
Aku sendiri juga tidak tahu apa aku juga mencintai kamu atau bukan. Karena jujur aja setiap melihat kebersamaan kalian seperti ini, aku juga merasa jika ada sesuatu yang aneh pada diriku ini aku juga tidak tahu apa itu perasaan cemburu atau tidak tapi yang jelas aku berharap kamu bisa secepatnya melepaskan perasaan kamu untukku aku. Karena aku tidak mau dengan adanya perasaan kamu terhadapku, kamu akan jadi terluka karena cinta itu sendiri.
Jam Sekolah yang sudah menunjukkan pukul 16:00 sore, yang artinya jam pelajaran telah usai dan para pelajar dari IPS maupun IPA pun bergegas pergi meninggalkan Sekolah ini. Tapi tidak dengan Putri, setelah jam sekolah telah usai dia pun berniat inggin mencari alamat dari kediaman Nina.
"Untung saja aku sudah gabung pada grup Sekolah, jadi ini akan mempermudah bagiku untuk menemukan alamat rumah Nina, dan disini mengatakan jika alamat Rumah Nina berada di Perumahan Laskar indah blok 7 no 9, dan setelah aku cari kemana-kemana alamat itu tak jauh dari sini. Jadi lebih baik aku tanya langsung sama warga disini.
Dan dalam perjalanannya Putri pun melihat ada beberapa ibu-ibu yang sedang ngobrol didepan rumah, sontak Putri pun tanpa pikir panjang lagi ia langsung menghampirinya.
"Tante..tante..maaf saya mengganggu kalian, saya hanya inggin bertanya apa benar ini adalah Perumahan Laskar indah?"tanya Putri pada beberapa orang itu.
"Iya ini beneran alamatnya neng, ada apa? Apa ada yang perlu saya bantu?"tanya balik ibu itu.
"Ini tante saya sedang mencari alamat rumah teman saya, apa kalian mengerti blok 7 no 9 itu letaknya ada disebelah mana?"
"Oh blok 7 no 9 letaknya tak jauh dari sini neng, neng tinggal jalan lurus aja, terus setelah itu ada perempatan neng belok yang kanan disana neng bisa blok 7 no 9!"
"Baik tante sekali lagi terima kasih, terima kasih!"
"Iya neng sama-sama!"
"Ya sudah kalau gitu saya pamit tante?"
"Baik neng hati-hati."
"Iya Tante."
Setelah mendapat pemberitahuan dari para ibu-ibu tadi, Putri pun mengikuti arahan yang diberikan ibu-ibu tadi. Dan tidak membutuhkan waktu lebih lama, akhirnya Putri pun menemukan rumah yang beralamat sama dengan alamat yang dimiliki Putri saat ini.
"Blok 7 non 9, iya tidak salah lagi ini rumahnya, terima kasih tuhan kamu telah mempermudah langkahku mencari kediaman Nina terima kasih,"ucapnya secara Syukur.
Bertepatan dengan Nina yang pada saat itu keluar dari Rumah yang hendak akan membuang sampah, ia pun dikejutkan dengan suara seseorang yang tiba-tiba memangilnya dari arah belakang, sontak ia pun membalikkan badannya kearah belakang itu.
__ADS_1
"Kamu? Apa yang kamu lakukan disini, dapat darimana kamu alamat rumahku?" tanya Nina dengan tegas.
"Nina aku tahu kamu sekarang sangat marah dan kecewa sama aku, tapi aku mohon tolong maafkan aku..maafkan aku, aku akan lakukan apa aja asal kamu mau memaafkan aku, aku mohon!"
"Baiklah jika hanya itu yang ingin kamu katakan. Aku minta kamu cepat pergi dari sini, karena aku gak mau melihat wajah kamu disini pergilah!"balas Nina yang memutuskan akan masuk, tapi Putri dengan sigap langsung menghalanginya.
"Gak aku gak akan pergi dari sini, sebelum kamu memaafkan aku. Bahkan sampai malam pun aku gak akan pergi ninggalin tempat ini, karena aku mau dengar kata dari kamu yang mengatakan aku sudah memaafkan kamu, jadi percuma jika kamu menyuruhku pergi karena itu gak akan pernah terjadi!"
"Baiklah jika itu memang keputusan kamu, aku tidak akan perduli? Lagian sebentar lagi kan akan turun hujan,pastinya tanpa aku suruh lo untuk pergi, kamu juga pasti akan pergi dengan sendirinya,"tegas Nina yang kemudian dia pun pergi meninggalkan Putri tanpa dipastikan.
"Apa dia akan senekat itu? Apa dia sungguh-sungguh tidak mau pergi?"batin Nina yang mulai agak cemas.
"Apapun yang pernah aku ucapkan, aku tidak pernah mengingkarinya, sama halnya dengan perkataan yang barusan aku katakan tadi sebelum kamu memaafkan ku, aku tidak akan pernah pergi ninggalin tempat ini, tidak akan pernah!"
