
Hari ini memang bukan hari pertama dimana aku menginjak kan kakiku di SMA Cenderawasih ini, tapi bagiku hari ini adalah hari pertama, langkah pertama karena aku tidak lagi berpura-pura menjadi seorang gadis miskin dan cupu yang hanya akan diam ketika ditindas sama seseorang.
Tapi hari ini adalah hari pertama dimana aku menginjakkan kakiku dengan penampilanku yang sesungguhnya, Putri yang kuat akan tahan godaan dan hinaan, inilah aku yang sebenarnya.
Perlahan-lahan aku pun menginjakkan kakiku untuk memasuki halaman Sekolah ini, halaman yang sangat luas dengan pandangan yang indah. Akan tetapi pandanganku seketika teralihkan oleh sesuatu yang menurutku begitu sangat menyebalkan.
Yaitu orang-orang yang pada memperhatikanku dengan tatapan sangat serius yang mereka perlihatkan padaku, aku hanya manusia biasa, aku juga bukanlah seorang bintang yang pantas untuk diperhatikan sampai segitunya.Tapi kenapa mereka memperhatikanku sampai seperti itu. Dan itulah yang membuatku agak sedikit terheran terhadap mereka.
Tapi kemudian aku sadar mereka memperhatikanku dengan tatapan serius itu, bukan karena mereka benci ataupun iri kepadaku tapi mereka melakukan semua itu, karena mereka semua terkejut dengan penampilan baruku ini, jika selama ini mereka hanya melihat Putri yang penampilannya sangat cupu dengan kaca matanya yang super tebal, ditambah lagi dengan satu kunciran yang aku lakukan setiap harinya, dan telah membuktikan jika aku adalah wanita yang sangat cupu.
Akan tetapi pemandangan seperti itu kayaknya tidak akan pernah bisa mereka lihat lagi. Dengan penampilanku yang seperti inilah mereka pada memuji-muji ku tanpa henti.
Bisikan, demi bisikan telah mereka lakukan, aku yang mendengarnya pun hanya berpura-pura tidak mendengarnya saja.
"Gila, dia itu Putri si cupu itu kan, astaga dia ternyata cantik banget?"puji salah satu wanita yang memuji-mujinya dihadapan temannya.
"Iya dia memang cantik banget, beruntung banget ya dia sudah jadi anak seorang miliarder, dia juga memiliki wajah yang begitu sangat cantik?"puji teman satunya lagi.
Sedang dalam perjalananku menelusuri anak tangga, tiba-tiba ada seseorang laki-laki muda yang tiba -tiba mendekatiku. Tanpa berkata maupun bilang apa-apa dia langsung menunjukkan sebuah ponsel genggamnya padaku.
"Apa ini maksudnya?"tanya Putri yang begitu terkejut, setelah melihat ada seseorang yang tiba-tiba mengeluarkan sebuah ponsel kepadanya.
"Kamu sangat cantik, bisakah kita kenal lebih dekat, jujur aku mengagumi akan kecantikanmu itu?"balas seorang laki-laki itu sambil menundukkan kepalanya karena merasa sedikit malu.
"Aku!"
Belum juga Putri berkata ataupun menjawab pertanyaan yang dilontarkan pada pria itu, tiba-tiba seseorang pun langsung datang dan merampas ponsel itu dari genggamannya.
Dan seseorang itu yang tak lain adalah Reza, laki-laki yang secara diam-diam juga mencintai Putri.
"Heyy kalau kamu inggin kenal lebih dekat dengannya, maka langkahi aku dulu, aku sudah mencantumkan nomer selulerku pada ponselmu, jadi kalau lo berani lawan aku di lapangan basket nanti!"tantang Reza pada pria itu.
Mendengar tantangan yang dilakukan Reza kepadanya, akhirnya membuat Pria itu tidak bisa berkedip mata, maupun membalas perkataan yang dilontarkan oleh Reza, yang akhirnya dengan pasrah dan perasaan kecewa pria itu pun cabut pergi meninggalkan mereka, tanpa se'ucap kata yang ia keluarkan.
"Yahh dia takut ternyata?"sindir Reza.
"Kamu itu apa-apaan sih, kenapa kamu menantangnya seperti itu?"tegas Putri.
"Kenapa?Apa aku salah, apa kamu senang digodain sama laki-laki seperti itu?"tanya Reza yang akhirnya hanya bisa membuat Putri terdiam tanpa terucap.
"Sudahlah jangan bahas itu lagi, ada masalah penting yang harus kita lakukan, ayo sekarang kamu ikut aku?"ajak Reza sambil menggandeng tangan Putri.
"Tunggu! Kamu mau bawa aku kemana?" tanya Putri.
