
"Kalau begitu, ayo kita menikah!"
Gita mengerjap-ngerjapkan mata mendengar ketegasan Rei kepadanya. Bibirnya beku tak bisa berkata-kata. Ia memang datang untuk mengatakan perasaannya yang sebenarnya, akan tetapi ajakan menikah sangatlah terlalu cepat untuk ia dengar.
Belakangan ini ia memang sangat terobsesi dengan atasannya. Melihat sosoknya ada di depan mata juga sebenarnya membuat ia ingin berlari ke dalam pelukannya. Namun, untuk menikah, rasanya masih jauh dari bayangannya. Ia masih trauma dengan hubungannya yang sebelumnya.
"Em, itu ... pernikahan kan tidak bisa terburu-buru seperti ini, Pak ...." Gita melirik ke sana ke mari. Semangatnya yang menggebu-gebu tiba-tiba ciut saat mendengar tentang pernikahan.
"Kalau kamu mau, saya yang akan mengurusnya dengan cepat."
Gita menggigit bibir. Rei orang yang tidak mudah ditebak. Meskipun kelihatannya santai, sekali ia berkata-kata suka membuat orang terkejut. Rei tidak pernah memperlihatkan ketertarikannya pada Gita, namun sejak pertemuan pertama ia sudah mengajaknya menikah. Padahal Gita tahu betul Rei masih belum bisa melupakan wanita bernama Livy dari hatinya. Apakah pernikahan tidak ada artinya bagi lelaki itu? Kenapa gampang sekali mengajak orang menikah?
"Memangnya Bapak menyukai saya? Kenapa Bapak cepat sekali mengajak saya menikah?"
"Kamu aneh sekali, Gita. Mana mungkin saya mengajak nikah orang tidak saya sukai."
"Tapi, waktu pertama kita bertemu Bapak juga langsung ngajak nikah." Gita malah mengajak Rei berdebat.
"Waktu itu kan kamu yang ngajak tidur bareng. Kalau mau tidur bareng ya nikah dulu," kilah Rei.
"Malam itu kayaknya Bapak juga mau sama saya ... padahal kita belum menikah ...." Gita masih tidak menyerah untuk mendebat Rei.
"Akhirnya juga tidak jadi." Rei menunduk. Ia sangat malu membahas tentang malam itu lagi. Gita wanita menyebalkan yang sangat ingin ia pukul kepalanya agar lebih menyaring kata-katanya.
"Bapak sudah pegang-pegang tubuh saya."
Rei menghela napas panjang. Gita sepertinya tidak akan berhenti bicara sebelum dijitak. Ia jadi sangat gregetan. "Kamu juga pegang-pegang punya saya, kan, Gita ... maunya apa coba sekarang? Mau saya nikahi malah cari-cari alasan terus. Kamu mau saya tiduri terus ditinggal pergi? Kamu pikir saya orang brengsek yang bisa melakukan hal demikian?"
"Itu, Pak ... kan kita bisa mencoba pacaran dulu." Gita memainkan kedua jari telunjuknya seperti orang yang sedang takut karena dimarahi.
__ADS_1
"Orang pacaran nggak mungkin main di ranjang, Gita. Memangnya kamu kuat iman?"
Gita menggaruk rambutnya sendiri. "Masa langsung nikah, Pak? Kalau nggak cocok gimana?"
"Ya cerai, lah!"
"Biaya cerai mahal, Pak."
"Saya yang akan membiayai kalau kamu mau cerai," sahut Rei. "Katanya suka, tapi kenapa kelihatannya kamu takut menikah dengan saya?"
"Bukan seperti itu ... Bapak orang yang sangat perhatian. Saya takut Bapak sebenarnya baik dengan semua wanita."
Rei mengernyitkan dahi. "Kamu pikir saya orang yang suka sembarangan mengajak siapapun untuk menikah? Siapa bilang saya orang baik dan perhatian? Saya hanya melakukannya kepada orang yang benar-benar saya pedulikan."
