
"Oh, Anda sedang di sini juga, Pak Harun." sapa Jonathan ketika masuk toilet dan bertemu Pak Harun.
Ia mencuci tangan di sampingnya. "Kenapa wajah Anda kelihatannya muram?" tanyanya lagi. Sebelumnya mereka pernah satu divisi, sehingga Jonathan bisa sudah cukup akrab dengannya.
"Apa yang pernah kamu bilang memang benar, Jo. Karyawan di bagian marketing memang menyusahkan." Harun menghela nafas. Ia mendapatkan cukup banyak kesulitan setelah naik jabatan sebagai manajer, terutama karena GM telah memberinya peringatan sehingga ia harus lebih hati-hati dalam bertindak.
Jonathan menyunggingkan senyum bahagia. Usahanya menghasut lelaki tua itu ternyata berhasil. Dia menceritakan sisi buruk para karyawan yang pernah bekerja di bawah Ruby, sehingga Harun memperlakukan mereka dengan semena-mena.
Terlebih tentang Meka, karyawan yang paling disayang Ruby, maka dia yang paling harus menderita. Ia ceritakan kalau Meka tidak pernah mau lembur karena masuk dengan bantuan Ruby sebagai teman kuliahnya, sehingga posisinya diistimewakan tidak perlu lembur.
"Anda pasti akan sangat terkejut jika saya membeberkan alasan salah satu karyawan tidak mau lembur." Jonathan menyeringai, ia kembali memiliki niatan buruk.
Pengalamannya pernah ditolak oleh Ruby masih membuatnya sakit hati. Jika wanita itu tidak mau menerimanya, maka orang-orang yang ada di dekatnya harus merasa menderita seperti dirinya.
Harun menaruh perhatian lebih pada Jonathan. Ia menyimak ucapan yang akan dikatakan olehnya.
"Katakan saja, Jo! Apa dia memang masuk perusahaan lewat orang dalam?" tanyanya penasaran.
"Kalau masuk lewat orang dalam itu tidak sepenuhnya, hanya saja dia memang dibantu oleh Ibu GM. Tapi ada hal yang lebih penting dari itu yang bahkan pihak perusahaan belum tahu." Jonathan semakin memancing rasa penasaran Harun.
"Cepat katakan, Jo ... kamu membuatku semakin penasaran."
Jonathan kembali menyeringai. Ia mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri foto di dalamnya. Jonathan memperlihatkan salah satu foto yang ada di sana hingga membuat Harun membelalakkan mata.
"Itu adalah foto Meka dengan anaknya," ucap Jonathan.
Harun kembali memperhatikan foto itu dengan cermat, ia juga melihat foto-foto lain yang menampakkan Meka sedang bersama seorang anak laki-laki kecil.
__ADS_1
"Bukannya Meka belum menikah?" tanya Harun.
"Pergaulan anak muda jaman sekarang memang sebagian ada yang melenceng, memiliki anak tanpa menikah. Salah satunya karyawan Anda, Pak." Dalam hati Jonathan begitu bahagia. Setelah ia menceritakan semua itu, Harun pasti akan membuat Meka keluar dari pekerjaannya. Otomatis Ruby akan sedih melihat salah satu teman berartinya dikeluarkan secara tidak hormat.
Jonathan memang orang yang cerdas. Tidak heran jika dia mendapatkan julukan sebagai karyawan teladan. Akan tetapi, kecerdasannya itu kini digunakan untuk hal yang tidak baik, berusaha menyingkirkan orang lain tanpa harus mengotori tangannya sendiri. Ia akan menggunakan Harun sebagai alatnya.
"Sulit dipercaya, wanita yang kelihatannya baik-baik itu ternyata menyembunuikan sebuah aib besar." gumam Harun.
"Mungkin jika Anda mengajaknya tidur, bahkan dia akan menurut. Wanita seperti dia pasti mau menggunakan segala cara untuk mempertahankan kedudukannya." Jonathan semakin menyulut api di pikiran Harun. Dia tahu bahwa Harun juga seseorang yang suka bermain dengan wanita. Apalagi jika wanita itu adalah wanita nakal, maka Harun akan semakin bersemangat untuk mendapatkannya.
