
21+
Ruby mengintip suaminya dari balik pintu ruang kerja. Lelaki itu tampak serius menatap layar monitor yang ada di hadapannya. Hari ini juga masih sama, Melvin melakukan meeting secara daring dengan karyawannya. Tumpukkan berkas-berkas menggunung di meja.
Semenjak peristiwa waktu itu, Melvin memutuskan untuk bekerja dari rumah. Ia tak lagi mau lalai membiarkan istrinya sendirian. Alben memang sudah mati, tapi manusia seperti dia mungkin akan muncul kembali. Apalagi kondisi kehamilan Ruby yang semakin membesar, membuatnya menjadi suami siaga. Ia akan menjaga istri dan calon anaknya sampai mereka terlahir ke dunia.
"Tuan Gio meminta pertemuan dalam minggu ini, Pak. Beliau tidak mau melakukan kesepakatan secara virtual. Anda diminta menemuinya secara langsung di perusahaannya." Terdengar suara Tomi dari arah layar monitor.
"Kamu saja yang datang mewakiliku. Bawa serta Pak Edgar bersamamu."
"Beliau hanya ingin bertemu dengan Anda, Pak. Tidak mau diwakili oleh pihak lain. Jika Anda tidak bersedia, Tuan Gio ingin membatalkan kerjasama."
Melvin berpikir sejenak. Ia masih berat untuk kembali ke kantor dan meninggalkan Ruby sendirian di rumah. Memang, pelayan dan penjaga ada di mana-mana. Ayah mertuanya juga lebih banyak di rumah setelah Ruby kembali ke sana. Akan tetapi, ia merasa lebih lega jika bisa menjaganya sendiri.
"Kalau begitu, jadwalkan pertemuannya akhir pekan ini. Akan aku usahakan untuk bisa menghadirinya."
"Baik, Pak. Akan saya laksanakan."
"Pak Melvin, produk yang diluncurkan bulan lalu masih memiliki jumlah peminat yang besar. Apakah promo yang kemarin perlu kita perpanjang?" Dewi dari bagian pemasaran mendapat giliran berbicara.
"Produk yang mana?" Saking banyaknya produk yang diciptakan oleh perusahaan, Melvin sampai tidak tahu produk mana yang dimaksud.
"Promosi mie instan dalam gelas yang berhadiah foto idol boygroup OXY yang ganteng-ganteng itu, Pak ...."
"Memangnya ada idol yang ganteng, ya? Aku pikir yang paling ganteng hanya Melvin Andrea Adinata," ucap Melvin narsis.
Sontak leluconnya membuat peserta rapat yang lain tertawa terbahak-bahak.
"Bapak jago melawak juga, ya ... cocok kalau jadi anggota dewan," celetuk Imel.
"Hati-hati, Pak ... Bu Dewi itu salah satu Oxygenius, penggemar berat 9 bujang anggota boygroup OXY. Nanti Bapak bisa dipukul dengan lighstick mereka yang bentuknya seperti kepala ayam." Ryan ikut menyahut.
"Kepala Elang, Ryan. Hati-hati salah bicara kamu yang lebih dulu aku habisi." Dewi memberikan tatapan tajam ke arah Ryan, membuat lelaki itu langsung ciut nyalinya.
__ADS_1
"Diajak pindah ke planet OXY baru tahu rasa kamu, Ryan!" ucap Imel.
Melvin hanya tersenyum-senyum melihat mereka heboh sendiri membahas hal yang sudah di luar topik rapat mereka. Ia tidak marah, justru hal itu terkadang menjadi hiburan tersendiri baginya. Karyawan di perusahaannya cukup menghibur. Meskipun terlihat tidak serius, tapi hasil pekerjaan mereka selalu memuaskan.
"Ah, maaf ya, Pak ... kami jadi keasyikan bicara sendiri." Akhirnya Dewi sadar terlebih dahulu. Seharusnya ia memaparkan permasalahannya, bukan membahas tentang bintang iklan yang membantu promosi produk mereka.
"Tidak apa-apa, Dewi. Santai saja. Silakan lanjutkan."
"Jadi, bagaimana pendapat Bapak? Apakah promo berhadiah foto idol akan diperpanjang dan kita tunda peluncuran produk baru? Mengingat peminat produk tersebut sangat banyak.
"Itu tidak perlu. Lakukan saja sesuai dengan rencana awal. Jika memang masa promosi sudah habis, hentikan saja dan fokus dengan peluncuran produk baru. Mengenai bonus foto idol yang diminati, memang lebih baik jika jumlahnya terbatas supaya yang pernah mendapatkannya merasa spesial. Kalau terlalu banyak yang dapat, namanya pasaran, tidak spesial lagi."