Gita menunduk. Rei sudah banyak membantunya, dia orang asing yang sangat peduli padanya. Seharusnya dia tak perlu ragu dengan ketulusan yang Rei miliki.
"Em, kira-kira apa ayah Bapak akan setuju? Saya kan orang miskin."
Gita tertegun sejenak. "Sesimpel itu syaratnya?" tanya Gita memastikan. Tidak mungkin percintaan orang kaya semudah itu dilakukan. Biasanya mereka akan mencari pasangan yang sepadan. Rei termasuk pengusaha sukses, orangtuanya juga kaya raya. Gita memang pernah menjadi anak pengusaha kaya, namun saat ini dia bukanlah siapa-siapa.
"Kapanpun kamu siap, saya akan membawamu menemui Papa. Kamu juga boleh mengajak saya menemui keluargamu."
Gita tersenyum getir. "Saya tidak punya siapa-siapa lagi, Pak."
"Tidak masalah. Kalau nanti menikah dengan saya, kamu akan punya keluarga."
Mata Gita berkaca-kaca. Entah mengapa kehidupannya justru mendapatkan kehangatan dari orang lain bukan keluarganya sendiri. Terlebih atasannya itu yang memiliki kepedulian tinggi terhadapnya.
"Pak ... boleh nggak saya minta dipeluk?" pintanya.
__ADS_1
Rei mau heran mendengar permintaan seperti itu, tapi dia Gita. Rei bangkit dari duduknya, beralih beberapa langkah ke arah Gita. Ia merentangkan kedua tangannya, mempersilahkan wanita itu melakukan apa yang diinginkannya.
Gita tersenyum. Ia langsung berdiri dan memeluk Rei dengan perasaan penuh bahagia. Rasanya sudah lama sekalo ia kehilangan tempat ternyamannya untuk bersandar.
Keduanya saling berpandangan. Mata mereka bertemu seolah mengisyaratkan suatu perasaan yang sama. Rei menurunkan wajahnya sementara Gita berjinjit meninggikan badan. Kedua bibir mereka bertemu dan saling beradu. Ini kedua kalinya berciuman. Tak ada sepatah katapun yang terucap selain suara napas mereka yang terdengar berat meresapi saat lidah mereka bartautan satu sama lain.
"Gita ...." Rei menghentikan ciuman saat menyadari tangan Gita yang nakal sudah mendarat di antara kedua pahanya.
"Keras, Pak," ucap Gita tanpa rasa bersalah.
Untung saja lelaki itu adalah Rei, orang paling sabar yang mampu menghadapi kesomplakan Gita. "Lepaskan atau saya bawa kamu ke KUA sekarang."
"Saya penasaran, Pak. Boleh pegang lagi nggak?"
Rasa-rasanya Rei sudah tidak sanggup lagi menghadapi Gita yang semakin aneh. Wanita itu memang jagonya merusak suasana. Padahal tadi mereka sedang romantis-romantisnya malah Gita melakukan hal yang membuat Rei gegetan.
"Kembali ke ruang kerjamu!" perintah Rei seraya melepaskan pelukannya.
"Masa calon istri diusir, Pak ... sebentar saja kok. Boleh pegang, ya ...." Gita mengedip-ngedipkan mata genit. Wanita itu kalau sudah nyaman dengan orang kelakuannya suka tidak terkontrol.
Daripada berlanjut hal yang tidak diinginkan, Rei memilih untuk mengusir keluar Gita dari ruangannya. Kalau sampai mereka tetap berdua, mungkin kamar di ruangannya yang hampir tak pernah terpakai akan jadi berantakan oleh keduanya. Ini yang Rei hindari untuk tidak bertemu Gita. Tanpa wanita itu bersikap agresif, dia juga sudah terpancing. Apalahi kalau Gita bertingkah seperti itu, rasanya ingin menerkamnya langsung.
*****
Sambil menunggu update selanjutnya, bisa mampir ke sini dulu 😘
Judul: Atmosphere
Author: Hilmiath_
__ADS_1