"Sudah, jangan banyak tanya nanti kamu juga akan tahu, dimana aku akan membawamu,"balas Reza yang kemudian membawa Putri untuk pergi ke suatu tempat.
__ADS_1
Aku bener-bener tidak tahu apa yang ada dipikirannya Reza saat ini, kenapa dia tiba-tiba membawaku ke suatu tempat, yang dimana tempat itu yang tak lain adalah taman yang letaknya tak jauh dari Sekolah mereka. Dan lebih tepatnya lagi taman itu berada disamping Sekolah ini.
"Kamu? Apa yang kamu lakukan, kenapa kamu mengajakku ketaman ini, bukannya sebentar lagi pelajaran akan segera dimulai, kenapa kamu malah membawaku kesini?" tanya Putri yang akhirnya membuat Reza pun mengucapkan sesuatu.
"Sudah jangan banyak tanya, sebentar lagi bakalan ada orang yang inggin berbicara dengan kamu?"balas Putri.
"Orang, siapa?"tanya Putri balik.
"Sudahlah aku harus pergi sekarang, jadi selamat berbicara kalian?"ucap Reza yang kemudian tanpa berkata lagi, ia pun berlari langsung pergi.
"Reza tunggu?"teriak Putri tapi tidak dihiraukan oleh Reza.
Teriakan Putri yang hendak akan mengejar Reza, tiba-tiba langkahnya pun terhenti setelah ada seseorang yang tiba-tiba menarik tangannya dari arah belakangnya, dan memberhentikan langkahnya itu, dan seseorang itu yang tak lain dia adalah .
"Nina?"balas Putri yang begitu terkejut, setelah melihat Nina lah orang yang dimaksud oleh Reza barusan.
"Putri?"balas Nina yang tanpa menunggu lagi, ia pun akhirnya memeluk Putri dengan pelukan sangat erat sembari mengatakan.
"Maafkan aku, maafkan aku. Karena selama ini aku sudah egois dan hanya mementingkan diriku sendiri, maafkan aku!"ucap Nina dengan penuh penyesalan.
"Nina, apa yang kamu lakukan, kenapa kamu malah meminta maaf kepadaku, harusnya aku yang meminta maaf sama kamu. Karena selama ini aku sudah memaafkan kamu, jadi aku yang harusnya meminta maaf?"balas Putri.
"Awalnya aku sempat kecewa sama kamu, tapi setelah aku tahu apa alasan kamu melakukan semua ini. Aku pun sadar, dan sekarang aku sudah memaafkan kamu? Tapi sekarang kamu mau kan memaafkan ku karena keegoisanku itu?"
"Iya, sebelum kamu meminta maaf sama aku, aku sudah terlebih dulu memaafkan kamu? Karena kamu juga tidak ada kesalahan apa-apa sama aku, jadi untuk apa aku harus membencimu. Terima kasih, terima kasih karena kamu sudah mau memaafkan ku, terima kasih!"
"Tunggu, tapi kamu tahu dari mana kalau aku memang ada alasan melakukan semua ini , siapa orang yang sudah menjelaskan semua itu kepadamu, kan aku belum menjelaskan apa-apa sama kamu?"tanya Putri dengan wajah agak bingung.
"Aku?"balas Nina yang bingung mau berkata apa.
"Apa yang harus aku katakan sekarang, Gibran sendiri yang menyuruhku untuk bilang kalau Reza lah orang yang sudah menjelaskan semua itu kepadaku. Apa aku harus berbohong pada Putri sekarang? Apa maksud dari Gibran yang tidak mau mengakui kalau dialah orang yang menjelaskan semua ke-salah pahaman ini?"batin Nina yang tiba-tiba malah melamun. Hingga akhirnya Putri yang melihatnya pun mengejutkannya.
"Heyy, kamu kenapa? Kenapa kamu malah jadi melamun seperti ini?"tanya Putri yang kemudian membuat lamunan Nina pun tersadar.
"Kenapa?"
"Ohh maaf Putri, tadi aku sedang memikirkan sesuatu, kamu sendiri kan tahu kalau tinggal satu minggu lebih kita harus bersiap-siap menghadapi ujian akhir semester. Jadi karena itulah aku banyak pikiran sekarang?" balas Nina yang mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
"Iya sih, bukan hanya kamu aja, aku sendiri juga cemas memikirkan itu. Dan kita berdoa aja semoga ujian kita nanti akan berjalan dengan sangat lancar, dengan nilai yang memuaskan?"
"Aminn...iya, semoga aja kita bisa menjawab semua soal-soal itu ya?"balas Nina.
"Iya semoga aja, tapi setelah nanti kamu lulus, kamu gak akan melupakan persahabatan kita kan? Kamu gak akan melupakan aku kan?" tanya Nina dengan menunjukkan tatapan seriusnya.