Harun mengembalikan ponsel Jonathan. "Aku mau kembali ke ruanganku dulu, Jo!" ucapnya.
"Iya, Pak." Jonathan tersenyum senang melihat usahanya sukses besar. Ia tinggal duduk manis dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Harun berjalan lurus ke arah ruangannya. Semua anak buahnya tampak masih sibuk bekerja, termasuk Meka. Setelah mendengar cerita dari Jonathan, pandangan Harun terhadap Meka langsung berubah.
Awalnya dia menganggap Meka sebagai seorang karyawan yang menyebalkan, tapi kini Meka di matanya menjadi wanita yang cukup menggoda. Meka terlihat cantik dan sek*si dalam balutan busana kerjanya.
"Baik, Pak!" Ryan yang sudah biasa diperintah menjawab santai permintaan tolong bosnya.
"Meka, tolong ikut ke ruangan saya sebentar!" pinta Harun.
Meka menghentikan pekerjaannya sebentar lalu mengikuti Harun ke ruangannya. Ada perasaan aneh dengan atasannya itu, Harun tidak memerintahnya dengan nada marah.
"Tolong kamu pindahkan tumpukan file sampah ini ke gudang. Kamu mau, kan?" Harun berkata dengan nada lembut, tidak seperti biasanya.
"Baik, Pak." meskipun merasa aneh, Meka tetap menjalankan permintaan atasannya.
__ADS_1
Ia membawa dua tumpuk dokumen yang akan dipindahkan ke gudang.
"Meka, biar aku bantu." saat ia hendak keluar pintu, Imel menawarkannya bantuan.
"Imel, tolong kamu cek kembali file untuk rapat yang ada di flashdisk ini!" Harun lebih dulu memberikan pekerjaan kepada Imel.
"Nanti, Pak! Saya mau bantu Meka dulu." tolak Imel.
"Tidak perlu, Imel. Aku bisa membawanya sendiri. Kamu lakukan saja permintaan manajer." bisik Meka. Ia tidak mau mood bosnya itu berubah. Lebih baik ia bersikap lembut daripada mendengarnya marah-marah.
"Ya sudah, maaf aku tidak bisa membantumu." Imel berjalan kembali ke meja kerjanya. Ia menerima flashdisk dari bosnya dan menancapkannya pada perangkst komputer si meja.
Sementara, Meka lanjut membawa dokumen sampah di kedua tangannya menuju gudang yang terletak di ujung gedung dari ruangannya.
Area belakang menjadi tempat yang sepi karena hanya terdapat gudang dan toilet. Gudang di lantai itu cukup bersih dan tertata. Isinya dokumen-dokumen yang sudah tidak terpakai.
Meka menyalakan lampu agar mendapatkan penerangan. Ia harus meletakkan dokumen yang dibawanya ditempat yang ditujukan untuk menyimpan barang-barang dari bagian marketing. Karena, setiap divisi memiliki tempat penyimpanan yabg terpisah di ruangan itu.
Klek!
Ketika Meka masih berada di dalam, ia mendengar suara pintu ditutup. Berarti ada orang lain selain dirinya. Cepat-cepat ia pergi dari sana menuju ke arah pintu keluar.
Ada Pak Harun yang sedang berdiri di depan pintu. Ternyata pintu itu tidak dikunci dari luar melainkan dari dalam. Perasaan Meka sudah sangat tidak enak.
"Kenapa Anda di sini, Pak?" tanyanya. Sebenarnya ia sudah sangat ketakutan, denyut jantungnya berdegup kencang tak beraturan.
"Ada hal yang serius ingin aku bicarakan denganmu." Harun mulai menunjukkan senyuman seringainya. Ia tatap wanita di hadapannya dari atas hingga ke bawah. Wanita yang kata Jonathan telah memiliki seorang anak itu memiliki badan yang bagus. Dia seorang wanita yang nekad memiliki anak tanpa bersuami, target yang sangat mudah untuk ia takhlukkan.
__ADS_1
"Kalau Anda ingin bicara, kita bisa bicara di ruangan Anda. Saya tidak nyaman berbicara berdua di tempat seperti ini." Meka berusaha menolak. Firasatnya sangat tidak baik.
"Ini bukan sesuatu hal yang bisa dibicarakan di ruang kerja, karena ini masalah pribadi."