
Tuhan kadang aku ingin sekali mengeluh kenapa hamba sesulit ini untuk melupakannya? Sudah lima tahun berjalan dengan cepatnya, bahkan hamba mau pun seseorang itu sudah jauhlah berbeda tidaklah seperti dulu tapi kenapa sampai saat ini hamba sangat sulit untuk melupakannya kenapa?"
Tetesan demi tetesan air mata terlihat mulai membahasi kedua matanya, sesekali ia mengusap air matanya, berusaha apa dia ingin menghentikan air matanya itu tapi kenapa air matanya sangat sulit untuk dihentikan kenapa?"
Belum juga Putri mampu menghentikan air matanya yang terus saja menetes tanpa henti, seseorang tiba-tiba langsung datang dan membuka kenop pintu dimana Putri berada didalam sana.
"Nina? Apa yang kamu lakukan kenapa kamu disini?"tanya Putri dengan ekpresi sedikit terkejutnya.
"Katakan padaku apa maksud kamu menerima cinta sekaligus lamaran Bimo? Apa maksud kamu mengatakan kata-kata manis seperti tadi kenapa? Dan apa alasannya?"tanya Nina yang tak henti-hentinya memberikan tatapan tajam pada Nina.
"Sudahlah Nin aku tidak mau membahas masalah ini jangan tanya lagi!"
"Apa kamu mencintainya?"tanya Nina yang masih tak mau mengalihkan pembicaraan awalnya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Aku tanya apa kamu mencintainya?"timpal Nina dengan tegas.
"Iya aku mencintainya, dia laki-laki tampan dan pastinya dia sudah sangat sempurna untuk bisa membahagiakan-ku. Dan ini juga sudah jadi keputusan-ku jadi aku cukup lega menerima cintanya?"
__ADS_1
"Kamu menerimanya bukan karena kamu ada perasaan atau pun cinta padanya? Tapi kamu menerimanya karena kamu hanya kasihan sekaligus kamu hanya mencoba memberikan bukti pada Gibran kalau kamu berhasil melupakannya kan? Itu maksud kenapa kamu mau menerima cintanya Bimo?"
"Sudahlah Nin ini sudah jadi keputusan-ku aku juga cukup bahagia menerima cinta Bimo tidak ada paksaan atau pun ancaman agar aku bisa menerimanya jadi tolong! Tolong jangan ikut campur sama urusanku aku mohon!"
"Ikut campur? Apa selama kita bersahabat lebih lebih 5 tahun kamu anggap aku ikut campur akan urusan kamu? Bukankah selama ini bahkan lebih dari 5 tahun kamu selalu ikut campur akan urusanku? Memberikan nasehat padaku termasuk menjadi teman curhatku demi kebahagiaan yang akan aku dapat nanti. Dan sekarang giliran temanku memilih jangan yang salah apa kamu tidak mengijinkan-ku untuk ikut campur sama utusan kamu?"
"Nin bukan seperti itu? Aku harap kamu mau mengerti sama perasaan-ku saat ini bukan ini yang aku mau bukan seperti ini?"
"Baiklah kalau ini sudah jadi keputusan kamu aku bisa apa aku pergi dulu! Aku akan pergi jika kamu sudah tidak perlu dan tidak butuh akan nasehat dari sahabat kamu permisi!"
Langkahnya seketika menjauh dari Putri, tanpa memperdulikan penjelasan yang ingin Putri jelaskan nyatanya tak membuat Nina untuk memberikan kesempatan untuknya.
"Sudahlah Put biar aku yang ngomong sama Nina, kamu jangan cemas dia hanya sedikit terbebani akan masalah ini kamu tenanglah!"ucap Revan sembari menepuk pundak Putri.
"Aku mohon kamu suaminya jadi kamu pasti bisa memberikan penjelasan padanya agar dia tidak membenciku aku mohon!"
"Kamu yang tenang dan jangan cemas aku akan memberikan dia penjelasan. Dan akan aku pastikan dia akan bisa lebih tenang setelah aku menjelaskan nanti tenanglah!"
"Baiklah,"balas Putri dengan mengusap air matanya dan pandangannya yang melihat punggung Revan yang terlihat berlari mengejar Nina.
__ADS_1
"Putri kamu kenapa? Apa kamu baru aja menangis?"tanya Bimo ketika sampai Putri dihadapannya.
"Tidak! Aku tidak papa kok aku hanya kelilipan tadi,"balas Putri.
"Putri aku tau kamu seperti apa? Kamu tidak akan mengaku jujur kalau kamu baru aja menangis jadi katakan ada apa? Dimana Revan dan juga Nina?"tanya Bimo balik.
"Mereka tadi sedikit ada masalah jadi mungkin mereka tidak akan bisa bergabung pada makan malam hari ini,"balas Putri.
"Apa bertengkarnya mereka ada hubungannya sama kita? Maksudnya apa Nina marah karena melihat Suaminya ...?"
"Sudahlah jangan bahas soal itu, aku tau tidaklah mudah bagi Nina untuk menerima semuanya tapi aku yakin dia akan kembali seperti semula jadi tenang-lah!"timpal Gibran.
"Apa kamu yakin?"tanya Bimo pada Gibran.
"Iya aku yakin,"balas Gibran dengan lirikannya yang sesekali melihat Putri.
"Sulit untuk berkata jujur dan mengatakan Perkataan jujur jika aku memang sangat mencintainya? Ingin sekali aku menolaknya tapi entah kenapa aku tidak bisa melakukannya jadi ini sudah jadi jalan akan pilihanku jadi aku sudah terima akan resikonya nanti?"batin Putri.
BERSAMBUNG.
__ADS_1