"Kamu tenang saja, aku gak bakalan mungkin melupakan kamu. Kamu kan sahabat terbaikku jadi mana mungkin aku akan melupakanmu. Oh iya aku sampai lupa, kamu kan belum jawab pertanyaanku, siapa orang yang sudah memberitahumu?" tanya Putri dengan tatapan agak penasaran.
__ADS_1
"Mmm soal itu, orang yang memberi tahuku dia adalah....Reza, Putri?"balas Nina yang seketika membuat Putri pun terkejut.
"Maafkan aku Putri, maafkan aku, karena aku sudah bohongi kamu, maafkan aku juga Gibran?"batin Nina yang merasa menyesal.
"Reza? Jadi dia orang yang memberitahumu?"tanya Putri yang agak tidak percaya.
"Iya memang dia orangnya?"
"Kenapa harus Reza juga sih yang memberi tahu Nina, tapi kenapa aku kaya tidak percaya ya kalau dia orangnya. Padahal aku sangat berharap kalau Gibran lah orangnya?"batin Putri yang tiba-tiba jadi melamun.
"Hey kamu kenapa? Kok malah jadi melamun?"
"Tidak kok Nin, aku baik-baik saja?"balas Putri.
TINGTONG...TINGTONG..
Suara bel lonceng pun telah berkumandang, yang artinya jam pelajaran sudah siap dilaksanakan. Putri dan Nina yang mendengarnya pun bergegas berlari menuju ke kelas mereka masing-masing.
****
RUANG IPA Xll
" Baik anak-anak untuk memulai mata pelajaran biologi yang jatuh pada hari ini, sebelum itu bapak inggin menyampaikan sesuatu pada kalian semua. Dan kalian juga pasti sudah lihat kan pengumuman yang sudah terpampang di mading sekolah kita haru ini, jika tak sampai dua minggu. Hanya menghitung hari kalian sudah masuk ke semester akhir yang artinya ujian akhir sekolah sudah siap diadakan.
Dan bapak harap kalian belajar lebih giat lagi, dan bisa mengerjakan soal-soal dengan nilai yang sangat memuaskan nanti. Apalagi ini adalah ujian terakhir, ujian dimana nasib kalian akan terlihat nanti. Karena setelah ini kalian sudah tidak akan pernah lagi menempuh pendidikan di SMA ini.
Karena kalian akan menggambil jurusan yang sudah kalian cita-citakan sejak dulu, jadi semangat dan berjuanglah anak-anakku.
Dan untuk kalian. Gibran, Putri, Bapak sangat menyayangkan sama nilai kalian. Terutama kamu Putri, dulu awal kamu masuk ke SMA ini, nilai kamu sangat bagus dan sangat memuaskan, bahkan tidak ada nilai yang jelek sama sekali di penilaianmu, tapi kenapa belakangan ini nilai kamu jadi anjlok, ini bukan kamu jadi bapak harap kamu bisa mengembalikan lagi semangat kamu.
Dan kamu juga Gibran, kamu itu anak kebanggaan pak Anwar. Karena kamu sama sekali tidak pernah mendapatkan nilai yang jelek, rata-rata nilai kamu bagus semua, tapi kenapa kamu juga menggalami hal yang dialami oleh Putri. Kenapa tiba-tiba nilai kamu juga anjlok sama seperti Putri, bersemangat lah dan kembalikan nilai kamu yang sesungguhnya.
Apapun masalah yang kalian hadapi sekarang, tetap fokus dan ingat sama pendidikan kalian, kalian ini masih sangat muda jadi jangan buang kesempatan berharga kalian, dengan melakukan tindakan yang tidak penting.
Saya harap kalian bener-bener memahami nasihat Bapak, kalian anak yang cerdas dan pintar jadi keluarkan semangat kalian, dan berjuanglah.
"Iya pak maaf kalau kita sudah membuat bapak kecewa sama nilai kita yang tiba-tiba anjlok kaya gini. Saja janji saya akan lebih bersemangat lagi. Dan lebih giat lagi belajarnya, jadi maafkan kami?"
"Iya pak, saya ngaku saya kalau. Karena saya mencampurkan urusan pribadi saya, dengan pendidikan saya, saya janji ini yang terakhir dari kelalaian kita. Mulai sekarang kita akan lebih bersemangat, dan lebih rajin lagi belajarnya, maafkan kami?"
"Bapak mengerti. Dan bapak akan pegang omongan kalian ini, jadi tetap bersemangat!"
"Baik Pak!"balas Putri.
"Baik Pak!"balas Gibran.
__ADS_1
BERSAMBUNG.