karena menganggapnya lucu. "Rasanya tidak tepat menanyakan agama di tempat seperti ini. Agamaku islam, memangnya kenapa? Mau menghujatku karena masuk ke tempat ini?"
"Tidak. Syarat untuk tidur denganku mudah tapi agak berat."
"Hah! Jual mahal sekali. Oke, mari kita dengarkan apa syarat yang diinginkan untuk bisa tidur dengan lelaki tampan sepertimu?"
"Menikah." jawab Rei singkat.
Wanita itu tercengang, "Menikah?" syarat yang menurutnya sangat mengherankan.
"Aku bukan tipe yang menyukai hubungan se*ks di luar nikah."
"Hahaha ... rasanya lucu sekali mendengar itu dari orang yang suka datang ke klab."
"Mau percaya atau tidak, aku orang yang tidak mengkonsumsi alkohol dan tidak pernah melakukan sek*s bebas."
"Sayang sekali. Padahal setidaknya aku ingin mendapatkan pengalaman bercinta sekali saja dengan orang tampan. Berarti kamu memang tidak bisa membantuku." Wanita itu tampak menghela napas kecewa.
__ADS_1
"Kenapa hanya sekali? Kamu bisa melakukannya berkali-kali setelah menikah."
Wanita itu menggeleng. "Sepertinya aku tidak ada niat untuk menikah dengan siapapun. Mau menjalin kembali hubungan dengan lawan jenis saja sepertinya aku tidak akan sanggup. Aku hanya ingin merasakan sekali saja, bagaimana rasanya berhubungan in*tim dengan seseorang. Apakah itu sangat menyenangkan sampai pacarku tega mengkhianatiku."