PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
KEKONYOLAN GITA


__ADS_3

Melvin melompat turun dari mobil polisi yang membawanya. Ia ingin segera melihat kondisi istrinya. Melihat Ruby datang sendiri menghadapi Alben sudah membuat jantungnya serasa mau berhenti berdetak. Seharusnya ia tidak perlu datang untuk dirinya. Ruby harus fokus menjaga kesehatan dirinya dan calon anak kembar mereka.


Mendengar Ruby terkena tusukkan semakin membuatnya khawatir. Ingin rasanya ia menjerit keras meluapkan kekesalannya pada Alben. Sayangnya, lelaki bejat itu lebih dulu mati oleh tembakan polisi sebelum ia membunuh dengan tangannya sendiri. Lelaki bangsat seperti dia memang sangat pantas untuk mati. Gara-gara dia, kehidupan dirinya dan Ruby menjadi sulit sejak dulu.


Sesampainya di ruang IGD, ia bertemu dengan Ardi yang berjaga di depan pintu bersama istrinya. Ardi memberhentikan Melvin yang hendak menerobos masuk. Keduanya saling bersitegang.


“Aku mau masuk!” bentak Melvin emosi. Ia menganggap Ardi menghalang-halangi untuk menemui istrinya sendiri.


“Dokter sedang menanganinya, kamu tidak boleh mengganggu. Lebih baik kamu tunggu saja dan obati lukamu!” Ardi tetap berusaha menahan


Melvin agar tidak mengganggu proses pertolongan yang diberikan dokter kepada Ruby.


Kemarahan Melvin kian mereda. Ia mengalah. Demi kelancaran pekerjaan tim medis, ia menenangkan dirinya sendiri.


“Suster, tolong bantu tangani luka orang ini.” Ardi meminta bantuan kepada seorang perawat yang tampaknya tidak sedang sibuk.


“Oh, mari ikut saya, Pak!”


Melvin mengikuti saja kemana arah perawat itu membawanya. Ia disuruh duduk di dekat bilik sudut ruang IGD yang terdapat peralatan P3K. Hal pertama yang perawat itu lakukan adalah membersihkan sisa-sisa darah yang masih mengucur di lehernya. Karena lukanya cukup dalam, perawat itu memberikan tiga jahitan agar luka menganga bisa tertutup.


Melvin menahan rasa sakit ketika jarum menusuk kulit lehernya. Meskipun sudah diberi obat penghilang rasa sakit, tetap saja ia merasakan sakit. Perasaannya menjadi lega setelah perawat menempelkan perban pada lukanya agar tidak mengalami iritasi.


“Terima kasih, suster,” ucapnya setelah proses pengobatan selesai.


Melvin kembali menghampiri Ardi dan Elen. Mereka masih menunggu dokter selesai menangani Ruby. Mereka bertiga berharap Ruby akan baik-baik saja.


“Aku sangat kaget saat Ruby menghubungiku dan mengatakan dia berurusan dengan Alben. Aku sudah mengingatkannya agar tidak gegabah tapi dia malah nekad pergi sendiri.”

__ADS_1


“Dia memang selalu keras kepala.” Melvin hanya bisa menghela napas.


“Dia menyuruhku menghubungi polisi. Aku sudah punya firasat kalau masalah kalian sangat serius. Untung saja Alben akhirnya sudah mati.”


Melvin mengepalkan tangannya. “Seharusnya dia aku buat cacat seumur hidup supaya penderitaannya lebih lama sampai dia menginginkan kematiannya sendiri.”


“Rei sudah menghubungiku. Katanya dia perlu mengumpulkan korban-korban yang mau buka suara untuk menyerang Alben. Aku sudah mengumpulkan tiga orang saksi. Apa yang harus aku lakukan dengan mereka?”


Melvin baru tahu jika Rei ternyata juga telah mendiskusikan hal ini dengan Ardi. “Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Aku rasa, saat mereka tahu Alben sudah mati, otomatis mereka akan buka suara sendiri.”


“Aku juga berpikir seperti itu. Selama ini mereka takut karena Alben memang seorang psikopat. Entah bagaimana ceritanya dia sampai bisa menargetkan Ruby.”


“Aku juga tidak tahu. Hukuman pengasingan ke luar negeri tak membuatnya kapok untuk berhenti mengganggu Ruby.”


