PURA-PURA MISKIN

PURA-PURA MISKIN
KESEDIHAN GIBRAN


__ADS_3

Mengetahui jika orang yang paling ia cintai ternyata telah melupakannya, dan tidak ingat sama sekali dengan dirinya. Dengan duduk menyendiri disalah satu kursi penunggu luar ruang rawat terlihatlah raut wajah Gibran yang terlihat sangat bersedih, dan melamun tanpa henti hingga kemudian beberapa orang pun datang dari arah sampingnya. Dan langsung menghampiri dirinya.


"Astaga Gibran gue cari kemana-mana ternyata lo sudah ada disini rupanya. Gimana apa lo udah ketemu sama Putri?"tanya Verrel yang baru aja datang bersama dengan Reza, Saga, David dan juga Nina.


"Iya gue udah ketemu dengannya,"balas Gibran yang terlihat tidak bersemangat.


"Apa Putri sudah tersadar?" tanya Nina.


"Iya dia baru aja tersadar, tapi ada kemungkinan kalau dia gak bakal mengenali kalian semua sekarang?"balas Gibran yang spontan membuat mereka pun jadi terkejut mendengar nya.


"Maksud lo apa, memangnya Putri amnesia apa dimana, kenapa dia gak bisa ngenalin kita lagi?"tanya Reza yang dengan muka penasarannya.


"Tapi memang itu kenyataanya, sejak menggalami benturan keras yang ia alami, ingatan Putri hilang 90 persen, bahkan dia bukan hanya lupa sama kita tapi sama orang tuanya sendiri aja dia tidak mengingatnya,"balas Gibran yang terlihat manyun.


"Astaga kasihan sekali Putri, terus dia sekarang ada dimana aku mau ketemu dengannya?"tanya Nina.


"Iya aku juga mau ketemu dengan Putri, kasihan sekali dia. Ada dimana dia sekarang?" sahut Reza.


"Sekarang dia lagi ada diruang khusus, jadi harus ada orang dalam sendiri yang membantu kalian untuk masuk kedalam, jika tidak ada ya percuma saja karena penjagaan disana sangatlah ketat, tidak sembarangan orang bisa masuk, aku sendiri aja ngikut sama bibik minah tadi?"


"Susah sekali ya ternyata untuk bisa bertemu dengan teman kita sendiri?"sahut Verrel dengan membuang nafas.


"Ya gitulah!"balas Gibran selanjutnya.


"Tapi saran aku mendingan kita pulang saja, lagian percuma juga kalau kita disini tapi kita tidak bisa bertemu dengan orang yang inggin kita jenguk?"ujar Gibran yang kemudian ia pun langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Iya juga sih, ya sudah kalau gitu kita balik aja!"ujar Verrel.


"Baiklah ayo!"balas Reza.


"Tunggu!"


Dalam keadaan pasrah, mereka semua pun akhirnya memutuskan untuk pergi dari tempat ini. Walaupun pada kenyataannya rasa kesal pun masih ada didalam diri mereka, lantaran harapan yang tidak sesuai keinginan.


Baru aja mereka mau pergi melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan Rumah sakit ini, tiba-tiba seseorang pun datang dan menghalangi niat mereka untuk pergi.

__ADS_1


Dan seseorang yang menghalangi mereka yang tak lain, orang itu adalah Papanya Putri sendiri.


"Kalian mau kemana?"tanya Papanya Putri yang spontan membuat kelima remaja yang ada dihadapannya pun melongo, hingga Gibran pun angkat bicara.


"Ini om mereka ini adalah teman sekelas Putri, jadi kita mau pergi kan kita tidak dapat ijin untuk melihat Putri?"ujar Gibran.


"Siapa yang bilang kalau kalian tidak boleh masuk, kalian kan temannya Putri jadi masuklah. Karena saya mengijinkan kalian untuk masuk, masuklah!"titah Papanya Putri yang seketika membuat mereka berlima pun bisa tersenyum dan bisa merasa lega.


"Baik om, sekali lagi terima kasih karena om udah mau ngizinin kita untuk menemui Putri, terima kasih?"ucap Nina.


"Ya sudah tunggu apa lagi silahkan masuklah, tapi ingat jangan ada yang berisik karena Putri kondisinya belum pulih total, jadi kalian mengerti kan?"


"Iya om kita mengerti! Ya sudah kita masuk ya!"


"Baiklah masuklah, om tinggal dulu.


*****


Sesampainya mereka bertemu dengan Putri diruang rawatnya, suasana pun tiba-tiba menjadi hening tidak ada suara yang bersautan didalam sana, yang ada hanyalah suasana tetesan air yang jatuh dari boto infus Putri.


