PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
KEHAMILAN BAYI KEMBAR


__ADS_3

"Sepertinya pemeriksaan saya cukup sampai di sini. Kalau kondisi Pak Melvin semakin membaik, besok sudah bisa pulang," ucap sang dokter menutup sesi pemeriksaannya.


"Terima kasih, Dok,"


"Pak Melvin, tolong sementara puasa dulu, ya! Istri Anda kan sedang hamil muda, kalau masih rutin 3 kali sehari takut kandungannya akan bermasalah."


Ruby langsung melirik ke arah suaminya. Saat ia tinggal, Melvin pasti bercerita yang tidak-tidak kepada dokter sampai diberi nasihat seperti itu.


"Kalau sekali sehari masih boleh ya, Dok?" Melvin tanpa tahu malu masih menanyakan kepada dokter. Perawat yang berdiri di samping dokter terlihat menahan tawanya. Ruby juga malu punya suami asal bicara tanpa melihat situasi.


"Hm, Bu Ruby pasti setiap malam diajak lembur ya sama Pak Melvin. Bagaiman ini, Bu. Sepertinya suami Anda aktif sekali."


Ruby tersenyum canggung menanggapi perkataan sang dokter.


"Naluri alami lelaki, Dok ... masa tidak boleh ...."


"Boleh, tapi kondisi kehamilan Ibu Ruby kali ini sangat spesial karena membawa bayi kembar. Kalaupun harus berhubungan sek*sual, sebaiknya menunggu saat memasuki trisemester kedua. Atau kalau terpaksa keinginannya tidak bisa ditahan, yang penting jangan setiap hari. Gunakan juga posisi yang aman dan nyaman untuk pene*trasi, misalnya spooning, posisi memeluk dari belakang. Pelepasan spe*rma tidak boleh di dalam rahim agar tidak menyebabkan kontraksi yang bisa berakibat keguguran atau bayi lahir prematur."


"Kalau suaminya masih merengek, bisa diakali dengan cara lain ya, Bu Ruby. Tidak harus berhubungan sek*sual. Daripada Pak Melvin gelisah malah mencari pelampiasan di luar," sindir dokter.


"Saya orangnya setia, Dok."


"Kalau dia berani seperti itu, nanti saya sunati, Dokter. Soalnya yang membuat saya hamil juga dia. Awas saja kalau cari mainan di luar!" celetuk Ruby dengan nada pedasnya.


"Aku bukan orang seperti itu, Sayang!" bantah Melvin.


Dokter dan perawat yang ada di sana langsung tertawa mendengar pertengkaran kecil pengantin baru itu.


"Intinya, kehamilan kembar harus dijaga lebih ekstra hati-hati. Selalu konsultasikan ke dokter jika terjadi sesuatu. Kami permisi dulu."

__ADS_1


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, dokter dan perawat meninggalkan ruangan. Kini tersisa mereka berdua yang ada di sana. Melvin kembali menarik tangan Ruby lalu memeluknya. Entah mengapa justru dia yang lebih ingin bermanja, padahal yang sedang hamil istrinya.


"Kenapa kamu hamil tapi dokter yang lebih dulu tahu, ya ... perutmu masih rata begini, tidak disangaka di dalam ada dua bayi yang akan tumbuh." Melvin mengelus perut Ruby yang masih rata.


"Aku juga tidak menyangka, Kak, kalau sedang hamil. Ternyata aku hamil, Kak Melvin yang ngidam."


"Benar. Lucu sekali. Semingguan ini badanku tidak enak ternyata karena ada mereka. Kira-kira mereka cowok-cowok, cewek-cewek, atau cowok-cewek seperti kamu dan Rei?" Melvin tidak sabar untuk mengetahui jenis kelamin calon anaknya.


"Apapun yang Tuhan berikan kita harus syukuri, Kak."


"Karena kamu sedang hamil, mulai sekarang kurangi aktivitas. Kamu berhenti kerja dulu, ya. Atau tidak usah bekerja seterusnya itu lebih baik. Cukup aku saja yang bekerja."


"Lah, Kan Kak Melvin yang sakit, kenapa malah jadi aku yang harus istirahat?"