Elen hanya diam menjadi pendengar yang baik. Percakapan kedua lelaki yang ada di dekatnya membuat Elen terbuka hatinya. Tidak seharusnya ia merasa cemburu kepada Ruby, ia harus percaya kepada suaminya. Siapapun pasti akan panik ketika menghadapi situasi seperti itu, apalagi Ardi sudah lebih lama mengenal Ruby.


Ruby telah menikah dengan lelaki yang dicintainya. Ruby tidak mencintai Ardi. Sekalipun mungkin Ardi masih menyimpan rasa pada Ruby, sudah tugasnya untuk mengalihkan perhatian Ardi pada dirinya, bukannya dengan menyalahkan orang lain. Sekarang, ia adalah istri Ardi, waktunya lebih banyak untuk membuat lelaki itu bisa jatuh cinta kepadanya.


“Apa yang menimpa Rei dan Om Wijaya juga karena ulah Alben juga?” tanya Ardi.


“Menurut pengakuannya seperti itu.”


“Dia benar-benar psikopat!” pekik Ardi. “ Mengerikan sekali berurusan dengan orang seperti dia.”


“Ya, Alben tahu secara detil tentang Ruby. Dia sengaja melukai Rei dan Papa supaya kehilangan sandaran untuk meminta pertolongan. Dia juga sengaja menyekapku supaya Ruby mau menurutinya. Dia tahu, jika kami bertiga lemah, Ruby pasti akan mengalah. Untunglah istriku masih bisa menggunakan pikiran jernih untuk meminta bantuan kepadamu. Terima kasih, Ar.” Melvin sangat bersyukur Ardi segera datang memberi pertolongan.


“Untuk apa berterima kasih segala? Kita sudah berteman sangat lama sampai sudah seperti saudara.”

__ADS_1


“Mas, wanita yang tadi membantu mengendarai mobil kita kenapa belum kembali juga, ya?” tanya Elen sembari melihat-lihat ke sekeliling.


“Dia bilang mau ke kantin, badannya gemetar terus, katanya kemungkinan dia kelaparan.”


Melvin mengerutkan dahi. “Selain kalian ada lagi yang menolong Ruby?” tanya Melvin penasaran.


“Ada. Sepertinya dia teman Ruby. Tadi dia menangis histeris melihat Ruby terluka. Karena aku sudah repot memapah Ruby, dia yang berinisiatif mengemudikan mobil. Elen juga masih belum terlalu lancar membawa mobil.”


“Siapa, ya?” Melvin sangat penasaran. Seingatnya Ruby tak memiliki teman dekat karena waktunya lebih banyak dihabiskan bersama dirinya.


“Namanya Gita,” sahut Elen.


“Oh, Gita ....” Melvin mangguk-mangguk mendengar nama itu. Meskipun kedengarannya aneh Gita bisa ada di sana, tapi dia tetap bersyukur ada banyak orang yang berusaha membantu mereka.


“Kamu kenal Gita?” tanya Ardi.


“Dia salah satu karyawan di perusahaan Rei. Sepertinya wanita itu sedang dekat dengan Rei.”


“Ah ....” Ardi agak terkejut mendengar Rei sudah mulai bisa dekat lagi dengan wanita setelah putus dengan Livy.


“Maaf ya, tadi aku buru-buru tinggal ke kantin.” Wanita yang sedang mereka bicarakan akhirnya muncul sembari tersenyum-senyum.


Gita tidak menyangka, setelah mengalami sakit perut hebat, isi perutnya terkuras, ia merasa kelaparan di tengah situasi panik menolong Ruby. Akhirnya, setelah sampai di rumah sakit, ia langsung berlari ke arah kantin untuk makan. Satu bungkus nasi padang cukup mengembalikan energinya yang telah terkuras habis untuk mengikuti Ruby, berakting, dan menjadi pembalap dadakan.


“Pak Melvin juga sudah datang, ya? Apa Anda baik-baik saja?” tanya Gita


“Iya, saya baik-baik saja,” ucap Melvin. “Terima kasih, ya, kamu sudah ikut membantu Ruby.”

__ADS_1


Gita senyum-senyum salah tingkah. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Sebenarnya itu juga tidak sengaja, Pak. Waktu saya sedang di toilet, saya mendengar Ruby sedang bertelepon dengan seseorang. Karena mencurigakan, saya mengikuti Ruby sampai ke apartemen orang yang bernama Alben itu. Tidak saya duga ternyata dia memang orang gila.”


__ADS_2