"Ehem..tenggorokanku kenapa jadi gatel ya, aku boleh minta buah yang ada diatas nakas ini kan?"tanya Verrel yang berganti Putri pun menatap dirinya.


"Iya boleh silahkan, makanlah!" balas Putri.


"Baiklah terima kasih ya Put, kamu itu memang orangnya sangat baik dan tidak pelit?"balas verrel lagi yang tanpa ada rasa sungkan ia pun langsung duduk di sofa, dengan membawa satu nampan buah-buahan di pangkuannya.


"Heyy lo itu sebenarnya mau menjenguk Putri, atau mau numpang makan sih. Kenapa lo bawa satu nampan? Itu buah miliknya, yang sakit siapa sebenarnya elo atau Putri?" tegas Gibran yang agak kesal.


"Sudahlah Gibran, lo itu jangan sewot kenapa, Putri aja yang sakit gak mempermasalahkan kalau gue ngabisin nih buah? Buahnya juga gak masalah kalau gue makan, santai lagi !" sahut Verrel yang tanpa memperdulikan ke sewotan Gibran saat ini, dan ia terus melanjutkan lagi niat makannya.


"Sekalian lo makan tuh nampannya biar kenyang sampai se akar-akarnya!"balas Gibran lagi.


"Maaf kalau aku boleh tanya kalian ini siapa, apa kita pernah bertemu?"tanya Putri yang membuat pandangan kelima remaja yang ada dihadapannya pun berganti menatap dirinya.


"Putri mungkin bagi kamu sekarang kita semua hanyalah orang asing dimata kamu. Tapi kamu harus percaya kalau kita ini teman terbaik kamu, dan kamu juga pastinya akan sangat kesulitan mengingat semua ingatan kamu, jadi yang perlu kamu lakukan kamu jangan banyak berfikir ya?"jar Nina dengan menggenggam telapak tangan Putri.

__ADS_1


"Jadi kalian semua adalah temanku, tapi kenapa aku sulit sekali mengingat kalian?"


"Kamu jangan bersedih Put, walaupun kamu melupakan kita, kita tidak akan melupakan kamu kok, jadi kamu harus semangat ya?" ucap Reza yang tiba-tiba ikut mengelus atas kepala Putri.


Gibran yang melihatnya ia pun sedikit merasa kesal, dan tanpa menunggu ia pun menghempaskan tangan Reza dari kelapa Putri.


"Gak usah gitu juga kali, lo gak lihat Putri ini baru aja dioperasi bagian kepala. Jadi lo jangan sembarang asal pegang gitu.


"Lo tuh kenapa sih, lo itu cemburu ya. Ingat lo itu udah punya pacar jadi terserah gue lah kalau gue mau memegang pipi maupun kepala Putri itu kan bukan hak lo, dia kan bukan siapa-siapa lo jadi terserah gue lah. Kenapa malah lo yang jadi sewot!"tegas Reza dengan menatap tajam kearah Gibran.


Tatapan demi tatapan telah mereka lakukan sekarang ini. Jika tadinya suasana terlihat hening tanpa adanya suara, kini pun terlihat agak lebih mencekam setelah Gibran dan Reza yang mulai ribut kembali.


Bagaikan Kucing jantan yang hendak inggin menerkam kucing jantan lainnya yang lagi merebutkan satu kucing betina, mata mereka pun tidak terlihat menunjukkan kedipan satu kali pun, hingga Verrel yang tidak tahan ia pun langsung melerai keduanya dengan memberikan satu jitakan tepat mengenai kepala mereka.


PLAK...


PLAK...


"Sudah jangan ribut terus, ini itu di Rumah sakit jika kalian inggin berantem, berantem lah di lapangan yang luas agar kalian bisa bergelut semampu kalian!.


"Heyy berani sekali lo itu jitakan pala gue, lo gak takut sama gue, gue itu siapa?"Amarah Reza yang terlihat semakin memuncak, akan tetapi Verrel yang melihatnya ia bukannya takut melainkan ia malah memasukkan potongan apel tepat ke mulut Reza yang lagi membuka lebar mulutnya.


"Sudah dari pada lo marah-marah tidak jelas, nikmati itu buah apel enak kan?"sindir Verrel yang tanpa ada rasa bersalah.


"Astaga ini orang?"gumam Reza yang akhirnya ia pun menghindari Verrel dan berlalu melahap apel yang sudah ada didalam mulutnya.


PLAK...


"Dan ini balasan lo karena elo udah beraninya jitak pala gue?"sahut Gibran yang terlihat ikut kesal lantaran ulah sahabatan gesreknya itu.


"Lo!"balas Verrel sambil menatap tajam kerah Gibran, dan memegangi kepalanya.


"Kenapa, apa lo akan marah?"alas Gibran menantang.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2