Langit yang tadinya cerah kini seketika menjadi menghitam, lantaran langit yang terlihat mendung dan hujan pun siap untuk membasahi alam semesta ini, rintik-rintik hujan pun mulai berjatuhan dan tidak membutuhkan waktu lebih lama, akhirnya air yang tadinya hanya setetes-tetes yang turun kini pun berubah menjadi 1000 lebih tetes dalam hanya waktu beberapa menit saja.
Putri yang sudah mengetahui jika dirinya sedang dikepung oleh hujan, tak terhalang niatnya untuk pergi meninggalkan tempat ini dan berteduh ditempat yang aman dan terhindari dari hujan, bahkan dia juga gak perduli apa yang terjadi dengan dirinya jika dia terus menerus memutuskan untuk hujan-hujanan seperti ini.
"Putri apa yang kamu lakukan disini, kamu gak lihat sekarang lagi hujan deras bisa-bisa lo akan sakit kalau hujan-hujanan seperti ini ?"
Ajak seseorang itu yang tak lain adalah Gibran, sama halnya dengan apa yang dilakukan Putri saat ini. Gibran juga hujan-hujanan tanpa memperdulikan dirinya sendiri.
"Kamu? Apa yang kamu lakukan disini. Kenapa kamu ikut hujan-hujanan seperti ini?" tanya Putri.
"Jika kamu inggin mendengar dari jawabanku ini, kenapa kamu juga hujan-hujanan seperti ini. Ayo kita pergi sekarang!"ajak Gibran dengan menarik tangan Putri.
"Gak! Aku gak mau. Aku akan pergi kalau Nina mau keluar dan mau memaafkan ku! Jadi, jika kamu mau pergi pergilah! Karena aku masih mau disini,"tolak Putri.
"Putri gue tahu kalau lo sekarang lagi kedinginan, bahkan lo juga sampai gemetaran seperti ini, apa lo pikir dengan keputusan lo yang hujan-hujanan kaya gini, Nina akan keluar dan memaafkan kamu? Tidak! Itu tidak akan pernah terjadi, jadi cepat ayo kita pergi dari sini, jangan paksa aku untuk pake cara paksa ke kamu!"tegas Gibran.
"Terserah kalau kamu mau mengatakan apa. Karena yang terpenting aku akan tetap disini, menunggu Nina sampai keluar dan mau memaafkan ku?"
__ADS_1
"Dasar kamu itu keras kepala banget sih, baiklah jika ini yang lo mau, jangan salahkan aku kalau aku akan pake cara kasar sekarang!"tegas Gibran lagi.
"Maksud kamu apa?"tanya Putri dengan bingung.
Tanpa menunggu lagi, Gibran pun seketika langsung merangkul tubuh Putri dari belakang. Dan bergegas membawanya pergi dan memasukkannya kedalam mobil, tidak inggin jika Putri akan kabur Gibran pun lantas masuk lewat pintu mobil yang sama.
"Gibran apa yang kamu lakukan, turunin aku...turunin aku? Kenapa kamu mengunciku didalam mobil kamu ini, turunin aku sekarang?" teriak Putri tapi Gibran sama sekali gak menggubrisnya.
"Terserah lo mau berkata apa? Karena yang jelas aku gak akan pernah nurunin kamu!" tegas Gibran.
"Kenapa kamu keras kepala banget sih?"
"Bukan aku yang keras kepala, tapi lo juga keras kepala, jadi jangan salahkan aku kalau aku pake cara paksa seperti ini?"
"Dasar menyebalkan!"gumam Putri yang langsung mengalihkan pandangannya dari Gibran lantaran masih terlihat kesal.
Baru aja Gibran melajukan laju mobilnya, tiba-tiba Gibran menghentikannya.
"Kamu? Kamu kenapa berhenti?"tanya Putri.
"Mana tangan lo? Lo itu sedang kedinginan jadi lo butuh penghangat, pake ini-ini akan membuat tubuh kamu lebih hangat?"
Tawar Gibran yang memakaikan sebuah jaket untuk dia pakaikan ke Putri.
"Terus kamu? Kamu sendiri kan juga kedinginan? Jadi aku gak mau kamu juga butuh jaket ini?"balas Putri yang melepaskannya kembali.
"Gue tuh laki-laki, jadi untuk masalah kedinginan seperti ini aku bisa tahan lagi. Jadi sudah lo jangan pernah membantah lagi apa kamu mengerti!"
"Baiklah aku mengerti!"
Seketika pandangan mereka pun tidak bisa teralihkan satu sama lain. Setelah tak sengaja mereka sama -sama bertatapan, bahkan mata mereka tidak terlihat untuk menyempatkan diri mengedipkan matanya sesekali pun.
__ADS_1
BERSAMBUNG