"Benar juga pendapat Pak Melvin. Kalau begitu, kami akan fokus dengan produk baru nanti. Kami juga akan berkoordinasi dengan bagian produksi."
"Terus semangat bekerja meskipun aku hanya memantau kalian dari rumah dan juga melalui Tomi."
"Tentu, Pak. Salam untuk Ibu Ruby, ya!" Suara Ryan terdengar paling keras. Ruby yang masih mengintip dari arah pintu ikut senyum-senyum.
Setelah melalui perbincangan santai, mereka kembali membahas bahan rapat yang lebih serius. Giliran Melvin menjadi pendengar pemaparan laporan dari karyawannya. Memantau pekerjaan lebih menguras pikiran dibandingkan dengan menanganinya secara langsung di perusahaan. Seringkali terjadi salah persepsi karena hanya membaca data yang dikirim ke emailnya.
Tomi orang yang paling berat tanggung jawabnya selama Melvin tak masuk kantor. Rei juga baru sembuh dari sakit dan kakinya belum sepenuhnya sembuh. Iparnya itu juga sudah terlalu sibuk mengurusi perusahaan karena ayah mertua akan melanjutkan masa pensiun dari pekerjaannya. Setidaknya ada Edgar yang meringankan beban Rei mengurusi beberapa perusahaan sekaligus.
"Ah!" teriak Melvin kaget ketika sedang serius mendengarkan pemaparan Tomi. Peserta rapat sampai terdiam dan bertanya-tanya tentang apa yang terjadi pada bos mereka.
"Ada apa, Pak?" tanya mereka kompak.
Melvin mencoba menenangkan diri. Ada yang sengaja mere*mas miliknya dari arah bawah meja. Jantung Melvin rasanya mau copot saking kagetnya. Ia rendahkan kepala untuk melihat apa yang ada di bawah sana. Betapa kagetnya ketika mendapati Ruby ada di bawah sana sedang tertawa-tawa menatapnya. Ia tidak menyangka istrinya sejahil itu. Melvin hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia kembali duduk dan menghadap anak buahnya yang khawatir karena Melvin berteriak.
"Kenapa, Pak?"
Melvin tersenyum mendengar pertanyaan karyawannya. "Tidak apa-apa, hanya ada kecoa lewat di bawah meja. Silakan lanjutkan laporannya."
Melvin kembali fokus memperhatikan data yang disajikan dari layar laptopnya. Sementara, di bawah sana ada yang semakin jahil mengganggu konsentrasinya. Ia benar-benar tidak habis pikir Ruby jadi nakal bahkan saat ia sedang berusaha fokus dengan pekerjaannya. Sepanjang jalannya rapat, wajahnya memerah karena ulah istrinya sendiri. Lama kelamaan ia tak tahan juga.
__ADS_1
Melvin melongok ke arah kolong meja. "Sayang, keluar dari sana. Kamu nakal sekali," pintanya.
Ruby tertawa kecil setelah berhasil melepaskan celana yang dikenakan suaminya.
"Sini, naik ... anak nakal harus dihukum."
Melvin mengulurkan tangannya dan disambut oleh Ruby. Perlahan wanita hamil itu keluar dari bawah meja lalu duduk di pangkuan suaminya. Tangannya terulur dikalungkan ke leher sementara tangan Melvin menahan bagian pinggangnya agar tidak terjatuh. Keduanya saling memagut bibir dengan perlahan. Pelukan mereka semakin erat dan ciumannya semakin mendalam.
"Sayang, aku masih sibuk."
Ruby tersenyum. "Tidak apa-apa, kan ... yang penting kamera dan microfon sudah kamu off-kan."
Melvin langsung membeku. Sepertinya ada hal yang ia lupa. Ruby ikut-ikutan mematung. Keduanya saling berpandangan. Saat mereka menoleh ke arah layar monitor, ternyata Melvin belum sempat mematikan kamera dan microfon aplikasi meeting-nya. Tampak para karyawan yang mengikuti meeting sedang fokus melihat ke arah mereka.
"Lanjutkan, Pak ...."
"Cie ... Ibu Ruby on cam ...."
"Live streaming ...."
"Anggap kami tidak ada, Pak."
Melvin dan Ruby digoda habis-habisan oleh para karyawan. Ruby hanya bisa menyembunyikan wajah di dada suaminya. Sementara, Melvin dengan santai masih bersikap santai sembari memelul istrinya.
"Tomi, tolong ambil alih pimpinan rapat. Ada urusan penting yang harus aku lakukan," ucapnya.
"Baik, Pak."
"Urusan di kamar, ya?" ledek Ryan.
"Cie ... cie ...."
Melvin hanya tertawa digoda oleh karyawannya. Ia segera menutup aplikasi meeting miliknya.
__ADS_1