"Hahaha ... iya, ya! Benar juga." Melvin masih terkekeh mengingat keanehan yang terjadi pada mereka. "Tapi, tetap saja ... perutmu akan semakin membesar dengan keberadaan dua anak kita sekaligus di dalam sana. Aku tidak mau terjadi hal buruk terhadap kalian. Apalagi aku tahu kamu orang yang tidak bisa diam, suka mondar-mandir kesana kemari."


"Tenang, Kak. Setelah tahu hamil, aku tidak akan sampai salto atau kayang yang bisa membahayakan bayi kita. Aku masih kuat bekerja. Setelah perutku besar, baru aku mau istirahat kerja."


"Hmm ... " gumam Melvin sembari mengeratkan pelukannya. Setelah menikah, lelaki itu sudah tidak bisa jauh-jauh dari istrinya. Sebelum hamil juga Ruby rasanya sudah punya seorang bayi besar yang cukup merepotkan. Di luar gayanya keren sebagai seorang presdir. Tapi, di dalam kamar, jangan ditanya seperti apa manjanya.


"Ingat pesan dokter loh, ya ... Kakak sendiri yang tadi sudah bertanya dan dapat jawaban."


"Tenang saja, aku akan sangat berhati-hati."


Melvin melepaskan pelukannya. Ia cium tangan istrinya sembari memperhatikan wajah yang semakin hari semakin membuatnya jatuh cinta. "Hamil kok jadi kelihatan tambah cantik, sih," pujinya.


"Mulai ya rayuannya ...." Biasanya Melvin akan meminta sesuatu kalau kata-kata manisnya sudah keluar.


"Aku ingin pulang sekarang saja. Tidak sanggup kalau harus menunggu sampai besok. Lagipula, aku tidak sakit parah kenapa harus menginap di rumah sakit?"

__ADS_1


Sudah bisa Ruby tebak Melvin ingin pulang, tidak betah di rumah sakit. Padahal, dokter bilang baru besok dia boleh pulang. "Sudahlah, Kak. Istirahat di sini saja. Aku juga akan menemanimu sampai besok."


"Kamu juga butuh istirahat, Sayang. Masa orang hamil malah menunggui orang sakit."


"Ya, kan Kakak sakit juga karena aku sedang hamil. Kalau tidak mau menurut, aku tinggal, loh!"


"Kok ngancam? Aku benar-benar tidak betah ...."


Ruby melotot. "Kalau tidak mau patuh, aku pulang ke rumah Papa."


"Ish! Jangan ... sudah enak kita tinggal berdua saja." Melvin memeluk kembali istrinya. Ia tidak mau berlama-lama di rumah mertua karena tidak bisa bebas melakukan banyak hal dengan istrinya. Di apartemen sendiri, jangan ditanya lagi. Kalau mereka sudah berdua, tidak lagi tahu tempat. Entah itu di ruang tamu atau di dapur, sepertinya setiap sudut sudah mereka tandai sebagai wilayah kekuasaan mereka.


"Pagi tadi aku bertemu dengan Pak Ben di tempat syuting."


"Apa yang orang gila itu lakukan padamu?" Mendengar cerita dari Ruby, Melvin jadi khawatir. Mantan dosen mereka itu tidak ada jeranya mengusik Ruby.


"Ternyata model iklan yang kita pakai dari manajemennya."


"Kenapa pakai dia? Seharusnya batalkan saja ...."


"Sudah terlanjur, Kak. Aku juga tidak tahu kalau tim akan memilih Emir sebagai bintang iklan dan brand ambassador kita."


"Kalau begitu, batalkan saja kontrak kerjasamanya! Aku tidak mau kamu bertemu lagi dengannya. Ganti dengan artis lain saja."


"Lalu, uang yang sudah kita keluarkan? Belum lagi mereka akan meminta ganti rugi kalau kita tiba-tiba memutuskan kontrak."


"Aku rasa tidak apa-apa daripada dia bertemu dengan istriku."


"Aku akan melimpahkan pekerjaanku kepada Dewi untuk proses promosi kali ini, kamu jangan khawatir, Sayang." Ruby berusaha menenangkan hati suaminya yang memanas.

__ADS_1


"Kalau dia berani mengganggumu lagi, cepat beritahu padaku! Aku akan memberikan orang itu pelajaran."


Melvin masih dendam dengan kejadian waktu dulu. Bahkan ayahnya tak mau membantunya untuk menyingkirkan dosen mesum seperti Alben.


__ADS_2